
Desa Karangkadempel atau Karangtumaritis, tempat tinggal Ki Lurah Bodronoyo atau Ki Lurah Semar sudah aman. Setelah bala tentara dedemit dari Dandangmangore dibersihkan oleh Ki Lurah Semar bersama anak-anak Pandawa, terutama Ontoseno dan juga perjuangan Punakawan Petruk.
Dan pagi ini Ki Lurah Semar mengadakan pertemuan atau rapat guna melanjutkan pembangunan. Setelah pembangunan mental spiritual dianggap sudah selesai. Ki Lurah Semar ingin melanjutkan dengan pembangunan fisik. Sebab banyak fasilitas umum yang rusak terkesan terlantar. Banyak sekolahan, terutama SD dan Madrasah yang telah rusak dan lain-lain semua itu perlu perbaikan.
Karena itu Ki Lurah Semar mengumpulkan seluruh anak-anaknya, Petruk, Gareng dan Bagong juga anak-anak Pandawa, lebih khusus Ontoseno yang memang cukup tanggap dengan kegiatan Ki Lurah Semar.
"Anak-anakku semua. Memang pembangunan mental spiritual aku anggap selesai. Tetapi bukan berati pembangunan cuma sampai disini. Aku ingin pembangunan terus berlanjut.
Sekarang perlu dipikirkan pembangunan fisik, terutama pembangunan di bidang pendidikan. Dan ini aku anggap penting sebab maju mundurnya pendidikan juga akan berpengaruh kepada keberlangsungan hidup berbangsa dan negara.
Aku melihat di kampung-kampung banyak gedung SD dan Madrasah yang rusak, atau banyak tempat belajar mengajar tetapi tidak memiliki WC atau toilet.
Lha itu harus kita tangani Jangan kita uncang-uncang kaki. Selagi bangsa dan negara kita membutuhkan sumbangsih tenaga dan pikiran kita anak-anakku..! Bagaimana pendapat kalian, terutama Den Ontoseno..!?" Ujar Ki Lurah Semar saat membuka pertemuan tersebut.
"Untuk aku Kek. Aku selalu mendukung gagasan dan kinerja Kakek Semar. Dan ide gagasan ini sangat bagus Kek. Jarang orang berpikiran seperti Kakek Semar..!" Ujar Ontoseno menimpali gagasan dan rencana Ki Lurah Semar.
"Aku sih pasti mendukung Bapak. Asal Bapak tidak lupa ayam geprek ya Pak..!?" Ujar Bagong asal ngomong.
Disaat diskusi semakin ramai, tiba-tiba datanglah Raja Mandura, Prabu Baladewa dan Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna.
"Maaf mengganggu aku yang datang Kakang Semar..!" Ujar Prabu Baladewa menyapa Ki Lurah Semar. Sapaan yang sama juga diucapkan Prabu Sri Kresna.
"Ohw..ohw terima kasih atas kedatangan para Gusti Prabu di Karangkadempel. Silahkan duduk... maaf kami sedang rapat sama anak-anak...!" Jawab Ki Lurah Semar singkat.
"Oh iya Kakang Semar. Tahukah kamu maksud kedatangan kami kemari..!?" Tanya Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna kepada Ki Lurah Semar.
"Ohw ampun Gusti.... saya belum tahu... benar-benar belum tahu..!?" Ujar Ki Lurah Semar agak kaget.
__ADS_1
”Begini Kakang... Bahwa rencana Kakang akan melanjutkan pembangunan..
Yaitu pembangunan fisik telah menyebar sampai ke Dwarawati dan Mandura Kakang..!" Ungkap Prabu Sri Kresna.
"Terus apa hubungannya antara pembangunan fisik yang sedang kami rencanakan dan kerjakan ini dengan Dwarawati ataupun Mandura..!?" Tanya Semar menyelidik.
"Begini Kakang Semar...seperti yang Kakang ketahui bahwa aku adalah Pujangga dan Pamongmong para Pandawa. Dan para Pandawa ini adalah pemilik wilayah negara Amarta. Pertanyaanku apakah dalam rencana dan gagasan pembangunan wilayah ini sudah dapat ijin atau restu dari Pandawa.
Sebab mereka adalah pemilik wilayah Amarta. Tatanan yang benar Kakang Semar musti minta ijin dahulu kepada Para Pandawa. Bukan seenaknya sendiri Kakang. Itu tidak benar Kakang.
Jika Kakang melakukannya berarti Kakang meremehkan kedudukan Pandawa dan itu tidak benar. Aku sebagi pujangga Keraton juga Pamongmong para Pandawa. Aku nyatakan menolak rencanamu Kakang. Hentikan pembangunan tersebut. Stop..!!!" Ujar Prabu Sri Kresna agak keras dan ini yang membuat putera Ki Lurah Semar tercekat dan marah. Juga Ontoseno yang ikut hadir disitu.
"Lho Pakde Dwarawati kok bicaranya begitu ya. !? Ada apa ini !?" Ujar Ontoseno dalam hati. Dan yang paling kesal adalah Bagong.
"Ini kok orang kumat lagi...belum lama sudah minta kepada Bapak Semar. Kok sekarang berulah lagi..!?" Ujar Bagong penuh tanda tanya.
"Ada apa Gong heh..!? Kok kamu berkacak pinggang dihadapan Dinda Prabu Sri Kresna..!" Tegur Prabu Baladewa.
"Aku dengar omongan Raja Dwarawati tidak enak. Karena seperti meremehkan Bapakku. Ya aku tidak terima. Padahal belum lama ini baru saja minta maaf. Kok berulah kembali..!?" Ujar Bagong sambil matanya mendelik ke arah Prabu Baladewa.
"Eeeit... kenapa kamu mendelik sama aku Heh Gong..!?" Bentak Prabu Baladewa yang marah karena melihat Bagong matanya melotot menatapnya dan berkacak pinggang.
"Kalau aku mendelik kepadamu kamu mau apa!? Karena kamu sama saja dengan Kresna...Bal..!!!" Jawab Bagong juga dengan membentak.
"Apa kamu berani sama aku Gong..!? Kamu orang kere...derajatmu cuma Punokawan...!!!" Prabu Baladewa makin emosi.
"Apa yang kutakuti Bal ? Aku lebih tua dari kamu. Aku tahu lahirmu. Bahkan aku yang menggendongmu. Mosok harus Takut sama kamu..!? Mustinya kamu mikir..!? Pakai dong otakmu..!!" Cerca Bagong.
__ADS_1
"Ohw...okey. Kamu kurangajar sekali. Kubunuh kamu, Gong..!" Ancam Prabu Baladewa.
"Kamu jangan cuma sesumbar Bal. Cari tempat yang lapang. Ayo bertempur seberapa kemampuanmu Bal..!?" Tantang Bagong .
"Kalau berani.. Ayoh keluar kamu Gong... kubikin babak belur kamu..!" Ancam Prabu Baladewa sembari keluar dari pendopo.
Begitu Prabu Baladewa keluar Bagong malah mendekati Ontoseno.
"Aduh Den cilaka aku ini....aku diancam Baladewa di luar tolong Den bantu aku....!" Ujar Bagong kepada Ontoseno. Petruk yang melihat langsung dialog Bagong dengan Prabu Baladewa langsung nyeletuk.
"Lho tadi katanya berani sama Baladewa... sekarang mewek. Malah minta bantuan sama Den Ontoseno... mana keberanianmu Gong..!" Ejek Petruk.
"Kamu kalau gak solider sama saudara lebih baik diam Truk. Mustine kamu yang tinggi besar maju lawan Baladewa...tetapi kamu malah diam ketika Bapak dimaki-maki.
Tolong ya Den... jangan dengarkan omongan Petruk. Pokoknya Den Ontoseno sayang sama Bapak Semar berarti sayang sama Bagong... tolong bantu Den...!!!" Rengek Bagong kepada Ontoseno.
"Jangan kuatir Gong.. aku siap membelamu.. membela Kakek Semar dan membela warga Karangkadempel..!" Jawab Ontoseno langsung keluar diikuti Bagong.
Sementara itu Prabu Baladewa yang mengancam Bagong, ternyata di luar dia memanggil-manggil orang lain supaya menghajar Bagong.
Bagong dan Ontoseno yang melihat kelakuan Prabu Baladewa ini menjadi ragu. Apakah dia Baladewa betulan atau orang lain yang menyamar sebagai Baladewa.
Terlebih kaget ketika orang-orang yang dipanggil kebanyakan orang asing, bukan orang Mandura atau Dwarawati. Jika yang dipanggil Patih Mandura, Pragoto Bagong dan Ontoseno kenal. Demikian pula jika yang diundang Satyaki, mereka pun kenal itu Senopati perang Dwarawati.
"Aneh..!???" Ujar Ontoseno berbarengan dengan Bagong.
Seperti ada kesepakatan, Bagong dan Ontoseno berpikir pasti ada yang tidak beres nih. Tetapi mereka masih menyimpannya dalam hati. Mereka masih perlu membuktikan kebenaran dugaan mereka.
__ADS_1