
Ontoseno yang diperintahkan "Bapaknya" Petruk untuk menjaga pintu Kaputren langsung berhadapan dengan Brotoseno. Dan Ontoseno tidak paham bahwa orang yang dihadapannya adalah ayah kandungnya.
Dan tanpa banyak bicara, Ontoseno langsung menghajar kakinya Brotoseno. Sehingga Brotoseno mengaduh kesakitan. Tidak sampai disitu, dia terus mengamuk dan mencecar Brotoseno dengan pukulan dan tendang, sehingga yang bersangkutan pilih mundur.
" Ah Bapak Durma aku tidak sanggup melawan penjaganya. Ternyata anak muda yang sangat sakti..!" Teriak Brotosenp sembari mundur.
Seusai Brotoseno mundur, pasukan Kurawa segera merangsek menerjang Ontoseno. Namun dengan mudahnya pasukan itu di obrak-abrik Ontoseno.
Dalam saat yang hampir bersamaan, Prabu Puntadewa tengah ditangisi istrinya, Dewi Drupadi lantaran kasus Poncowolo " Isteriku Drupadi mengapa kamu menangis sayang..!?" Tanya Puntadewa kepada iisterinya.
"Kamu kejam Kanda Prabu. Anakmu dikecewakan oleh Dinda Djanoko kok kamu pilih diam ongkang-ongkang kaki...tidak peduli. Padahal akibat perlakuan Dinda Djanoko.. anakmu Poncowolo sampe lari ke hutan. Tujuannya biar dimakan singa atau harimau dan mati..!" Isak Drupadi.
"Jika Kanda Prabu tetap diam tidak peduli. Bunuhlah aku Kanda. Percuma aku hidup tetapi tidak bisa melindungi anak..!" Tangis Drupadi makin keras dan menyayat hati.
Ini membuat Prabu Puntodewa murka. Dan setiap Raja Amarta marah maka dirinya akan segera berubah jadi raksasa yang sangat besar.
Hari ini pun Puntadewa berubah jadi raksasa yang sangat besar dan mengerikan.
"Ho ho ho...Djanoko kamu jangan kurangajar. Kamu tidak menghargai ku..kuhancurkan kamu beserta rumahmu..!" Ujar Puntodewa yang telah berubah menjadi raksasa.
Kontan Madukara jadi ramai, ribut tidak karuan. Di Kaputren ada Ontoseno yang mengamuk, sementara di Ksatrian Madukara ada raksasa yang mengamuk dan mengejar-ngejar Djanoko.
Sehingga perundingan Djanoko dengan Durna bubar berantakan. Sedang Durna dan Lesmana entah kabur kemana. Mereka hanya mikir, yang penting selamat, yang lain gampang menyusul.
Disisi lain hubungan Poncowolo dan Pergiwati semakin mesra. Pangeran Djanoko yang lari pontang-panting menghindar injakan kaki raksasa Puntadewa akhirnya minta bantuan kepada Prabu Sri Kresna Raja Dwarawati.
Sri Kresno yang bisa mengetahui hal-hal ghoib mengatakan kepada Djanoko. Bahwa mau mbantunya meredakan amarah Puntadewa dengan catatan Djanoko harus sadar tidak mengulangi lagi perbuatan yang menyakiti orang lain.
Dan Sri Kresna minta Djanoko membatalkan pernikahan anaknya dengan Lesmana. Sebaliknya Djanoko harus menggantinya dengan menikahkan Pergiwati dengan Poncowolo. Dan ini harus dipatuhi jangan dilanggar oleh Djanoko. Semua persyaratan itu diiyakan Djanoko asal Sri Kresna cepat meredakan amarah Puntadewa.
Setelah memastikan bahwa Djanoko tidak akan ingkar. Sri Kresna bertiwikrama "jegler..!!!" Berubahlah Raja Dwarawati menjadi raksasa mengimbangi raksasa Puntadewa.
__ADS_1
Maka kedua raksasa itu bergumul. Dan dari pergumulan itu kedua raksasa telah berujud Prabu Puntadewa dan Prabu Sri Kresna.
"Sudahlah Dinda Puntadewa.. Djanoko telah sadar dan segera menikahkan Pergiwati dengan Poncowolo..!" Ujar Sri Kresna sambil merangkul Puntodewa mengangguk senang.
Sri Kresna juga dimintai tolong Djanoko agar memadamkan amukan Ontoseno di Kaputren. Sri Kresna sudah mengetahui bahwa yang ngamuk di Kaputren adalah anaknya Brotoseno.
"Stop...stop...berhenti dulu wahai bocah bagus. Siapa namamu darimana asalmu..!?" Sapa Sri Kresna dengan lemah lembut yang membuat Ontoseno tertegun. Dalam hati Ontoseno berpikir bahwa orang ini bukan manusia sembarangan. Pasti orang ini bisa membuka selubung misteri yang melingkupinya.
"Mohon tanya siapakah Anda..!?" Ontoseno balik bertanya, tetapi dengan sabar Sri Kresna menjawab.
"Aku Sri Kresna Raja Dwarawati...sebaliknya kamu siapa dan dari mana..!?" Sri Kresna mengulang kembali pertanyaannya.
Ontoseno menjawab terus terang bahwa dia dari pertapaan Gisik Samudera. Putera dari Dewi Urang Ayu. Dan Ontoseno datang ke negara Amarta adalah untuk mencari Bapaknya, Brotoseno.
"Dan sudahkah kamu ketemu Bapakmu..!?' tanya Sri Kresna kepada Ontoseno yang celingukan mencari Petruk yang mengaku sebagai Brotoseno.
"Mengapa tidak menjawab !? Eh, malah celingukan..!" Ujar Sri Kresna yang sudah menduga ini pasti ada yang aneh. Petruk yang dicari-cari akhirnya nongol.
"Ini Bapakku Raden Brotoseno..!" Ujar Ontoseno sambil menunjuk Petruk. Sementara disitu sudah ada Brotoseno yang asli.
"Anakku Ontoseno...jika benar kamu anaknya Brotoseno. Kamu memanggilku Pakde. Dan Bapakmu yang bener ini lho yang disebelahku..!" Jelas Sri Kresna sambil menunjuk Brotoseno yang berdiri disebelahnya.
Ontoseno sesaat mengamati Brotoseno. Dan apa yang dicirikan ibunya tentang Bapaknya memang persis dengan orang yang ada disamping Sri Kresna. Saat melirik ke arah Petruk, yang bersangkutan telah kabur,
°Asem ..!!!" Ujar Ontoseno dalam hati.
"Dan apa yang kamu sebut sebagai Bapak itu adalah Petruk, punakawan Bapakmu...!" Jelas Sri Kresna.
Mengetahui duduk persoalannya Ontoseno segera sungkem dan meminta maaf kepada Brotoseno. Brotoseno segera merangkul dan membopong Ontoseno sebagai bentuk kasih sayang darinya.
"Lepas dari apa yang terjadi. Semuanya sudah menjadi ketentuan Hyang Maha Kuasa memang harus begitu lelakonnya. Mari kita perbaiki semua kesalahan kita dan mari jalanlah kepada jalan yang lurus dan benar..!" Sri Kresna memberi petuah dan akhirnya mengajak masuk ke dalam Ksatrian Madukara untuk makan-makan bersama sembari menyaksikan pernikahan Poncowolo dengan Pergiwati.
__ADS_1
Pernikahan Poncowolo dengan Pergiwati menandai terurainya konflik yang terjadi di Madukara. Pangeran Djanoko yang dianggap sebagai sumber konflik telah menyadari kekeliruannya. Dan segera memperbaiki kesalahan tersebut.
Demikian pula Pandita Durna sebagai pemicu konflik sudah kabur dan seperti hilang ditelan bumi.
Sementara si bocah degleng, Lesmana Mandrakumara sudah ketakutan dan diyakini tidak akan berani lagi mengganggu Pergiwati.
Sementara itu Ontoseno yang mencari Bapaknya, akhirnya bisa berbahagia setelah bertemu dengan Brotoseno asli. Sedang Petruk dengan besar hati mengakui kesalahannya yang mengaku dan menyamar sebagai Brotoseno.
Petruk mengakui bahwa perbuatannya memang salah. Tetapi dia melakukannya dengan sadar. Dengan tujuan agar pernikahan Poncowolo dan Pergiwati dapat berlangsung seperti saat ini.
Jika Petruk tidak mengaku sebagai Brotoseno dan memerintahkan Ontoseno untuk menjaga Kaputren Madukara, pasti tidak akan terjadi seperti saat ini.
Disamping menolong Poncowolo. Juga menyelamatkan Dewi Pergiwati yang mau dinikahkan dengan bujang lapuk Sardju Kusuma alias Lesmana Mandrakumara.
Bayangkan jika Lesmana jadi nikah dengan Pergiwati. Pasti Pangeran Djanoko akan menyesal seumur hidup, karena telah menikahkan anak gadisnya dengan manusia compong seperti Lesmana.
Disamping itu Pergiwati pasti akan menderita seumur hidup. Jadi kesalahan Petruk sebagai kebenaran yang hakiki. Jika semula banyak orang menyalahkan Petruk sekarang ramai-ramai memuji Petruk. Mereka mengakuinya bahwa Petruk adalah pahlawan sesungguhnya.
Hari ini semua orang bersuka cita. Prabu Puntadewa yang sebelumnya bersitegang dengan Pangeran Djanoko sekarang duduk manis sambil menikmati hidangan bareng.
Tak terkecuali Petruk dan Bagong. Keduanya melampiaskan dendamnya kepada makanan enak dengan menyantap ayam bakar satu ekor, dan paha kambing guling yang cukup besar.
Brotoseno memilih duduk agak jauh bersama anaknya, Ontoseno. Brotoseno banyak menanyakan perihal Dewi Urang Ayu dan juga kabar Ontoseno selama ini.
Panjang lebar Ontoseno menceritakan. Bahwa dia pernah diangkat menjadi jago para dewa. Dan dia berhasil mengalahkan sekaligus membunuh Raja Raksasa Berkepala ikan bernama Mina Lodra.
Karena keberhasilannya itu para dewa berhasrat menikahkan Ontoseno dengan bidadari Kahyangan Suralaya. Tetapi Ontoseno menolak dengan mengatakan kepada Brotoseno bahwa yang diinginkan Ontoseno adalah segera menemukan bapaknya, agar ibunya tidak selalu bermuram durja.
Mendengar cerita ini Brotoseno tidak terasa menitikkan air mata. Bahwa selama ini dia terlalu egois. Hanya mementingkan jiwa ksatria saja. Tanpa memikirkan keluarga, tidak ingat anak dan isteri.
Dengan suara bergetar Brotoseno menyampaikan permintaan maaf kepada Ontoseno dan dia berjanji akan segera mengunjungi Gisik Samudera.
__ADS_1
Ontoseno juga menceritakan, karena keberhasilannya menumpas Mina Lodra, Kakeknya Resi Mintuno diangkat menjadi dewa, sekarang menjadi Sanghyang Resi Mintuno dan diserahi tugas oleh Sanghyang Jagad Nata sebagai Penguasa Seluruh Kawasan Air Tawar bermitra dengan Sanghyang Baruna Sang Penguasa Lautan.
Bahkan Ontoseno diaku sebagai cucu Sanghyang Baruna. Brotoseno gembira bukan main dan langsung mengangkat Ontoseno dengan memujinya.