Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Hak Milik


__ADS_3

Siluet pagi menembus awan, cahaya keemasan itu berusaha merobek sisa remangnya malam. Cairan embun mulai memenuhi bumi, hingga efeknya sangat terasa ke dalam tulang. 


Di Peraduan permaisuri, putra mahkota membuka kelopak mata, pandangannya seketika jatuh pada makhluk cantik di hadapannya. Seulas senyum melengkung di bibirnya ketika menatap wajah terpahat cantik itu. 


Tak ingin membuang kesempatan, putra mahkota mengabsen seluruh sudut wajah permaisurinya. Wajah itulah selalu di lihatnya sepanjang hari, bibir ini yang tak pernah bosan mengingatkan nya. Mata permaisuri yang selalu mengawasi beberapa bulan belakangan. Ini adalah anugerah yang patut disyukuri, didampingi seorang wanita yang nyaris sempurna dan bersedia mengapit tangannya untuk menuju singgasana yang menanti di depan mata. Ah, rasanya putra mahkota tak ingin bangkit dari posisinya saat ini. Menatap wajah permaisuri bak vitamin penunda rabun. 


Pergerak kecil terlihat di kelopak mata permaisuri, hal itu sangat mengejutkan putra mahkota. Laki - laki itu gegas bangkit dan duduk, pipinya merona seolah tertangkap basah. 


"Pangeran, anda sudah bangun." Permaisuri membawa tubuhnya bangun dan duduk  menghadap laki - laki itu.


"Iya, sudah sejak tadi." 


"Maafkan saya terlambat bangun." Permaisuri beranjak dari posisi duduk. Wanita itu langsung memanggil dayang pribadinya untuk masuk. "Di mana pengawal putra mahkota?" Tanyanya sambil meraih jubah menutup tubuh.


"Diluar, permaisuri." 


"Katakan padanya untuk mengambil beberapa keperluan putra mahkota di istananya." Titah permaisuri duduk di balik meja. Rasanya sedikit canggung setelah menghabiskan malam bersama putra mahkota.


"Baik permaisuri." 


Hal sama pun dirasakan putra mahkota, laki - laki itu canggung setelah bermalam bersama permaisuri, meskipun bukan bermalam dengan arti yang sebenarnya. 

__ADS_1


"Permaisuri, hari ini aku belajar ilmu pemerintahan." 


"Iya, nanti saya yang akan mendampingi anda di perpustakaan." Permaisuri berdiri dari tempatnya duduk lalu mengayunkan kaki ke arah lemari yang ada di dalam biliknya. Di sana ada beberapa buku yang sengaja dibawa dari kerajaannya. "Ini buku ilmu pemerintahan, silahkan anda baca." Ujarnya meletakkan buku itu di sisi putra mahkota.


"Kamu membawa ini dari kerajaan mu?" Putra mahkota menatap tak percaya.


"Benar pangeran, saya membawanya karena sejujurnya saya memang suka membaca. Itulah kenapa akhir - akhir ini saya sering bertemu pangeran Nev karena hobi kami sama." 


"Aku juga hobi membaca, hanya saja aku malas." Putra mahkota meraih buku itu dan membuka halamannya. Dalam hatinya sangat mengutuk pangeran kedua yang memiliki kecerdasan dalam ilmu pemerintahan tak secara langsung ia merasa tersaingi.


...----------------...


Tak hanya dirinya, di sana ada permaisuri dan juga pangeran kedua. Dua anak manusia itu mengambil buku dan membacanya dalam satu meja, sengaja memberikan waktu untuk putra mahkota belajar.


Tak ada yang bicara hanya kesunyian menyela, para pengawal bersiap untuk berjaga di luar. Sementara kasim bersama dayang Shi menyiapkan beberapa kudapan untuk putra mahkota dan permaisuri.


"Permaisuri, bisakah kamu membantuku?"


"Baik pangeran." Permaisuri bangkit dari kursinya menghampiri putra mahkota. Kakinya melangkah pelan menuju meja laki - laki itu. "Anda membutuhkan bantuan apa dari saya?" 


"Aku sedang membaca buku, tapi juga ingin memakan buah ini. Boleh aku meminta kamu menyuapiku?" Manik mata putra mahkota menatap penuh harap, sementara hatinya penuh rasa kemenangan. Sejak tadi laki - laki itu menahan kesal karena merasa diabaikan permaisuri. 

__ADS_1


"Baiklah." 


Senyum jahat ke arah pangeran Nev sangat lebar di wajah putra mahkota. Padahal adiknya itu tidak berbuat apa - apa bahkan pangeran kedua menatapnya sambil tersenyum tipis. Entah apa makna yang tersirat?


Seorang dayang melangkah menghampiri permaisuri dengan membawa tempat air, dengan pelan ia mengguyur tangan permaisuri untuk dicuci. Usai membersihkan tangan nya, wanita itu mengambil ranting buah anggur. Dengan gerakan anggun dan penuh perasaan memelintir buah dari rantingnya. Lalu menyuapkan nya ke mulut putra mahkota. 


Tak ingin hanya menerima, putra mahkota juga memberi kode pada kasim nya untuk mengguyur air di tangannya. Tak sempurna kalau hanya dirinya saja yang menerima suapan dari permaisuri. 


"Permaisuri, buka mulutmu."


"Ha ? Untuk apa, pangeran?" Permaisuri menatap heran. 


"Aku akan menyuapimu." Putra mahkota tersenyum lalu mengarahkan buah anggur ke bibir permaisurinya


Tanpa bantahan, wanita itu membuka bibirnya. Sekali lagi pesona bibir itu menawan mata dan hasrat putra mahkota. Bagaimana rasa bibir itu ? Jakun laki - laki ini naik turun ketika terlintas di benaknya niat untuk mencicipi madu dari bibir permaisurinya. Aroma plumeria menambah godaan untuk segera menarik tengkuk wanita itu. 


"Tinggalkan putra mahkota dan permaisuri." 


Suara pangeran Nev membuyarkan fantasi liar di benak putra mahkota. Laki - laki itu tersentak dan melirik tajam pada adik laki - lakinya. Ingin ia melayangkan piring buah di hadapannya kepada pangeran kedua karena lancang mengganggu lamunannya.


Pengawal putra mahkota dan dayang pribadi permaisuri keluar dari perpustakaan bersama pangeran kedua. Senyum tipis terlihat di wajah adik putra mahkota itu sesaat sebelum dirinya benar - benar pergi dari tempat itu. 

__ADS_1


__ADS_2