Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
21. Kalamenjing Pilih Menyerah.


__ADS_3

Lali Jiwo meloncat mundur, bukan berarti kalah. Dia melakukan lantaran kaget karena Dolop Keclop melakukan secara mendadak.


Setelah hilang kekagetannya, Lali Jiwo memutar cemeti dengan kencang. Kemudian secara tiba-tiba dia melecut ke tubuh Dolop Keclop dengan suara yang cukup keras "daarrr..!!!".


Kali ini giliran Dolop Keclop yang jumpalitan guna meredam kekuatan lecutan cemeti Lali Jiwo.


Sementara Ninik Cowong yang melihat Lali Jiwo sedang sibuk melayani Dolop Keclop, mencoba memboyongnya.


Ninik Cowong dengan kekuatan penuh menyerang punggung Lali Jiwo. Untung Ontoseno melihat kecurangannya. Dengan sigap Ontoseno memukul dengan pukulan jarak jauh yang cukup dasyat.


Dan pukulan jarak jauh Ontoseno lebih cepat daripada serangan Ninik Cowong kepada Lali Jiwo. Akibatnya terpental dan meringis kesakitan karena punggungnya terasa terbakar.


"Terima kasih Tuan..!" Ujar Lali Jiwo kepada Ontoseno setelah melihat Ninik Cowong terjengkang dan terengah-engah. Ontoseno menjawabnya dengan lambaian tangan dan memberikan jempol kepada Lali Jiwo.


Melihat sekali pukul rekannya terjengkang, mau tidak mau nyali Dolop Keclop menciut. Terlebih lawan yang dihadapi ternyata bukan jin kaleng-kaleng.


Sebab meskipun Lali Jiwo bertubuh pendek gempal serta berwajah lucu. Namun gerakannya sangat lincah dan kesaktiannya tidak bisa dianggap remeh.


"Ini bahaya...kalau kuterusksn kita pasti akan kalah....!" Ujar Dolop Keclop dalam hati.


Pendapat yang sama juga ada di hati Ninik Cowong. Sejak terkena pukulan Ontoseno mentalnya benar-benar down. Menghadapi Lali Jiwo saja dia sudah kewalahan. Apalagi jika Ontoseno benar-,benar turun tangan. Pasti bisa modar.


Berpikir yang sama,mendadak Ninik Cowong dan Dolop Keclop dengan diiringi teriakan yang keras. Mereka menyerang Kali Jiwo berbarengan. Hal ini membuat Lali Jiwo terdorong mundur tiga langkah.


Melihat kesempatan tersebut, Dolop Keclop dan Ninik Cowong langsung kabur. Bahkan mereka kabur tanpa pamitan koleganya, Kalamenjing.


"Hai para pecundang jangan kabur kalian..!" Ejek Lali Jiwo sembari tertawa geli. Bagi Dolop Keclop peduli setan. Silahkan kamu ngomong apa saja emang gue pikirin, katanya dalam hati.


Bagi Dolop Keclop dan Ninik Cowong keselamatan lebih penting daripada mati konyol. Sementara Kalamenjing terlongong melihat adegan tersebut. Mentalnya benar-benar jatuh.

__ADS_1


Dulu harapannya Batari Durga dan Batara Kala akan membelanya. Nyatanya mereka kabur lebih awal hanya karena suara suluk dari Ontoseno.


Sekarang Dolop Keclop yang sering ngomong berbusa-busa nyatanya merat tanpa pamit. Kalamenjing masih berdiri mematung ketika Ontoseno mendekatinya.


"Sekarang giliran mu wahai Kalamenjing ... kamu mau menyerang dengan baik-baik atau harus dengan kekerasan...!?" Ujar Ontoseno kepada Kalamenjing. Namun yang ditanya tetap diam, sehingga Ontoseno mengulanginya.


Kali ini Kalamenjing tersadar. Sekarang dia sendirian. Jika nekad melawan Ontoseno nasibnya bisa seperti tuannya, Mina Lodra atau rekannya, tewas dengan kepala putus.


Teringat hal itu bergidik juga bulu kuduk Kalamenjing.


"Aku tak akan melawanmu Ontoseno. Aku menyerah dan mohon ampun jangan bunuh aku...!" Ujar Kalamenjing memelas.


Ontoseno sendiri tidak sampe hati melihat wajah Kalamenjing yang pucat ketakutan.


"Baiklah itu lebih bagus dan mempercepat pekerjaanku. Aku tidak bisa memutuskan apa-apa. Biar nanti Kakek Mintuno yang memutuskan..!" Tegas Ontoseno yang selanjutnya mengikat Kalamenjing dan dibawa ke kakeknya, Sanghyang Resi Mintuno di Istana Gisik Samudera.


Penaklukan Kalamenjing memang di luar perkiraan. Kalamenjing yang diduga akan melakukan perlawanan. Kenyataannya dia lebih suka menyerah secara baik-baik.


Bagaimana pun keberadaan Kalamenjing ini aset yang bisa dimanfaatkan untuk menuntaskan para pemberontak.


Kalamenjing pasti banyak tahu tentang titik lemah Buaya Sakti, Bajulsengara dan kawan-kawan yang untuk sementara waktu ngumpet di Hongkong.


Ontoseno yang berhasil menjalankan misi dengan baik dan berhasil dengan gemilang disambut suka cita seluruh punggawa di Istana Gisik Samudra. Dan Sanghyang Resi Mintuno ini merangkul dan mendekap cucunya dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih...kamu telah menjalankan misi dengan baik. Terima kasih..!!!" Ujar Mintuno sambil mengelus kepala cucunya.


Ontoseno menceriterakan bahwa keberhasilan misinya tidak lepas dari doa dan restu kakeknya.


Selanjutnya Ontoseno mengatakan bahwa dengan adanya Kalamenjing, Sanghyang Resi Mintuno bisa memanfaatkan dan mengorek keterangan mengenai titik lemah buronan Buaya Sakti dan Bajulsengara dan kawan-kawannya.

__ADS_1


Bahkan dalam perjalanan dari Nusakambangan ke Gisik Samudera, Kalamenjing mengatakan bahwa jika diperkenankan dia pun mau membantu menangkap Buaya Sakti dan lainnya.


Namun Ontoseno belum menjawab. Karena semuanya nanti diserahkan kepada kebijakan Sanghyang Resi Mintuno.


Sekarang, setelah melakukan beberapa evaluasi. Sudah waktunya Sanghyang Resi Mintuno menuntaskan sisa-sisa pemberontak yang masih bersembunyi di Hongkong.


Karena tugas ini seperti disayembarakan oleh Mintuno. Artinya siapa saja boleh mengajukan diri untuk memimpin penyergapan. Bulus Petak, Lingsang Seto, Belut Putih, Sepat Jenar, Cacing Anil semua angkat tangan.


Bahkan Ontoseno juga ikut mengajukan diri. Tetapi Mintuno punya pertimbangan lain, bahwa dia senang karena semua orang bersemangat. Tetapi agar misi ini benar- benar berhasil dia menunjuk Bulus Petak memimpin penyergapan.


Cacing Anil dan Sepat Jenar dijadikan pendamping utama dan disertakan beberapa orang pilihan lainnya. Semua setuju dengan perhitungan dan kebijakan Mintuno.


"Terus kapan kami harus berangkat Tuan...!?" Tanya Bulus Petak kepada Mintuno.


"Apa kalian sudah siap. Dan juga sudah mantap..!?" Tanya Mintuno.


"Kami selalu siap dan kami sudah melakukan simulasi serangan. Jika bisa kami ajak menyerah baik-baik itu tentu lebih baik. Namun jika mereka nekad dan tetap melawan, terpaksa kami habisi mereka..!" Jawab Bulus Petak tegas.


"Baiklah...berangkatlah sekarang juga..!!!" Pinta Mintuno. Dan Bulus Petak tidak tanya lagi, hanya dia melirik kearah Cacing Anil nampaknya yang bersangkutan setuju. Dengan menganggukan kepala.


Maka berangkatlah rombongan Bulus Petak beranggotakan sekitar lima puluh orang. Semuanya orang-orang pilihan.


Sementara itu meskipun Kalamenjing mengajukan diri untuk membantu dan ikut ke Hongkong. Namun nampaknya Mintuno lebih suka Kalamenjing dalam tahanan di Gisik Samudera.


"Sebab kalau Kalamenjing ikut, aku kuatir sampe di lokasi balik badan. Dia bukan membela kita malah balik membela Buaya Sakti...kan cilaka. Senjata makan tuan. Tidak dia harus tetap di Gisik Samudera...!' Mintuno membatin.


Meskipun Mintuno percayakan kepada Bulus Petak, tetapi dia tetap menugaskan Ontoseno secara diam-diam membackup segala kemungkinan yang terjadi terhadap pasukan Bulus Petak.


Dan Ontoseno tidaklah mengalami kesulitan. Mengingat dia pernah kesitu saat ditugaskan menjadi supervisor Cacing Anil dan Sepat Jenar.

__ADS_1


Seperti biasa mereka gunakan kendaraan super cepat, sehingga dalam waktu dekat mereka sudah sampe di Hongkong.


Namun karena masih siang hari mereka menunggu waktu yang tepat untuk melakukan penyergapan.


__ADS_2