
Sementara Batari Durga menarik seluruh pasukan makhluk halusnya, Raja Dwarawati benar-benar terpukul. Karena kedengkian dan upayanya menjegal Ki Lurah Semar gagal itu.
Tidak itu saja Prabu Sri Kresna juga telah kehilangan dua senjata andalannya, yaitu senjata Cakrabraswara dan cangkok Widjayakusuma. Entah kemana perginya kedua pusaka itu, dan tanpa sepengetahuannya Batara Wisnu juga telah lepas dari raganya.
Mengenai lepasnya Batara Wisnu itu, karena Prabu Sri Kresna telah berbuat jahat, yaitu dengki dan iri hati. Dan Batara Wisnu justeru masuk ke tubuh Punakawan Petruk.
Dan Petruk yang didukung dua raksasa yakni Yaksa Cakra dan Yaksa Kusuma mencari Sri Kresna dan ngamuk di Negara Dwarawati. Petruk tidak terima dan menuntut tanggungjawab Prabu Sri Kresna atas semua perbuatannya, yaitu berusaha mencelakai Bagong dan Ki Lurah Semar.
Mendengar dan melihat Petruk mengamuk dan menantang dirinya. Prabu Sri Kresna kebingungan karena dua senjata andalannya telah lenyap dari dirinya.
Bahkan dia pun tidak bisa menggunakan ajian tiwikrama yang bisa mengubah dirinya jadi raksasa. Itu terjadi karena Batara Wisnu telah hengkang dari jasadnya.
Prabu Sri Kresna benar-benar panik. Sedang Senopati Dwarawati, Satyaki dan Patih Udawa yang mengetahui Prabu Sri Kresna telah berbuat kurang baik. Mereka pilih mundur jadi Senopati dan Patih. Jadi Prabu Sri Kresna benar-benar sendirian.
Karena itu tidak ada cara lain, kecuali minta tolong kepada Pandawa. Sementara Pandawa di Keraton hanya menyisakan Prabu Puntadewa dan Nakula saja. Sebab Brotoseno dan Sadewa berada di Karangkadempel mendukung Ki Lurah Semar membangun mental spiritual Bangsa Amarta.
Hanya Djanoko yang masih mau mengikuti Prabu Sri Kresna. Meskipun begitu Djanoko sepertinya tidak sungguh-sungguh membantunya.
"Aduh pusing amat...ya. Kemana lagi aku harus minta tolong..!" Ujar Prabu Sri Kresna dalam hati.
Satu-satunya cara agar keruwetan Dwarawati bisa segera dibenahi hanyalah minta bantuan Ki Lurah Semar. Permasalahannya Prabu Sri Kresna sudah berbuat kurang baik kepada Ki Lurah Semar.
"Maukah Kakang Semar memaafkan atas perbuatanku? Maukah dia membantuku..?" Ujar Sri Kresna dalam hati. Karena tidak tahan menyandang permasalahan berat ini sendirian akhirnya Prabu Sri Kresna ngomong sama Djanoko.
__ADS_1
"Menurut Dinda Djanoko bagaimana aku bisa menyelesaikan persoalan Dwarawati? Kemana aku musti minta tolong...!?" Ujar Sri Kresna terhadap karma yang menimpanya kepada Hardjuna alias Djanoko.
"Kanda Prabu nampaknya tidak ada jalan lain kecuali Kanda minta maaf Kakang Bodronoyo.. sekaligus minta pertolongan kepadanya..!?" Saran Djanoko kepada Sri Kresna.
"Aduh bagaimana ya...aku telah menyakiti hatinya dan sekarang minta tolong kepadanya..!" Keluh Prabu Sri Kresna.
"Ya itulah karma atas perbuatan kita. Karena itu Kanda tidak perlu malu. Buang ego. Minta maaflah dengan tulus. Saya kira Kakang Semar akan menerimanya dengan legowo Kanda..!" Desak Djanoko.
"Tetapi tolong bantu ngomong ya Dinda..!" Akhirnya Prabu Sri Kresna ngikuti apa yang disampaikan Djanoko.Dan mereka segera menemui Ki Lurah Bodronoyo di Karangkadempel.
Di Karangkadempel Ki Lurah Semar sedang memberikan wejangan pitutur kepada anak-anak Pandawa. Bahwa semua perbuatan manusia tetap berbalas. Itu yang disebut karma.
"Siapa nanam kebaikan pasti akan dibalas kebaikan. Sebaliknya siapa berbuat jahat maka akan dibalas kejahatannya. Itu yang disebut ngunduhing wohing Pakarti. Mudah-mudahan kalian anak-anak muda generasi millenial selalu menabur kebaikan biar berbuah kebaikan. Sehingga generasi berikutnya menerima estafet dengan enak dan penuh suka cita..!" Ujar Ki Lurah Semar.
"Maaf mengganggu kami yang sowan Kakang Semar...!" Sapa Sri Kresna hampir berbarengan dengan Djanoko.
"Ohw Gusti Prabu Dwarawati...mari..mari masuk. Silahkan..!! Tumben kemari...adakah yang bisa kami bantu..?" Sambut Ki Lurah Semar dengan ramah yang membuat Prabu Sri Kresna makin kikuk.
Selain kikuk, di kesempatan ini Prabu Sri Kresna pun menyadari betapa bodoh, dan jahatnya dia. Karena dia tega memfitnah dan berbuat jahat kepada orang sebaik Ki Lurah Semar.
"Kakang saya datang kesini yang pertama adalah minta maaf kepada Kakang atas semua perbuatan buruk yang sudah saya lakukan. Semoga Kakang bisa memaafkan saya..!" Ujar Prabu Sri Kresna disertai Isak tangis.
"Ohw tidak mengapa Gusti Prabu. Saya sudah lama memaafkan. Karena saya tahu dan paham bahwa manusia adalah tempatnya kesalahan. Oleh karena itu Ketika Hyang Maha Kuasa hendak menciptakan Adam malaikat bertanya. Ya Tuan kenapa kau ciptakan makhluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi ini
__ADS_1
Manusia memang seringnya merusak, contohnya membangun rumah, gedung atau bangunan lain. Mereka musti menebang pohon, membongkar pemakaman, dan merusak-rusak sarang hewan.
Setelah itu mereka makan dengan memotong kerbau, menyembelih kambing dan lain sebagainya. Bukankah itu berarti manusia senang menumpahkan darah?
Karena itu Gusti...apa yang Gusti lakukan lumrah sebagai manusia tetapi orang yang menyadari kesalahannya itu lebih baik daripada mereka yang merasa benar terus.." ujar Semar menanggapi permohonan maaf Prabu Sri Kresna.
"Selain saya mohon permintaan maaf Kakang Semar. Saya juga mohon Kakang membantu saya memperbaiki kondisi Dwarawati akibat diamuk dua raksasa, yakni Yaksa Cakra dan Yaksa Kusuma. Dua raksasa ini adalah anak buah Petruk putera Kakang Semar.
Saya sudah mencoba melawannya, tetapi mereka terlalu sakti. Jadi saya mohon bantuan Kakang mengalahkan mereka dan menyadarkan Petruk..!" Papar Prabu Sri Kresna.
"Ya...ya baiklah Gusti. Bahwa semua ini terjadi karena karma. Siapa berbuat keburukan pasti dibalas kejelekan. Untuk ini sampean akan didampingi Sabda Sakti, Sabda Sejati dan Sabda Luhur..! InsyaAllah mampu mengatasi dua raksasa itu.
Sedang Petruk, tidak usah sampean ajak berantem. Cukup disembah sebanyak lima kali semuanya beres...!" Ujar Ki Lurah Semar.
"Terima kasih Kakang atas semua petunjuk dan bantuannya. Saya mohon ijin untuk kembali ke Dwarawati menyelesaikan keruwetan yang terjadi disana ..!" Ujar Prabu Sri Kresna mohon ijin kepada Ki Lurah Semar.
" Baik...baik kuijinkan dan Semoga negara Dwarawati kembali ayem tenteram seperti sebelumnya. Dan saya ingatkan Gusti jangan ulangi perbuatan yang kurang baik. Sebab akibatnya bisa tidak mengenakan buat Gusti Prabu. Akhirnya selamat jalan dan sukses..!" Pesan Ki Lurah Bodronoyo.
Di Keraton Dwarawati sejak diamuk Yaksa Cakra dan Yaksa Kusuma benar-benar dalam keadaan senyap. Sebab sebelumnya Senopati Dwarawati Satyaki dan Patih Dwarawati Udowo telah menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya. Lantaran tidak sejalan dengan kebijakan Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna.
Senopati Perang Satyaki dan Patih Udawa menganggap tindakan Prabu Sri Kresna menyalahi keutamaan. Melenceng dari jiwa ksatria yang dianut ketat oleh Senopati Satyaki dan Patih Udawa.
Sehingga dengan penuh kesadaran mereka menyatakan mundur dari jabatan mereka. Mereka lebih memilih jadi pekerja Gojek atau pun Grab dari pada jadi pejabat kotor yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.
__ADS_1