
Filia Aruna menghempaskan tubuh ke atas kasur. Rasa lelah menggelayuti sepanjang hari larut bersama hangatnya air shower. Gadis bermata hitam pekat itu menatap langit kamar yang didesain dua lapis. Malam ini bulan tengah memperlihatkan setengah keanggunannya, menyingkirkan rasa kesal yang tiba-tiba bersarang di hati Filia Aruna.
"Menyebalkan ! Kenapa dia memelukku ?" Terlintas dekapan kokoh si tuan muda.
Lelah memikirkan hari ini, Filia bangkit lalu meraih remote untuk menggeser atap melapisi kaca transparan yang telah dibuka sejak ia pulang dari Mansion Bree Tyaga Adrian.
Masih belum merasa mengantuk, Filia menggeser kaca pembatas balkon. Gadis itu membaca susunan huruf dalam kertas di tangannya.
"Nona, di luar ada tamu mencari anda." Suara wanita paruh baya terdengar di muara pintu balkon.
"Bibi Mei, siapa yang bertamu ?" Filia meletak kertas di atas meja. Kemudian menyambar jaket rajut yang tergantung di sisi kaca
"Itu, tuan muda Bree Tyaga Adrian."
"Apa ?! Kenapa pria itu bisa sampai ke sini ?" Filia mempercepat langkah keluar dari kamarnya yang luas. Manik mata gadis itu memendar mencari sosok tamu yang datang.
"Selamat malam Dokter Filia." Reiki menyapa dengan versi pengawal pribadi raja. Ia telah menerima edukasi dari sang pemilik perintah.
"Selamat malam Asisten Rei." Filia menipiskan senyum menahan ledakan tawa.
"Kamu sudah makan ?" Bree memutar tubuh kemudian melangkah menghampiri.
"Belum, sebentar lagi. Ada apa sehingga kalian datang kesini ?" Meski tak sopan tapi apa boleh buat Filia harus bertanya.
"Bagaimana caranya kamu mendapatkan lukisan itu ?" Bukan menjawab Bree malah bertanya dan menunjuk pigura foto di atas meja di sudut ruangan.
"Tuan, itu bukan lukisan tapi foto. Dan itu diambil sejak saya kecil." Filia menjelaskan dengan sabar.
Kepala Bree mengangguk dengan tatapan memindai. "Rumahmu kecil, ayo pindah ke Mansion."
Mata Filia terbelalak, rumah miliknya adalah paling besar di komplek tempat tinggalnya. Dan laki-laki di depannya ini mengatakan rumah itu sangat kecil, Filia menghembuskan nafas pelan mengusir rasa kesal yang kembali membumbung.
"Tuan, kalau di banding Mansion, rumah dokter Filia memang kecil. Tapi rumah ini sangat besar dibandingkan rumah yang lain." Sahut Reiki
"Ratuku harus hidup nyaman dan tenang, memiliki abdi yang setia mengurus dan mendampingi. Tapi lihat di sini, hanya ada satu orang. Aku yakin Ratu Filia kesusahan disini." Suara Bree naik satu oktaf.
__ADS_1
"Tuan, jangan cemaskan saya. Tempat ini nyaman." Filia berusaha menurunkan empar emosi yang sedikit naik.
"Aku yakin, kamu tidak nyaman dengan semua ini. Pasti kamu kesepian tidak ada taman, kecapi, perpustakaan. Semua salahku ! Ya, semua salahku. Andai waktu itu aku percaya padamu dan menyelidiki lebih dulu tentang kematian ibu suri, mungkin kamu tidak akan pergi meninggalkan aku bersama calon anak kita. Aku salah maafkan aku." Bree terisak. "Dan kamu tidak akan menjalani kehidupan di ruang yang sempit ini." Pria itu menjatuhkan tubuh di lantai dan menunduk meratap sesal.
"Tuan jangan seperti ini, mari kita duduk di atas sofa." Filia menyentuh pundak Bree.
"Ratu."
"Iya, mari kita pindah lantainya sangat dingin." Filia mencoba merayu.
Tertatih Bree membawa tubuh naik ke atas sofa, jejak air mata masih saja membingkai pipi tirusnya. "Ratu, kamu boleh menghukum ku seperti waktu aku meminta petugas eksekusi mencambuk mu dan kamu boleh melakukannya padaku, cambuk tubuhku sebanyak yang kamu inginkan."
Filia menyelami bola mata yang berwarna sama dengannya, tidak ada kepalsuan dan kepuraan di sana. Semua nyata dan sungguh-sungguh, tidak adil hanya reflek memeluk, ia membenci pria yang ditandai tengah sakit saat ini.
"Tuan, jangan seperti ini. Saya tidak akan menghukum anda seperti apa yang anda lakukan pada saya dahulu." Senyum tulus tersuguh di bibir Filia. Gadis itu melupakan perilaku tidak sopan tadi siang. Dan kali ini ia bertekad untuk masuk ke dalam cerita yang dilontarkan tuan muda itu untuk membantunya sembuh dari depresi.
"Tapi kesalahan itu sangat besar, kamu keguguran sebelum kita melihatnya tumbuh." Gurat sedih nampak dalam di netra Bree Tyaga Adrian.
Sebagai dokter Jiwa, Filia dapat melihat itu semua. Ekspresi, perilaku serta ucapan. Terlihat begitu nyata seolah Bree memang mengalaminya. Namun sayang, semua itu hanya dalam halusinasinya. Begitu kesimpulan gadis itu.
"Aku akan mengobatinya, atur jadwal untuk kami bertemu terapis Aslan."
"Tentu." Reiki tersenyum senang.
"Nona lebih baik makan malam dulu, semua sudah siap." Bibi Mei datang dari arah ruang makan.
"Baiklah, kalau begitu mari Tuan Bree dan Asisten Rei. Kita makan malam dulu."
"Kami sudah makan malam, Dokter Filia." Tolak Reiki halus.
"Kamu ingin membuat ratuku kecewa ?! Dia pernah mengatakan jangan menyia-nyiakan makanan. Sementara rakyat kita masih banyak kelaparan." Sahut Bree menatap tajam pada Reiki dan tersenyum lembut pada Filia.
"Apa benar dokter Filia pernah mengatakan itu, Tuan ?"
"Tentu saja saat kami masih tinggal di istana. Bahkan dia yang mengajarkanku makan dengan benar."
__ADS_1
"Tuan Bree mari, di rumah ini Bibi Mei memasak makanan tradisional. Jadi saya rasa cocok dengan lidah anda yang sensitif, di istana koki dapur akan menyajikan makanan seperti itu, 'kan?" Seru Filia mengajak dua laki-laki itu
"Benar, ketika aku bangun dari koma. Lidahku mulai tidak menyukai makanan saat ini."
"Sebenarnya kondisi ini terbalik, sebelum koma anda tidak menyukai makanan tradisional." Timpal Reiki mengingat perbedaan atasannya.
Bree hanya mengangguk lalu mendaratkan tubuh di kursi, segaris senyum tertarik di bibir. Melihat pergerakan anggun dari Filia Aruna mengambil makanan untuk mengisi piring.
"Silahkan Tuan, semoga anda suka dengan masakan yang saya pilih."
"Apapun menjadi pilihanmu, aku akan tetap memakannya. Aku rindu saat makan berdua bersama di istanamu." Bree menarik sumpit kemudian mulai memakannya.
Kini Reiki yang dibuat takjub dan terperangah, dua anak manusia di depannya melakukan hal yang belum pernah ia lihat. Bree dan Filia menyuap makanan dengan pergerakan anggun, mengunyah pelan tanpa suara. Posisi duduk tegak tidak membungkuk, menikmati makanan dengan sungguh-sungguh. Ya, itulah bagian sikap bangsawan yang terlihat.
"Pikirkan lagi, apa kamu bersedia tinggal di Mansion ku?" Bree sejujurnya tidak rela berpisah tempat dengan sang pujaan hati.
"Sepertinya tidak, tuan."
"Ratu Filia bisakah bahasamu tidak formal padaku?" Bree melayangkan tatapan sendu.
"Baiklah, tapi aku akan berusaha mengatur waktu agar bisa mengunjungimu ke Mansion."
"Tapi aku tidak bisa jauh darimu, ratu." Bree memohon dengan sangat agar Filia bisa tinggal bersamanya.
"Akan aku pikirkan."
Bree mengangguk lalu melirik arloji di tangannya, waktu telah menjejal diri ke pukul sembilan. "Sudah malam silahkan istirahat, aku akan pulang." Ucapnya bangkit. "Bibi Mei, tolong jaga ratuku. Bila terjadi sesuatu cepat hubungi aku. Besok pagi para pengawal akan kesini mendampingi ratu."
"Tidak perlu tuan Bree, saya tidak terbiasa memakai pengawal." Tolak Filia lembut.
"Atau aku akan mengirimkan beberapa asisten mansion ke sini." Bukan menanggapi penolakan, Bree malah menawarkan lagi.
"Tuan muda, bibi rasa tidak perlu. Terimakasih atas perhatian anda, tapi nona Filia memang sejak kecil tidak terbiasa di kawal atau dilayani banyak orang." Bibi Mei tersenyum memberi pengertian.
"Baiklah, aku pamit. Pikirkan untuk tinggal di mansion bersama bibi Mei." Bree tiba-tiba meraih tubuh Filia dan memeluknya erat. "Jangan pergi lagi, Ratu."
__ADS_1