
Rapat akhirnya memutuskan Raja Dwarawati adalah utusan atau duta Pandawa dan Prabu Sri Kresna menyatakan siap lahir bathin.
"InsyaAllah... saya menyatakan siap lahir bathin membawa Misi Pandawa menjadi duta untuk meminta kembali Negara Hastinapura dan Indraprasta ke tangan Pandawa. Doakan saja..!" Ujar Prabu Sri Kresna menyampaikan kesediaannya menjadi duta Pandawa.
Sementara kabar bahwa Pandawa yang berkedudukan di Negara Wirata bakal segera mengirim duta besar ke Hastina untuk tujuan meminta kembali Negara Hastinapura dan Indraprasta. Dan mereka pun sudah mengetahui bahwa duta Pandawa kali ini adalah Raja Dwarawati.
Karena itu Raja Hastinapura, Prabu Duryudana mengadakan rapat darurat dan terbatas. Disebut begitu karena dalam rapat kali ini tidak mengundang para tokoh penting, seperti Raja Mandaraka, Prabu Salya, tidak mengundang Raja Mandura, Prabu Baladewa.
Juga tidak mengundang Raja Awangga, Adipati Karno. Mengapa? Secara struktural, mereka adalah tokoh-tokoh penting, berpengalaman dan berpengaruh. Tetapi mereka punya kedekatan dengan Pandawa dan Prabu Sri Kresna.
Misalnya Prabu Salya, dia adalah Paman dari Pandawa. Sebab Salya adalah adik Dewi Madrim. Dan Dewi Madrim adalah isteri Prabu Pandudewanata, ayah dari Nakula dan Sadewa atau ayah Pandawa.
Prabu Baladewa adalah Kakak kandung dari Prabu Sri Kresna. Sementara Adipati Karno adalah anak Sulung Dewi Kuntinalibrata, Ibu para Pandawa. Jadi jika rapat tersebut mengundang mereka disamping mungkin mereka keberatan dengan materi rapat.
Bisa jadi mereka bakal membocorkan hasil rapat. Padahal rapat darurat ini adalah ide Patih Julig Sengkuni dengan materi pokok menggagalkan usaha Prabu Sri Kresna. Sampai dengan rencana pembunuhan terhadap Prabu Sri Kresna yang mendapatkan persetujuan sekian ratus persen dari Prabu Duryudana.
"Jadi Paman Sengkuni harus siapkan pasukan rahasia bersenjata lengkap. Dan sewaktu-waktu pasukan ini kita gerakan siap. Jadi pasukan harus siaga satu Paman..!!!" Ujar Prabu Duryudana menginstruksikan kepada Mahapatih Sengkuni.
"Okey Anak Prabu. Tadi pagi saya sudah minta kepada Dursasana dan Kartomarmo untuk menyiapkan keperluan ini. Yang jelas kami sudah siap Anak Prabu..!" Jawab Mahapatih Sengkuni.
"Saya juga minta kepada Paman Pandita Durna untuk merahasiakan gerakan ini kepada siapapun. Dan pasukan yang dilibatkan dalam operasi ini harus tetap merahasiakan. Bagi yang membocorkan rahasia ini, akan kita kenakan hukuman yang berat..!!!" Ujar Prabu Duryudana sambil menggebrak meja.
Pada kesempatan yang sama sebagai duta Prabu Sri Kresna akan menggunakan kereta kesayangannya yang bernama Kereta Jaladara. Kereta ini dikusiri Senopati Dwarawati, Setyaki.
"Ayo Setyaki ini sudah siang. Kita segera berangkat ke Hastina..!" Ujar Prabu Sri Kresna kepada Satyaki.
Dan Senopati Dwarawati dengan cekatan segera duduk di kursi kusir dan langsung melecut kudanya sehingga kereta berjalan cepat sekali.
__ADS_1
**
Kita kembali menengok ke Ontoseno dan Wisanggeni. Perjalanan mereka ke Kahyangan Petungliung cukup lancar. Dan mereka dapat bertemu langsung dengan Sanghyang Wenang.
"Selamat pagi Cucu-cucuku. Tumben kalian kemari.. Ada apakah gerangan..!?" Sapa Sang Asih Prana kepada Wisanggeni dan Ontoseno.
" Begini Kek... dan aku kira Kakek Wenang sudah mengetahui. Bahwa saat ini para orang tua kami, yakni Para Pandawa tengah mengutus duta ke Hastinapura. Guna menagih janji yakni meminta kembali Negara Hastinapura dan Indraprasta. Dan menurut perkiraan kami duta ini pun bakal gagal.
Jika gagal pasti terjadi perang Bharatayudha. Nah kami sebagai anak-anak Pandawa untuk menunjukan dharma bakti kepada orang tua. Mosok diam saja tidak ikut perang!? Tetapi menurut Kakek Wenang bagaimana sebaiknya..!?" Tanya Ontoseno.
"Ohw...ohw begitu ya..!? Ketahuilah Ontoseno dan kamu Wisanggeni. Bahwa perang Bharatayudha adalah perang yang dirancang para dewa. Bahkan rancangan perang itu dibuat saat Pandawa dan Kurawa belum lahir.
Rancangan itu tersusun dengan terencana yang termaktub dalam Kitab Sara yang dimiliki Kresna. Jadi dugaanmu benar bahwa duta itu akan gagal dan perang Bharatayudha segera akan dimulai.
Perang ini memang ada untuk mengurangi jumlah orang-orang jahat di dunia ini. Dan hal seperti ini terjadi hampir secara periodik kepada semua umat manusia di jaman apapun di kaum apapun.
Sekarang karena jumlah manusia banyak maka Musibah itu diturunkan berupa perang. Perang Bharatayudha ya seperti itu Cucuku..!" Ungkap Sanghyang Wenang.
"Kami mau tanya Kek. Dalam perang Bharatayudha yang akan menang Pandawa atau Kurawa Kek..!?" Tanya Ontoseno kepada Sanghyang Wenang.
"Aku pastikan yang benar yang akan menang. Yang salah pasti akan kalah..!' jawab Sang Asih Prana.
"Kakek Wenang belum jawab pertanyaanku. Yang akan menang Pandawa atau Kurawa...!?" Karena penasaran Ontoseno mengulang pertanyaannya.
Dan Sanghyang Wenang juga menjawab yang sama dengan sebelumnya.
"Bahwa yang menang adalah yang benar dan yang salah pasti akan kalah..!"
__ADS_1
"Aduh Kakek Wenang jawabanmu kok sangat membingungkan tolong beri penjelasan..!" Kejar Wisanggeni.
"Ingatlah wahai Ontoseno dan Wisanggeni. Bahwa Bharatayudha adalah perang suci. Dimana yang punya hutang harus bayar utangnya. Karena itu tidak bisa digeneralisir bahwa Kurawa pasti kalah.
Sebab di pihak Kurawa juga ada orang-orang baik, seperti Maharesi Bisma dari Talkanda. Pandita Durna meskipun dia dikenal jahat tetapi ada pula sisi baiknya.
Demikian sebaliknya, jangan kamu anggap pihak Pandawa baik semua. Mereka pun ada yang pernah berbuat salah. Nah di ajang Bharatayudha itulah kebaikan akan dibalas kebaikan. Sebaliknya kejahatan ya akan dibalas dengan kejahatan..!" Jelas Sang Asih Prana.
"Sekarang kami mau tanya Kek. Bagaimana dengan diri kami dalam perang Bharatayudha..!?" Tanya Wisanggeni kepada Sanghyang Wenang.
"Aku pastikan kalian tidak akan ikut perang Bharatayudha. Bukankah Wisanggeni telah menanyakan hal ini kepada Kresna yang memegang Kitab Sara, sebuah buku yang mengupas tuntas soal Bharatayudha..!' ungkap Sanghyang Wenang yang membuat Ontoseno dan Wisanggeni tertegun.
Mendapat teguran spontan dari sang Asih Prana Wisanggeni sempat kaget tetapi membenarkan.
"Benar Kek. Menurut Pakde Kresna nama kami tidak tercatat dalam Kitab Sara. Justeru itulah Kek. Jika nama kami tidak tercantum dalam Kitab Sara. Terus bagaimana cara kami dalam mewujudkan dharma Bhakti kepada orang tua..!? Bukankah sudah menjadi kewajiban anak membela orang tua.
Jika kami tidak boleh ikut perang Bharatayudha bagaimana cara kami mendukung orang tua agar menang perang Kek. !?" Tanya Wisanggeni tajam kepada Sanghyang Wenang.
"Ohw...ohw Wisanggeni...Wisanggeni kamu jangan terburu-buru mengambil kesimpulan.. tidak ikut Bharatayudha bukan berarti kalian tidak bisa membantu orang tua kalian.
Ingatlah Cucuku bahwa Kurawa memiliki pasukan tersembunyi yang tidak bisa dilihat secara awam. Mereka adalah pasukan dari Dandangmangore beserta Raja mereka.
Pasukan Dandangmangore adalah pasukan para siluman, Gandarwo, dedemit dan sejenisnya. Mereka dipimpin Dewa Kejahatan yakni Batari Durga dan Batara Kala.
Sebelum Pandawa menghadapi pasukan Kurawa, mereka bisa saja dibunuh oleh para hantu dan dewa kejahatan ini. Mereka membantu Kurawa karena Duryudana berikut perangkatnya tidak mau menyembah Sanghyang Widi. Tetapi mereka menyembah Batari Durga dan Batara Kala maka sangatlah wajar. Jika Batari Durga dan Batara Kala akan membela mereka.
Nah itu menjadi tugas kalian wahai Ontoseno dan Wisanggeni untuk menyingkirkan mereka. Tidak sekedar menyingkirkan, tetapi kalian musti membunuhnya..!" Jelas Sanghyang Wenang.
__ADS_1