
Usai peperangan yang tak terduga, raja belum juga bangun. Sementara ratu harus dikremasi, sambil menunggu kedatangan ayah sang ratu. Kerabat istana menyiapkan ritual terakhir ratu mereka. Banyak darah dan air mata tumpah dalam satu malam. Semua orang berduka atas berita meninggalnya ratu dalam keadaan mengandung. Penerus raja ikut pergi bersama ratu.
"Ibu." Suara pangeran Nev tercekat di tenggorokan. Wajahnya sedih bercampur kecewa, belum lagi lelah yang menguasai raganya. Hingga kelopak mata pangeran kedua sayu akibat tidak terpejam sedetik pun.
"Pangeran, ibu tidak memberikan racun itu pada ibu suri. Semuanya dilakukan perdana menteri Ma." Selir Ve meremas jari-jarinya gugup. Wajah cantik itu sudah dibanjiri air mata penyesalan.
"Kenapa, Apa yang diinginkan ibu ?" Satu butir air mata lolos begitu saja, hati pangeran Nev teramat kecewa dengan sikap sang ibu.
"Pangeran." Selir Ve menarik nafas mengurangi tekanan volume sesaknya. "Ibu hanya ingin, kau menduduki tahta." Jujurnya atas tujuan selama ini.
"AAA." Pangeran Nev berteriak meluap rasa yang membatu di dadanya. "Aku tidak akan menduduki tahta itu dan ibu sudah tahu sangat jelas penyebabnya." Amarah tertahan di tubuh pangeran Nev melihat bibir pucat selir Ve.
"Maafkan ibu, sesaat ambisi menguasai dan ibu tidak bisa menolaknya. Pamanmu perdana menteri Ma ingin kau menduduki tahta."
"Perdana menteri Ma ingin aku menduduki tahta ? Itu salah ! Dia akan menyingkirkan ku demi tahta itu. Jadi setelah raja bangun pertanggung jawabkan semuanya. Meskipun ibu tidak menaruh racun itu secara langsung. Tapi ibu terlibat dengan konspirasi ini." Pangeran Nev memutar tubuhnya meninggalkan kediaman Selir Ve. Air mata laki-laki itu semakin deras tak terbendung, wanita yang melahirkannya kalap mata dengan tahta.
...----------------...
"Ratu bangun jangan tinggalkan aku sendiri. Bangun aku mohon, hukum aku ratu." Tangis Raja menyayat hati mendekap erat raga kaku ratunya. Meski tak bernyawa namun kecantikan itu tak pudar walau sedikit. "Ratu ampuni aku, jangan pergi." Bahu raja semakin bergetar hebat. Dalam tidurnya ia menyadari jika ratu telah tiada.
Seluruh dayang dan juga pengawalnya, menundukkan kepala. Tak mampu melihat kehancuran raja dalam menangisi kepergian ratu. Penyesalan semakin merajai hati, tubuhnya lunglai di sisi sang ratu.
__ADS_1
"Yang mulia." Pangerang Nev kembali bersedih melihat kondisi raja yang menyedihkan. "Sekarang persiapkan diri anda, beri penghormatan kepada ratu yang terakhir kalinya. Kerabat ratu juga sudah tiba." Lanjutnya mengusap lembut pundak raja.
"Aku mohon, bangunkan ratu. Dia tidak bersalah, biarkan dia menghukumku dengan caranya. Pangeran, bangunkan ratu." Bak anak kecil raja memohon dengan binar mata penuh harap.
"Yang Mulia." Tangis pangeran Nev pecah, tak mampu menahan kesedihan serta rasa kehilangan ratu. Ia tak menyangka jika efeknya sangat menyakitkan seperti ini.
Cukup lama menenangkan raja, akhirnya pelaksanaan ritual terakhir ratu. Banyak air mata yang tumpah, banyak kesedihan yang menggiring. Hampir seluruh kerabat istana kehilangan, terisak pilu mengantarkan sang ratu. Bahkan ayah ratu tak mampu membawa tubuhnya berdiri, apalagi sang raja yang memang menangis histeris di tempatnya duduk.
Pangeran Nev dan pengawal Ta sekuat tenaga memapah tubuh tegap sang raja yang beberapa kali merosot lemah. Raja bak raga tak bernyawa, tatapannya hampa penuh kekosongan. Sekosong jiwanya yang rapuh saat ini.
...----------------...
Usai sudah ritual ratu, kini kesepian merajai tiap penjuru istana. Bagaimana tidak, jantung istana telah mati tidak akan pernah berdenyut lagi, kecuali raja bangkit dan menemukan jantung yang baru. Pergeseran waktu terasa begitu suram, tidak ada lagi warna dalam hidup raja.
"Teruskan." Raja menggulirkan pandangan pada pria muda dua tahun darinya itu.
"Konspirasi yang terjadi pada mendiang Raja dan berlanjut hingga ke ibu suri serta ratu. Dalangnya adalah perdana menteri Ma dan juga sekutunya. Mereka tidak ingin tahta jatuh ke tangan anda, maka dari itu perdana menteri Ma menjebak raja menjadikan ibu saya sebagai selir. Dalam kata lain, tahta itu sebenarnya akan diambil oleh perdana menteri melalui ibu dan juga saya. Perdana menteri Ma memainkan siasat untuk mencuci tangannya dengan melibatkan kerajaan ratu yang saat itu mulai berdamai."
"Jadi selir Ve terlibat?" Getaran di pita suara raja nyaris menenggelamkan kalimatnya. Butiran kristal penyesalan sekali lagi pecah di sudut mata, bahkan tangan raja semakin erat merangkul guci di pelukannya.
"Ya, meski konspirasi nya hanya tergolong menyumbangkan ide. Tapi selir Ve tetap di jatuhkan hukuman, saat ini Selir Ve tengah dalam perjalanan untuk pengasingan." Pangeran Nev menunduk penuh kecewa.
__ADS_1
"Tinggalkan aku sendiri."
Pangeran Nev mengangguk dan membiarkan Raja menyendiri. Meskipun berat tapi ia harus menghormati.
...----------------...
Satu bulan kemudian...
Kekacauan di istana sudah teratasi, untuk sementara tampuk pemerintah dikendalikan pangeran kedua. Tak mungkin kapal yang mereka tumpangi di biarkan terombang - ambing tanpa nahkoda. Keputusan telah diambil beberapa menteri agar kerajaan tidak lebur bersama kesedihan raja yang tak berkesudahan. Pangeran Nev setuju mengendalikan kerajaan saat ini sambil menunggu raja bangkit kembali.
Warna hitam kian menebal dalam kehidupan raja, tak ada secercah cahaya yang menembusnya, penyesalan dan kesedihan menusuk hatinya teramat kuat. Laki-laki berbadan tegap itu perlahan mengurus, gairah hidupnya sirna seiring kehilangan ratu dan calon penerusnya.
"Yang Mulia, bangunlah ! Anda harus bangkit, ratu tidak akan senang melihat keadaan ini." Pengawal Ta membujuk dengan penuh kesabaran.
Hening, tidak ada sahutan dari raja. Hanya ada aliran air tipis merembes keluar dari sudut matanya. Sudah dua minggu ini raja tidak membuka mata, tidak juga makan dan minum. Namun, para abdi setia sangat gigih meski hanya setetes air yang mereka teteskan di bibir raja.
"Pengawal Ta, apa yang dikatakan tabib"? Kasim meletakan tempat air untuk menyeka tubuh raja.
"Raja terperangkap dalam kesedihan dan penyesalan. Entah kapan ia bisa bangkit dan bangun seperti semula." Hembusan nafas frustasi terdengar kasar dari bibir pengawal Ta.
"Satu bulan kepergian ratu, selama itu pula raja terpuruk." Kasim menatap selendang yang melingkar di leher raja, serta hiasan rambut yang tak lepas dari genggaman.
__ADS_1
"Raja terlalu mencintai ratu, hingga tak bisa memaafkan dirinya sendiri saat tuduhan keji itu ia berikan pada mendiang ratu."
"Anda benar, semoga raja cepat bangun. Dan menemukan ratu kembali, saya berharap ratu akan terlahir di masa yang akan datang. Entah di kerajaan ini atau di tempat lain." Kasim mengusap luapan telaga bening di pipi tuanya yang memberi jejak.