
Setelah Tjitraksi mundur, Mahapatih Sengkuni menyuruh Kurawa pakai pengeras suara.
"Hallo...halo..halo. Tjitraksi sudah mundur... ayoh siapa lagi jagoan Kurawa yang mau maju perang..!??' ujar Sengkuni.
Sementara para Kurawa yang lain, selain luka-luka dan pingsan, yang belum maju perang malah ngumpet. Salah satunya yang ngumpet Perwira Durmagati. Tetapi dia ketahuan Sengkuni akhirnya ditarik keluar dari persbunyiannya.
" Ayoh Dur..Durmagati maju perang..!!!' ujar Sengkuni sambil menarik celana Durmagati agar keluar dari kolong tempat tidur.
"Aduh Man...siapa musuhku Man!?" Tanya Durmagati.
"Kamu lawan Prabu Rengganis Sura..!" Jelas Sengkuni.
"Aduh Man...aku lawan yang lain saja Man..!" Kilah Durmagati.
"Kalau begitu...kamu lawanlah Patih Nagapertala ya..!?" Jawab Sengkuni ketus.
Membuat Durmagati jadi mati kutu. Mustinya dia tidak ingin maju perang. Sebab Durmagati tahu bahwa ilmu yang dia miliki yang merupakan ajaran Pandita Durna, bukan ilmu sesungguhnya.
Ilmu yang dia miliki semacam ilmu sulapan, seperti yang dimiliki Pesulap Merah yang sekarang sedang viral.
Jadi kalau aku perang lantas menggunakan ilmu sulap bisa modar..!" Ujar Durmagati dalam hati.
Karena itu tadi dia pilih ngumpet di kolong tempat tidur. Eh, ketahuan juga oleh Sengkuni.
"Ya mau tidak mau aku harus maju...!" Masih kata Durmagati dalam hati.
Meskipun harus maju perang, tetapi Durmagati nampaknya sumringah. Justeru disinilah kuncinya, pasti Durmagati tengah menyusun siasat. Mengenai siasat apa, hanya Durmagati yang tahu.
"Baik Man...doakan saya menang lawan Nagapertala..!" Ujar Durmagati berpamitan sambil mengepal-kepalkam tinjunya.
Sengkuni yang melihat tingkah Durmagati sangat senang. Sebab dia mengira Durmagati akan perang sungguhan. Syukur menang.
"Ya kudoakan...Dur...kamu menang...kamu memang jempolan dan tidak ada lawan..!" Ujar Sengkuni sembari memuji Durmagati setinggi langit.
__ADS_1
Durmagati setengah berlari mendatangi Patih Nagapertala yang sedang menikmati bakso.
"Salam Tuan Nagapertala...saya Durmagati jagoan Kurawa..!" Begitu sapa Durmagati ketika dia lihat Nagapertala yang tengah menikmati bakso.
"Ohw ya...ada apa? Mau ngajak berantem?" Jawab Nagapertala tegas.
"Ohw No...no Tuan. Saya datang dengan damai. Saya mau bicara empat mata sama Tuan..Tolong jangan marah dulu ya..!?" Durmagati terus pasang muka ramah.
Meskipun Patih Nagapertala nampak emosi.
" Kamu orang Hastina bukan!? Kok ngajak bicara empat mata. Mustinya kamu kesini mau ngajak berantem...ayo kuladeni..!" Jawab Nagapertala lugas.
Namun dengan gaya tengilnya, Durmagati mampu meredam amarah Nagapertala.
"Ah semua masalah bisa dirundingkan ya Tuan. Benar gak!? Kalau berantem terus terang saya kalah Tuan. Dan pembaca novel ini tahu, Durmogati jika perang tidak pernah menang. Dan kalah memang langganan. Saya bisa menang perang hanya lawan isteri saya. Itupun tidak selalu menang..!" Ujar Durmogati dengan cengengesan.
"Sudah aku bosan dengan omonganmu.. sekarang cepat jelaskan tujuanmu..!?" Desak Nagapertala.
Nagapertala paham bahwa Durmagati mengajak kerjasama untuk ngerjain Sengkuni. Sehingga Durmagati minta dibanting atau dilemparkan ke arah Sengkuni disambutnya dengan suka cita.
Karena segera dia angkat tubuh Durmagati dan di lemparkan ke arah leher Sengkuni yang menonton cukup dekat dengan lokasi.
Sekali raih terangkatlah tubuh Durmagati.
Sebelum dilempar tubuh itu diputar dulu seperti baling-baling. "Serrr..!" Tubuh Durmagati melayang meluncur deras ke arah Mahapatih Sengkuni.
Sengkuni yang tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya. Masih berdiri melongo. Dan betapa kagetnya setelah tengkuknya ditendang dengan keras oleh Durmagati. Kontan Sengkuni terjengkang dan semaput.
Melihat Sengkuni tergeletak pingsan, Durmagati meninggalkan begitu saja pamannya sambil bersiul merdu.
Pandita Durna yang melihat rekannya dikerjain habis-habisan oleh keponakannya sendiri segera mendekati Sengkuni dengan membawa seember air.
Dan tanpa ragu Pandita Durna menyiram wajah Sengkuni.
__ADS_1
"Dik Patih ayo bangun...bangun..!!" Ujar Durna mencoba menyadarkan Sengkuni.
Beberapa saat dengan mengucek-ucek matanya, Sengkuni mencoba bangkit.
" Aduh...duh...dimana ini? Eh Kakang Pandita ada disini...!?" Ujar Sengkuni pelan kepada Pandita Durna yang berada dihadapannya.
"Ya adik Patih..aku kesini karena melihat kamu tergeletak di pinggir jalan. Aku datang untuk menyelamatkanmu. Kalau tidak kamu bisa diangkut oleh Satpol PP dikira gelandangan... Lho kamu kenapa kok pingsan sembarangan..!?" Tanya Pandita Durna pura-pura tidak melihat kejadiannya. Sekaligus untuk mengetes kejujuran Sengkuni.
"Ya Kakang Pandita...tadi aku berdiri disini ngliatin layangan...tiba-tiba dari angkasa terbang sesuatu yang sangat besar. Sesuatu itulah yang menghantam tengkuk saya dengan keras. Dan seperti yang sampaian lihat. Aku semaput Kakang. Terima kasih ya..!?" Aku Mahapatih Sengkuni kepada Pandita Durna.
Durna yang tahu persis awal dan akhir insiden tersebut cuma tersenyum geli." Durmagati...Durmagati..kamu tega bener ngerjain Pamanmu sendiri...!" Ujar Durna dalam hati.
Tidak berlarut membahas insiden Sengkuni, Pandita Durna mengganti topik pembicaraan." Bagaimana adik Patih..!? Apakah masih ada jagoan Kurawa yang bakal kamu ajuin melawan Rengganis Sura atau pun Nagapertala..?" Tanya Pandita Durna.
"Kayaknya sudah tidak ada Kakang. Lha bagaimana Adipati Karno yang katanya akan memotong kepala Rengganis Sura... bukankah dia bersamamu Kakang..!?" Sengkuni balik tanya.
'Wah sama saja dengan Kurawa lainnya. Adipati Karno pun cuma nggedebus tok. Dia dibanting Rengganis Sura dan dilempar entah kemana...dan tidak muncul lagi..!Ungkap Durna.
Bahkan Pandita Durna melaporkan bahwa Negara Hastinapura sudah jatuh. Prabu Duryudana lari menuju Hutan Dandangmangore.
Minta perlindungan Batari Durga. Dan sekarang Durna mengajak Sengkuni untuk segera menyusul ke Dandangmangore.
Prabu Rengganis Sura memang sudah menguasai Kerajaan Hastinapura. Bahkan sudah membuat Raja Hastinapura, Prabu Duryudana kabur dan minta suaka ke Kahyangan Dandangmangote.
Perlu diketahui Kahyangan Dandangmangore yaitu tempat hidupnya para jin jahat atau malaikat atau dewa yang sesat.
Dandangmangore atau sering juga dinamai Setragandamayit adalah kawasan hutan yang lebat. Dihuni semua makhluk ghoib yang jahat, seperti genderuwo, banaspati, kuntilanak, Wewe gombel dan berbagai jenis makhluk jahat lainnya.
Dandangmangore dipimpin Dewa Kejahatan, yakni Batara Kala, dan ibunya, Batari Durga atau Gendeng Permoni. Kawasan Dandangmangore ditakuti semua makhluk hidup. Hanya orang-orang nekat dan bosan hidup saja yang berani kesitu.
Prabu Duryudana minta suaka kesitu, karena dia adalah umat kesayangan Batari Durga. Duryudana adalah seseorang yang menyembah dan mempercayakan hidupnya kepada Batari Durga.
Maka sangat wajar, jika dia minta perlindungan ke Dandangmangore. Dan kedatangan Duryudana disambut dengan suka cita oleh Batari Durga.
__ADS_1