
Keinginan Ontoseno dikeroyok Lesmana dan Samba, membuat darah di kepala bocah degleng Lesmana mendidih.
"Kakang Samba...biarlah sampean istirahat atau tidur-tiduran terserah. Namun untuk menghadapi Ontoseno biar aku saja..!" Ujar Lesmana kepada Samba.
Raden Samba atau Wisnubroto menanggapinya dengan santai.
" Silahkan Dimas Lesmana...saya mau makan sauto dan minum es teh dulu...!" Jawab Samba.
"Hai Ontoseno kamu jangan takabur...tidak perlu Kakang Samba ikut-ikutan. Aku jamin kamu akan nglumpruk hanya dua jurus kungfuku ajaran Kakek Pandita Durna..!" Tantang Lesmana kepada Ontoseno sembari berkacak pinggang.
Tanpa banyak bicara Ontoseno langsung menyerang kaki Lesmana dengan guntingan. Tepat. Dan Lesmana terjengkang jatuh dengan bagian pantat lebih dulu. Karuan saja sakitnya bukan main dan Lesmana mengaduh kesakitan.
"Mana kesaktianmu Wong Edan...sekali serang terjengkang dan langsung menyalak he..hehe..! Keluarkan ilmumu yang katanya pemberian Durna..!" Ejek Ontoseno.
Lesmana segera pasang kuda-kuda gaya kungfu, kaki di depan ditekuk kaki belakang sebagai poros.
" Rasakan nih tendangan tanpa bayangan warisan Wong Fei Hung...!" Jerit Lesmana yang langsung menyerang dengan tendangan berantai ke arah tubuh dan kepala Ontoseno.
" Kamu menyerang dengan barang impor gak laku...keluarkan semua ilmumu. Akan kubanting kamu bencong..!" Ejek Ontoseno dan dia mencelat, menjambak rambut Lesmana yang gondrong. Lalu ditarik dengan kuat. Kemudian dia banting "ngek". Lesmana tele-telek, mewek.
" Aduh biunggg...sakitnya Mak..!" Jerit Lesmana diiringi tawaan Ontoseno.
" Dasar bocah gendeng...ilmu pendeta Durna itu ilmu tipu-tipu kok diyakini...bisa mampus kamu..!" Ontoseno berdiri dengan berkacak pinggang. Sementara Lesmana masih meringis kesakitan sambil megangi kepala dan pinggangnya yang seolah patah.
Dijidatnya Lesmana muncul dua benjolan sebesar bola golf. Ini yang membuat kepalanya pusing dan tubuhnya terhuyung. Dalam hati Lesmana mau tidak mau membenarkan ucapannya. Bahwa ilmu Durna adalah ilmu tipu-tipu.
Benar waktu babak penyisihan Lesmana terlihat hebat. Karena Lesmana sengaja mencari lawan yang lemah, raja bloon, raja penyakitan dan raja kurang makan. Pantas dia menang dan kelihatan hebat.
Namun ketika menghadapi lawan tangguh, sehat lahir batin, Lesmana seperti kerupuk tersiram air. Maka meskipun Ontoseno sudah menantang melecehkannya, Lesmana masih diam. Bahkan muka dan matanya clingak-clinguk. Ini pertanda Sarju Kusuma akan kabur.
__ADS_1
" Ayoh bangkit Bujang Lapuk..aku masih belum puas menghajarmu..!!! Jangan plirak-plirik..mau kabur ya..!?" Cecar Ontoseno, yang ditanggapi Lesmana dengan diam mukanya mendadak pucat.
Meskipun gendeng alias kentir Lesmana cukup paham bahwa ilmunya Durna sama sekali tidak berguna. Bahkan jika dia nekad tidak menyerah atau tidak kabur, dia bisa modar dihajar Ontoseno.
" Ayoh mau lanjut apa menyerah...!?" Tanya Ontoseno geram.
Lesmana dilema, menyerah berarti kalah juga berarti tidak bisa mendapatkan gadis pujaannya Dewi Djanokowati. Selanjutnya meneruskan pertarungan, berarti sama mengantarkan nyawa dengan sia-sia.
Selagi Lesmana bimbang, Ontoseno yang memang sudah geram sekali terhadapnya. Langsung menubruk Lesmana diangkat tubuhnya langsung dibanting. "Ngeeekkk." Suaranya lebih keras dari bantingan pertama.
Hasilnya, Lesmana semaput. Pandita Durna yang menyaksikan pertarungan itu segera maju.
" Stop...stop..cucuku Ontoseno. Sudahlah...aku menjadi saksi nek Lesmana kalah. Biar kubawa pulang tubuh Ontoseno..!" Seraya berkata demikian, Durna memanggil sopir pribadiny untuk mengangkut tubuh Lesmana yang semaput dibawa pulang ke Hastina.
Prabu Baladewa yang juga ikut menyaksikan kejadian itu malah bersyukur, "Aku sih berharap Lesmana modar, biar tidak jadi masalah terus..!" Gumam Baladewa.
Coba bayangkan, seorang putera mahkota dari raja besar hobbynya kok minum minuman keras oplosan. Juga kerap menjadi bandar judi.
Bahkan yang kurang ajar sekali, jika birahinya tengah naik. Siapa saja perempuan yang ada didekatnya disikat. Tidak peduli dia bakul srabi, bakul es. Bahkan gembel dan anak punk pun Lesmana doyan.
Dengan perbuatannya yang super norak, mana mungkin ada cewek baik-baik mau dinikahi olehnya. Karena itu tidak heran, sudah ratusan gadis yang dia lamar. Semuanya menolak, atau terpaksa pulang digotong dengan tubuh babak belur seperti sekarang ini.
Didalam mobil, dengan ditunggui Pandita Durna dan Prabu Baladewa, Lesmana sadar,
"Dimana aku sekarang Kek...!?" Tanya Lesmana ketika dia melirik disampingnya ada Durna dan Baladewa.
"Kita sekarang on the way ke rumah.. Tadi kamu dibanting Ontoseno dan kamu semaput. Kalau tidak kuselamatkan entah apa jadinya..!" Ungkap Durna yang dibenarkan Baladewa.
"Ya kalau Paman Durna tidak cekatan menolongku mungkin kamu dibanting lagi...!" Tambah Baladewa.
__ADS_1
"Ya terima kasih Kek.. Ayoh pulang saja. Gak dapat Djanokowati gak apa-apa....masih ada Yu Parmi penjual es yang katanya naksir aku. Aku mau nikah Yu Parmi saja deh...!" Ujar Lesmana.
"Memang ini mau pulang kok....gagal maning..gagal maning..! " Gerutu Durna.
Lesmana merasa bersyukur sekali bisa selamat dari amukan Ontoseno.
Dalam sebulan Lesmana sudah dibabak beluri Ontoseno dua kali. Pertama saat melamar Dewi Pergiwati, yang juga gagal. Karena lebih memilih Raden Poncowolo daripada dinikahi Lesmana.
Sekarang pun Lesmana harus gagal maning, lantaran dibanting dan dibogem Ontoseno sampai babak belur dan semaput. Barangkali sudah menjadi suratan nasib Lesmana harus begitu.
Dengan menyerahnya Lesmana, sekarang hanya tinggal dua orang saja, yaitu Raden Wisnubroto dan Ontoseno.
"Adikku Ontoseno sebaiknya kamu ngalah saja deh..! Biar Djanokowati untukku saja...!" Ujar Samba atau Wisnubroto kepada Ontoseno.
" Kangmas Samba...sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan Djanokowati kuserahkan kepadamu dan aku ngalah..tetapi kalau ini kulakukan berarti aku meremehkan kemampuanmu Kangmas. Padahal Engkau anak raja besar yang terkenal sakti. Lho kalau kamu menang karena lawanmu ngalah bukankah itu sangat memalukan..!?
Itu yang pertama, yang kedua aku maju perang ini karena kehendak Bapakku. Bapakku ingin agar aku menjadi ksatria dan unggul dalam perang. Lha kalau aku kalah karena mengalah Bapak Brotoseno bisa marah dan aku bakal dihajar habis-habisan.
Dan yang ketiga, Dewi Djanokowati pun pasti akan kecewa mendapatkan calon suami yang menang karena pemberian...itulah Kangmas. Sehingga pertempuran harus kita lakukan. Soal kalah menang tergantung bagaimana Kangmas memanfaatkan kesempatan yang ada...!" Ujar Ontoseno menjawab keinginan Wisnubroto yang mengharapkan dia mengalah.
Samba dan Lesmana Mandrakumara sebenarnya setali tiga uang. Dia bisa lolos karena sengaja mencari lawan tanding yang lemah dan tidak punya semangat juang. Sehingga Samba dan Lesmana berhasil mencapai putaran final.
Karena itu jika Samba harus bertarung melawan Ontoseno, seperti menyerahkan nyawa. Sebab Samba ini anak mama. Dia nyaris tidak pernah berkelahi. Bahkan belajar silat pun hanya untuk formalitas saja. Bahwa dia anaknya raja dan harus bisa silat. Jadi bukan silat untuk beladiri, tetapi lebih banyak silat itu sebagai aksesori saja.
Bandingkan dengan Ontoseno yang memang tukang kelahi. Hampir saben hari waktunya digunakan untuk berantem. Bahkan saat bayi dia sudah dijadikan jago para dewa dan bertarung dengan siluman Raksasa Mina Lodra dan menang.
Karuan saja Samba bergidik ngeri. Apalagi Lesmana yang lebih dahulu melawan Ontoseno pulangnya babak belur dan harus ditandu keluar karena semaput.
"Aku tidak ingin bernasib seperti Lesmana..!" Ujar Samba dalam hati.
__ADS_1