Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Tangkapan kecil


__ADS_3

Seiring matahari tenggelam di kaki langit barat, laporan juga sampai pada seseorang yang kini tengah duduk disebuah kursi menghadap dinding berwarna putih yang mana ada foto-foto target harus dilenyapkan agar puncak Tyaga group bisa di genggam. Dan untuk memiliki itu pertama yang dilakukan adalah menyingkirkan kerikil memenuhi tangga naik. 


"Katakan sekali lagi." Suara berat itu terdengar setelah hitungan menit bungkam. Kepulan asap mengudara seiring bibir kehitamannya terbuka. Kampas manis pecandu sebagian kaum adam terletak di sela jari sambil memutar kursi kebesaran. 


"Ponsel Yohan terlacak." Jesen menundukan kepala sambil menyodorkan ponsel ke atas meja. Laki-laki itu masih setia berdiri di hadapan meja. 


"Dimana ?" Satu hembusan kasar putihnya racun yang dihasilkan dari kampas berwarna coklat berterbangan di dalam ruangan. Iris mata laki-laki itu tajam bak sebilah pisau yang siap menggores kulit lawan. "Apa dia sudah lelah lari dariku?" Seringai sinis menghias wajah laki-laki berparas tegas itu. 


"Ada di sebuah gedung tua terletak tak jauh dari pinggiran kota." Jesen kembali menjawab dan membuka folder lain di dalam ponsel. 


"Jemput dia." Titah laki-laki itu dengan intonasi datar serta obsidian yang begitu menusuk, ada dendam yang ingin segera dituntaskan. "Setelah menghilang kini dia berani menunjukan diri, bawa dia kehadapanku untuk mempertanggung jawab perbuatannya." 


"Baik tuan, kendalikan diri anda. Bagaimanapun Yohan adalah orang kepercayaan anda meski dia seorang pembunuh bayaran." Jesen menyimpan benda pipi berwarna biru miliknya ke dalam saku celana. "Saya akan menjemputnya sekarang." Laki-laki itu memutar tumit dan gegas pergi. Rasa takut pun menguap di udara meninggalkan perasaan lega setelah terbebas dari dalam ruangan.


...----------------...


Langit berganti warna dari terang menjadi gelap, hanya saja malam ini sang cakrawala tengah berkerudung hitam hingga bintang maupun bulan tak mampu menembus awan yang terbungkus dengan sinarnya. Hingar bingar kendaraan berdengung meramaikan jalanan tanpa peduli jika alam akan menangis. 


Di atas atap gedung tua, seorang laki-laki tengah terikat di sebuah kursi dengan kondisi bibir terlakban. Tak jauh dari sana beberapa orang berpakaian hitam mengawasi dengan membawa senjata masing-masing. Kalau berjalan mulus maka malam ini, Mereka bisa tahu siapa pemilik Yohan sebenarnya. 


Suasana begitu sepi hanya ada satu lampu penerangan yang menyorot ke arah tawanan. Laki-laki yang tak lain adalah Yohan itu berusaha meronta karena sudah sadar dari bius yang telah di suntik pengawal Tyaga. 


Jesen melangkahkan kaki dengan penuh hati-hati, tak lupa pula des€rt eaglenya terselip di balik jaket kulit yang membungkus daksa. Laki-laki bermata sipit itu memasang kewaspadaan tinggi untuk mengayun kaki menaiki undakan tangga. 

__ADS_1


Satu persatu tangga telah berhasil Jesen lewati, manik mata laki-laki itu terbelalak menyadari jika ini adalah jebakan. Otak cerdasnya segera memahami, kalau selama ini Yohan tidak melarikan diri tapi menjadi tawanan. Jesen melangkah pelan berusaha tidak menimbulkan bunyi saat melihat Yohan duduk di kursi dengan tubuh terikat. Tak ingin dikenali, ia menarik masker hitam penutup wajahnya lalu membenarkan topi sebagai pelindung kepala. Walau bagaimanapun ia harus bisa membawa Yohan pergi dari tempat itu. 


Di tempat yang begitu gelap, Reiki mengawasi dengan tatapan tajamnya. Melihat pergerakan seseorang yang kini mendekat ke arah Yohan. Di sampingnya Bree tersenyum melihat keberanian lawannya itu. 


"Rei, mata pancing ku dipatuk ikan kecil." Si tuan muda mendaratkan tubuh di kursi sambil melipat tangan di dada dan bersandar nyaman. "Aku yakin bukan dia pemilik cacing alaska itu."


"Benar Tuan." Reiki menekan bluetooth handsfree yang terpasang di kupingnya. "Tangkap laki-laki itu." Lanjut melayangkan titah dan menyeret langkah keluar. 


"Sial." Desis Jesen ketika netranya menangkap beberapa bayangan mendekat. Laki-laki itu mengeluarkan des€rt eaglenya bersiap untuk menyerang musuh. 


"Jadi kau yang mengirim Yohan untuk membunuh Tuan Bree ?" Reiki mengayunkan kaki dengan tangan terselip di dalam saku celana. Meski tahu laki-laki itu kemungkinan sama seperti Yohan tapi asisten tampan itu ingin berbasa basi. 


"Lepaskan Yohan." Jesen mengarahkan senjatanya pada Reiki. Dari sorot matanya terlihat jika laki-laki itu setengah takut. Malam ini jauh dari bayang-bayangnya. 


"Aku dan Yohan sama-sama hanya melaksanakan tugas. Jadi serahkan dia karena kau tidak akan dapat apa-apa dariku." Jesen terkekeh, angin malam meniup keberanian pada pria jangkung itu. Kakinya mendekat ke arah kursi yang diduduki Yohan. 


"Benarkah?" Reiki menyeringai kemudian berlari cepat dan menerjang tubuh Jesen.


Pria bermata sipit itu terpental dan jatuh dengan posisi miring. Tulang rusuknya serasa retak hingga merampas oksigen di dalam paru-paru. Jesen terbatuk dan berusaha untuk bangkit ada kilatan untuk bertahan hidup di dalam iris matanya. 


"Rei, dia benar. Dapatkan si mata sipit itu dalam keadaan hidup. Dia akan berguna nanti." Bree berucap dari tempatnya duduk melalui bluetooth handsfree


"Baik Tuan." Reiki kembali melangkah menghampiri. Asisten itu tersenyum kemudian meraih kerah jaket yang dikenakan Jesen. "Tuan Bree ingin kau tetap hidup." Ucapnya berbisik. 

__ADS_1


Jesen menyikut perut Reiki hingga cekalan di leher jaketnya terlepas. Tubuh asisten tampan itu mundur beberapa langkah. Sedikit nyeri tapi itu tak membuat Reiki tumbang. Bahkan seringai sinis meremehkan terangkat di sudut bibirnya.


"Tidak semudah itu kalian menangkapku." Jesen mengarahkan des€rt eaglenya ke arah Reiki dan menarik pelatuk. Suara tembakan meletus semua mata terbelalak melihat korban yang tertembak. 


"Tembakan yang tepat." Reiki bertepuk tangan lalu menghampiri Jesen yang tengah kesakitan karena bahu kirinya tertembak oleh salah satu pengawal. "Karena kau tidak mau menjawab dan juga Yohan tidak mau membuka mulut. Maka kalian ditahan." Sambungnya berjongkok meraih sapu tangan dari saku jaketnya dan menutup luka di bahu Jesen. "Bawa mereka." 


Bree berdiri dari tempatnya duduk kemudian membawa langkah untuk keluar. Obsidian si tuan muda begitu lekat memandang saat berhadapan dengan dua pria yang kini jadi tawanannya. "Rei, cari tahu latar belakang mereka. Kesetiaan mereka bukan karena hati nurani yang terikat, tapi ada hal lain yang menekan mereka." 


Netra Yohan dan Jesen terbelalak dengan pasrah dua laki-laki itu diseret oleh beberapa pengawal. Bree memutar tubuh untuk meninggalkan gedung itu. Sementara Jesen, memiliki dua rasa yaitu bersyukur dan juga takut.


"Tuan, Apa anda bisa menebak pengirim mereka?" Reiki mengimbangi langkah. 


"Belum pasti." Si tuan muda tersenyum tipis. "Aku pasti mendapatkannya." Bree menuruni anak tangga. 


Alam semakin menghitam rinai hujan mulai terdengar membasahi atap mobil. Bree melemparkan pandang ke luar jendela. Sejenak laki-laki itu terpaku pada butiran hujan yang menimpa kaca mobil. Sudah tiga orang yang menjadi tawanan Bree, namun mereka masih mengunci mulut dan si tuan muda berkeyakinan jika ada hal yang menekan para tawanan itu untuk bungkam. Perkiraan Bree meleset malam ini, laki-laki itu berharap yang datang adalah seorang pemberi perintah pada Jesen dan Yohan. 


"Anda kenapa, tuan?" Reiki melirik sekilas di kaca. 


"Pastikan mereka dirawat dan dapatkan informasi lain tentang latar belakang mereka." Bree menarik pandang ke aras sang asisten. 


"Baik Tuan." 


 

__ADS_1


__ADS_2