
Setelah dipisah, Ontoseno dan Wisanggeni tetap masih berangkulan. Karena selain keduanya adalah saudara sepupu. Hubungan Ontoseno dan Wisanggeni sangar akrab.
Sekedar catatan, Wisanggeni adalah putera dari Pangeran Djanoko hasil pernikahannya dengan Dewi Darsanala, seorang bidadari yang sangat cantik jelita putera Batara Brahma.
Dan Wisanggeni memang lahir di Kahyangan Suralaya dan mempunyai kesaktian yang luar biasa. Sehingga Wisanggeni diangkat para Dewata sebagai dewa penutup.
Hampir satu tahun lebih Ontoseno tidak bertemu Wisanggeni. Karena dia harus menjalani tapa dan mencari Jimat Kalimusada.
Maka tidak heran setelah bertemu, keduanya berangkulan sangat erat melepaskan kerinduan.
"Sudah...sudah...ayo ceritakan siapa tadi yang jadi Dewa Wicara dan siapa yang jadi Pandita..!?" Ujar Sri Kresna.
Wisanggeni segera menceritakan, bahwa dalam perjalanan mencari jejak Ontoseno yang telah meninggalkan Amarta cukup lama karena mencari Jimat Kalimusada. Wisanggeni berjumpa dengan seorang dewa.
Dan Dewa tadi mengatakan, bahwa dia bakal ketemu Ontoseno jika berubah ujud jadi Pandita. Yakni Pandita Djajalsengar dan menjalani tapa ngrame. Artinya bertapa ditempat keramaian dan hidupnya didedikasikan untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan.
"Dan yang jadi Prabu Dewa Wicara..adalah Kanda Ontoseno..Pakde..!" Wisanggeni mengakhiri kisahnya.
Dan tanpa disadari Patih Herbanu juga sudah kembali jadi Sanghyang Wenang, dewa yang berkuasa atas jagadraya ini.
Sedangkan ular besar Candrasengkala telah kembali jadi Jimat Kalimusada.
" Alhamdulillah...semua telah kembali.. semua telah kumpul... terima kasih Kakek Wenang...!" Ujar Sri Kresna menyampaikan terimakasihnya kepada Sanghyang Wenang atau Sang Asih Prana.
Ya Ontoseno sudah muncul. Jimat Kalimusada sudah ketemu. Jadi benar-benar happy anding.
"Terima kasih Kakek Wenang.. kami harus kembali ke Amarta untuk mengantarkan Jimat Kalimusada.
Dan khusus untuk Ontoseno, kamu harus segera pulang. Isterimu menunggumu..dan kamu telah sukses menemukan Jimat Kalimusada.
__ADS_1
Kakek Wenang...kami mohon pamit..!" Ujar Prabu Sri Kresna yang langsung mengajak Brotoseno dan Djanoko serta anak-anaknya untuk kembali ke Amarta.
Setelah para manusia pulang ke dunia. Sanghyang Wenang memanggil Batara Guru dan Batara Narada. Tahta Kahyangan Jonggringsalaka kembali diserahkan kepada Batara Guru.
"Wahai Manikmaya (Batara Guru) ini tahta Jonggringsalaka kembali kuserahkan kepadamu.
Tetapi ingat...berjalanlah kepada jalan yang lurus dan benar. Jangan sekali-kali kamu membelokan kebenaran jadi kejahatan. Dan jangan sekali-kali kamu mengumbar nafsu. Terlebih nafsu syahwat.
Kamu sering melanggar aturan hanya karena menuruti kemauan si Gendeng Pramono (Batari Durga). Mustinya kamu dianugerahi otak oleh Hyang Maha Tinggi digunakan agar kamu tidak tersesat...!!" Nasehat Sanghyang Wenang Batara Guru cuma tertunduk.
"Inggih Kakek Wenang... akan saya perhatikan pitutur Kakek Wenang...!" Ujar Batara Guru.
"Dan kau Kaneka Putera...kamu jadi penasehat Kahyangan yang tegas. Katakan benar jika itu memang benar. Kamu jangan ragu untuk mengatakan tidak.. jika menurutmu tindakan Manikmaya tidak benar..!" Semprot Sanghyang Wenang kepada Sanghyang Kanekaputera atau Batara Narada.
"Siaaap Kek...perintah Kakek Wenang akan saya perhatikan..!" Jawab Narada.
"Aku pikir cukup...sekarang tahta Kahyangan kukembalikan kepadamu. Selanjutnya berbuat dan bertindak bijaksanalah...aku pamit untuk kembali ke Kahyangan Alang-alang kumitir..!" Ujar Sanghyang Wenang, dia langsung lenyap, seperti hembusan angin kembali ke kediamannya di Kahyangan Alang-alang Kumitir.
"Selamat datang Kanda Prabu. Apa kabar..!?" Sapa Prabu Puntadewa kepada Prabru Sri Kresna.
"Alhamdulillah kabar baik Dinda Prabu...dan kami berhasil menemukan Jimat Kalimusada. Juga Ontoseno..Dinda..!" Selanjutnya, Sri Kresna memberi isyarat agar Djanoko maju kehadapan Prabu Puntadewa dan menyerahkan Jimat Kalimusada.
Jimat Kalimusada yang pernah berubah jadi ular besar bernama Candrasengkala dan ular besar itu dikembalikan oleh Sanghyang Wenang menjadi wujud semula, yakni Jimat Kalimusada.
Sesaat setelah berhasil melengserkan Prabu Dewa Wicara dari tahta Jonggringsalaka. Djanoko diserahi Jimat milik Pandawa yakni Kalimusada oleh Sanghyang Wenang.
"Syukur Alhamdulillah Jimat Kalimusada telah ke tangan kita. Mudah-mudahan negara kita akan gemah Ripah loh jinawi.
Mudah-mudahan negara kita akan aman sentosa. Adem ayem tenteram dan makmur. Semua rakyat waras sehat dan berkah. Mudah-mudahan semua penyakit menyingkir jauh-jauh dari wilayah Amarta.
__ADS_1
Terima kasihku yang tidak terhingga kepada Ontoseno, Kanda Prabu Sri Kresna, Dinda Brotoseno, dan Dinda Djanoko. Mari kita kembali fokus membangun bangsa dan negara ini...!" Ajak Prabu Puntadewa yang diamini oleh semua yang hadir.
Dengan kembalinya Jimat Kalimusada ke tangan para Pandawa negara Amarta jadi aman makmur Santosa. Penyakit pandemi seperti Corona yang sebelumnya melanda negeri ini. Mendadak hilang, sehingga banyak produsen masker bangkrut.
Tidak hanya produsen masker yang bangkit, produsen obat-obatan yang katanya anti Corona juga gulung tikar.
Jadi kembalinya Jimat Kalimusada, wong cilik senang. Karena mereka tidak usah beli masker. Sehingga uang yang untuk beli masker bisa digunakan untuk yang lebih dibutuhkan.
Wong cilik juga senang, karena kebutuhan membeli obat-obatan anti Corona bisa dialihkan untuk membeli barang kebutuhan kebutuhan pokok yang lebih dibutuhkan.
Keadaan negara yang aman tenteram, membuat Ontoseno juga hidup lebih nyaman. Sehingga dia bisa lebih fokus membina rumah tangga bersama Dewi Djanokowati.
Ontoseno juga menceritakan kepada isterinya ketika dia diminta ayahnya, Brotoseno untuk mencari Jimat Kalimusada yang hilang dari tempat penyimpanannya.
"Bapak menugaskan aku untuk mencari Jimat Kalimusada. Dan harus ketemu, padahal aku tidak tahu jimat itu diambil siapa dan kemana aku harus mencari.''
Karena bingung dan bertanggungjawab harus menemukannya. Maka aku pilih bertapa di gua Singo Mangleng, di tengah Hutan Dandaka, Isteriku...!" Tutur Ontoseno kepada isterinya.
Gua Singo Mangleng, ungkap Ontoseno, adalah sebuah gua yang sangat angker berada di tengah hutan yang juga sangat wingit. Orang biasa tidak ada yang berani ke gua itu.
Karena di gua itu banyak binatang buas seperti harimau, ular dan sebagainya. Juga dihuni oleh bangsa siluman dan hantu-hantu yang paling ganas.
"Dan selama aku bertapa ditunggui ular besar sejenis cobra yang sangat berbisa. Ular itu ternyata bisa berbicara dan menganggap aku saudaranya. Ular itu bernama Candrasengkala...!" Ungkap Ontoseno.
Ular yang menemaninya bertapa, ternyata jelmaan Jimat Kalimusada yang sedang dicarinya. Dan itu terungkap setelah Ontoseno jadi Raja di Kahyangan Jonggringsalaka.
"Jadi pengalamanku jadi Raja meskipun cuma sebentar. Itu bisa kamu ceritakan kepada anak cucu kita kelak..Isteriku..!" Ujar Ontoseno.
Waktu aku jadi Raja, papar Ontoseno, wujudku dirubah oleh Kakek Wenang dan namaku bukan Ontoseno, tetapi Dewa Wicara atau Dewa Kuncara.
__ADS_1
"Setelah ngobrak-abrik Kahyangan dan menyadarkan Batara Guru dari perilaku yang menyimpang...aku setelah ujudku jadi Ontoseno dan Candrasengkala kembali ke asalnya, yakni Jimat Kalimusada...akhirnya kembali kepadamu Isteriku..!'" ujar Ontoseno sambil mendekap isterinya di tempat tidur.