
"Ini Pakde mau ngetest aku...apa memang ingin tahu apa yang kuketahui tentang kegundahan hatimu Pakde..!?" Ontoseno mencecar Prabu Sri Kresna dengan sederet pertanyaan.
"Ya aku pengin tahu tentang diriku darimu... jika kamu mampu. Aku berjanji akan menunjukan keberadaan Bapakku..!" Tegas Sri Kresna.
"Baiklah....sekarang Pakde hatinya galau... karena kedatangan tamu.. dan tamu itu bermaksud mau pinjam kepadamu sesuatu yang sangat berharga darimu... sedangkan Pakde merasa keberatan. Benar tidak apa yang kukatakan...Pakde..!?" Ujar Ontoseno.
"Kamu benar Ontoseno...dan tolong kamu jangan tanggung nolong aku. Sekalian usir tamu tersebut Ontoseno..!' jawab Sri Kresna.
Prabu Baladewa yang sejak kedatangan Ontoseno lebih banyak diam. Mendengar ucapan barusan, dia segera bangkit dengan penuh emosi.
"Hai Dinda Prabu kamu pinjamkan tidak Kembang Wijayakusuma? Jika tidak apakah aku perlu ngamuk disini..!!" Ujar Baladewa sembari berkacak pinggang.
Ontoseno yang melihat Prabu Baladewa marah, segera menendang Baladewa, "Ayoh keluar Pakde Baladewa. Kita bertarung di luar..!' ujar Ontoseno sambil meloncat ke luar ke pelataran.
Tidak lama Baladewa menyusul sembari mengumpat kepada Sri Kresna, "Kamu kurang ajar Dinda. Kalau kamu keberatan Kembang Wijayakusuma kupinjam ngomong terus terang, bangsat..! Jangan kamu dan menyuruh bocah kurang waras untuk mengusirku, kamu benar-benar jahanam..!" Umpat Prabu Baladewa.
"Heiii...Pakde Bule (Karena Baladewa memang berkulit bule, baik Brotoseno maupun anaknya, Ontoseno kerap memanggilnya bule)..jangan ngumpat yang tiada guna. Akulah lawanmu..ayoh keluarkan kesaktianmu.. !!" Ejek Ontoseno kepada Baladewa.
Diejek begitu, Baldewa jengkel dan menerjang Ontoseno dengan pukulan. Pukulan tersebut dicegat tendangan. Terjadi benturan "bug..!!!" Dan keduanya sempat terdorong kebelakang.
"Ayoh mana senjata Nanggalamu Pakde..juga Alugoromu...!!!" Ejek Ontoseno kepada Baladewa yang justeru celingukan bingung.
"Ha..ha..ha kamu bingung ya Pakde. Karena tidak punya Nanggala dan karena kamu Baladewa palsu...siapakah kamu sebenarnya..heh..!?" Bentak Ontoseno yang melihat Baladewa masih celingukan.
Saat itulah Ontoseno mengirimkan tendangan Sangkal putung yang sangat dahsyat dan tepat menghantam kepala Baladewa "duaarr..!!!" Baladewa terjengkang.
Dan ujud Baladewa berubah menjadi kabut putih yang samar-samar berbentuk raksasa yang seram.
"Ha ha ha...Ontoseno aku mengaku kalah.. tetapi sewaktu-waktu aku akan datang lagi untuk menghancurkan Dwarawati..!" Ujar kabut putih yang berupa raksasa menyeramkan.
Sebelum kabut putih itu menghilang, dia mengatakan bahwa dirinya adalah Godayitma, merupakan arwah penasaran dari Prabu Rahwana, Raja Alengkadireja yang dibunuh Raden Hanoman dengan cara tubuhnya diurug Gunung Sundara-Sundari di daerah Ungaran Semarang, tepatnya di objek wisata Gedungsongo.
__ADS_1
Kisah gugurnya Rahwana ada dalam episode Ramayana. Berbeda jaman tetapi arwah penasarannya masih terus berbuat kejahatan. Dan mengapa Dwarawati dan Prabu Sri Kresna yang dijadikan sasaran?
Sekedar catatan, bahwa sebelum Sri Kresna lahir kedunia, Batara Wisnu seorang dewa yang bertugas menjaga ketentraman dunia menitis kepada Prabu Harjuna Sasrabahu dan patihnya, Raden Suwanda atau Sumantri.
Disini sudah terjadi pertikaian antara Harjuna Sasrabahu dengan Rahwana. Pertikaian itu dipicu oleh seorang wanita. Yakni Dewi Setyawati, isteri dari Prabu Harjuna Sasrabahu.
Dewi Setyawati memang cantik luar biasa. Itu tidak mengherankan karena dia adalah titisan bidadari Dewi Widowati, isteri dari Batara Wisnu.
Rahwana raja sakti dari Alengkadireja bermaksud merebut Dewi Setyawati dari Prabu Harjuna Sasrabahu, tetapi tidak berhasil. Rahwana dikalahkan dan untuk sementara kapok.
Setelah jaman berubah, dan Prabu Harjuna Sasrabahu meninggal. Batara Wisnu kembali menitis kepada Raden Ramawidjaya dan adiknya, Raden Lesmana Widagdo.
Disini Rahwana kembali mengincar wanita titisan Dewi Wodowati, yang kebetulan menitis kepada Dewi Shinta Widowati isteri dari Raden Ramawidjaya.
Begitu nekadnya Rahwana, dia menculik Dewi Shinta dan dibawa ke Alengkadireja. Ramawidjaya yang kemudian menjadi Raja di negara Pancawati berusaha merebut kembali isterinya. Sehingga terjadi pertempuran besar antara Pancawati dan Alengkadireja.
Peperangan yang dahsyat tersebut menyebabkan Negara Alengka musnah dan Rahwana ditindih gunung hidup-hidup.
Dan dia pernah bertapa meminta berumur panjang, seumur dunia. Sehingga untuk mengendalikannya hanya dengan cara dikubur hidup-hidup dan ditimpahin gunung.
Pada periode selanjutnya, Wisnu kembali menitis kepada Sri Kresna dan Djanoko.
Sedang Dewi Widowati menitis kepada Dewi Sumbrodo yang menjadi isteri Djanoko.
Dan karena tubuh Rahwana terhimpit gunung, sehingga yang muncul dan mencoba membalas dendam kepada titisan Wisnu hanyalah arwahnya atau "yitma".
Setelah mengalahkan Baladewa palsu dan ternyata jelmaan arwah penasaran Rahwana, Ontoseno segera menagih janji Sri Kresna.
" Pakde....aku sudah melaksanakan tugas. Sekarang aku menagih janji Pakde..!" Ujar Ontoseno.
"Ohw iya Ontoseno..sebentar kulihat di Kaca Paesan...siapa tahu ada petunjuk sabar ya...!?" Jawab Sri Kresna santai.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Prabu Sri Kresna mengutak-atik alatnya, dia tersenyum. "Ada petunjuk tentang Bapakmu Ontoseno...tetapi ini amat rumit dan kamu musti sabar...!" Papar Sri Kresna.
"Maksudmu bagaimana Pakde. Aku tidak mengerti...!?" Ontoseno merajuk.
"Aku mendapat petunjuk bahwa kamu harus ke Kahyangan...karena para dewa disana yang mengetahui secara persis keberadaan Bapakmu...!" Jelas Sri Kresna.
"Kalau begitu aku mohon pamit Pakde. Aku harus ke Kahyangan sekarang juga..!' tegas Ontoseno.
Karena ingin segera menemukan Bapaknya, Ontoseno langsung terbang menuju Kahyangan. Para dewa yang mengetahui akan kedatangan Ontoseno segera mengutus Sanghyang Resi Kaneka Putera menemuinya di pintu gerbang Kahyangan.
Ini untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi. Sebab Ontoseno bisa saja mengamuk jika jawaban para dewa yang ditanyai perihal Bapaknya tidak bisa menjawab seperti yang diinginkan. Dan jika sudah mengamuk, siapa dewa yang bisa menanggulangi ? Semua angkat bahu.
Karena itu Sanghyang Jagadnata sengaja mengutus Sanghyang Kanekaputera turun menemui Ontoseno di luar pintu gerbang.
Sebab Sanghyang Narada atau Kanekaputera ahli diplomatis dan jago negoisasi. Dan kalau itu pun gagal, pintu gerbang segera ditutup jadi Ontoseno tidak bakalan bisa masuk.
Tak berapa lama Sanghyang Narada menunggu Ontoseno sudah langsung berdiri dihadapannya sambil berkacak pinggang.
"Cucuku Ontoseno selamat sore...tumben kemari ada apakah gerangan? Apa yang bisa kubantu Cucuku..!?" Sapa Narada.
"Aku kira kamu sudah tahu maksud kedatanganku...sudah langsung jelaskan dimana Bapakku berada!?" Ujar Ontoseno dengan mantap.
Meskipun Ontoseno jawabannya ketus, namun Sanghyang Kanekaputera memang betul-betul seorang diplomat jempolan. Dia sama sekali tidak terpancing. Tetap melayani Ontoseno dengan ramah.
"Jika kamu pengin ketemu Bapakmu. Segera pergilah ke Negara Hastinapura. Kamu gak usah ikut campur, tonton saja keramaian disana. Ntar kamu akan ketemu Bapakmu...Cucuku yang paling ganteng .!" Ujar Narada sembari menyanjung Ontoseno.
"Tetapi kamu tidak bohong kan Kek !? Awas jika kamu bohong kucari kamu dan Kahyangan Jonggringsalaka bakal ku obrak-abrik..! Cam kan ini !" Bentak Ontoseno.
"Tidak Cucuku..aku tidak bohong. Silahkan kamu buktikan omonganku..!!" Jawab Narada tetap dengan lembut. Dan tanpa banyak bicara, Ontoseno langsung terbang menuju Hastinapura.
"Alhamdulillah...selamat..!" Ujar Narada merasa bersyukur bahwa Ontoseno segera pergi dan tidak mengamuk.
__ADS_1