Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
81. Sumpah Prabu Maswapati


__ADS_3

Hardjuna segera mengeluarkan panah, sehingga ribuan panah tertuju ke pasukan koalisi Kurawa. Selain itu Djanoko membidikan tiga panah, khusus untuk Maharesi, Bisma, Pandita Durna dan Adipati Karno.


Ketiga panah khusus itu berisi penghormatan kepada ketiganya. Dan permintaan maaf bahwa Pandawa terpaksa ikut campur. Sekaligus permohonan agar keberadaan Pandawa di Wirata tetap dirahasiakan. Dan Djanoko mengatakan bahwa sesungguhnya dia tidak ingin berperang melawan mereka. Sebab mereka adalah orang-orang Pandawa yang sangat dihormati.


Melihat dan membaca tiga panah tersebut Maharesi Bisma, Pandita Durna dan Adipati Karno segera menarik kembali pasukannya. Mereka semua pulang ke Hastinapura.


Melihat pasukan koalisi pimpinan Hastinapura mundur. Semua pasukan Wirata bersorak bersukacita. Mereka anggap kemenangan ini karena berkat kesaktian Raden Utara. Karena itu tidak heran nama Raden Utara menjadi viral.


Berita gembira itu dengan cepat sampai ke Prabu Maswapati. Karuan saja dia melonjak-lonjak kegirangan. Sekaligus dia memuji Raden Utara setinggi langit.


Dan setiap orang yang bertemu Prabu Maswapati pasti diceritain tentang kehebatan Raden Utara yang berhasil mengalahkan pasukan koalisi Kurawa dengan gemilang.


Akhirnya dia ketemu Widyakangka alias Prabu Puntadewa yang tengah menyamar. "Heiii...Widyakangka...tahukah kamu!? Bahwa hari ini anakku Utara berhasil memukul mundur pasukan koalisi pimpinan Hastinapura..!?" Ujar Prabu Maswapati kepada Widyakangka.


Dan Widyakangka hanya tersenyum kecil. Karena dia tahu, semua itu terjadi karena adiknya, Djanoko yang menyamar sebagai Wrihatnala.


Karena sambutan Widyakangka tenang-tenang saja tidak seperti yang lain. Sehingga Prabu Maswapati pun bertanya.


"Hei Widyakangka apakah kamu tidak percaya omonganku..!?"


"Maaf Gusti Prabu... yang mengundurkan pasukan koalisi bukan Raden Utara tetapi abdi Gusti yang bernama Wrihatnala..!" Jawab Widyakangka alias Puntadewa yang terkenal jujur dan bicara apa adanya.


"Apaa...!???" Bentak Prabu Maswapati kaget mendengar jawaban Widyakangka.


"Maaf Gusti... bahwa yang mengalahkan pasukan koalisi adala Wrihatnala, Gusti..!" Jawab Widyakangka tidak berubah meskipun Prabu Maswapati sudah merah padam dihadapannya.


"Coba jawab sekali lagi.. siapa yang mengalahkan pasukan koalisi..!???" Tanya Prabu Maswapati sembari tangannya meraih kursi.


"Wrihatnala Gus...!!" Belum selesai ngucapin kata Gusti. Tangan Prabu Maswapati yang memegang kursi melayang ke arah kepala Widyakangka "prukk..!!!" Kursi patah dan dari kepala Widyakangka keluar darah mengucur deras.

__ADS_1


Tidak cuma itu, Prabu Maswapati yang terbakar emosinya meminta Widyakangka keluar dari Wirata. Kejadian ini dilihat isteri Puntadewa yang bernama Dewi Drupadi dan menyamar sebagai PRT bernama Emban


Salindri.


Melihat suaminya dianiaya, Salindri segera menubruk Widyakangka dan ini malah membuat Prabu Maswapati yang telah kehilangan akal sehat semakin marah.


"Baiklah... Salindri kamu juga harus keluar dari Wirata. Ayo minggat...!!!" Ujar Prabu Maswapati sembari berkacak pinggang.


Saat itulah Raden Utara datang. Dan mengapa Bapaknya marah-marah dan mengusir Widyakangka dan Salindri dari Keraton Wirata.


Raden Utara yang sudah dijelaskan oleh Djanoko sudah tahu bahwa Widyakangka adalah Prabu Puntadewa dan Salindri adalah permaisuri Dewi Drupadi.


Maka begitu dijelaskan oleh Prabu Maswapati duduk perkaranya. Raden Utara menangis dan langsung minta maaf kepada Prabu Puntadewa.


"Cucuku Puntadewa... apa yang kamu katakan benar semua. Maafkan aku Cucuku.. juga maafkan dan ampunilah Bapakku..!!" Ujar Raden Utara sembari merangkul erat Puntadewa.


Melihat drama semacam ini, Prabu Maswapati yang masih marah tambah bingung.


"Maafkan anakmu Bapak... apa yang disampaikan Widyakangka benar semua. Bahwa yang mengalahkan musuh kita adalah Wrihatnala...!" Jelas Raden Utara yang membuat Prabu Maswapati semakin bingung.


"Maksudmu...si banci Wrihatnala itu yang mengalahkan pasukan koalisi...!?" Tanya Prabu Maswapati masih kurang percaya.


Selanjutnya secara terbuka Raden Utara menjelaskan. Bahwa Wrihatnala bukan seorang banci, dia seorang ksatria sejati panengah Pandawa dan Raden Djanoko namanya.


Terus orang yang baru dipukuli Bapaknya dan diusir itu adalah Raja Amarta, Prabu Puntadewa. Mendengar penjelasan Raden Utara Prabu Maswapati seperti tersambar petir. Dia kaget, shock, dan menyesal akhirnya menjerit dan menubruk tubuh Puntadewa dan menangis sejadi-jadinya


"Puntadewa... maafkan Mbahmu ini yang kurang akal....huhu..Huhu... maafkan aku Drupadi... tolong Maafkan aku.. yang tua bodoh ini...!!!" Ujar Prabu Maswapati.


"Tidak Mbah....saya juga salah sebab karena harus menjalani hukuman sehingga tidak terus terang kepada si Mbah Maswapati. Kami tidak apa-apa Mbah.." jawab Prabu Puntadewa.

__ADS_1


Tetapi Prabu Maswapati tetap masih menangis sejadi-jadinya. Bahkan dia bersumpah bahwa Pandawa tetap berada di Wirata sampai Hastinapura dan Indraprasta dikembalikan kepada Pandawa.


"Aku pun bersumpah dengan disaksikan alam semesta bahwa Pandawa belum akan maju perang. Jika sebelum anak-anakku gugur di Medan Perang Suci Bharatayudha Jayabingun...!!!"


Sumpah Prabu Maswapati, dan kenyataannya kelak dalam perang Bharatayudha, korban pertama dari Senopati Pandawa adalah ketiga putera Wirata, yaitu Raden Seta, Raden Utara, dan Raden Wiratsangka.


Setelah itu para Pandawa dikumpulkan. Jagal Abilawa menjadi Werkudara atau Brotoseno, Wrihatnala jadi Djanoko dan Pingsen Tangsen jadi Nakula dan Sadewa


Setelah Pandawa kumpul, Prabu Maswapati bertanya, "Apakah waktu hukuman kalian sudah selesai..!?"


Pertanyaan itu dijawab dengan tegas oleh Prabu Puntadewa. Bahwa hukum buang di hutan sudah mereka jalani, "Hukuman penyamaran selama setahun. Alhamdulillah berhasil kami lalui dengan selamat..!" Jelas Prabu Puntadewa.


Permintaan kembalinya Negara Hastinapura ini jelas di luar persoalan perjudian . Karena negara Hastinapura sesungguhnya memang milik Pandawa. Sebab Prabu Pandu Dewanata adalah ayah kandung Pandawa.


Dahulu ketika Prabu Pandu hendak meninggal dunia, dia titipkan Negara Hastinapura kepada kakaknya, Adipati Destarata.


Karena Pandawa masih kecil-kecil. Dengan pesan, bahwa setelah Pandawa dewasa agar negara tersebut dikembalikan.


Namun Destarata merasa enak jadi Raja. Apalagi isterinya, Dewi Gendari yang juga sangat menikmati fasilitas yang ada. Sehingga dia lupa kepada janjinya.


Celakanya lagi, Destarata mengambil adiknya Dewi Gendari yaitu Raden Gendara atau Raden Syuman, atau lebih beken dipanggil Sengkuni menjadi Patihnya.


Maka ketika Pandawa menginjak dewasa, Sengkuni membuat rekayasa mengadakan perjamuan besar-besaran. Semua anggota diajak makan enak dan minum minuman keras. Padahal makanan dan minuman itu sudah dikasih racun oleh Sengkuni.


Karena itu setelah Pandawa makan minum mereka langsung pingsan. Sengkuni dan para Kurawa mengira mereka mati. Dan untuk menghapus jejaknya, maka Sengkuni menyuruh tempat dimana Pandawa tergeletak pingsan dibakar. Peristiwa tersebut disebut Balai Sigala-gala.


Setelah itu, Pandawa dikabarkan telah meninggal dunia. Termasuk dilaporkan kepada Destarata bahwa para Pandawa telah meninggal dunia.


Karena beranggapan bahwa para Pandawa telah tiada, akhirnya Destrarata mewisuda anaknya Duryudana menjadi Raja menggantikannya.

__ADS_1


Padahal sejatinya Pandawa masih hidup. Mereka diselamatkan oleh seekor hewan yang merupakan jelmaan Sanghyang Antaboga dan puterinya Dewi Naga Gini yang kemudian diperistri Werkudara dan berputera Antareja.


Karena Pandawa masih hidup sampai saat ini, sehingga sangat wajar jika mereka menuntut haknya. Meminta kembalinya Negara Hastinapura.


__ADS_2