
Sanghyang Tunggal berputera tiga orang, yang pertama Tejamaya, kedua Ismaya, dan ketiga Manikmaya.
Secara kesaktian, sebenarnya Tejamaya dan Ismaya lebih sakti dibanding Manikmaya.
Hanya dari segi kelicikan Manikmayalah yang paling licik. Dan karena kelicikan inilah sehingga kekuasaan yang seharusnya diserahkan kepada Tejamaya atau Ismaya. Malah jatuh ke tangan Manikmaya.
Dan karena hasutan Manikmaya, Sanghyang Tunggal marah dan menjatuhkan sanksi kepada Tejamaya dan Ismaya.
Tejamaya dikutuk jadi Togog atau Tejamantri. Ismaya dikutuk jadi Semar atau Bodronoyo.
Tidak hanya dikutuk, keduanya juga diminta menjadi rakyat biasa dan berbaur dengan manusia. Manikmaya berkat kelicikannya menjadi Raja para dewa dan bergelar Sanghyang Jagadnata atau Batara Guru.
Dan karena ketamakannya dan keserakahannya, Manikmaya semula pria tampan ganteng. Dikutuk menjadi pria bertangan empat dan bertaring.
"Jadi latar belakang Manikmaya itu memang suram dan menyeramkan" papar Sanghyang Wenang kepada Ontoseno.
"Dan baru-baru ini dia juga telah melakukan blunder Ontoseno cucuku. Maka aku akan menggunakanmu untuk mengusir Batara Guru atau Sanghyang Jagadnata dari Kahyangan Suralaya...!" Jelas Sanghyang Wenang.
Jadi alasan kedua, adalah karena Sanghyang Wenang inilah yang menurunkan para dewa. Sehingga dia merasa bertanggungjawab meluruskan para dewa yang dengan sengaja menerjang kebenaran.
Sebelum ke Kahyangan Suralaya atau Jonggring Salaka, Sanghyang berubah ujud menjadi seorang Ksatria dan mengaku bernama Herbanu.
Ontoseno disulap menjadi Raja bernama Prabu Dewa Wicara atau Dewa Kuncara. Dan ular yang menunggui Ontoseno dan ternyata dapat berbicara seperti manusia diberi nama Candra Sengkala.
Jadi Ontoseno rajanya bernama Prabu Dewa Wicara, dan Sanghyang Wenang menjadi patihnya bernama Patih Herbanu. Sedangkan ular yang bernama Candra Sengkala diaku adik oleh Ontoseno.
"Nah setelah kita semua telah berubah ujud. Mari kita temui Batara Guru. Sebagai Raja para dewa dia seharusnya serba tahu. Untuk ini kita tanyakan siapakah orang tua kami. Kalau tidak menjawab, berarti dewa tidak ada apa-apanya. Kita usir saja dan jika perlu kita pukuli..!" Ujar Sanghyang Wenang atau Patih Herbanu.
__ADS_1
Tentu saja Ontoseno senang, sekaligus menjajal kesaktian Sanghyang Jagadnata kayak apa sih.
"Bagus Kek.... eh maaf Kakang Patih Herbanu...aku setuju. Kita kepruki dewa yang sok keminter...!" Niat Sanghyang disambut Ontoseno dengan sumringah
Dewa Wicara, Herbanu dan Candra Sengkala langsung menemui Batara Guru.
"Selamat siang Sanghyang Jagadnata...aku Dewa Wicara ingin bertemu denganmu...!" Ujar Ontoseno, eh Dewa Wicara.
"Mengapa dan ada apa kamu menemuiku.... heh kisanak !?' Tanya Sanghyang Jagadnata.
"Mohon maaf sebelumnya... kami ini sudah keliling dunia, semua pelosok daerah, kami datangi, semua negara, kota kami singgahi.
Semua resi, pandita, dukun yang hebat-hebat sudah kami temui. Mereka kami tanyai, siapakah orang tua kami. Mereka semua angkat tangan. Mereka menyatakan tidak tahu.
Karena orang di alam manusia tidak ada yang tahu. Sehingga aku kemari. Ke para dewa... karena dewa kan yang mengatur manusia. Terlebih Anda Batara Guru. Karena Anda adalah dewanya para dewa. Logikanya Anda pasti tahu siapa orang tua kami.
Tolong jelaskan kepada kami, siapakah ayah saya, ayah adikku Candra Sengkala, juga Kakakku Herbanu..juga tolong sebutkan siapa Ibu-ibu kami. Terima kasih..!" Pinta Dewa Wicara.
" Maaf saya tidak tahu apa-apa...dan saya mohon pamit di rumah tadi saya kedatangan family. Jadi maaf sekali saya tidak bisa menemani kalian disini..!' Sanghyang Kanekaputera pilih ngacir daripada menjawab pertanyaan sulit yang tidak diketahui jawabannya.
Batara Guru melihat ke arah dewa lain, mereka rata-rata angkat bahu alias tidak tahu alias tidak mengerti.
" Mohon maaf Kisanak...kami semua para dewa yang ada disini semua tidak tahu. Termasuk aku juga tidak tahu...!" Ujar Sanghyang Jagadnata terus terang.
" Lho..lho ini bagaimana..!? Ingat lho.. sampean Batara Guru adalah Rajanya para dewa. Dan sampean sering dianggap Maha Tahu. Mosok mencari tahu Bapak kami saja tidak tahu. Jadi sampean ini Raja Dewa apaan...!?" Tegas Dewa Wicara sambil berkacak pinggang.
"Bukankah tadi aku sudah berterus terang. Bahwa aku tidak tahu orang tua kalian. Terus aku harus bagaimana...!?' tanya Batara Guru putus asa.
__ADS_1
"Jika begini caranya kamu sebagai Raja para dewa harus kucopot. Dan para dewa lainnya musti pergi dari Kahyangan. Percuma kalian disini disembah-sembah. Dianggap hebat dan serba tahu. Faktanya kamu mblegedes... bodoh..tolol..!" Ujar Ontoseno dengan penuh emosi.
"Wahai Dewa Wicara kamu jangan bicara sembarangan. Ini Kahyangan lho...kamu jangan kurang ajar. Kamu bisa kualat...!!!" Batara Guru pun tersulut emosinya dengan ucapan Dewa Wicara. Sanghyang Jagadnata malah mengancam.
" Ohw...kualat ya..!?" Ejek Dewa Wicara.
"Kusumpahi kamu lumpuh..!!!" Batara Guru menyumpahi Dewa Wicara lumpuh.
Dewa Wicara yang disumpahi malahan ketawa mengejek.
"Jangan cuma lumpuh Batara Guru... sumpahi aku mati pun aku mau. Sebab sumpahmu tidak akan mempan. Lantaran kamu banyak dosa. Kamu suka ngibul. Kamu sering berbuat sewenang-wenang terhadap orang lemah.
Kamu licik dan culas, terhadap Kakak Kandung saja kamu tega. Bahkan isteri anakmu Batara Wisnu yang bernama Dewi Sri ingin kamu rebut. Sungguh watak yang tidak terpuji..!" Ungkap Dewa Wicara sehingga membuat Batara Guru semakin meluap emosinya.
"Kurangajar kamu Dewa Wicara...terimalah Guntur Geni dan Guntur Angin dariku...!" Ujar Batara Guru sembari mengeluarkan ilmu andalannya berupa Guntur Geni dan Guntur Angin.
Dalam keadaan normal, jika Guntur Geni dikeluarkan maka akan muncul api sebesar gunung yang menyala-nyala dahsyat dan akan membakar lawan sampai jadi arang.
Lain lagi Guntur Angin dalam keadaan normal, ilmu tersebut akan berbentuk tornado yang mampu menerbangkan apa saja yang ada disekitarnya.
Logikanya dengan dikeluarkannya ilmu andalan tersebut, mustinya Dewa Wicara, Herbanu dan Candrasengkala akan hangus hancur dan berhamburan jadi debu.
Faktanya? Ketiganya tidak apa-apa. Bahkan yang disebut Guntur Geni hanya mirip kunang-kunang. Guntur Angin jadi angin sepoi-sepoi.
Melihat kejadian ini Batara Guru semakin panik. Sementara para dewa anaknya pilih lari menyelamatkan. Karena tanda-tandanya sudah jelas Batara Guru bakal kalah.
Guntur Bumi dan Guntur Angin tidak mempan. Batara Guru masih punya senjata andalan yakni Tombak Trisula.
__ADS_1
Tombak ini sangat luar biasa, jika mengenai gunung. Gunungnya bisa hancur lebur. Dan jika mengenai lautan, lautan bisa asat. Sehingga manusia bisa sulit menerima hantaman tombak ini. Karenanya tombak ini jarang digunakan, kecuali keadaan mendesak seperti saat ini.
Dalam benak Sanghyang Jagadnata, Dewa Wicara maupun Herbanu dan Candrasengkala akan hancur lebur bila terkena tombak ini.