Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
61 Prabu Sri Kresna Jegal Keinginan Semar


__ADS_3

Bagong benar-benar terkejut atas sikap Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna. Betapa tidak. Bahwa semua anggota Pandawa yang lima orang menyatakan setuju meminjamkan tiga pusaka Amarta, yakni Tombak Karawelang, Payung Tunggul Naga, dan Jimat Kalimusada kepada Ki Lurah Semar lewat Bagong.


Namun kebijakan Pandawa tiba-tiba dicegah Prabu Sri Kresna yang dengan lantang menyatakan bahwa Ki Lurah Semar orang kere, cuma pembantu sungguh tidak pantas meminjam tiga pusaka andalan Amarta.


"Untuk apa Semar pinjam pusaka utama. Dia itu cuma Punokawan tidak level pinjam pusaka keraton. Paling-paling dia mau ngapusi. Ini harus dicegah..!!!" Ujar Prabu Sri Kresna.


Mendengar omongan Prabu Sri Kresna yang merendahkan nama Bapaknya, Bagong benar-benar naik pitam.


"Stop hai Kresna... Bapakku jauh lebih tua darimu. Bahkan kamu denganku pun jauh lebih tua dariku.


Kamu tidak usah ngejek, menghina, memfitnah Bapakku Semar. Jika Bapakku ingin derajat pangkat dan kekayaan itu sangat mudah.


Bahkan jika mau Bapakku yang jadi Raja Para Dewa. Bukan Sanghyang Manikmaya, Bapakmu itu...hai Wisnu. Karena Bapakku Semar adalah Sanghyang Ismaya, kakak kandung dari Bapakmu, Manikmaya.


Tetapi Bapak Semar tidak mau. Karena Bapak memang bercita-cita ingin ngemong orang-orang luhur. Seperti Pandawa misalnya. Karena itu semua omonganmu hai Kresna.. akan kusampaikan kepada Bapakku. Soal Bapakku marah dan mencarimu itu urusan lain....!


Tetapi omonganmu benar-benar telah menyinggung perasaanku. Aku tidak terima.... terima kasih Sinuhun Puntadewa... saya pohon pamit....saya akan lapor Bapak bahwa misi saya gagal sebab telah dijegal Kresna... mohon pamit Gusti..!!!" Ujar Bagong langsung pulang dengan emosi.


Sepeninggal Bagong Prabu Sri Kresna panik. Dia kuatir jika Bagong benar-benar mengadu kepada Semar. Karena itu Prabu Sri Kresna dengan mengajak Djanoko, Raja Dwarawati juga mengerahkan anak buahnya untuk mengejar Bagong.


Sementara keajaiban terjadi, sepeninggal Bagong tiba-tiba ketiga pusaka itu lepas dari tempat penyimpanannya dan terbang mengikuti kearah mana Bagong pergi.


Kejadian ini hanya diketahui oleh Sadewa yang kemudian menyampaikannya kepada Kakaknya, Prabu Puntadewa.


"Aduh Kakang Prabu....ketiga pusaka andalan kita telah terbang mengikuti Bagong. Itu membuktikan bahwa cita-cita Kakang Semar benar-benar luhur. Dan ketiga pusaka itu tahu sehingga mereka mengikuti kepergian Bagong..!" Papar Sadewa.


"Aku pun sangat percaya. Bahwa apa yang dilakukan Kakang Semar benar. Kakang Prabu Sri Kresna rupanya iri hati terhadap sikap Kakang Semar yang benar-benar luhur.

__ADS_1


Kakang Prabu Sri Kresna iri karena sama-sama jadi pamong para Pandawa, tetapi justeru Kakang Semar yang punya ide cemerlang ingin membangun kepribadian bangsa Amarta.


Padahal Kakang Semar hanya seorang Punakawan. Bandingkan dengan Kakang Prabu Sri Kresna yang dikenal sebagai Raja Besar dan kepinterannya diakui dunia. Faktanya dia kalah ide dengan punakawan miskin tak berpendidikan. Ini kan benar-benar sangat memalukan...!' ujar Brotoseno.


"Saya sependapat Adikku Brotoseno...maka kutugaskan kamu dan adikmu Sadewa untuk menjaga keselamatan Bagong dan Kakang Semar. Segera berangkatlah adikku...!" Ujar Puntadewa kepada Brotoseno dan Sadewa.


Karena itu Brotoseno dan Sadewa segera bergegas mengejar Bagong untuk bersama-sama menemui Semar. Dan sebelumnya Brotoseno sudah memerintahkan anak-anaknya, yaitu Antareja, Gatutkaca dan Ontoseno agar cepat menyusul Bagong. Sebab Bagong bisa saja sewaktu-waktu dicelakai orang-orang suruhan Sri Kresna.


"Aku tidak mau tahu, bagaimana caranya kalian... yang penting kalian bisa melindungi dan menyelamatkan Bagong serta Kakang Semar. Ayoh kerjakan..!!!" Perintah Brotoseno kepada anak-anaknya.


Perintah Brotoseno segera disebarluaskan lewat WA. Sehingga semua anak-anak Pandawa menuju dan berkumpul di Karang Kadempel atau Karangtumaritis, tempat tinggal Ki Lurah Semar.


Dugaan Brotoseno benar, bahwa Prabu Sri Kresna akan berbuat apa saja agar Bagong tidak bisa melapor kepada Semar soal upaya Prabu Sri Kresna menjegal niatnya membangun mental spiritual Bangsa Amarta. Karena Sri Kresna telah memerintahkan Senopati perangnya Setyaki untuk menahan Bagong.


"Hai adikku Setyaki....aku minta bagaimanapun caranya agar kamu bisa menahan Bagong untuk tidak kembali ke Karangkadempel dan lapor Semar...soal aku. Ya..!? Lakukan dengan segala macam cara. Pokoknya jangan sampe Bagong kembali...!" Ujar Prabu Sri Kresna kepada Setyaki.


"Hai Bagong, berhenti.. kamu mau kemana!?" Tanya Setyaki kepada Bagong


"Apa urusanmu Tuan Setyaki..!!!" Jawab Bagong tegas.


"Jika kamu mau pulang. Cukup berhenti sampe disini...!!!" Tak mau kalah Setyaki pun menggertak Bagong.


"Seperti saya katakan apakah hakmu mengatur hidup saya Tuan Setyaki..!?"


"Kalau kamu tetap nekad pulang maka kamu akan kuhajar...!!" Emosi Setyaki makin memuncak.


"Coba saja...emang apa yang kutakuti..!!!" Bagong semakin nekad. Dan akibat kebandelan Bagong, Setyaki menerjang Bagong menjotos kepala dan mulutnya yang membuat Bagong jatuh tersungkur.

__ADS_1


Tetapi Bagong tetap bangun lagi dan tetap melanjutkan balik ke Karangkadempel. Satyaki semakin marah. Digunting kaki Bagong. Jatuh diinjak kepala. Bagong meraung kesakitan dan kabur dari Satyaki.


Satyaki masih memberi kesempatan, Bagong dengan nafas tersengal-sengal dan kaki pincang karena terluka saat digunting Satyaki. Mencoba bersembunyi di belakang gardu ronda.


Tanpa sepengetahuan Bagong diam Ontoseno mengikutinya dari belakang. Ontoseno sengaja belum menolong Bagong sesuai perintah Bapaknya, Brotoseno. Karena Ontoseno menunggu moment yang pas.


"Ya Hyang Maha Kuasa....selamatkanlah aku dari kekejaman Satyaki..!" Bagong berdoa di persembunyiannya. Entah doanya dikabul para dewa, atau tidak nyatanya Satyaki sudah lebih sepuluh menit belum menyusul.


"Alhamdulillah...selamet...selamet...!!!" Ujar Bagong sambil pelan-pelan bangkit dengan maksud hendak meneruskan perjalanan. Dari roman mukanya Bagong nampak gembira.


Tetapi betapa kagetnya Bagong, setelah melihat di belakangnya ada Ontoseno. Dalam benaknya dia berpikir. Pasti Ontoseno pun diperintah Raja Dwarawati untuk menganiaya dirinya


"Ya para dewa. Apes bener nasibku ini. Lepas dari Satyaki...ini malah datang Satpol PP yang lebih galak dari Satyaki..!" Ujar Bagong dalam hati sambil mundur ke belakang karena takut kepada Ontoseno.


"Ada apa Gong...!? Kamu kok seperti ketakutan kepadaku emang ada apa..!?" Tanya Ontoseno kepada Bagong yang berdiri bingung dan tidak terasa dia ngompol di celana.


"Aduh Raden Bagus Ontoseno...kamu jangan berlagak tidak tahu. Kamu kesini pasti akan memukuliku...iya apa tidak!? Kamu pasti disuruh Prabu Sri Kresna...ya apa tidak..!?" Tanya Bagong sambil mewek.


"Gong aku kesini memang disuruh Bapak Werkudara ..!" Jelas Ontoseno, namun belum selesai dia menjelaskan Bagong sudah memotongnya.


"Ah sama saja disuruh Bapakmu pasti sama dengan disuruh Prabu Sri Kresna..!? Iya kan..!?" Kilah Bagong.


"Gong.. Bagong kamu terlalu underestimate.. terlalu buruk sangka. Dengarkan dulu penjelasanku baru kamu ngomong..!


Bapakku Brotoseno memang dia dikenal galak, tetapi beliau cukup bijaksana. Justeru aku kesini untuk melindungimu juga menyelamatkanmu Gong..!" Tegas Ontoseno, yang disambut dengan sikap salah tingkah Bagong.


"Serius tidak mau menolongku...apa tadi aku salah dengar..!?" Bagong masih belum yakin.

__ADS_1


"Gong kamu tidak salah dengar...sumpah aku datang untuk menolongmu..!!" Jelas Ontoseno yang membuat Bagong mau tidak mau harus percaya.


__ADS_2