
Kepergian Prabu Suteja Bomanarakasura dari Pertapaan Cakrawala tidak berarti keruwetan selesai. Sebab pada saat bersamaan muncul Pangeran Djanoko yang diiringi pasukan Kurawa yang bermaksud mengambil Dewi Kencana Resmi dengan kekerasan.
Padahal Pangeran Djanoko sudah diberitahu Punakawan Petruk. Bahwa Dewi Kencana Resmi sudah Syah jadi isteri Wisanggeni, putera Pangeran Djanoko sendiri.
Tetapi nampaknya Djanoko tidak peduli dan terus hendak memaksakan kehendak.
Untung masih ada Prabu Sri Kresna. Raja Dwarawati inilah yang kemudian berhasil menyadarkan Pangeran Djanoko.
Dan Prabu Sri Kresna memerintahkan Brotoseno alias Werkudoro untuk mengusir bala tentara Kurawa termasuk Prabu Duryudana dari Pertapaan Cakrawala. Sehingga Wisanggeni dapat menikmati bulan madu dengan nyaman.
Dunia terasa lebih nyaman, saat putera Prabu Puntadewa, yakni Raden Pancawala sedang berdiskusi dengan Ontoseno. Topik yang mereka bicarakan adalah mengenai posisi Duryudana sebagai Raja di Hastinapura.
"Menurutku sih...Duryudana tidak pantas jadi Raja. Bukan saja potongannya tidak ada. Tetapi juga perilakunya jauh sekali dari perilaku seorang pejabat, apalagi Raja..
Kakang Pancawala..!" Ujar Ontoseno mengenai Duryudana atau Suyudana atau Djajalitana kepada Pancawala.
"Jadi menurutmu Pakde Duryudana pantasnya jadi apa Ontoseno..!" Tanya Pancawala ingin tahu.
"Menurutku Kakang..seorang Raja harus bersifat mengayomi. Tidak bengis tetapi bijaksana...Coba Kakang perhatikan sifat-sifat seperti itu tidak ada sama sekali. Malahan yang ada sifat bengis kejam dan tidak "Tepo saliro". Pokoknya sifatnya aneh lah..!" Jelas Ontoseno.
"Jadi menurutmu Pakde Duryudana pantese jadi apa...adikku Ontoseno..!?" Tanya Pancawala lagi.
"Aduh sulit ya Kakang....bahkan untuk jadi Kernek angkot saja kayaknya Pakde Duryudana tidak pantes. Apalagi jadi raja. Raja besar lagi. Karena Kerajaan Hastinapura adalah kerajaan besar yang luas wilayahnya dan banyak negara jajahannya...!? Memang sejatinya, tahta kerajaan Hastinapura milik Pandawa. Disamping itu ada persyaratan mistis yang harus dilalui para calon raja Hastinapura.
Yaitu setiap orang yang akan menjadi Raja Hastinapura harus mampu menduduki kursi atau singgasana kerajaan.
Dan sampai saat ini belum ada yang mampu menduduki singgasana asli kerajaan. Bahkan Pakde Duryudana sendiri hanya duduk di singgasana duplikat bukan asli..!" Terang Ontoseno yang membuat Raden Pancawala makin penasaran perihal tahta Kerajaan Hastinapura.
"Lantas menurutmu siapa orang yang cocok..adikku..!?" Pancawala semakin ingin tahu.
__ADS_1
"Terus aku tidak tahu Kakang. Bahkan para orang tua kita, yakni para Pandawa tidak ada yang tahu. Menurut cerita yang mengetahui siapa orang yang tepat hanyalah Gajah Pusaka Kyai Antisura.
Gajah itu berada di dalam istana dan Gajah itu akan dengan sendirinya menduduki orang yang cocok dengan belalainya. Sampai saat ini, Kyai Antisura belum pernah melakukannya. Jadi secara hukum publik maupun hukum spiritual Pakde Duryudana itu sangat tidak pantas menjadi Raja di Hastinapura...Kakang..!" Ujar Ontoseno lagi.
"Jadi sebaiknya apa yang kita lakukan untuk meluruskan sejarah..!?" Cecar Pancawala.
"Kalau menurut pendapatku...kita rebut saja negara Hastinapura. Kemudian Kakang Pancawala menjadi rajanya. Siapa tahu, Kakang Pancawala adalah orang yang memang dibutuhkan. Atau setidaknya Hastinapura kita kuasai sambil mencari dan melihat siapa orang yang cocok menjadi raja diantara kita. Bagaimana Kakang!? Itulah pendpatku..!" Tegas Ontoseno.
"Bagaimana caranya Ontoseno adikku..!?"
"Kakang Pancawala tinggal ikut saja. Nanti akulah yang mengobrak-abrik Hastina..!" Jelas Ontoseno dan Pancawala mengangguk sebab ini pasti pengalaman yang cukup menarik.
"Baiklah...adikku...aku ikut kemauanmu...apa perlu ngomong kepada orang tua kita..!?"
"Tidak perlu Kakang..malah jadi ruwet dan bisa gagal rencana kita. Ayoh kita berangkat..!" Tegas Ontoseno yang langsung menggandeng tangan Pancawala.
Mereka berdua, Raden Pancawala dan Raden Ontoseno langsung menemui Raja Hastinapura, Prabu Duryudana. Dan tanpa basa-basi Ontoseno langsung meminta Negara Hastinapura diserahkan kepadanya. Jika tidak diserahkan Ontoseno berjanji akan mempermak Prabu Duryudana. Dan siapapun yang mendukung Prabu Duryudana juga akan ditendang.
" Wahai Ontoseno Cucuku yang peling ganteng...aku gak ikutan lho. Silahkan kamu apa saja aku gak peduli. Karena itu kamu jangan marah sama aku ya..!?" Ujar Pandita Durna.
"Aku juga sama seperti Kakang Pandita Durna. Aku gak ikut-ikutan lho Ontoseno. Jadi kamu jangan pukul dan tendangi aku..!" Timpal Sengkuni sambil gemetaran.
Prabu Duryudana melihat kedua orang abdinya ketakutan seperti itu, membuat dirinya ikut-ikutan panik. Dalam hatinya berpikir, jika dia tidak lari dari sekarang. Bisa jadi dia bakal babak belur dipukul ditendangi Ontoseno.
"Aku harus kabur sekarang atau akan mati disini..!' ujar Duryudana dalam hati.
Saat Ontoseno sibuk meladeni Patih Sengkuni dan Pandita Durna, dengan tidak tahu malu Prabu Duryudana lari kencang sekali tanpa nengok kanan-kiri, pokoknya kabur saja.
Prabu Duryudana lari menuju Negara Trajutisna dengan tujuan minta pengayoman Prabu Suteja Bomanarakasura.
__ADS_1
"Tolonglah aku Anak Prabu..tolong...!" Ujar Prabu Duryudana dengan nada memelas kepada Prabu Suteja Bomanarakasura.
"Mari...masuk..mari masuk Paman Prabu. Ada apa ini...!?" Tanya Prabu Suteja Bomanarakasura kepada Prabu Duryudana.
"Hancur...hancur..Ontoseno ngamuk di Hastinapura. Balakurawa diserang diamuk. Akupun jika tidak segera lari kesini..entah apa jadinya..!? Ungkap Prabu Duryudana.
"Wah..wah apa maksudnya si Ontoseno itu..!?"
"Entahlah tetapi dia ngajak Pancawala..aku dengar Pancawala oleh si Ontosena dijadikan raja. Karena itu aku minta tolong kepadamu Anak Prabu...usirlah Ontosena. Jika nanti aku kembali ke Hastina kamu kuberi separo kerajaan Hastinapura...!" Janji Prabu Duryudana.
Berita jatuhnya Kerajaan Hastinapura di tangan Ontoseno menjadi viral. Semua kantor berita juga semua stasiun tivi baik punya pemerintah maupun swasta memberitakan.
Mereka ingin berlomba-lomba menjadi yang nomor satu dalam memberitakan atau menyampaikan informasi. Sehingga tidak heran mereka menyajikan berita-,berita hoak dan ngawur. Asalkan mendapatkan banyak ditonton orang.
Maka banyak sekali berita-berita ngawur dan konyol berseliweran. Diantaranya diberitakan stasiun Televisi Asal Njeplak yang berlokasi di Dusun Sokalima.
Menurut televisi Asal Njeplak, Prabu Duryudana dipaksa kabur hanya memakai celana pendek dan kaos oblong. Stasiun telivisi Menang Nyinyir Coy memberitakan bahwa karena Duryudana kabur, maka isterinya yang seksi dan bahenol, Dewi Banowati disambar Djanoko yang memang telah lama menjadi selingkuhan Banowati.
Berita itu pun sampai ke putera-putera Pandawa yang lain, seperti Raden Antareja, Raden Gatutkaca, Raden Irawan, Raden Abimanyu dan lainnya.
Para putera Pandawa selanjutnya mendatangi Ontoseno dan Pancawala di Keraton Hastinapura, kecuali Abimanyu yang lebih suka memilih duduk disertai Panakawan di taman hutan sekitar istana.
Ontoseno yang melihat kedatangan mereka langsung menyambut.
"Selamat datang saudara-saudaraku...mari-mari kita nikmati nikmatnya menjadi raja. Dan ini memang menjadi hak kita..!" Ungkap Ontoseno.
Dan dari sekian banyak para putera Pandawa, Gatutkaca yang mulai mempertanyakan.
"Adikku Ontoseno..aku mohon maaf. Aku benar-benar buta dan tidak paham, apa sebenarnya yang kamu inginkan? Dan setelah Pakde Duryudana kabur..siapa yang akan kamu jadikan raja?" Tanya Gatutkaca kepada Ontoseno.
__ADS_1
"Ya Kakang...aku dan Kakang Pancawala sejatinya tidak punya keinginan jadi raja disini. Apa yang kami lakukan adalah wujud kritik protes terhadap Pakde Duryudana. Mengapa..!?