
Ontoseno dan Dewi Djanokowati hidup berbahagia. Namun di negara Indraprasta atau Amarta terjadi peristiwa yang luar biasa. Jimat negara atau pusaka negara, yakni Jimat Kalimusada raib dari tempat penyimpanannya. Prabu Puntadewa sangat gelisah dan berduka.
Karena mereka percaya bahwa jimat itu tidak sekedar melindungi para Pandawa, yakni Prabu Puntadewa, Brotoseno, Djanoko, Nakula dan Sadewa.
Lebih dari itu, jimat itu juga dianggap melindungi semua rakyat Indraprasta. Dan sejak jimat itu raib, banyak rakyat Indraprasta yang jatuh sakit. Lebih parahnya pandemi sangat luar biasa dan menakutkan.
Betapa tidak. Mereka pagi sakit. Malamnya mati. Malamnya sakit, paginya mati. Para pandita, para tabib, para dukun dikerahkan, tetapi semuanya sia-sia.
Karena itu Prabu Puntadewa mengadakan rapat darurat. Pandawa Lima kumpul, ditambah penasehat kerajaan Prabu Sri Kresna. Rapat tersebut membahas hilangnya Jimat Kalimusada. Rapat memutuskan,
Jimat Kalimusada musti ditemukan. Dan Brotoseno ditugaskan untuk menemukannya. Karena itu Brotoseno segera menemui Ontoseno.
"Ontoseno aku minta tolong. Kamu adalah anakku yang kuanggap paling berpengalaman. Kamu juga suka petualangan. Karena itu aku minta pertolongan kepadamu..!" Ujar Brotoseno kepada Ontoseno.
"Emang ada ada Pak..?" Jawab Ontoseno yang masih merangkul Dewi Djanokowati disampingnya.
"Begini Ontoseno. Sudah lebih sepekan Jimat Kalimusada hilang dari tempat penyimpanannya. Pakdemu Prabu Puntadewa tidak mengetahui siapa yang mengambilnya. Demikian pula aku, para Pamanmu, Djanoko, Nakula dan Sadewa pun tidak tahu.
Dan baru saja kami mengadakan rapat darurat. Hasil rapat memutuskan memintaku untuk mencarinya. Tetapi saat ini aku sedang merawat Ibumu yang sedang sakit.
Maka kuminta kesediaanmu untuk mencari Jimat Kalimusada..!" Pinta Brotoseno kepada Ontoseno.
"InsyaAllah akan kukerjakan Pak. Tolong titip isteriku. Karena aku musti bertapa untuk mendapatkan petunjuk dari dewa.
Dan yang namanya bertapa itu waktunya tidak terbatas. Paling sedikit tiga atau tujuh hari. Bisa juga empat puluh hari. Kadang-kadang seratus hari dan sampai batas yang tidak bisa ditentukan. Semua itu tergantung kapan petunjuk aku dapatkan.
Karena itu tolong jaga Isteriku dan cukupi segala kebutuhannya. Aku mohon Restu akan segera memulai pencarian Jimat Kalimusada itu..!' ujar Ontoseno minta ijin kepada Brotoseno.
Setelah mengemasi pakaian dan perbekalan yang akan dibawanya, Ontoseno pamitan kepada Djanokowati.
__ADS_1
"Isteriku...aku mohon ijinmu. Untuk pergi melaksanakan tugas negara mencari Jimat Kalimusada.
Aku akan pulang bilamana sudah kudapatkan jimat tersebut. Waktunya kapan tergantung ketemunya kapan.
Kamu sudah kutitipkan Bapak. Bila ada sesuatu biar Bapak yang menanggulanginya. Bila kamu butuh apa-apa silahkan sampaikan kepada Bapak ya..Dek..!" Pesan Ontoseno kepada isterinya.
Setelah berciuman mesra, Ontoseno dengan menggunakan ajian Supiangin melesat dengan cepat meninggalkan Djanokowati yang masih berdiri termangu.
Termangu karena kemesraan yang baru dirasakan segera harus berpisah dengan suami yang dicintainya.
"Semoga kamu selamat suamiku. Dan cepat pulang aku merindukanmu...!" Gumam Djanokowati pelan.
Ontoseno langsung menuju Gua Singa Mangleng, sebuah gua yang sangat angker dan terletak di dalam hutan Dandaka yang sangat lebat.
Gua ini dikenal sebagai sarangnya jin setan perkayangan. Pepatah Jawa menyebutkan, "jalma mars jalma mati" artinya siapa berani mendekat apalagi memasuki gua itu, maka dia akan mati. Mengapa?
Karena gua itu diisi Banaspati, hantu yang berujud kepala tetapi rambutnya api dan lidahnya menjulur panjang. Konon manusia yang dijilat Banaspati akan mati gosong.
Selain Banaspati, ada juga Buto ijo, hantu raksasa berkepala plontos bertaring dan giginya runcing tajam. Kebiasaan Buto Ijo kerap memakan isi kepala manusia.
Manusia yang jadi mangsa Buto Ijo biasanya disedot otaknya dan dimakan biji matanya. Maka orang yang menjadi santapan Buto Ijo ini kepalanya pasti kosong tidak karuan.
Masih ada lagi hantu yang tidak kalah menyeramkan, Wewe Gombel. Hantu ini tidak mengincar apa-apa, kecuali alat kelamin laki-laki.
Jadi jika ada seorang lelaki yang coba memasuki Gua Singo Mangleng. Hati-hati saja anunya bisa dibetot si Wewe Gombel untuk disantap mentahan, atau dipepes.
Dan masih banyak hantu serem lainnya yang suka singgah dan mendiami Gua Singa Mangleng. Semua orang di dua perwayangan tahu tentang angkernya Hutan Dandaka dan Gua Singo Mangleng.
Begitu pula Ontoseno, dia paham sekali. Tetapi patut diingat Ontoseno waktu bayi pernah jadi jagonya dewa dan dia harus bertarung lawan Raja Siluman Mina Lodra.
__ADS_1
Mina Lodra adalah siluman berkepala ikan bertubuh raksasa dan sangat kejam, tetapi dia sakti luar biasa. Tho nyatanya Ontoseno mampu mengalahkan dan membunuhnya.
Maka meskipun di gua itu ada Banaspati, Buto Ijo dan Wewe Gombel serta yang lain. Ontoseno tidak takut, jika mereka mencoba mengganggu pasti akan disikatnya.
Dipilihnya Gua Singa Mangleng selain tempatnya sepi, tenang juga jarang ada orang yang berani datang ke tempat tersebut. Sehingga sangat tepat untuk meditasi dan sejenisnya.
Setelah mengambil tempat di dalam gua, Ontoseno langsung melakukan meditasi. Menyatukan semua pikiran dan harapan kepada Hyang Maha Tunggal.
Dia menutup seluruh panca inderanya, dengan tekad satu tujuan, dimanakah gerangan Jimat Kalimusada berada. Sikap seperti itu dia lakukan dan sampai hari ketujuh datang ular yang Langka di pintu masuk gua.
Ular besar itu seolah-olah dengan sengaja menjaga Ontoseno. Agar tidak ada orang sembarangan masuk ke dalam gua. Ontoseno tetap asyik meditasi tanpa terganggu.
Hari terus berjalan. Siang berganti malam. Tidak terasa Ontoseno melakukan meditasi sudah seratus hari.
Pada hari keseratus ini datanglah Sanghyang Asih Prana atau Sanghyang Wenang. Segera Sanghyang Wenang membangunkan Ontoseno dari meditasinya.
"Bangunlah wahai cucuku Ontoseno.. aku yang datang...!" Ujar Asih Prana lembut tetapi mengandung tenaga dalam yang luar biasa, sehingga membuat bumi bergoyang serta hati Ontoseno berganti.
"Ohw...Kakek Wenang yang datang. Selamat malam Kek..!" Sapa Ontoseno yang sudah mengenal Sanghyang Wenang sejak dia jadi jagonya para dewa di saat masih bayi.
"Aku sudah tahu maksud bertapamu. Dan aku janji akan menunjukan dimana keberadaan Jimat Kalimusada itu.
Namun sebelum itu, kamu akan kumintai tolong menyadarkan para dewa di Kahyangan Suralaya, yang belakangan ini tindakannya banyak yang tidak bener...!" Papar Sanghyang Wenang.
"Maksud Kakek Wenang tidak benarnya dimana..!?" Tanya Ontoseno.
"Aku tidak menjawab sekarang. Ayoh kamu ikut saja..dan ikuti kataku. Nanti kamu akan tahu sendiri...!" Jelas Sanghyang Wenang, dan Ontoseno tidak bertanya lagi.
Setelah dianggap cukup berbicara mengapa dan kenapa perilaku para dewa musti diperbaiki. Pertama, Sanghyang Wenang adalah ayahnya Sanghyang Tunggal.
__ADS_1
Sanghyang Tunggal ini adalah dewa yang pertama kali merajai (menguasai) "Triloka". Yang dimaksud Triloka adalah yang pertama alam para Dewata. Kedua alam jin, siluman dan Danyang perkayangan. Ketiga adalah alam manusia.