Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
20. Alas Roban Hutan Yang Sangar.


__ADS_3

Berbeda dengan Yuyu Rumpung yang ngumpet di hutan bakau Nusakambangan. Kalamenjing justeru mengasingkan diri dan ngumpet di Alas Roban.


Alas Roban adalah hutan yang sangat sangar. Disamping menjadi sarang begal dan perampok. Hutan ini juga menjadi markas dedemit, dan para siluman di tanah Jawa.


Orang biasa kecuali berombongan baru berani memasuki kawasan ini. Jika sendirian umumnya orang menghindari tempat ini.


Namun berbeda dengan Kalamenjing, di samping dia memang berdarah siluman. Kalamenjing juga suka bergaul dengan kalangan demit, seperti genderuwo, Wewe gombel dan hantu lain memang kerap menjadi temannya.


Karuan saja Kalamenjing sangat suka dengan kawasan Alas Roban. Wilayah ini menjadi habitatnya dan dia merasa lebih aman dan tenang disitu. Karena setiap ada musuh atau orang yang mencurigakan memasuki kawasan tersebut. Pasti rekannya para demit memberitahukannya.


Jika pun ada yang berusaha mengganggunya atau mengancam jiwanya. Hampir dipastikan para genderuwo dan atau Wewe gombel membelanya.


Tentu saja Ontoseno paham akan kondisi Alas Roban. Karena sebelum berangkat Ontoseno sudah didongengi oleh kakeknya, Sanghyang Resi Mintuno akan bahayanya Alas Roban.


Karena itu Mintuno juga memberi Ontoseno pengawal seorang demit yang bernama Lali Jiwo. Lali Jiwo ini sebangsa jin yang baik suka menolong dan benci kejahatan.


Lali Jiwo disimpan dalam akik yang dipake Ontoseno, yang kapan saja bisa dipanggil untuk membantunya dengan cara mengusap akik tersebut tiga kali.


Karena itu untuk menghadapi suasana yang penuh teka-teki ini, Ontoseno segera mengusap akiknya dan keluarlah dari akik itu seorang lelaki gemuk pendek berwajah lucu dan langsung menyapa.


"Ada perintah apa tuanku...? Lali Jiwo siap menunggu perintah Tuan..!" Ujar Lali Jiwo dengan sangat sopan kepada Ontoseno


"Ya...Lali Jiwo aku belum berpengalaman dengan situasi Alas Roban. Juga aku belum mengenal betul bahasa dan kebiasaan para demit.


Karena itu, aku mohon bantuan agar mampu menjembataniku dengan mereka. Sebab aku tidak ingin menyinggung atau mengusik mereka yang kucari. Jadi tolong bantu aku ya...!!!?" Ujar Ontoseno juga dengan datar


"Sendika Tuanku..!" Ujar Lali Jiwo langsung melesat memasuki kedalaman Alas Roban. Ontoseno sambil duduk bersandar di pohon mahoni dia menunggu laporan dari Lali Jiwo.


Lali Jiwo karena dia adalah bangsa jin, sehingga mudah sekali beradaptasi dengan situasi Alas Roban. Dan tidak menunggu terlalu lama, makhluk gaib bertubuh pendek gemuk berwajah lucu sudah sampai di tempat Ontoseno duduk.


"Kok cepet banget Lali Jiwo? Apa yang dapat kamu laporkan kepadaku..!?" Tanya Ontoseno kepada Lali Jiwo.


"Sendiko Tuanku...kebetulan saya punya kenalan disini. Menurut teman saya yang bernama Sapujagat, bahwa buronan Tuanku memang ada disini. Dia buat Pesanggrahan di bibir pantai hutan ini.

__ADS_1


Dia sekarang ditemani seorang genderuwo yang cukup berpengaruh di kawasan ini. Namanya Dolop Keclop....tetapi jangan khawatir Tuanku. Dolop Keclop nanti bagian saya kalau dia nantinya berbuat macam-macam kepada Tuanku...!" Papar Lali Jiwo.


"Selain Dolop Keclop siapa lagi yang membantu Kalimenjing..!?" Tanya Ontoseno lagi.


"Mungkin seorang Wewe gombel yang bernama Nini Cowong...!" Terang Lalu Jiwo.


Lali Jiwo juga menjelaskan bahwa Genderuwo dan Wewe gombel peliharaan Kalamenjing tidaklah terlalu membahayakan. Karena ilmu keduanya tidak seberapa dan Lali Jiwo yakin bisa mengalahkannya.


"Hanya yang saya khawatirkan jika Batari Durga dan Batara Kala datang dan ikut membantu Kalamenjing. Tentu ini sulit kita lawan...!" Urai Lali Jiwo.


Mendengar paparan Lali Jiwo Ontoseno mengernyitkan dahi. Dia mengakui bahwa menghadapi kedua dewa kejahatan tersebut bukanlah perkara sepele.


Kesaktian keduanya sungguh sangat luar biasa. Dan kemungkinan keduanya membantu Kalamenjing.


Mengingat tanpa bantuan mereka abdinya yang lain, yakni Yuyu Rumpung berhasil dibunuh Ontoseno.


Maka wajar jika mereka akan mati-matian membela Kalamenjing. Karena itu Ontoseno harus memutar otak bagaimana caranya agar dia menyergap Kalamenjing tanpa direcoki Batari Durga dan Batara Kala.


Konon jika membaca suluk ini Batara Kala dan Batari Durga kepanasan dan akan lari tunggang langgang.


Setelah lokasinya sudah jelas, Ontoseno segera mendekati Pesanggrahan Kalamenjing dan meminta yang bersangkutan menyerahkan diri.


"Wahai Kalamenjing...aku Ontoseno utusan para dewa memintamu menyerahkan diri. Untuk kubawa ke Gisik Samudra agar engkau diadili sesuai kesalahan yang kamu buat..!" Bentak Ontoseno yang disertai pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi.


Mendengar gertakan Ontoseno, Kalamenjing terkekeh. Ada kesan dia tidak takut. Sehingga dugaan ada orang kuat yang berada di belakangnya semakin jelas.


Karena itu Ontoseno langsung membacakan suluk Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Lafal tersebut dibaca keluar hawa panas yang membakar.


Tidak lama kemudian terdengar lengkingan perempuan yang sangat parau. Juga teriakan kesakitan seorang lelaki yang bersuara Bariton.


Usai teriakan terlihat dua buah cahaya melesat kabur dari Pesanggrahan Kalamenjing. Mereka itulah Batari Durga dan Batara Kala yang kabur karena suluk sakti yang dilafalkan Ontoseno.


Suluk ini adalah milik atau ciptaan Ki Dalang Kanda Buana, seorang dalang yang sakti dan dimintai tolong wong cilik yang ketakutan akibat keganasan Batara Kala.

__ADS_1


Dan ternyata dongeng tersebut benar adanya. Ontoseno telah membuktikan kedahsyatan Suluk tersebut.


"Sekarang pelindungmu telah kabur. Kamu menyerah atau kubunuh wahai Kalamenjing..!" Ontoseno memberikan ultimatum kepada Kalamenjing.


Dengan kaburnya Batari Durga dan Batara Kala sebenarnya Kalamenjing mentalnya down banget. Hanya saja karena bualan Dolop Keclop teman genderuwonya yang mengatakan sanggup mengatasi Ontoseno.


Terlebih juga karena adanya janji dari Wewe gombel si Ninik Cowong yang mengaku sangat mudah mengalahkan Ontoseno.


Sehingga Kalamenjing masih tetap pede dan tidak mengindahkan ancaman Ontoseno.


Karena itu mendengar bentakan Ontoseno, Kalamenjing melirik ke arah Dolop Keclop dan Ninik Cowong yang berdiri di sebelahnya.


Keduanya paham bahwa sahabat mereka, Kalamenjing butuh bantuan mereka. Keduanya saling pandang. Dan tanpa komando Ninik Cowong segera melesat menyeret tongkatnya menyerang Ontoseno.


Pada saat bersamaan, Lali Jiwo yang sudah bersiaga tanpa diusap langsung keluar dengan membawa cemeti. Dengan cemetinya Lali Jiwo menghadang Ninik Cowong.


"Ho ho ho....akulah lawanmu Nenek peot..!" Cegah Lali Jiwo sembari melecut Ninik Cowong. Melihat tubuhnya terancam Ninik Cowong segera mengibaskan tongkatnya.


Sehingga terjadi benturan yang sangat keras "duaaarrr...!!!". Lali Jiwo tidak berhenti, dia terus mencecar Ninik Cowong dengan cemetinya.


Ninik Cowong hanya meloncat atau menapakinya sehingga seringkali terjadi benturan yang sangat keras.


Dolop Keclop yang mengawasi dari kejauhan terperanjat menyaksikan, bahwa Ontoseno ternyata di kawal makhluk sebangsanya.


Dolop Keclop makin kaget ternyata jin pendamping Ontoseno bukan jin kaleng-kaleng.


Terbukti, rekannya Ninik Cowong kewalahan menghadapi serangan cemeti Lali Jiwo.


"Jangan takut Ninik...aku membantumu..!!" Teriak Dolop Keclop yang langsung menerjang Lali Jiwo dengan senjata gobangnya.


Gobang itu mengeluarkan suara suitan yang cukup keras yang membuat Lali Jiwo sempat undur selangkah.


"Ha ha ha....kamu jin pendek mau berlagak dihadapan ku...kugorok baru tahu rasa kamu..!" Ejek Dolop Keclop melihat Lali Jiwo meloncat mundur menghindari serangan gobang darinya.

__ADS_1


__ADS_2