Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Bree Berharap


__ADS_3

Kerudung hitam masih belum berganti di permukaan langit, bahkan matahari pulang ke peraduan tanpa diketahui, tertiba remang pertanda senja datang menjemput. Muramnya lengkungan langit dan gelap tiap penjuru bumi sama hal dengan afeksi seseorang yang kini terbaring diam di atas brankar. Obsidian hitam pekat itu tak berwarna, kembali gelap tanpa cahaya. Kosong tanpa isi bak kertas tertumpah tinta hitam. 


Sudah empat jam berlalu, kalimat panjang yang lahir dari bibir Filia Aruna masih terngiang di ruang rungu Bree Tyaga Adrian. Sakit menjalar bagai akar di dalam hati, merusak rasa rindu dan cinta yang di dipelihara sejak semalam. Pertanyaan berkecambah di dampingi rasa takut kehilangan yang amat besar. Paru-paru semakin terasa menyempit dan ganas karena oksigen terampas dengan paksa dari rongga dada. 


"Tuan, anda harus makan." Reiki belum juga bosan menawarkan makan dan minum meski satu kalimat pun belum mendapat balasan. Laki-laki itu paham jika sang atasan tengah sakit hati. Namun sebagai orang yang bertanggung jawab ia akan tetap memberikan perhatian penuh. Hembusan nafas frustasi keluar tipis dari belahan bibir. "Saya mohon jangan seperti ini, lekaslah pulih biar anda bisa meminta penjelasan pada dokter Filia." 


Bak pemantik permohonan Reiki menarik atensi Bree, iris matanya bergulir dengan pelan dan sayu ke arah sang asisten. Ada selaput kabut yang menutup permukaan retina nya. Oksigen yang terasa menipis tadi kembali terisi dengan udara segar. "Kau benar, aku harus meminta penjelasan padanya. Besok atur kepulanganku minta pada Axel untuk rawat di rumah saja." Setelah empat jam bungkam akhirnya bibir si tuan muda terbuka. 


"Tapi luka anda masih belum sembuh butuh waktu lama memulihkannya, tikaman Nona Lisa cukup dalam." Reiki berkata seolah meminta pertimbangan bagaimanapun juga, putra mahkota Tyaga baru saja dirawat pasca operasi. 


"Aku kuat jangan cemas, besok ratu Filia diperbolehkan pulang." Bree setengah memaksa, ketakutan semakin menggenggam laki-laki itu. Kemungkinan terburuk sudah terbayang di benaknya.


"Baiklah, saya diskusikan dulu dengan dokter Axel. Sekarang makanlah beberapa sendok bubur ini." Reiki meraih mangkuk dari atas nakas dan menyendok bubur itu berniat menyuapi. 


Sedikit demi sedikit Bree terhibur dengan kata-kata Reiki. Benar, ia harus sembuh agar bisa menuntut penjelasan pada Filia. Kenapa gadis itu tiba-tiba memutuskan hubungan mereka. Bukan ini yang diinginkan Bree. 


Jika di kamar yang tengah dihuni putra mahkota Tyaga sedikit lebih hangat maka di kamar lain juga tak kalah hangatnya. Filia Aruna tengah dijenguk dua sahabatnya yaitu Irene dan Luna. Mereka menghibur gadis yang sedang patah hati itu. 


"Fil, kamu yakin dengan keputusanmu?" Xavier yang tak pernah meninggalkan ruang rawat Filia melontar tanya kembali. Laki-laki itu duduk tegak dikursi mengamati air muka sang gadis. 

__ADS_1


"Vier, itu pertanyaan berulang yang kamu berikan padaku hari ini. Aku yakin dengan keputusanku." Filia menatap yakin laki-laki yang kini berhadapan dengannya. 


"Tapi alasannya, apa hanya karena kejadian ini ? Aku tidak yakin." Xavier memijat pangkal keningnya merasa sedikit pusing. 


"Aku tidak akan mempertaruhkan nyawa untuk berada disisinya. Kejadian itu membuatku sadar jika dimana ada Bree disitu ada bahaya." Filia menjawab dengan intonasi rendah serta tatapan lurus ke depan. 


"Bukankah, Tuan Bree harus didampingi bukan ditinggalkan ?" Luna mengingat kembali percakapan sahabatnya itu tempo hari tentang mereka yang menanyakan keputusannya. 


"Luna benar, lalu kenapa sekarang kau akan meninggalkannya ? Sementara tuan Bree tidak mencampakanmu. Jangan sampai kamu menyesal, Filia." Sahut Irene berusaha menggoyahkan keputusan dokter cantik itu. 


"Aku memang menyukaimu, tapi jujur terbesit sedikitpun dalam benakku tidak senang dengan keputusan yang kamu ambil. Aku berharap pikirkan kembali dan jangan buru-buru." Xavier menatap lekat iris mata gadis itu dengan penuh harap. 


Helaan nafas mengisi kesunyian yang menyela usai perkataan Filia terhenti. Tiga orang yang menunduk kepala kebawah itu mengangguk pelan pertanda menyetujui keputusan si dokter cantik. Walau bagaimanapun yang menjalani hubungan itu adalah Filia Aruna. 


"Malam itu, bagaimana bisa kamu menjadi tawanan Lisa?" Luna tak bisa lagi menyimpan rasa penasarannya. Gadis itu menyandarkan tubuh di dinding sofa sambil melipat tangan di dada. 


"Benar, kamu belum menceritakannya." Sambung Irene kembali memakan roti yang ada di atas meja. 


"Waktu itu setelah aku dan Xavier bicara. Aku memutuskan untuk kembali ke toilet dan meninggalkan Xavier. Aku merasa harus merapikan penampilan sebelum masuk lagi." Filia mulai bercerita kejadian malam itu. 

__ADS_1


Kilas Balik 


Filia membawa tubuhnya bangkit dari kursi lalu memutar tumit meninggalkan Xavier, sebelum benar-benar masuk gadis itu merotasikan tubuh menatap lekat punggung sang sahabat. Ada perasaan sedih ketika mendengarkan isi hati laki-laki itu. Namun apa daya hati tak bisa mendustai kalau pelabuhannya bukan pada Xavier. 


Setelah terdiam beberapa detik Filia kembali mengayunkan kaki ke arah toilet, gadis itu tak merasakan apa-apa di sekelilingnya. Pikiran positif selalu mengiringi langkah hingga masuk ke dalam toilet. Berkaca meneliti tampilan dari atas hingga bawah, masih sempurna tak ada cela. Senyum puas terkembang di bibir tapi sayang tak bertahan lama. Tiba-tiba Filia tersungkur setelah mendapatkan pukulan keras di pundaknya. Di setengah kesadaran gadis itu merasakan jika tubuhnya diseret keluar. 


Filia ingin melawan tapi sakit yang dirasakan di pundak begitu hebat. Hingga tubuhnya pasrah di lepas kasar ke atas lantai kotak besi yang akan membawa entah kemana. Filia ingin berteriak tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Tenaga dokter cantik itu tiba-tiba lenyap meski hanya bersuara. Saat pandangan buram ia bisa melihat sosok yang berdiri dengan angkuh dalam balutan pakaian hitam. Wajah tertutup masker dan topi membuatnya tak bisa dikenali. 


Filia menebak jika pergerakan lift terhenti. Gadis itu merasakan kembali tubuhnya diseret dan tak lama angin kencang menerpa tubuhnya yang dapat diartikan jika mereka di luar gedung. 


"Huh." Sosok berpakaian hitam itu menghembuskan nafas mengusir lelah. Tatapannya tajam penuh ejekan dengan sekuat tenaga orang itu membawa tubuh Filia untuk bersandar di dinding pembatas. "Hai." Ucapnya membuka masker dan tersenyum. "Cantik ! Tapi sayang tidak pantas bersanding dengan Bree. Kau masih ingat padaku, Filia ?"  


"Li—lisa." Filia hanya mampu mengeluarkan suara berbisik, sakit mungkin telah berkurang tapi sekujur tubuhnya terasa lemas. 


"Wah kau ingat namaku." Lisa tersenyum girang dan mengangkat tangan kiri mencengkeram dagu Filia dengan kasar. "Bibir ini yang mengakui Bree milikmu, bukan?" Seringai jahat terlihat di ujung bibir gadis itu lalu tanpa aba-aba melayangkan pukulan brutal pada wajah Filia. "AKU BENCI WAJAH INI ! AKU BENCI." Teriak Lisa tersengal menghentikan tangannya. "Darah ini mempercantik wajahmu." Lanjutnya tersenyum melihat aliran darah mengalir pelan di sudut bibir dokter jiwa itu. 


"Hentikan." Filia mengumpulkan kekuatan dan mendorong tubuh Lisa hingga terjungkal ke belakang. Sekuat tenaga ia berusaha untuk bangkit dari posisinya. 


"KAU MENDORONGKU ?!" Lisa berteriak kembali dan mendorong keras tubuh lemah Filia ke tembok hingga terbentur. "Berani sekali kamu melawanku, Hah?" Seperti kesetanan Lisa kembali memukul wajah Filia tak hanya itu kukunya menancap di kulit kepala karena kuatnya menjambak rambut panjang si dokter cantik. Tak puas hanya menjambak, kakinya ikut bermain menginjak kaki dan tangan Filia. "Ucapkan permintaan terakhirmu, sebelum esok hari kau tidak bisa melihat matahari. Malam ini aku ingin mengirimmu ke surga untuk menyampaikan pesan pada Paman Adrian dan juga Bibi Ivanka kalau aku akan menjadi menantu mereka." Tawa Lisa menggema di rooftop yang sepi. "Tapi lebih seru apabila aku melakukan negosiasi pada Bree, apa dia memilihmu untuk tetap hidup tapi menikahi ku atau membuatmu mati di depannya." Gadis itu kembali tertawa senang. "Intinya aku tetap menikah dengannya walau sekalipun kau mati." 

__ADS_1


Kilas Balik selesai.


__ADS_2