
Ditanya untuk apa minta pertolongan Pandita Djajalsengara, dengan runut Prabu Sri Kresna memaparkan sebab musababnya.
"Jadi suatu ketika Kahyangan Suralaya atau Jonggringsalaka, dimana Batara Guru bertahta kedatangan musuh.
Musuh tersebut bernama Dewa Wicara yang kemudian sekarang menjadi Raja di Suralaya dan bergelar Prabu Dewa Wicara.
Dewa Wicara mengajak Kakaknya yang bernama Herbanu dan sekarang menjadi Patihnya. Juga adiknya yang berujud ular besar bernama Candrasengkala.
Batara Guru dan para dewa lainnya melawan, tetapi semua dewa berhasil dikalahkan oleh Candrasengkala dan Dewa Wicara. Termasuk Batara Guru pun harus kabur menyelamatkan diri karena tidak mampu menandingi kesaktian Dewa Wicara.
Mereka kabur ke dunia manusia dan akhirnya mereka ke negara Amarta dan minta tolong kepada para Pandawa.
Berangkatlah Brotoseno dan Djanoko ke suralaya. Mereka bertempur melawan Dewa Wicara. Ternyata Brotoseno dan Djanoko pun Keok. Mereka dikalahkan dengan telak.
Sehingga kami kebingungan.
Kami minta petunjuk kepada Hyang Maha Tahu dan menunjuk kemari. Supaya minta pertolongan kepada Tuan Pandita Djajalsengara. Demikianlah Tuan...!" Ungkap Prabu Sri Kresna.
Mendengar penuturan Prabu Sri Kresna, Pandita Djajalsengara manggut-manggut. Lantas dia berujar; "Ohw.. Ohw... ya ya..aku paham. Aku disini memang diperintahkan Dewa Yang Maha Agung agar tapa ngrame. Maksudnya aku siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuanku.
Jika Tuan-tuan membutuhkan bantuanku. Insya Allah aku bersedia. Bahkan jika nyawaku diminta demi menolong kalian aku pun ikhlas. Rela menyerahkan nyawaku. Apalagi hanya harus melawan musuh-musuh kalian. Aku siap. Kapan kita ke Kahyangan Jonggringsalaka..Tuan..!?" Tanya Djajalsengara.
"Jika Tuan Pandita tidak keberatan sekarang juga kita ke Jonggringsalaka..!" Ajak Prabu Sri Kresna
"Kalau begitu ayoh kita berangkat sekarang...?" Pandita Djajalsengara mengemasi perlengkapannya dan segera menggamit Prabu Sri Kresna untuk ke Kahyangan.
Di Kahyangan Jonggringsalaka, Prabu Dewa Wicara atau Dewa Kuncara tengah berbincang serius soal kedewataan. Mereka berpendapat Dewa adalah makhluk yang suci. Dewa selalu berada dibawah garis yang lurus dan benar.
Memang ada dewa kejahatan seperti Batari Durga dan Batara Kala. Tetapi keberadaan dewa itu tidak harus membackingi segala tindak kejahatan.
__ADS_1
Sebaliknya, mereka seharusnya mengingatkan kepada mereka yang berbuat jahat agar tidak berlebihan. Karena setiap perbuatan pasti akan mendapat balasan yang setimpal.
Namun pada kenyataannya, dewa yang diberi nafsu oleh Hyang Maha Agung. Seringkali tidak menjaga nafsunya. Sehingga Batara Kala maupun Batari seringkali melanggar pantangan tersebut.
Akibatnya, Batari Durga maupun Batara Kala sering dipermalukan manusia yang lurus dan benar. Dan itu hampir selalu terjadi manakala mereka berbuat kesalahan.
"Itu pula sebabnya mengapa Batara Guru atau Sanghyang Jagadnata pun bisa melakukan dosa dan kesalahan..dan kesalahan itu harus ditebusnya dengan diusirnya dia dari Kahyangan.
Dan dia pasti malu sekali karena dikalahkan oleh manusia yang bernama Dewa Wicara. Benar begitu bukan adikku..!?
Bahkan Ilmu Guntur Geni dan ilmu Guntur Bumi yang dahsyat. Juga tombak Trisula yang sangat luar biasa. Tidak mampu melukaimu. Iya kan...!?
Karena ilmu dan senjata-senjata itu hanya diperuntukan bagi orang-orang jahat. Kalian orang baik lurus dan benar. Mana mungkin senjata dan ilmu itu bisa melukai kalian..!?" Ungkap Herbanu, sebagai orang sepuh dan paling berpengalaman diantara mereka.
"Tetapi Kanda Herbanu... kami ini adalah bangsa manusia. Rasanya kurang tepat menjadi penguasa disini. Sebaiknya kalau Batara Guru sudah menyadari kesalahan-kesalahannya dan dia mau bertobat. Kita kembalikan saja tahta ini kepadanya...!" Ujar Prabu Dewa Wicara.
"Benar...Dinda Dewa Wicara. Kita kembalikan tahta Kahyangan kepada yang lebih berhak. Dan ini semua memang sudah menjadi kodratnya. Dan kamu adikku Dewa Wicara telah menunjukan keluhuran dan kelurusan hatimu.
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan datangnya Prabu Sri Kresna dan Pandita Djajalsengara, Brotoseno dan Djanoko.
"Ha..ha..ha Brotoseno dan Djanoko mau lawan aku lagi..!?' Sapa Dewa Wicara, yang justeru dijawab Sri Kresna. Sedang Brotoseno dan Djanoko pilih diam tidak menjawab.
"Tentu saja tidak sang Prabu. Tetapi aku punya jago yang siap melawanmu. Inilah Tuan Pandita Djajalsengara yang bakal mengalahkanmu...!' jawab Sri Kresna.
"Ohw bawa jago baru rupanya...siapakah namamu kisanak..!?" Tanya Dewa Wicara kepada Djajalsengara.
"Perkenalkan diriku ini wahai sang Prabu. Namaku Djajalsengara. Aku dari negara entah berantah. Aku juga tidak punya rumah dan tempat tinggal. Tidak punya pertapaan atau padepokan. Pertapaan dan padepokanku ini ya jalanan ini..!" Jelas Djajalsengara.
"Terus mau apa kedatanganku kesini wahai Pandita...mau cari sumbangan..!?" Tanya Dewa Wicara lagi.
__ADS_1
"Aku kemari mau ketemu sama Prabu Dewa Wicara. Apakah kamu Dewa Wicara..!?
Aku dimintai tolong oleh mereka bertiga untuk mengusirmu dari Kahyangan ini. Maka segera menyingkirkan kamu...!" Pinta Djajalsengara.
'Ya aku adalah Prabu Dewa Wicara. Aku tidak akan pergi meninggalkan Suralaya. Kecuali kamu bisa membunuhku..!" Kilah Dewa Wicara.
"Ohw begitu ya..!? Kuminta kamu pergi baik-baik tidak mau. Baiklah kalau kamu mau mencoba kesaktianku..!" Ujar Djajalsengara yang langsung menerjang Dewa Wicara dengan pukulan dan tendangan .
Maka terjadilah duel yang seru antara Djajalsengara dan Dewa Wicara. Mereka adu pukulan dan tendangan yang luar biasa.
Dan meskipun tubuh Djajalsengara lebih langsing dibanding Dewa Wicara yang memang gagah perkasa. Faktanya tubuhnya sangat ulet dan mampu melayani Dewa Wicara dengan baik.
Bahkan pukulan Djajalsengara sempat mendarat dengan telak di dada sebelah kiri Dewa Wicara, sehingga yang bersangkutan sempat terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Ha ha ha...menyerahlah kamu Dewa Wicara...!" Melihat Dewa Wicara terhuyung ke belakang, Djajalsengara tertawa mengejeknya.
"Jangan sombong kamu pandita miskin..! Terimalah balasanku ini...hiaaatt..!!!" Dewa Wicara menyerang Djajalsengara dengan keluatan penuh dan perbawanya benar-benar luar biasa. Sehingga meskipun tidak mengenai sasaran, tetapi aura dari pukulan tersebut membuat Djajalsengara terhuyung.
"Bagaimana seranganku...hai orang tua..!?" Gantian Dewa Wicara lontarkan ejekan kepada Djajalsengara.
Djajalsengara tidak menanggapi cacian Dewa Wicara, sebaliknya dia ancang-ancang menyerang dengan jurus dan ilmu baru yang aneh.
Dan benar Djajalsengara langsung menubruk Dewa Wicara, memitingnya dan menggumulnya. Sehingga keduanya jatuh bergulingan ditanah.
Pergumulan keduanya sangat seru. Saling ******. Saling pukul. Karena bergulingan ditanah sehingga menyebabkan debu berterbangan. Dan semua orang menonton tidak ada yang ikut campur.
Dari pergumulan keduanya, tiba-tiba terjadilah ledakan yang cukup keras "duuuaaarrr...!!!" Setelah ledakan dan debu menghilang, hilang pula Prabu Dewa Wicara dan Pandita Djajalsengara.
Dan yang bergumul itu menjadi wujud Ontoseno dan Wisanggeni.
__ADS_1
" Hayoh..stop..stop.. Semuanya sudah berakhir..!" Ujar Prabu Sri Kresna melerai Ontoseno dan Wisanggeni yang masih bergumul.