
Pantulan sepatu menggema di atas lantai empat belas menarik atensi semua orang, dengan penuh karisma Bree mengayun langkah berbalut setelan warna hitam dengan kancing jas bagian tengah terbuka sangat mempesona. Tangan kanan diselipkan dalam saku celana lalu tangan kiri terayun mengimbangi tubuh, sungguh melengkapi kesempurnaan tampilan si tuan muda. Bibir merahnya terangkat tipis saat namanya diteriakkan penuh benci oleh laki-laki paruh baya yang tengah duduk di atas lantai.
"Haruskah aku bersedih atau senang, paman?" Bree menurunkan tubuh dengan bertumpu di satu lutut. Intonasi bicara terdengar lembut dan juga santai. Iris mata memandang lekat tak terbaca.
"Berhenti bermain-main, Bree !" Tatapan benci mengimbangi nafas naik turun paman Marcel karena dikuasai amarah. Kedua tangan mengepal erat di atas lantai, hingga buku-buku jari memutih tak luput pula raut wajah sangat merah.
"Aku tidak main-main, apa paman lupa ? Kemarin paman mengirim beberapa orang untuk menyerangku." Si tuan muda tersenyum tipis. "Aku bukan lagi Bree remaja. Bawa dia !" Sambungnya berdiri meninggalkan ruangan direktur personalia.
"LEPASKAN !" Paman Marcel meronta ketika dua tangannya dilingkari gelang besi terkunci.
"Tuan Marcel, anda bisa melakukan pembelaan dan meminta pengacara anda untuk datang." Eros menatap datar dengan bayangan kelam menyelinap di ingatan.
Detektif berkulit sawo matang itu melangkah lebih dulu dan diikuti beberapa rekannya yang menggiring paman Marsel. Selebihnya bertugas memeriksa dalam ruangan direktur personalia itu.
"Tuan, sebaiknya anda pulang dulu. Setelah ini biasanya akan datang para pemburu berita." Reiki mengimbangi langkah sang atasan.
Bree mengangguk tipis sambil tersenyum, obsidian hitam itu bagai mata serigala yang bersinar ditengah kegelapan.
"Kak Bree." Widan menghadang langkah si tuan muda. "Paman Marcel dibawa Kak Eros, apa kakak yakin dengan keputusan ini?" Laki-laki itu terlihat cemas. "Bagaimana dengan Bibi Vindy dan juga Lisa ? Mereka kerabat kita." Sambungnya menatap dalam manik mata pemilik Tyaga group itu.
Bree maju selangkah tanpa senyum maupun tatapan lembut. Sangat jelas sorot mata penguasa terpancar dari iris mata laki-laki itu. "Sayangnya, kejahatan itu tidak bersaudara." Ucapnya dengan kedua tangan diselipkan dalam saku celana.
"Tuan, percayakan saja pada tuan Bree." Reiki tersenyum tipis sambil berlalu melanjutkan langkah di belakang atasannya. "Tuan, saya tidak bisa mengantar anda ke Mansion." Sambungnya sambil menekan tombol buka pada lift.
"Kamu selesaikan dulu saja pekerjaan disini. Besok aku akan masuk kembali ke kantor. Sangat menyebalkan kenapa kalian sangat meremehkan aku !" Si tuan muda sedikit mengomel sebelum menutup rapat bibirnya di bawa kotak besi itu turun ke lantai bawah. "Kau tahu, Rei ? Benda ini sangat mengerikan, aku serasa ditelan kotak raksasa. Di istana ku tidak ada benda seperti ini." Mood udik laki-laki itu aktif sambil mengamati tiap sudut ruang lift.
"Mungkin orang di istana anda kurang cerdas."
__ADS_1
"Kau meremehkan orang-orang ku ?!" Nada si tuan muda naik satu oktaf. "Mereka sangat cerdas kejahatan pun tidak terlihat saking pandainya mereka dan kau meremehkannya." Aura seorang raja keluar, intonasi rendah itu terdengar mengerikan di sertai tatapan yang menghunus.
"Bu—bukan seperti itu." Reiki tersenyum lebar dengan gigi yang dirapatkan.
"Huh, kau menjengkelkan sekali !" Bree kembali berdehem menjernihkan suara efek mabuk semalam masih menyisa di suara. "Kapan suaraku bersih ?"
"Beberapa hari lagi, Tuan."
"Minuman apa itu membuat orang sakit saja !" Si tuan muda menggerutu menyalahkan minuman. "Apa aku meracik sendiri saja?" Ide bermunculan untuk mencari cuan.
"Jangan tuan, kalau anda meracik sendiri hasilnya belum tentu enak."
"Benar juga." Bree manggut-manggut setuju. "Kita sampai?" Bertanya karena pergerakan lift terhenti.
"Iya, silahkan." Reiki mempersilahkan atasannya keluar lebih dulu. " Anda berhati-hatilah di jalan." Sambungnya sambil melangkah.
...----------------...
Di ketinggian langit matahari benar-benar sempurna memberikan panasnya, tidak ada lagi mendung yang tersisa. Berita penangkapan paman Marcel bagai makanan lezat yang tersaji, di beberapa stasiun sudah mulai memberitakan tentangnya.
Tak hanya itu, Tyaga group juga jadi sasaran empuk para pemburu berita. Karena itu Reiki meminta Bree cepat meninggalkan kantor. Karena asisten tampan itu telah membaca situasi yang cepat bocor.
"Aku tidak menyangka jika tuan muda itu memperkarakan hal kemarin, lihat judul beritanya." Xavier terkekeh sambil berpangku tangan melihat ke arah televisi.
"Tapi targetnya aku." Filia masih belum mengerti karena di pemberitaan mengatakan paman Marcel ditangkap karena merupakan otak penyerangan terhadap pimpinan Tyaga Group.
"Tentu saja, dia tidak akan menyinggung namamu. Karena Bree tidak mau kamu berurusan dengan masalah ini." Xavier menatap ke arah Filia.
__ADS_1
"Pantas saja kemarin dia meminta sopirnya untuk membawaku cepat meninggalkan tempat itu."
"Itu salah satu caranya melindungi mu." Xavier tersenyum. "Dan aku yang datang melindungi dia." Laki-laki itu terkekeh.
"Ya, kamu seperti pahlawan bertopeng tiba-tiba datang membantunya." Filia ikut terkekeh.
"Hanya kebetulan, syukur saja aku tidak terlambat dan juga cepat datang ke Mansion lama."
Xavier dan Filia kembali terdiam melihat tayangan di televisi yang memperlihatkan halaman kantor Tyaga group. Di sana berdiri Reiki yang baru saja tiba mengantarkan Bree pulang dengan diantar sopir kantor. Laki-laki itu terlihat menjawab pertanyaan beberapa reporter terkait penangkapan paman Marcel.
...----------------...
Didalam sebuah ruangan dilengkapi dengan alat seperti perekam suara, pengedap suara dan juga Cctv. Ada satu meja segi empat lumayan besar dan kursi yang saling berhadapan, tak jauh dari sana ada kaca pembatas berhadapan langsung dari sisi yang duduk.
Di tempat itulah paman Marcel menunggu waktu diinterogasi, meski amarah menguasai hati tapi laki-laki itu tak kuasa melampiaskannya. Sembari menunggu sang pengacara tiba paman Marcel bersabar menahan diri.
Langkah cepat terdengar dari hentakan sepatu seseorang dari arah lorong. Tak lama daun pintu terdorong memperlihatkan sosok Eros yang tinggi gagah.
"Selamat siang Tuan Marcel." Laki-laki itu mendaratkan tubuh di kursi lalu meletakan beberapa dokumen di atas meja. Senyum tipis terlihat di bibirnya sembari nafas panjang terhembus. Banyak makna yang menggiring helaan nafas Eros.
"Ayolah Eros, kenapa kau harus repot-repot mengurus masalah kecil ini ? Jika kamu ingin naik pangkat maka bisa menggunakan koneksiku." Paman Marcel dengan angkuh melayangkan senyum dan melipat tangan ke dada sambil bersandar di dinding kursi.
"Masalah kecil ? Benarkah ini hanya masalah kecil?" Eros mengernyitkan alisnya sembari menegakkan duduk dan meletakkan tangan di atas meja menindih dokumen tipis itu. Rahangnya sedikit mengeras namun terkendali.
"Ya, kita bisa melakukan negosiasi, tutup k@sus ini dan aku akan mengurus prom0simu." Tawaran yang menggiurkan disuguhkan oleh Paman Marcel.
Eros nampak berpikir sambil mencari keseriusan di wajah pria paruh baya itu. Tangannya kembali terlipat di depan dada. Laki-laki itu memajukan tubuh sambil meletakan jari telunjuknya di bawa meja menonaktifkan perekam suara. "Paman yakin?"
__ADS_1
"Tentu, kamu hanya menjadi seorang pesuruh Bree. Putra mahkota itu akan merasa dirinya selalu di atas." Senyum meyakin tertarik di bibir kehitaman Paman Marcel.