
Untuk itu Pandawa pernah minta tolong Raja Pancala, yaitu Prabu Drupada mertuanya Prabu Puntadewa putera sulung Pandawa. Tetapi ini gagal, sebab Duryudana masih ingin berkuasa di Hastinapura. Kemudian permintaan serupa diulangi dengan meminta tolong Ibu mereka, yaitu Dewi Kuntinalibrata. Inipun gagal.
"Jadi cucu-cucuku untuk meminta kembali Negara Hastinapura ke tangan kalian. Sekaligus minta kembalinya Indraprasta ke jajahannya. Kita perlu mengirim lagi utusan atau duta ke Hastinapura. Dan ini merupakan duta yang ketiga dan mungkin yang terakhir. Karena yang menjadi duta musti tidak boleh orang sembarangan. Dan karena pertemuan ini belum dihadiri Raja Dwarawati...aku pikir kita cukupkan dulu sampai disini. Kita nanti lanjutkan jika Raja Dwarawati hadir...!" Ujar Prabu Maswapati kepada para Pandawa.
Dalam hati Brotoseno maupun Djanoko sependapat pembicaraan sepenting itu mesti dihadapi Raja Dwarawati. Sebab bagaimanapun Prabu Sri Kresna adalah Pujangga Pandawa. Maka sangat tidak elok jika pembicaraan mengenai nasib dan masa depan Pandawa tidak melibatkan Prabu Sri Kresna. Karena itu Brotoseno dan Djanoko mengucapkan persetujuannya penundaan rapat sampai hadirnya Raja Dwarawati.
"Kami setuju rapat ini ditunda sembari menunggu kedatangan Kanda Prabu Sri Kresna..!" Ujar Prabu Puntadewa kepada Prabu Maswapati.
Dan pertemuan ditutup sekaligus mereka mengutus utusan ke Dwarawati, agar Prabu Sri Kresna bisa hadir di Wirata. Karena ada pembicaraan yang sangat urgent dan memerlukan kehadirannya.
Di hari yang sama Raden Ontoseno yang mendengar tentang peperangan antara pasukan koalisi Hastinapura melawan pasukan Wirata yang di dalamnya terdapat Pandawa dan kemudian terjadi keinginan para Pandawa akan kembali menggugat negara Hastinapura.
Bahkan mereka berencana segera mengirimkan utusan atau duta yang ketiga, dan kemungkinan merupakan duta terakhir. Artinya jika Duryudana tetap bersikukuh menguasai Hastinapura dan tidak segera mengembalikannya kepada Pandawa. Maka kemungkinan besar perang Bharatayudha segera dimulai.
Karena itu sebagai anak Pandawa, Ontoseno seperti punya kewajiban membela orang tuanya. Untuk hal ini Ontoseno perlu mengajak diskusi dengan Wisanggeni anak Djanoko putera dari Dewi Darsanala, Cucu Batara Brahma.
Wisanggeni juga telah dinobatkan sebagai dewa penutup. Berarti selain sakti mandraguna, Wisanggeni pun pasti punya kelebihan dari manusia biasa.
"Ya, aku perlu ngajak diskusi dengan Adik Wisanggeni bagaimana caranya kita bisa berbakti kepada orang tua dalam menghadapi perang suci Bharatayudha Jayabingun...!" Ujar Ontoseno dalam hati.
Karena itu dia segera merapal Aji Pameling. Sebuah mantra pemanggilan jarak jauh kepada Wisanggeni.
***
__ADS_1
Bertepatan hari Respati Palguna kembali Prabu Maswapati di Wirata mengumpulkan para Pandawa lengkap. Karena sudah diberitahu sebelumnya pertemuan tersebut juga dihadiri Raja Dwarawati Prabu Sri Kresna.
"Selamat datang Cucuku, Prabu Sri Kresna. Kemarin kami sudah rapat. Cuma karena Cucu Prabu tidak hadir. Jadi semua minta bahwa rapat dilanjutkan nanti setelah Cucu Prabu hadir...!" Ujar Prabu Maswapati mulai membuka rapat.
"Terima Kasih Kek...! Sebenarnya ini mau membicarakan persoalan apa sih, sehingga sangat memerlukan kehadiran saya Kek...!?" Tanya Prabu Sri Kresna kepada Prabu Maswapati.
"Begini Kresna..!!! Seperti kamu ketahui bahwa Pandawa telah menjalani hukuman selama tiga belas tahun lamanya. Dan mereka berhasil melaksanakan hukuman itu dengan tuntas. Sekarang adalah saatnya Pandawa kembali menggugat negara Hastinapura sekaligus menarik kembali Indraprasta berikut jajahannya dari tangan Duryudana.
Dan seperti Cucu Prabu ketahui...bahwa Pandawa sudah pernah mengirim duta untuk meminta kembalinya negara Hastinaoura. Dua kali duta yang dikirim, yakni yang pertama Prabu Drupada dari Pancala dan Dewi Kunti Ibu dari Pandawa. Namun semuanya gagal. Artinya mereka pulang dengan tangan kosong.
Dan Duryudana sampai sekarang tetap masih menguasai Hastinapura. Karena itu kami bermaksud mengirim utusan lagi dan kami anggap ini utusan terakhir. Artinya apa, jika Duryudana tetap tidak mau mengembalikan Hastinapura dan Indraprasta berikut jajahannya. Kita akan rebut dengan paksa. Artinya perang Bharatayudha akan kita mulai.
Untuk inilah kami rapat untuk menentukan siapakah yang pantas menjadi duta terakhir. Duta itu harus menguasai diplomasi, sakti mandraguna dan disegani semua orang Cucuku. Itulah materi pokok rapat ini...!" Urai Prabu Maswapati kepada Prabu Sri Kresna.
Memang reputasi Prabu Sri Kresna tidak perlu diragukan lagi. Dia merupakan seorang Raja besar. Titisan Sanghyang Wisnu dikenal sebagai seorang yang ahli bicara dan sangat mengenal betul tentang Hastinapura dan Duryudana. Sehingga tidak heran jika semua orang berharap bahwa untuk Duta Pandawa kali ini adalah Raja Dwarawati.
Akhirnya Prabu Maswapati mengatakan, "Sepertinya semua orang sepakat...untuk duta kali ini atau duta terakhir kepadanu Cucuku Prabu...!" Ujar Prabu Maswapati kepada Prabu Sri Kresna.
Untuk Prabu Sri Kresna mengenai ditunjuknya dia jadi duta terakhir tidaklah begitu terkejut. Sebab dia memiliki Kitab Sara. Sebuah kitab buatan dewa yang mengatur tentang Bharatayudha.
Di kitab tersebut tertulis siapa yang bakal menjadi duta Pandawa. Juga menjelaskan siapa yang bakal jadi Senopati Kurawa dan siapa yang bakal melawannya dari pihak Pandawa.
Namun kitab itu tidak menjelaskan siapa yang akan terbunuh dan membunuh. Kitab ini hanya menerangkan ini lawan itu saja. Soal siapa yang bakal hidup dan mati masih menjadi rahasia.
__ADS_1
***
Kembali kepada Raden Ontoseno yang tengah menunggu kedatangan adiknya, Raden Wisanggeni dari Ksatrian Duksina Geni. Begitu mendapat wisik dari Aji Pameling yang dilontarkan Ontoseno. Segera Wisanggeni mendatangi Ontoseno di Ksatrian Randu Gundala.
"Ada Kakang...kamu memanggilku..!?" Sapa Wisanggeni begitu sampai di Randu Gundala kepada Ontoseno.
"Begini Adikku..rupanya para orang tua kita sedang mengadakan rapat penting di Wirata dipimpin Kakek Prabu Maswapati..!" Ujar Ontoseno menunggu sejenak menunggu reaksi Wisanggeni. Dan benar Wisanggeni kembali bertanya.
"Rapat apa ya Kakang? Lantas apa hubungannya dengan kita..!?"
" Nah...ini...ini manusia yang kurang tanggap. Beginilah Adikku... bahwa orang tua kita sedang mengadakan rapat membahas siapa yang bakal menjadi duta Pandawa ke Hastinapura. Menurutku sih Pakde Prabu Sri Kresna yang bakal jadi duta ketiga sekarang ini.
Dan kemungkinan kali inipun bakal gagal lagi. Jika kali ini gagal, pasti terjadi perang Bharatayudha. Lha kita sebagai anak-,anak Pandawa apakah diam berpangku tangan, atau ikut membantu mereka. Lha untuk inilah aku perlu mendiskusikannya denganmu Adikku...!" Jelas Ontoseno.
"Kakang ketahuilah, mengenai hal ini aku sudah pernah menanyakannya kepada Pakde Prabu Sri Kresna. Beliau kan punya Kitab Sara, buku yang mencatat segala sesuatu tentang Bharatayudha. Nah dalam buku itu namaku dan nama Kakang Ontoseno tidak tercatat...!" Papar Wisanggeni kepada Ontoseno.
"Lha kalau nama kita tidak tercatat. Terus apa yang harus kita lakukan Adikku..!?" Tanya Ontoseno ingin tahu.
"Jalan satu-satunya kita perlu menemui Kakek Wenang. Karena beliau pasti tahu... kita mau jadi apa dan harus bagaimana...!" Jawab Wisanggeni diplomatis.
"Jika begitu, ayo kita temui Kakek Wenang.. di Kahyangan Petungliung atau Kahyangan Ondar-andir Buana..!!!" Ajak Ontoseno dan Wisanggeni mengangguk.
Akhirnya mereka berdua menemui Sanghyang Wenang atau Sang Asih Prana di Kahyangan Petungliung.
__ADS_1