Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
7. Pertempuran Sengit.


__ADS_3

Pada saat yang sama Buncul Mrongos langsung menubruk Kodok Brungkul.


"Hayooo....kodok teot jangan lari...!" Teriak Buncol Mrongos sambil menyeruduk menggunakan kepala plontosnya dan gerakan sangat cepat.


Sehingga kepala Buncul Mrongos mirip peluru meriam yang langsung menghantam Kodok Brungkul.


Kodok Brungkul pun tidak bisa dianggap remeh. Tubuhnya yang dilapisi kulit tebal dan berbenuk duri-duri besar dikembangkan sedemikian rupa. Sehingga menyerupai perisai pelindung yang sangat luar biasa.


Karena serangan Buncul Mrongos seperti tidak ada artinya. Sebab hantaman kepala Buncul Mrongos mental sedemikian rupa.


"Hayooo...keluarkan seluruh kekuatanmu. Aku pasti bisa mengatasinya...wahai gundul mencingis..!" Ejek Kodok Brungkul kepada Buncul Mrongos.


Seperti rekannya, tanpa banyak omong Lawean Putih segera menerjang Ece Mede. Ece Mede yang sudah melihat kedatangan Lawean Putih sudah siap.


Segera Ece Mede mengeluarkan kesaktiannya, sehingga seluruh tubuhnya seperti dilapisi lempengan perunggu. Nyaris tidak ada celah kelemahan Ece Mede.


Sehingga Lawean Putih termangu bingung mencari titik lemah Ece Mede.


"Ha..ha..ha..kenapa berhenti bangsat..! Gak berani menyerang aku? Ayoh suruh saja si Baruna menghadapi ku...!?" Ejek Ece Meda kepada Lawean Putih.


Mendapat ejekan demikian tentu saja Lawean Putih marah. Dia segera mengeluarkan kesaktian berupa benang-benang besar yang membentuk jaring dan siap meringkus Ece Mede.


"Awas kau setan..rasakan kesaktian ku ini...jangan mewek ya...!!!" Lawean Putih ganti mtengejek.


Benang-benang yang membentuk jejaring melingkupi seluruh tubuh Ece Mede. Sehingga dia sulit bergerak. Ece Mede coba gunakan kesaktian dengan bertiwikrama sehingga tubuhnya membesar.


Namun hal itu cepat diimbangi Lawean Putih dengan mengeluarkan benang-benang sakti lebih banyak dan kuat.


Sehingga meskipun tubuh Ece Mede membesar, tetapi tidak banyak pengaruhnya karena secara otomatis jejaring yang ditebarkan Lawean Putih pun selalu mengikuti perubahan yang terjadi.

__ADS_1


Tidak berbeda dengan para Senopati mereka, para perajurit pun bertempur dengan sengit dengan lawan masing-masing.


Hal ini mengakibatkan lautan bergolak hebat. Yang menyebabkan para dewa di Suralaya segera turun ke area pertempuran.


Para dewa ini ingin melihat apa yang sedang terjadi di kawasan Samodra ini. Nampak terlihat Batara Penyarikan, dewa pencatat peristiwa, Batara Sambu, dewa penghubung, Batara Brama, dewa api, Batara Indra, dewa awan dan masih banyak dewa lainnya.


Pertempuran Sengit itu cukup berimbang, sebelum para dewa itu turun dan kemudian membantu pasukan Baruna.


Memang sebelumnya sudah ada Batara Bayu yang bertempur melawan Detya Kalamenjing. Tetapi kehadiran para dewa lainnya dengan segera keadaan jadi berubah.


Lihat saja Sontong Kawuk yang sebelumnya agak kewalahan menghadapi Buaya Sakti. Sekarang dengan kehadiran dewa api Batara Brama, Buaya Sakti agak terdesak karena semburan apinya masih kalah besar dan kalah kuat dibanding api ciptaan Batara Brama yang memang pemilik api.


Demikian pula Bajulsengara yang semula girang karena melihat Geger Lintang kewalahan melawannya.


Sekarang dia musti meringis kecut, karena Batara Sambu membantu Geger Lintang.


"Hayoo...mau lari kemana wahai Bajul buntung...kamu akan segera kami ringkus...!" Bentak Geger Lintang kepada Bajulsengara.


Para dewa lain ada yang membantu Batara Bayu. Juga menggasak pasukan Mina Lodra. Kalamenjing yang melihat kondisi tidak menguntungkan ini segera mengeluarkan suitan nyaring agar para Senopati dan pasukannya menyelamatkan diri.


"Ya...aku musti berpikir logis. Jika pertempuran ini dilanjutkan kita semua bakal terbunuh di dasar laut ini. Lebih baik kuselamatkan dulu pasukanku...kemudian kita buat siasat baru dan menyerang kembali...!" Pikir Kalamenjing.


Pikiran yang sama juga ada di benak Buaya Sakti dan Bajulsengara. Yang penting sekarang selamat. Soal nanti urusan nanti saja.


Karena itu Buaya Sakti dan Bajulsengara segera mengeluarkan kesaktian penuh untuk melepaskan diri dari musuh-musuh mereka.


Sontong Kawuk yang mendapat serangan sangat dahsyat dan secara tiba-tiba dari Buaya Sakti sempat melompat ke belakang. Kesempatan ini digunakan Buaya Sakti untuk kabur dari pertempuran sengit itu.


Hal yang sama juga dilakukan Bajulsengara dengan mengeluarkan segala kesaktiannya sehingga Geger Lintang dan Batara Sambu yang mengeroyoknya mundur kaget.

__ADS_1


Sangat mereka terlongong kaget itulah Bajulsengara seperti kakaknya loncat kabur. " Weeih...kabur kamu manusia licik..!" Teriak Geger Lintang yang sudah tidak dipedulikan lagi oleh Bajulsengara.


"Silahkan kamu teriak sampe dadamu jebol...aku tidak peduli..!" Jawab Bajulsengara dari kejauhan yang dengan sekejap tubuhnya menghilang dari pandangan Batara Sambu dan Geger Lintang.


Keadaan yang hampir sama juga terjadi dipertempuran antara Buncul Mrongos lawan Kodok Brungkul. Semula Kodok Brungkul berada di atas angin. Dan Buncul Mrongos agak terdesak.


Namun bantuan Batara Penyarikan membuat keadaan jadi berubah. Kodok Brungkul gantian terdesak. Maka begitu mendengar suitan dari pimpinan tertinggi serangan ini, yakni Kalamenjing. Kodok Brungkul dengan lompatan kilat menghindar dari pertempuran.


Tidak terkecuali Ece Mede yang sempat gelagepan dijerat jejaring Lawean Putih. Mendengar sinyal mundur dari Kalamenjing dengan sisa kekuatan yang ada dia berontak dan menggelinding pergi dengan cepatnya disertai tertawaan ejekan dari lawannya, Laweyan Putih.


Melihat anak buahnya telah berhasil lolos dari musuh-musuhnya, maka tidak ada alasan lain untuk melanjutkan pertempuran. Kalamenjing segera melesat terbang dengan suitan yang sangat kencang memekakan telinga.


"Hai Bayu..kusudahi pertarungan ini...lain kali kulanjutkan. Dan aku yakin aku bisa menaklukanmu..!" Ujar suara Kalamenjing lamat-lamat.


"Wahai pecundang kutunggu kamu...dan ntar jangan kabur lagi..!" Jawab Batara Bayu yang entah didengar atau tidak oleh Kalamenjing.


Setelah semua pasukan Mina Lodra bubar, Batara Bayu melakukan inspeksi.


" Bagaimana keadaanmu saudaraku Buncul Mrongos, dan juga kau saudara Lawean Putih..?" Tanya Bayu di sela-sela inspeksi kepada Buncul Mrongos dan Lawean Putih.


"Alhamdulillah...kami sehat wal Afiat tidak kurang suatu apa..!" Jawab keduanya berbarengan, " bahkan pasukan kami pun demikian...ya korban hanya sedikit karena serangan mendadak dan anak-anak kurang siap. Tetapi secara menyeluruh kami baik-baik saja..! " Jelas Lawean Putih.


Dari Lawean Putih, Batara Bayu menginveksi Geger Lintang dan Sontong Kawuk. Mereka pun menyatakan bersyukur tidak banyak jatuh korban jiwa.


Melihat keadaan kondisi pasukan dan para Senopati ya dalam keadaan bagus. Bayu tersenyum bangga.


"Ini untuk bahan laporan kepada Kakang Baruna...pasti dia senang dan bangga..!" Ujar Batara Bayu membatin.


Sementara itu Sanghyang Baruna yang mengawasi peperangan itu jarak jauh. Sebenarnya sudah mafhum bahwa pasukannya tidak mengalami kesulitan melawan Kalamenjing dan kawan-kawan.

__ADS_1


Tetapi tetap ada yang disayangkan karena mereka tidak berhasil meringkus Senopati Mina Lodra.


"Ya gak apa-apa lain kali harus ada yang dapat kita ringkus para ontran-ontran ini...!" Ujar Baruna berjanji dalam hati.


__ADS_2