Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Afeksi


__ADS_3

Sarayu malam menghantarkan awan berkumpul menjadi satu, perlahan-lahan Langit berkerudung hitam mengikis pesona bintang yang gemerlap. Berganti akar putih menjalar di tiap penjuru lengkungan cakrawala malam, tak ketinggalan pula cemeti dewa bergemuruh nyaring menggiring.


Tanda waktu bergerak semakin malam. Namun, pembahasan tentang hari ini belum juga usai. Masih seputar penemuan sepasang suami istri yang tak disangka keberadaannya. 


"Tuan, maaf hari ini saya lancang melanggar larangan anda." Reiki berucap dengan kepala tertunduk menatap ujung sandal rumahan yang dikenakan.


"Maksudmu ?" 


"Tadi selepas anda pulang, saya memasuki kamar Tuan Adrian dan Nyonya Ivanka. Rasa penasaran mendorong hati saya untuk masuk kesana." Reiki memberanikan diri mengangkat wajah beserta degupan jantung yang semakin kuat karena rasa takut atas amukan sang atasan.


Bree tersenyum tipis. "Wajahmu seperti ketahuan mencuri, Rei." Nada bicara itu tidak mengandung amarah. "Lalu, ada yang kau temui di sana?" 


"Ini." Reiki mengeluarkan kertas dari dalam dompetnya. "Saya menemukan ini di dalam sarung bantal milik Nyonya Ivanka. "Jelasnya seraya membuka lipatan kertas. "Kalau dilihat dengan benar, masih tersisa debu dari serbuk yang ada di dalam kertas ini." Lanjut asisten tampan itu menatap satu persatu wajah yang hadir di sana.


"Coba aku lihat." Leon mengambil alih kertas itu sambil mencium pelan kalau ada aroma yang tertinggal. "Aku bawa ini ke laboratorium." Ucapnya memotret kertas itu. 


"Aku juga ingin memotretnya, bagaimana cara kerja seniorku sampai tidak menemukan kertas ini. Sementara amankan di laboratorium mu saja." Eros juga mengeluarkan kamera dari dalam tas. 


"Tuan dan nyonya besar, dinyatakan bunuh diri usai meminum racun. Jadi saya menyimpulkan itu adalah racun." Ungkap Reiki dengan mimik serius.


"Benarkah ? Kalau begitu selidik ini, Er." Bree menegakan duduk dengan pacuan emosi menjalar ke rongga dada. Sekarang laki-laki ini yakin jika kedua orang tuanya tidak sekedar bunuh diri. Ada yang memanipulasi kematian itu.


"Tenang Bree, aku akan menyelidikinya. Karena kasus ini sudah ditutup, jadi akan aku lakukan seorang diri sampai menemukan bukti dan mengangkat kasusnya kembali." Eros menatap yakin. 


"Tapi itu berbahaya bagi karirmu, penyidikan tanpa surat perintah melanggar kode etik mu sebagai Detektif." Seru Leon sangsi.


"Serahkan padaku semua." Eros tersenyum. "Aku hanya minta kirimkan beberapa orang Tyaga grup yang dapat dipercaya. Penyelidikan ini akan di mulai dari Bibi Chen dan juga Paman Gio." Sambungnya lagi.


"Baiklah, hati-hati ! Bila ada yang kamu butuhkan hubungi aku segera." Bree menaruh harap banyak pada Eros. 


"Tentang mekanik itu, ada anak buahku yang melihatnya di desa." 


"Sudah aku duga, ada orang berpengaruh yang berdiri di belakangnya. Temui mekanik itu maka akan terungkap penyebab kecelakaan waktu itu." Bree tersenyum tipis sambil menyesap white tea nya. 


"Er, aku percayakan padamu masalah bibi Chen dan juga Paman Gio. Semoga mereka bisa sembuh dan menceritakan semuanya." Harap Axel yang sejak tadi memilih diam. Bertemu dengan dua asisten Mansion tuan Adrian masih memukul hatinya. Dan membuat tanya yang sangat besar. Bagaimana bisa bibi Chen dan Paman Gio selamat dalam kecelakaan itu ? Lalu siapa yang ikut hangus terkena ledakan mobil di dalam jurang?


"Xel, aku akan membantu sebisa mungkin. Bila kasus ini diangkat dan berhasil aku ungkap serta menangkap otak dari rencana. Maka bagus untuk karirku setidaknya akan dapat promosi. Apalagi kasus ini tentang keluarga bangsawan Tyaga. Maaf, bukan aku memanfaatkan situasi, tapi hanya untuk batu loncatan semangatku untuk melakukan penyelidikan." Eros terkekeh.


"Terserah padamu, setelah ada hasil dari penelitian, maka kabari aku, Leon." Axel menggulirkan pandang pada pemilik nama.


"Tentu semua ini berkaitan. Kecelakaan orang tua Axel, bunuh diri paman dan bibi. Kemudian, kecelakaan Bree. Aku rasa kalian paham." Laki-laki itu mengemas beberapa kertas yang dibawanya.

__ADS_1


"Sudah malam, sekarang kita istirahat." Reiki memutuskan pembicaraan. "Kalian menginap saja, saya mengantarkan tuan ke kamar dulu." Sambungnya beranjak dari tempat duduk.


"Kau kira aku anak kecil, kembali ke kamarmu sana." Bree melenggang pergi. 


"Padahal saya hanya bersikap seperti pengawal pribadi." Reiki rupanya sudah menonton beberapa drama kerajaaan agar bisa membantu si tuan muda untuk sembuh.


"Itu tanda-tanda sembuh, Rei." Leon sumringah. "Syukurlah dia tidak jadi gila." Ucapnya terkekeh. 


...----------------...


Cemeti dewa tak hanya menggertak namun benar-benar melumpuhkan sebagian gerak para penduduk bumi. Hujan begitu deras terbagi rata, seiring kerudung hitam yang kian menebal. 


"Inikah, yang kau sebut misi ?" Bree meletakkan tangan di jendela kamar membiarkan hujan menetesnya. Laki-laki itu berada di sebuah gubuk kayu minimalis. 


"Iya, sebelumnya aku sudah mengatakan padamu. Ada jiwa yang harus kamu tolong." 


"Aku bisa merasakan betapa sakitnya kehilangan orang tua." Bree menarik tangannya lalu mengambil kain tebal yang terlipat di atas meja. 


"Itulah kenapa aku menyatukan jiwanya dan dirimu agar apa yang dirasakannya bisa kamu rasakan, apa yang dialaminya juga dapat kamu alami. Sesungguhnya jiwa itu telah mati, maka dari itu aku memintamu menyelesaikan misi tentang kematian dan kecelakaan,  sehingga kamu bisa masuk ke dalam jiwa lemah itu. Pada akhirnya, segala kehidupan ini semua milikmu. Begitu semua terungkap, jiwanya benar-benar pergi dan hanya tinggal jiwamu sendiri."


"Tentang ratu, apakah dia benar-benar melupakanku. Tidakkah kau berbaik hati mengembalikan ingatannya ?" Bree menggulirkan pandang pada sosok tua berjubah putih. 


Bree melirik sinis karena lawan bicaranya itu terkekeh. Jujur ia penasaran apakah ratu benar-benar melupakannya. "Semakin hari ratu Filia bertambah cantik dan anggun, aku sangat mencintainya. Ratu di masa lalu dan ratu di masa sekarang selalu menaklukan aku dengan cinta. Meskipun ratu saat ini, sedikit berbeda dan menjaga jarak padaku." Curhatnya pada si sosok tua.


"Yang Mulia, coba kamu lihat sungguh-sungguh wajah ratu Filia. Apakah wajah itu berubah atau tidak?" 


"Hanya sedikit, makanya aku penasaran, apakah ratu bereinkarnasi atau melintas waktu sepertiku." Bree melangkah menghampiri lukisan wajahnya dan ratu. "Setelah aku lihat, wajahku juga tidak berubah banyak." Sambungnya tersenyum.


"Aku sengaja menyisakan jejakmu dan ratu, agar kalian bisa berkomunikasi dengan baik. Dengan begitu kau tetap mencintai orang yang sama bukan terperangkap masa lalu."


"Bila arah hatimu condong pada ratu maka itu jiwamu sendiri, tapi bila condong ke yang lain itu jiwa yang butuh pertolonganmu." 


"Aku mengerti." 


...----------------...


Hujan menyisakan gerimis hawa dingin pun masih memeluk, dalam balutan selimut tebal berwarna maroon, Filia membuka kelopak mata perlahan. Obsidian hitam pekat itu memindai seluruh sudut ruang sambil mencerna percakapan tadi malam. 


Mendengar pengakuan Bree, semua itu seperti nyata. Namun kembali lagi pada titik awal, laki-laki itu tengah sakit. Terasa sekali denyutan kecewa tipis menyusup di gumpalan daging lembut dalam tubuh Filia. Entah sejak kapan, gadis itu merasa nyaman di sisi si tuan muda. Baru beberapa hari mengenal, Bree telah mencuri sekelumit hatinya. 


"Nona, anda sudah bangun." Bibi Mei masuk dengan wajah cerita berbingkai senyum.

__ADS_1


"Bibi, apa hujan belum reda. Aku tidak mendengarkan apa-apa. Tapi hawanya dingin sekali." Filia berusaha duduk lalu mencepol rambut panjangnya ke atas. 


"Masih gerimis, tentu saja anda dingin. AC nya kebesaran." Bibi Mei meraih remote dan mengecilkan Ac itu.


"Kau sudah bangun ?" Suara baritone di ambang pintu mengejutkan Filia dan juga bibi Mei.


"Tuan." Gadis itu tiba-tiba merasa malu setelah percakapan tadi malam. Tak hanya itu ada debaran aneh menyelinap di bilik sumber kehidupannya.


"Hawanya dingin, aku membawakan jaket rajut untukmu. Segera dipakai untuk menghalau rasa dingin. Hidupkan penghangat ruangan juga." Bree mengambil remote dan mengaktifkannya. "Kamu tahu ratu, hawa ini pernah terjadi di istana dan kamu sangat kedinginan. Jadi kita duduk tak jauh dari perapian yang ada di dalam istanamu." Sambungnya duduk di tepi kasur. "Masih dingin ? Sini aku peluk. Biasanya kamu minta dipeluk menghadap perapian." Bree tersenyum meraih ujung jari Filia.


Bagai magnet gadis itu bergeser dan melabuhkan tubuh di pelukan si tuan muda. Rasanya hangat dan nyaman, lagi jantung keduanya menggila. Bree yang sering mengalami semua itu sejak zaman dulu masih saja berdetak kencang bila bersama ratunya. 


...----------------...


Gerimis tidak mematahkan semangat seorang gadis untuk turun ke kantor. Lisa sudah menunggu tiga puluh menit namun belum juga Bree lewat di depan kubikelnya. Gadis itu menggeram kesal selama dipindahkan pekerjaannya, waktu untuk mengintai Bree sangatlah sedikit. 


"Hei kalian berdua !" Lisa menghentikan langkah Irene dan Luna. "Hei kalian dengar ?!" Bentaknya sedikit nyaring. 


Irene dan Luna melanjutkan langkah, sebenarnya mereka mengerti siapa yang dihentikan Lisa. Sebab hanya mereka yang lewat depan kubikel itu. 


"Irene, Luna." Widan yang mengerti maksud Lisa langsung memanggil sekertaris kakak sepupunya itu saat akan masuk lift. 


"Iya Tuan Widan." Sahut Irene sopan.


"Kalian dipanggil Lisa." Widan menunjuk dengan sorot mata ke arah adiknya.


"Oh, tapi Nona Lisa tidak menyebut nama kami." Luna angkat bicara dengan senyum sinis merekah di bibir.


"Lupakan, sekarang temui dia dulu." Widan membuang malu dan masuk ke dalam lift.


"Biasakan bicara dengan sopan, Nona !" Irene melayangkan tatapan tajam.


"Apa kalian mengenal gadis yang bersama Bree tempo hari saat di pabrik?" Lisa masih penasaran.


"Oh itu kekasih tuan Bree." Sahut Irene cepat mendahului Luna yang membuka mulut. 


Lisa terdiam dengan perasaan sakit mencambuk hati hingga sekujur tubuh. Kedua tangan terkepal seiring sorot mata penuh kebencian. "Bree milikku ! Tidak boleh seorang pun yang memiliki nya." 


 


 

__ADS_1


__ADS_2