Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
71. Mungkinkah Kurawa Tobat?


__ADS_3

Dunia pewayangan tahu, bahwa Kurawa adalah bentuk penjelmaan segala macam bentuk kejahatan. Bayangkan dari Rajanya, Prabu Duryudana sudah dikenal sebagai raja bengis. Dia tidak segan-segan membuat aturan atau kebijakan yang membingungkan.


Betapa tidak, dia bisa saja menjatuhkan keputusan orang benar jadi salah. Sebaliknya, dia pun tidak segan-segan menjadikan orang salah bisa dibebaskan dari hukuman. Dia menindas rakyat kecil memberikan sorga bagi para pejabatnya.


Maka jangan heran di Hastinapura korupsi merajalela. Suap terjadi dimana-mana. Kong kalikong antara penjahat dan aparat bukan barang baru. Sehingga ulama Hastina pun disebut ulama amplop. Apapun bisa disulap menjadi halal atau haram. Inilah yang membuat keprihatinan para anak muda dari negara-negara tetangga. Mereka selalu mengumandangkan pertanyaan yang sama, mungkinkah Kurawa bisa tobat?


Tema Mungkinkah Kurawa Bisa Tobat? Menjadi bahan diskusi atau obrolan dimana-mana. Karena orang sangat pesimis terhadap kemungkinan seperti itu. Karena mereka sadar bahwa pimpinan Hastinapura, Prabu Duryudana kebengisan dan kejahatannya terkenal dimana-mana


Orang kedua di Hastinapura, yaitu Mahapatih Gandara, atau Sangkuni dikenal sebagai pejabat yang sangat korup, licik dan culas.


Pimpinan ulama Hastina Pandita Durna, atau Resi Kumbayana terkenal sebagai ulama yang mata duitan dan tidak bermoral. Bayangkan, seekor kuda pun dicumbu sampai hamil dan jadi anak yang bernama Bambang Aswatama.


Karena itu tidak heran, para pakar pun cuma geleng-geleng kepala dan angkat tangan, ketika dilontarkan mungkinkah Kurawa Tobat?


Salah satu orang yang peduli terhadap keadaan moral mental spiritual para pejabat dan rakyat Hastinapura adalah Raden Ontoseno. Sudah beberapa kali Ontoseno mengingatkan mereka, selalu saja tidak berubah. Pertanyaannya adalah mengapa Ontoseno begitu peduli dengan orang-orang Hastinapura?


Pertama, Ontoseno sadar dan tahu bahwa sesungguhnya negara tersebut adalah milik para Pandawa, termasuk Bapaknya, Brotoseno atau Werkudara.


Kedua para pejabat Hastinapura termasuk rajanya, Prabu Duryudana adalah saudara sepupu Bapaknya dan yang Ketiga, ulama besar negara tersebut, yaitu Pandita Durna adalah guru Bapaknya. Bahkan Brotoseno menganggap Durna atau Resi Kumbayana ini Bapaknya. Setidaknya ketiga alasan itulah yang membuat Ontoseno begitu peduli dengan Hastinapura.


Dan yang membuat hatinya gelisah, karena bertepatan hari atau malam Respati Cemengan Ontoseno bermimpi. Dia didatangi dewa dan mendapat perintah agar dia bisa mengajak para Kurawa Tobat.

__ADS_1


Sejak mimpi tersebut terus terang Ontoseno sulit tidur nyenyak memikirkan bagaimana caranya agar Kurawa Tobat. Dan dia harus memulai dari mana agar misinya berhasil. Pikiran ini terus berkecamuk sampai akhirnya mimpi lagi didatangi dewa.


Dewa tersebut mengatakan agar Ontoseno tidak perlu ragu memulainya. Karena dewa akan memberi kesaktian, yakni apa yang diucapkan Ontoseno akan menjadi kenyataan.


Karena merasa mendapat dukungan para dewa, pikiran Ontoseno mulai terbuka. "Mungkin yang pertama harus kudekati dan kupengaruhi si Mbah Durna. Sebab dia seorang ulama besar dan ulama istana. Pasti pengikut beliau banyak. Ya baiklah kucoba..!" Ujar Ontoseno dalam hati.


Karena itu langkah pertama Ontoseno adalah menuju Padepokan Sokalima. Disinilah kampus milik Pandita Durna yang cukup megah dibangun. Dan tanpa kesulitan berarti Ontoseno menemui Pandita Durna yang kebetulang sedang ada di Kampus.


"Selamat pagi Mbah...kebetulan si Mbah ada di Kampus..!!" Ujar Ontoseno yang menemui Durna, kebetulan dia sedang mengecek kampusnya.


"Ohw kamu Ontoseno cucuku... tumben datang ke Sokalima. Adakah yang bisa kubantu..!?" Sapa Pandita Durna.


"Ya aku kesini memang sengaja untuk menemui si Mbah Durna. Mudah-mudahan si Mbah punya waktu. Aku pengin ngobrol banyak sama si Mbah..!" Jelas Ontoseno.


"Tidak Mbah aku hanya ingin tanya...si Mbah pakai peci putih..pakai sorban dan sarung... ini maknanya apa Mbah..!? Mohon aku yang bodoh diberi penjelasan..!" Ujar Ontoseno memulai obrolannya.


"Ohw itu...peci putih...maksudmu ketu ya..!? Itu dimaksudkan atau maknanya orang yang memai ketu berarti termasuk orang-orang yang sudah berkomitmen untuk menjalankan hidup suci. Bersih atau menghindari perbuatan-perbuatan yang mendatangkan dosa..!" Papar Pandita Durna.


"Aku setuju dengan pendapat di Mbah Durna. Tetapi pertanyaanku kepada si Mbah dan mohon dijawab dengan jujur. Apakah si Mbah sebagai ulama besar telah melakukan itu. Ayoh jawab dengan jujur..!? Atau aku paksa supaya si Mbah berkata jujur...!?" Ujar Ontoseno nadanya mulai tinggi.


"Aduh Ontoseno cucuku bocah bagus pertanyaanmu sungguh sangat sulit kujawab...!" Ujar Pandita Durna terus terang.

__ADS_1


" Si Mbah cukup jujur...ya memang si Mbah pasti kesulitan menjawab pertanyaanku. Sebab meskipun Mbah Durna pake Ketu, pake peci putih...tetapi kelakuanmu masih amburadul. Masih menebar dosa dan maksiat. Ingat lho Mbah kamu sudah tua. Tinggal tunggu mati. Jadi mengapa engkau masih mengejar harta.


Padahal kalau si Mbah mati harta tersebut tidak dibawa. Yang akan kamu bawa cuma amal kebajikan ketika hidup. Pertanyaanku coba dijawab Mbah Durna secara jujur katakan. Timbangan kebaikanmu lebih berat atau lebih ringan dibanding kejahatanmu..?" Tanya Ontoseno.


"Ayoh jawab Mbah. Amal kebaikanmu lebih berat atau lebih ringan dibanding kejahatan yang kamu buat hingga sekarang....!?" Ontoseno mengulang pertanyaannya karena Durna termangu dan tidak menjawab pertanyaannya.


Pandita Durna makin pucat mukanya. Sebab ancaman Ontoseno tidak main-main. Meskipun Bapaknya, Brotoseno memanggil Durna dengan sebutan Bapak. Dan Pandita Durna pun memanggil Ontoseno dengan sebutan Cucu. Tetapi Ontoseno tidak peduli dengan sebutan tersebut.


Jika Ontoseno marah meskipun Durna sedang di dekat Brotoseno, tidak segan-segan Ontoseno menggebukinya sampai pingsan. Karena itu hitungan sampai kepada hitungan kedua. Durma langsung menjerit dan menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil.


"Hah...kok nangis Mbah. Ayoh jawab atau kutendang kamu..!?" Hardik Ontoseno.


"Baik...baiklah kujawab. Bahwa timbanganku kejahatanku kupastikan lebih berat dari kebaikanku..Puaskah kamu Ontoseno..!?" Jawab Pandita Durna dengan tetap menangis.


"Sudah jangan nangis. Itu lho banyak mahasiswamu yang nonton...memalukan..!!! Setelah kamu mengakui sebagai orang jahat. Masihkah kamu akan berbuat jahat sampai ajalmu...!?" Kembali Ontoseno menanyai dengan pertanyaan yang cukup menohok.


"Ayoh jawab jangan ragu-ragu. Kamu pasti tahu. Karena kamu yang mengalaminya. Yang melakukannya. Benarkan..!?" Desak Ontoseno, seraya mengancam jika Pandita Durna tidak jujur. Maka tidak segan-segan Ontoseno menghajarnya hingga tidak bisa bangun.


Hati dan pikiran Pandita Durna benar-benar kalang kabut. Mau menjawab secara jujur, malu. Baik malu kepada Ontoseno maupun kepada dirinya sendiri. Karena Ketu, jubah dan sorban yang dia pake tidak mencerminkan akhlak dia yang sesungguhnya.


Sebaliknya kalau dia bohong dan mengatakan, bahwa timbangan kebaikannya lebih berat. Padahal semua orang tahu bahwa Pandita Durna adalah ulama yang suka memutarbalikkan ayat-ayat suci dan memelintirnya demi uang. Ontoseno bisa marah dan tidak segan-segan dia ditendang atau didupaknya. Sehingga Pandita Durna termangu termenung kecut.

__ADS_1


"Ayoh jawab Mbah...atau kuhitung sampai tiga. Dan jika kamu tetap diam. Jangan salahkan aku jika kamu kutendang Mbah..!? Kuhitung...mulai..satu..!!!" Ujar Ontoseno sembari mengancam.


__ADS_2