
Bree Tyaga Adrian membawa tubuhnya untuk berbaring di atas brankar. Perlahan, kelopak matanya tertutup dan memasuki alam yang penuh ilusi. Bree kembali menginjak kaki ke tempat yang berbeda dari sebelumnya.
"Bagaimana perkenalan mu di hari pertama." Sosok laki-laki tua kembali mendatangi.
"Sedikit membingungkan, hanya saja aku mengenali orang-orang disana dan merasakan tidak asing."
"Itu adalah jiwa lain dalam tubuhmu, waktunya kau membuktikan kesungguhanmu."
"Kenapa kau satukan jiwa kami ? secara tidak langsung aku tidak memiliki kesejatian diri."
"Tubuh itu milikmu, sampai kapan pun tetap milikmu serta jiwa yang hidup dalam raga itu. Hanya saja saat ini ada jiwa yang lemah perlu pertolonganmu. Terlepas semua itu di sanalah kau menemukan kesejatian diri."
...----------------...
Dua minggu kemudian…
Bree Tyaga Adrian telah pulih total, hasil pemeriksaan juga sedikit membaik. Hanya ada gangguan di beberapa titik saraf dan akan menjalani obat jalan. Hari ini laki-laki itu akan pulang di kediamannya, bertemu dengan para keluarga besar.
"Anda sudah siap?" Reiki memberikan ponsel baru siap pakai.
"Tentu." Bree tersenyum. Kepribadian itu adalah memang dirinya.
"Anda bisa menggunakannya, 'kan?
"Hm, kamu sudah mengajariku." Bree menyimpan ponsel itu ke dalam saku jasnya.
Lucu kecerdasaan di atas rata-ratanya seolah tidak berfungsi setelah kecelakaan. Reiki meminta beberapa orang pengawal untuk membawa barang mereka. Cukup enam bulan sebagai penghuni rumah sakit.
Di luar rumah sakit para awak media yang telah mengetahui bangunnya Bree Tyaga Adrian tak membuang kesempatan. Mereka sengaja menunggu di halaman rumah sakit.
"Itu dia."
Salah satu wartawan menunjuk ke arah Bree dan Reiki. Dalam balutan jas berwarna hitam keduanya sangat tampan dan berkarisma, masih menjadi idola para wanita.
"Tuan Bree, bagaimana kondisi anda saat ini?" Seorang reporter melemparkan pertanyaan.
"Sudah lebih baik." Jawab Bree sambil mengayun langkah tak lupa pula seulas senyum di berikan. Beruntung jiwa modern nya lebih dominan.
"Bagaimana perasaan anda setelah bangun dari koma selama enam bulan?"
"Sangat bahagia dan bersyukur." Bree masih menjawab dengan ramah.
"Bagaimana kasus kecelakaan yang menimpa anda, apa ada titik terangnya?"
Langkah Bree terhenti lalu menatap satu persatu wajah para wartawan yang menunggu jawaban. Segaris senyum nampak di bibirnya. "Untuk yang itu saya tidak bisa menjawabnya. Sebab, saya baru saja bangun dan tidak tahu perkembangan selama enam bulan ini. Terimakasih." Ucapnya lalu melanjutkan langkah kembali.
Tubuh Bree sempurna duduk di dalam mobil mewah miliknya, laki-laki itu nampak bingung dengan kendaraan yang ia masuki itu. Kepalanya berputar mengamati benda yang menaunginya saat ini, ada kursi dan kaca jendela.
__ADS_1
"Ada apa, Tuan?" Reiki terhenti saat menarik seatbelt nya.
"Kita tidak pakai kereta ? Benda apa ini ?" Si tuan muda terlihat bingung. "Suara apa itu ?" Waspada seketika mendengar suara asing yang belum pernah di dengar.
"Anda ingin naik kereta api ? Ini suara mesin mobil."
"Tidak, ayo kita pulang." Mampir sekelebat ingatan yang mengantarkannya hingga keranjang putih dalam ruangan sunyi seorang diri penuh kesakitan. Bree melemparkan arah pandangan ke samping, Hembusan nafas kasar keluar dari bibir merahnya. Ini dunia barunya setelah bangun dari koma dan juga dunia raja yang datang dari zaman kuno.
Apakah mereka satu raga tapi dua jiwa ? Tidak, mereka satu jiwa dan satu jalan hanya hati yang membedakan misi.
"Apa yang anda rasakan, Tuan?" Reiki menoleh ke arah belakang. Ia bisa melihat kegelisahan di wajah atasannya.
"Tidak ada."
Mobil melaju menuju di kediaman Bree, laki-laki itu diam dalam pikirannya. Kini ia mengerti memulai dari mana yaitu Kecelakaan yang menimpanya. Merasa jenuh rasa keingintahuan lebih dominan hingga jari Bree terangkat memainkan tombol kaca jendela mobil.
Reiki yang melirik dari kaca depannya menggeleng tipis, atasannya seperti anak-anak yang baru memasuki mobil mewah. Lampu lalu lintas berubah merah dengan terpaksa laki-laki itu mengunci kaca jendela mobil agar aman untuk Bree.
...----------------...
Di halaman Mansion, beberapa pegawai berjejer menyambut kedatangan Bree Tyaga Adrian. Senyum bahagia mengembang di wajah mereka. Tak hanya para pegawai Mansion, Kerabatnya pun juga hadir di sana.
"Selamat datang, Bree." Wanita cantik berusia sekitar 40 tahun. Langsung menyambangi dengan senyum bahagia.
"Terimakasih, Bibi." Bree membalas pelukan saudara tiri mendiang ayahnya itu.
"Kak, Bree." Seorang laki-laki muda juga datang menyambut. "Syukurlah Kakak sudah sembuh." Ucapnya sambil memeluk.
"Iya," Bree membalas pelukan laki-laki itu.
Widan Kaelan, putra Tunggal Bibi Lexa Viviana. Usianya lebih muda dua tahun dari Bree Tyaga Adrian.
Mereka adalah salah satu kerabat yang dimiliki Bree saat ini. Beberapa tahun lalu, kedua orang tua Bree meninggal dunia dengan bunuh diri. Apa penyebabnya ? Hingga saat ini belum juga terkuak. Sebagai ahli waris dan putra mahkota bangsawan, Bree Tyaga Adrian mewarisi Tyaga grup.
"Rei, ganti semua perabotan yang ada di dalam kamar ini. Aku ingin menggunakan kain sutra."
Reiki tercengang sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. "Baik Tuan, ada lagi?"
Bree menjatuhkan diri di atas kasur. "Apa yang terjadi selama enam bulan aku koma?" Laki-laki itu bicara sambil mengusap-usap sprei yang tengah di duduki.
"Tyaga otomotif mengalami penurunan setelah uji coba enam bulan lalu yang melibatkan anda." Reiki melangkah meraih tabletnya lalu memperlihatkan statistik anak perusahaan Tyaga grup.
"Bagaimana, Tyaga fashion?"
"Tyaga fashion sudah membaik." Reiki kembali menunjukkan statistik, di sana terlihat sangat stabil.
"Dan Tyaga food ?"
__ADS_1
"Sama Tuan, sudah membaik. Hanya Tyaga otomotif yang belum. Karena kita kehilangan kepercayaan beberapa konsumen tinggi."
Bree bangkit dari tempatnya duduk lalu mengayunkan kaki untuk melangkah ke arah balkon kamarnya. "Buat taman bunga plumeria, di sana." Tunjuk nya ke halaman kosong. Jiwa raja mulai menampakan diri.
"Baik Tuan." Reiki gegas mengatur permintaan.
"Kak Bree." Pekik seorang gadis tiba-tiba menerobos memeluk tubuh Bree.
"Jangan menyentuhku !" Bree mendorong tubuh gadis itu kasar. Manik matanya menatap tajam penuh kebencian. Jiwa raja tidak suka disentuh sembarang wanita. "Hanya Ratu yang boleh berlaku seenaknya padaku." Gumamnya pelah kembali menatap jauh. Sekelebat rindu kembali menyesakkan dada.
"Kak Bree. Kenapa kau tidak pernah lembut padaku ?" Gadis itu terisak sedih.
"Aku sudah pernah mengatakan, tubuhku tidak boleh disentuh sembarangan. Ini kamarku, sekarang keluar dari sini !" Kalimat penegasan itu tidak main-main diucapkan Bree.
Gadis itu menghentakan kakinya kasar lalu memutar tubuhnya untuk keluar dari kamar. Lisa Anella, keponalan Bibi Lexa sepupu dari Widan. Sejak lama memiliki rasa pada Bree Tyaga Adrian.
"Tuan, silahkan anda beristirahat. Besok sutra yang anda inginkan segera datang."
"Rei."
Langkah Reiki tertahan. "Iya Tuan."
"Di mulai hari ini, jangan ada seorang wanita pun yang boleh masuk dalam kamarku. Seleksi asisten Mansion dengan teliti. Aku tidak suka disentuh sembarangan, tubuhku ini sangat berharga. Hanya ratuku yang boleh menyentuhku."
"Baik Tuan." Reiki tidak lagi mempermasalah ratu yang diucapkan Bree. Mungkin itu efek tidur lama tuannya begitu pikir laki-laki ini.
...----------------...
Waktu bergulir begitu saja bak air mengalir, Si tuan muda mengistirahatkan tubuh sesuai permintaan sang asisten. Laki-laki memiliki juta pesona itu membuka kelopak mata penutup obsidian. Rasanya cukup untuk berbaring manja di peraduan. Bree membawa daksa untuk bangkit dan berniat membersihkan diri. Kakinya melangkah ke arah kamar mandi, meski sedikit bingung namun lagi-lagi jiwa lemah dalam tubuh itu menolongnya untuk segera tahu seluk beluk mansion itu. Kini si tuan muda mengerti arti jiwa dan ingatan yang disatukan.
"Rei ! Apa ini hujan buatan?" Bree sedikit berteriak memanggil asistennya ketika dengan sengaja menghidupkan shower.
"Ada apa, Tuan?" Laki-laki itu setengah berlari mendengar teriakan si tuan muda. "Itu namanya shower memang dipakai untuk mandi. Anggaplah hujan buatan." Reiki malas untuk menjelaskan lebih rinci.
Bree mengangguk kemudian menyusuri tiap ruang kamar mandi. "Ini bak untuk berendam?" Matanya berbinar senang.
"Namanya bathtub, tuan. Anda sering berendam di sana selepas pulang kerja."
"Aku mengerti." Kilasan ingatan kembali hadir sedikit demi sedikit Bree mulai memahami dunia barunya. Yang bercampur dengan masa lalu.
Lengkungan langit berubah warna, cahaya keemasan menembus pilar mansion melalui balkon kamar, Bree Tyaga berdiri seorang diri di muara balkon kamarnya. Laki-laki itu sudah segar setelah membersihkan diri. Mengenakan kaos dengan bawahan training, nampak berkali lipat tampan. Pandangan Bree jatuh pada warna langit senja, kerinduan pun ikut menyapa pada sang ratu. Hingga saat ini, sedetik saja wajah ratu tak lenyap dari ingatannya.
Laki-laki itu perlahan memahami kondisi dan lingkungannya. Berkat kesatuan jiwa dalam satu raga, maka tak heran ada sedikit keanehan. Bree akan memecahkan masalah kecelakaan yang menimpanya dengan begitu ia bisa mencari ratunya.
Waktu semakin meninggalkan senja, hingga pandangan sedikit gelap. Namun, Bree masih betah bersandar sambil berpangku tangan di muara balkon kamar. Laki-laki itu menikmati sapaan angin yang menampar tubuhnya.
Ratu, semoga kita cepat dipertemukan.
__ADS_1