
Jalan mobil yang tidak lebar nampak tak asing mengusik obsidian si tuan muda, aroma sama menyapu lembut indra penciuman laki-laki itu. Bunga ilalang, bertebaran seirama angin yang bertiup lembut. Bree baru saja memasuki wilayah lahan plumeria yang akan dibeli. Entah kenapa perasaan laki-laki itu sedikit resah.
"Anda kenapa, tuan?" Reiki melemparkan tanya setelah berulang kali menangkap pergerakan sang atasan yang gelisah.
"Entahlah, Rei. Sejak memasuki daerah ini perasaanku tidak asing. Aroma ini, bunga ilalang itu. Sangat akrab denganku."
"Mungkin anda secara tidak langsung pernah berkunjung di tempat mirip seperti ini." Reiki menyahut sambil mengawasi mobil petani yang jadi pandu jalan.
"Iya." Bree menghela nafas menetralkan rasa yang membelenggu setelah memasuki kawasan itu.
Iris hitam pekatnya memindai jalanan yang seolah berpagar ilalang kiri dan kanannya. Sangat asri semacam sebuah perbukitan. Hutan yang menghijau jauh di kaki bukit menandakan jika masih aman dari jamahan tangan jahat.
Selembut sarayu yang menyapa sebagai salam. Bree merasakan debaran halus mengusik bilik kehidupannya di serambi kiri. Mobil terhenti dan tangan laki-laki itu terangkat meraba degupan jantung yang kian bertalu.
"Tuan, sudah sampai. Anda baik-baik saja?" Reiki tidak lupa memastikan kondisi si tuan muda. Sejenak nafasnya tertarik dalam menghirup udara yang segar tanpa terkontaminasi banyak polusi.
"Hm." Bree menjulurkan kaki ke tanah setelah daun pintu mobil terbuka. Laki-laki itu menggulirkan pandang ke sekitar. Ya, tempat itu benar melekat dibenaknya.
"Tuan Bree. Ini lahan plumeria itu. Kita masuk kedalam sekitar dua meter." Pak Alfon menghampiri bersama sang istri yang selalu setia disisi.
"Mari kita masuk." Bree mempersilahkan si empu tanah melangkah di depannya. Semakin masuk kedalam debaran itu begitu terasa. Ada rasa takut menggelitik laki-laki itu.
"Itu kebunnya." Tunjuk ibu Melka.
Bree takjub dengan keindahan di balik tebalnya rumput ilalang. Berbagai jenis plumeria tumbuh cantik dengan ketinggian rata-rata lima sampai delapan meter. Semua berbunga dengan macam warna, aromanya menguar terbawa angin hingga ke rongga nafas laki-laki itu. Seketika kerinduan membaur dalam sanubari pada sosok ratu yang ditinggalkan.
"Sangat indah." Reiki terpesona dengan kecantikan plumeria. Laki-laki itu melangkah mengamati tiap pohon tanaman. Di bawahnya berserak kelopak bunga yang telah layu namun tak membuang aroma.
"Daun kering ini lah nanti yang akan dijadikan parfum atau aroma terapi." Bree menjelaskan sambil menengadahkan wajah ke atas dengan senyum tersemat menawan ke arah pohon plumeria rubra. "Rei, ambil foto bunga yang ini kirim kepada ratu Filia." Titahnya sambil meninggalkan tempat.
"Tuan, ada baiknya anda juga di foto bersama pohon itu. Sekarang ambil posisi." Cegah Reiki saat kaki si tuan muda akan melangkah.
"Aku tidak bisa, di istana mana ada seperti ini. Kami akan dilukis tanpa bergerak." Mood kuno kembali aktif. Putra mahkota itu tidak tahu cara berpose.
"Huh." Reiki membuang nafas kasar. "Tunggu sebentar." Jari asisten tampan itu tampak cepat mengetik kata kunci di situs pencarian. Matanya berbinar melihat tampilan yang dicari. "Tuan, kemarilah. Seperti ini yang saya maksud. Anda tirulah pose salah satu foto yang ada di situ." Ujar Reiki menunjukkan satu persatu contoh gambar.
"Ini tidak susah, ambil yang bagus lukisanku. Atau kita panggil tukang lukis saja, Rei !" Tercetus ide brilian dari benak Bree. "Aku ragu benda itu bisa melukisku. Dimana kuasnya, tidak terlihat?"
"Bukan lukisan tuan tapi foto, melukis membutuhkan waktu lama. Saya tidak setuju. Ayo cepat !" Reiki sudah seperti fotografer mengambil posisi kadang duduk, kadang juga memiringkan tubuh. "Tuan, anda jangan mengikuti arah kamera, posisi tetap disitu saja." Ingin rasanya laki-laki ini menjambak si tuan muda karena dengan bodohnya meniru posisinya saat mengambil gambar.
__ADS_1
"Bagaimana bisa mengambil gambarnya kalau posisimu kadang duduk, kadang miring seperti itu." Bree mulai kesal dengan ribetnya mengambil foto.
"Saya sedang menyesuaikan pencahayaan, ayo cepat kembali ke posisi semula." Reiki kembali mengatur posisi atasannya agar berpose di bawah pohon plumeria rubra.
"Dilukis saja ! Jadi kamu tidak miring dan duduk seperti itu !" Kesal sudah merambat ke dalam hati Bree Tyaga Adrian.
"Wow, candid ! Sangat bagus." Reiki puas melihat hasil tangkapan kameranya. Dengan posisi Bree tiba-tiba mengubah posisi sambil mengomel.
Sementara Pak Alfon dan Ibu Melka terkekeh melihat kekonyolan dua petinggi Tyaga group itu. Rasanya begitu senang melihat senyum yang mengembang di wajah dua laki-laki terpahat tampan ini saat melihat layar ponsel.
"Tuan Bree, di dalam sana ada pemandangan indah dan juga rumah kayu tempat istirahat." Pak Alfon menuju jalan setapak yang bersih membelah ilalang.
"Mari kesana." Bree telah melupakan perasaan gelisahnya sesaat saat sibuk berfoto. Laki-laki itu mengayun langkah untuk mengikuti Pak Alfon.
"Silahkan."
Bree terperangah hebat melihat pemandangan di depannya, pasokan oksigennya menipis dengan denyutan jantung yang begitu menusuk. Kaki dan tangan laki-laki itu gemetar dahsyat melumpuhkan tempurung lututnya.
"Tuan Bree." Reiki tersentak ketika daksa tegap sang atasan jatuh ke tanah dengan bertumpu di kedua lutut. "Anda kenapa?" Panik serta merta bergelayut di hati saat melihat rona pucat dan pandangan kosong tak berisi di wajah si tuan muda.
"Tuan Rei, bawa ke rumah kayu saja. Siapa tahu tuan Bree kelelahan." Seru Ibu Melka yang nampak cemas.
Asisten tampan itu gegas memapah tubuh Bree dengan bantuan pak Alfon. Bersusah payah mereka membawa tubuh besar itu masuk ke dalam rumah kayu minimalis. Bree yang setengah sadar kembali dihantam keterkejutan saat dirinya di bawa masuk ke dalam rumah.
"Tuan Bree, minumlah air putih ini dulu."
Reiki mengambil alih gelas itu lalu meminumkannya perlahan pada Bree. "Tuan, anda kelelahan." Ucapnya meletak gelas kembali.
"Lakukan pembayaran setelah pulang dari sini." Si tuan muda bersuara serak dan juga lemah. "Beri aku waktu beberapa menit, tubuhku lemas seperti tidak memiliki tulang." Ucapnya terkekeh menghibur diri dari tanya yang mulai bertumbuh di perangkat lunak.
"Baiklah." Reiki mengirim pesan pada Irene untuk mempersiapkan segala surat yang diperlukan. "Surat-surat lainnya akan menyusul karena sedang tahap mengerjakan. Tapi uangnya akan kami bayar hari ini." Lanjutnya sambil menyelipkan benda pipih itu di saku jas.
"Terimakasih tuan Rei. Tapi lebih baik menunggu kondisi tuan Bree membaik saja untuk pembayaran." Pak Alfon tak enak hati pada pimpinan Tyaga Group itu.
"Saya baik-baik saja." Bree memaksa berdiri dan tersenyum. "Kalian tunggu disini aku ingin melihat sekitar, tidak akan lama." Lanjutnya mencoba melangkah walau getar efek terkejut masih terasa. Laki-laki itu berulang kali menghembus nafas mengusir rasa yang mampir hingga membuatnya tak nyaman.
Sekuatnya Bree mengayun langkah ke arah ilalang tebal dan masih hijau. Pendek memang ilalang itu hingga tak menelan seluruh tubuhnya. Semakin masuk maka Bree juga lebih jauh dari pekarangan rumah kayu minimalis. Jantungnya berdegup kencang seolah akan menemukan sesuatu. Ya, benar langkah itu terhenti kala obsidian nya menemukan satu batang pohon rindang di tengah ilalang.
Manik mata Bree berselaput kabut dan laki-laki ini tidak tahu cara penghapusnya. Kabut itu menutupi sebagian iris hitam pekat si tuan muda. Kemudian perlahan mencair dengan rasa takut menggulung hati.
__ADS_1
"Tuan ! Anda dimana ?"
Sayub suara Reiki terbang dibawa angin, seolah menjadi mengantar untuk menarik Bree ke permukaan dari laut lamunannya. Padahal jarak rumah kayu dan tempat itu lumayan jauh. Tidak ingin membuat sang asisten panik, Bree memutar tubuh meninggalkan tempat. Laki-laki itu setengah berlari tak memperdulikan beberapa akar liat menjerat kaki.
"Rei." Nafas Bree tersengal dengan tenggorokan kering. Kedua tangannya bertumpu di lutut sambil mengatur nafas.
"Anda cantik sekali tuan !" Reiki gegas mengambil foto sambil terbahak. "Jadi anda menyelinap di dalam ilalang itu untuk mencari hiasan rambut?" Ejeknya menunjuk kepala sang atasan.
Bree menatap heran di sela lelah yang mulai berkurang. "Apa maksudmu ? Bawakan aku sebotol air."
Reiki mendekat lalu menyerahkan botol air. "Lihat." Laki-laki itu memperlihatkan layar ponselnya. "Ini adalah bandana keluaran terbaru dari bunga ilalang." Lanjutnya terkekeh kembali. "Anda sangat imut." Ucapnya terbahak nyaring.
"Kenapa mereka menempeli rambutku?" Bree menjatuhkan botol air ke tanah lalu sibuk mengambil bunga ilalang yang tersangkut di rambutnya hingga menyerupai bandana.
Pak Alfon dan juga ibu Melka keluar dari dalam rumah kayu. Mereka tersenyum melihat tampilah seorang Bree yang berantakan penuh keringat. Apakah laki-laki itu habis bermain begitu pikir mereka. Menguatkan persepsi dengan ada nya bunga ilalang yang menempel di rambut Bree.
Usai melakukan pembayaran di kediaman Pak Alfon. Bree dan Reiki berniat pulang, di perjalanan si tuan muda hanya diam sambil melemparkan pandang ke arah luar. Masih mencerna kejutan hari ini. Sementara Reiki hanya sesekali mengawasi dari kaca depan.
"Rei, apa menurutmu ratu Filia sudah memaafkanku? Apa dia tidak akan meninggalkanku lagi?"
"Saya rasa sudah, kalau memang dokter Filia masih membenci anda mana mungkin dia bersedia tinggal di Mansion." Reiki menjawab sambil memutar sedikit benda bundar di depannya. Biarlah kali ini ia ikut dalam cerita sang atasan.
"Kau tahu, ratu Filia adalah gadis cerdas dan juga kuat. Dia terbiasa di medan perang, sampai di punggungnya ada bekas sabetan pedang."
"Anda melihat punggung dokter Filia ! Anda lancang sekali, tuan !" Reiki terbelalak tidak percaya.
"Hei, dia ratuku ! Tentu saja seluruh tubuhnya pernah aku lihat." Bree kesal menendang jok kemudi atas kekurang ajaran mulut bawahannya itu.
"Di mansion anda melakukan itu, Tuan ! Wah parah sekali kemesum@n anda." Reiki berdecak dengan raut wajah menyebalkan
"Aku melihatnya di masa lalu ! Bukan saat ini, aku adalah raja terpelajar mana mungkin aku melecehkan ratu sebelum resmi jadi istriku !" Bree menatap tajam pada pria di depannya.
"Maaf tuan, saya kira di saat ini." Reiki baru memahami cerita si tuan muda. Laki-laki itu tersentak setelah satu mobil hitam memotong jalan mereka. "Sial !" Ucapnya menginjak rem begitu dalam.
"Siapa itu, Rei."
"Tuan tetap didalam, sepertinya kita di serang kembali." Reiki menarik laci di depannya lalu mengecek kesediaan peluru desert eagle miliknya. Bibir laki-laki itu menyeringai karena melihat satu senjata yang sejenis dengan miliknya di dalam laci. "Ini milik laki-laki itu kemarin, untuk berjaga anda boleh memegangnya." Reiki meraih pist0l itu lalu memberikan pada Bree.
"Keluar !"
__ADS_1
Reiki dan Bree terkejut melihat beberapa orang sudah mengelilingi mobil mereka. Lelah, sungguh raga itu sangat lelah namun apa daya musuh di depan mata. Kedua laki-laki itu menghela nafas panjang memasang tenaga untuk melawan.