Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Brainstorming


__ADS_3

Mulai mengupas rahasia, semoga paham saat membacanya...


...----------------...


"Selangkah lebih maju usahamu mendekati ratu." 


"Ya, tapi ada hal yang mengganjal di hatiku. Apakah ratu dihidupkan kembali dari kematian ? Atau menempuh perjalanan waktu di era ini sama sepertiku." Bree menghela nafas begitu dalam seiring beban tanya keluar. 


"Itu adalah rahasia, kenapa ratumu bisa di era ini. Yang pasti sumpahnya akan segera terlaksana. Bersiaplah jika gagal." Segaris senyum sarkasme membingkai wajah tua laki-laki berjubah putih.


"Kau membuatku takut." Bree mengusap tengkuknya yang tiba-tiba dingin. Ketakutan itu bagai aliran listrik yang menyengat tiap tendon di tubuhnya.


"Nikmati dan buktikan kesungguhanmu dalam kesempatan ini, sebab ada sesuatu yang tidak kau duga akan terjadi. Sebagai bahan pertimbangan ratu maka perlakukan dia dengan baik. Saat itu tiba, kehadiran ratu di era ini akan terungkap. Apa dia bereinkarnasi atau sama sepertimu." 


Bree membiarkan sosok berjubah putih di telan cahaya, perangkat lunak di dalam tempurung kepalanya mulai memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Meski takut itu mulai menggenggam hati namun semangatnya tidak terkoyak karena itu.


Di dalam kesepian yang meraja, tiba-tiba obsidian Bree Tyaga menangkap sosok ratu yang menatapnya tajam penuh benci. Seketika aliran darah dalam tubuh laki-laki itu terhenti, nafasnya tersengal karena sesak menjejal rongga dada. Bree memaksa mengangkat tangan gemetarnya untuk melambai pada sang ratu. Daksa tegap itu rapuh dan juga lumpuh di atas rumput, pita suara seolah lenyap tak mengeluarkan suara meski ia berteriak memanggil ratunya. Hanya air mata yang tiada henti memberi jejak saat tubuh ratu mulai menipis dan retak menjadi kepingan dan berhambur ke udara.


...----------------...


"Ratu, jangan pergi lagi. Aku mohon tetaplah bersamaku, kembalilah." 


"Tuan." Reiki menepuk pelan pipi atasannya yang menangis dalam tidur. "Anda mimpi buruk." Sambungnya sambil membantu Bree duduk.


"Di—dimana ratuku ?" 


"Dokter Filia sedang tidur, Tuan." Reiki meraih gelas berisi air putih. "Tenangkan diri anda dulu." Ucapnya sebelum menyodorkan gelas.


"Ra—ratu pergi, Rei. Di—dia meninggalkan ku." Nafas Bree masih belum juga tenang. Tangannya gemetar dan dingin. "Jam berapa sekarang ?"


"Ini pukul satu malam." Reiki melirik benda segi empat di atas nakas. 


"Kau belum tidur ?" Bree mampu menetralkan diri.


"Sebentar lagi." Reiki mengemas beberapa kertas dan juga laptop. Sejak tadi laki-laki itu melanjutkan bekerja seorang diri di dalam kamar Bree yang luas.  "Sekarang anda lanjut tidur lagi." Sambung Reiki bersiap meninggalkan kamar.


Bree mengangguk lalu meraih selendang yang setiap malam di letakan di bawah bantal. "Jangan pernah pergi dariku lagi." Ucapnya seraya mencium selendang itu penuh cinta.


...----------------...


Pagi menyambut dengan cerah, sama seperti hati Bree yang menghangat dan senang melihat sosok yang membuatnya menangis di tengah malam buta duduk manis di kursi meja makan.


"Selamat pagi." 


"Selama pagi, ini teh mu." Filia menuangkan white tea ke dalam gelas dan menyodorkannya kehadapan Bree.


"Terimakasih, setelah sarapan aku akan mengantarmu ke rumah sakit." 


"Aku di jemput Xavier, hari ini dokter Axel akan berkunjung." Filia menolak halus disertai seulas senyum.


"Xavier, pengawal itu ?" Selidik Bree meletakan kembali gelas ke atas meja.


"Iya, dia bukan pengawal tapi rekan kerjaku. Nanti sore, pulang lebih awal ya kita ada janji bersama terapis Aslan." 


"Tentu, katakan padaku jika pengawal itu berlaku tidak baik padamu." Bree mulai memakan sarapannya. 


Reiki menatap kagum cara Bree dan Filia saat makan, tidak ingin membuang moment laki-laki itu gegas mengeluarkan benda pipih berharga fantastis dari saku jas. Sambil tersenyum mengarahkan kamera pada objek yang menarik perhatian. Bree yang bangun dari koma tujuh bulan lalu tampak berbeda dari sebelumnya, yang dulu asal-asalan sekarang penuh dengan tata krama bangsawan. 


Tidak ingin membuang waktu percuma usai sarapan Bree dan Reiki gegas bersiap ke kantor. Namun sebelumnya mereka menunggu Xavier yang datang menjemput. 


"Dengar, jaga sikap dan cara bicaramu pada ratu Filia. Jaga dia baik-baik selagi jauh dariku, tapi jangan dijadikan kesempatan untuk berdekatan dengannya." Bree melayangkan tatapan penuh peringatan. Kedua tangan diselipkan ke dalam saku celana begitu mempesona.


"Tentu saja, aku akan menjaga Filia. Sebelum kau datang dia sudah bersamaku." Xavier membalas tatapan Bree. "Ah, tiba-tiba aku ingin memelukmu." Laki-laki itu menabrak tubuh si tuan muda dengan belitan tangan yang sangat erat. 

__ADS_1


"Hei, kenapa memelukku !" Bree memekik tak terima. 


"Xavier apa yang kau lakukan ?" Filia menarik kemeja laki-laki itu.


"Aku hanya ingin memeluknya, Fil." 


"Ada-ada saja." Filia tertawa lalu beralih melihat pada Bree. "Kamu masih rapi jangan khawatir." Sambungnya merapikan sedikit jas yang melekat di tubuh si putra mahkota. 


Masih seperti dulu debaran dahsyat masih terasa di bilik jantung seorang Bree Tyaga Adrian. Saat jari-jari Filia menyentuh tubuh dan rona merah pun turut campur memalukannya hingga menjalar ke daun telinga. 


"Wajah anda sangat merah, Tuan." Dengan polosnya Reiki berkata dan menempelkan punggung tangan ke wajah sang atasan. 


"Ayo berangkat." Bree menyembunyikan rasa salah tingkah. "Kau hati-hati membawa ratuku !" Ucapnya pada Xavier.


Bree mengayunkan langkah keluar dari pintu utama, di sana mobil mewah miliknya telah siap. Dengan wajah ditekuk laki-laki itu mendaratkan tubuh di kursi.


"Anda kenapa, Tuan ?" 


"Harusnya aku mengantar ratu Filia." 


"Anda cemburu ?" Reiki tersenyum geli. Rasanya belum pernah melihat wajah seperti itu.


"Tentu saja, ratu Filia milikku. Ratu yang dipilih langsung oleh ibu suri."


Tidak ingin melanjutkan percakapan, Reiki memilih diam dari pada pusing. Laki-laki itu fokus mengemudi dan membiarkan Bree menikmati cemburu seorang diri. Mobil mewah pimpinan Tyaga grup sudah memasuki pelataran kantor. Seorang petugas di lobby berlari kecil menghampiri dan membuka pintu tak lupa salam pagi diucapkan.


"Kak Bree." Lisa tersenyum sambil berlari mendekat, tampilannya hari ini sedikit membuat mata risih. Kemeja yang dikenakan gadis itu sengaja tidak di kancing bagian atas dada hingga menampilkan belahan squishy yang menggoda untuk dise-sap.


"Menjauh dariku !" Bree tanpa menoleh atau melirik memberi titah. Laki-laki itu mengayunkan langkah tanpa peduli.


"Kak Bree, siapa gadis bersamamu kemarin ?" Lisa pantang menyerah mendekat hingga belahan roknya terbuka lebar memperlihatkan batang paha yang putih. 


"Rei, apa semua sudah siap ?" Bree mengacuhkan pertanyaan Lisa dan melemparkan pertanyaan pada asistennya. 


Lisa membuang wajah salah tingkah, gadis itu meremas sisi roknya dengan geram. Maksud hati ingin memikat malah mendapatkan teguran dari sang asisten. 


"Ha—hanya ingin saja." Ucapnya pelan dan terbata. 


Pintu lift terbuka dengan tidak tahu malunya Lisa masih mengikuti langkah Bree dan juga Reiki hingga ke lantai atas. Padahal gadis itu bukan lagi bekerja sebagai tim sekretaris.


"Nona Lisa, kembalilah bekerja !" Reiki menghentikan langkah.


"Aish ! Menyebalkan !" Lisa menghentakan kaki dan meninggalkan lantai itu.


"Selamat pagi Tuan Bree. Keperluan brainstorming sudah lengkap." Irene menyapa dan mengimbangi langkah Bree.


"Apa Widan, bibi Lexa dan Paman Marcel juga hadir ?" Bree menjatuhkan tubuh di kursi lalu membuka map yang diberikan Irene.


"Iya, nyonya Lexa dan tuan Marcel sudah tiba sepuluh menit yang lalu. Kita bisa memulainya jika anda sudah siap." 


"Dimulai saja bawa mereka ke ruang meeting." Bree bangkit dan melangkah menuju ruang yang di maksud. 


Irene memberi perintah pada tim nya untuk mempersiapkan meeting, gadis itu cekatan dalam bekerja dan melakukannya semaksimal mungkin. 


Meeting dipimpin oleh Reiki dan menyampaikan beberapa pembahasan. Disana para anggota mendapatkan lembaran tentang pembahasan. 


"Bree, paman tidak setuju. Lebih baik kita membuat sepatu untuk menutupi Tyaga otomotif yang masih evaluasi." Paman Marcel menolak.


"Paman, harga parfum plumeria itu mahal. Dan aku akan memasukkannya ke dalam Tyaga Fashion." Bree tetap pada keinginan. 


"Tapi plumeria hanya mudah di dapatkan di daerah tertentu." Bibi Lexa bersuara. "Kita akan membutuhkan nya lebih banyak." Sambungnya lagi.


"Aku juga setuju pada paman Marcel, kalau Kakak ragu. Aku bisa memegang proyek baru ini dan aku pastikan akan sukses." Widan satu suara dengan sang paman terlihat dari api semangat yang menggebu.

__ADS_1


"Untuk plumeria, saya sudah mendapatkan koneksinya dari beberapa petani. Mereka siap menyuplai karena selama ini  hanya menjual satuan pada pembeli bunga." Reiki menghidupkan layar proyektor dan menampilkan foto beberapa petani dengan kebun plumeria. 


"Parfum ini juga non alkohol, akan dibuat dalam kemasan kecil supaya mudah dibawa kemana-mana. Menggunakan kaca yang tebal agar tidak mudah pecah." Bree mengeluarkan satu botol parfum dari dalam kotak hitam di atas meja. "Aku sudah melakukan evaluasi dan mengirim sample ini ke laboratorium milik Leon. Dia memastikan jika tidak ada kandungan memicu alergi kulit yang terkena semprotan ataupun indra pencium. Wanginya feminim dan juga ini khusus untuk wanita." Lanjut Bree membuka tutup botol parfum dan menyemprotkan ke pergelangan tangannya. "Silahkan di coba." 


Bibi Lexa mengambil sampel parfum itu dan menyemprotkannya di tangan. "Wanginya enak dan feminim, sangat segar. Sejak kapan kamu membuat sampel ini ?" 


"Satu bulan lalu." Bree tersenyum karena berhasil membuat sampel tanpa ada yang mengecohnya. 


"Bagaimana, Tuan Marcel ?" Reiki melemparkan tanya. 


"Kalau memang menguntungkan baiklah, aku setuju." Paman Marcel masih menikmati aroma plumeria. 


"Aku mengikuti saja." Widan menimpali. 


"Baiklah, selesai makan siang adakan information sharing kepada beberapa staf terkait. Kita akan bahas sama mereka." Bree meninggalkan ruang meeting dengan hati yang lega. 


...----------------...


Axel menunaikan janji berkunjung ke rumah sakit di mana Filia Aruna bekerja, dokter tampan itu mengumbar senyum penuh pesona pada beberapa perawat yang bekerja menemani pasien. 


"Terus saja tebar pesona, disini banyak yang merindukan pesonamu." Sinis Xavier tiba-tiba melangkah sejajar di sisi Axel.


"Kau ! Dari mana tiba-tiba di sampingku ?"


Xavier terkekeh melihat wajah kesal laki-laki di sampingnya. "Terbang dari atas."  Kelakarnya sambil melemparkan senyum pada objek cantik menawan pandang.


"Terimakasih sudah datang." Filia menyalami Axel.


"Kita langsung saja."


"Baiklah, Xavier tolong bawa ini." Filia memberikan dokumen pasien.


"Baik yang mulia ratu." 


"Kenapa kamu ikut-ikutan seperti tuan muda gila itu." Axel tertawa mengingat Bree.


"Dia tidak gila, dokter Axel !" Tegas Filia tidak terima.


"Wow, sang ratu marah. Maaf aku hanya bercanda." Axel melemparkan senyum.


"Bree akan sembuh aku yakin itu." Filia menatap jauh lorong yang mereka tuju. "Dia hanya depresi dan aku akan menyembuhkannya." Sambungnya yakin.


"Jangan bilang kau menyukainya, Fil." Xavier bersuara karena hasutan cemburu. 


Filia hanya tersenyum. "Kamu siap dokter Axel, mereka akan bereaksi melihat orang baru." Ujarnya sebelum memutar gagang pintu. 


"Dokter Filia, pasien sedang tenang mereka baru saja bangun tidur dan juga makan." Seorang perawat memberi keterangan.


"Baiklah, terimakasih." Filia tersenyum kemudian obsidiannya berpindah pada Axel seolah bertanya.


"Aku siap."Laki-laki itu menghembuskan nafas panjang. Dia seorang dokter namun bukan bidangnya tetap rasa takut itu ada.


Filia mendorong gagang daun pintu lalu melangkah masuk setelah terbuka lebar. Gadis itu tersenyum tipis melihat pasiennya nampak diam di atas brankar. 


"Ini mereka." 


Tubuh Axel tak mampu bergerak, matanya terpaku pada sepasang suami istri yang menatap kosong ke arahnya. Jantung Axel berdegup kencang dengan tubuh gemetar hebat. 


"Dokter Axel." Tegur Xavier menatap heran melihat reaksi Axel. Tak mendapat jawaban, laki-laki itu melangkah menghampiri. "Axel !" Ucapnya tanpa embel-embel dokter. 


"Xavier apa yang terjadi ? Kenapa dokter Axel seperti ini." Filia gugup dan juga takut. 


"Axel bangun !" Xavier menepuk pipi dokter tampan itu sedikit keras. 

__ADS_1


"Pa—panggil Bree. Cepat !" Nafas Axel terengah naik turun. Ia berusaha menyadarkan diri dari rasa terkejutnya. Apa yang dilihatnya hari ini sangat tidak mudah untuk dipercaya. 


__ADS_2