
Segala tahap pembelajaran sudah dilewati putra mahkota dengan baik, kini laki-laki itu siap untuk menaiki tahta, kehadiran permaisuri sangat berarti untuknya. Wanita itu sungguh-sungguh dalam menjalankan perannya. Pujian silih bergantian datang untuk permaisuri. Entah, tulus atau pun tidak.
Besok penobatan putra mahkota menjadi raja, segala persiapan sudah hampir sempurna. Para menteri yang lanjut usia dan masih aktif hingga saat ini sangat menanti datangnya esok hari.
"Permaisuri, anda sungguh mengarahkan putra mahkota dengan baik." Perdana menteri Ma mengundang permaisuri untuk datang ke balai seni.
"Itu sudah tugas saya perdana menteri Ma"
"Kalau bukan karena campur tangan anda, tidak mungkin putra mahkota bisa seperti saat ini. Bisa mengejar ketertinggalannya dalam belajar dari pangeran Nev." Pria paruh baya ini tersenyum tipis.
"Itu memang harus saya lakukan. Karena masa depan kerajaan ini ada di tangannya, sebagai ratu di masa mendatang, saya harus memastikan perbekalan putra mahkota untuk menjadi raja."
"Anda benar permaisuri, saya percaya kemampuan anda. Bukan hanya kabar angin, tapi saya melihat dengan nyata bagaimana tangkasnya seorang permaisuri melatih putra mahkota. Ini adalah sejarah baru di kerajaan ini." Senyum perdana menteri Ma seolah merendahkan diri permaisuri.
"Kalau bukan saya siapa lagi ? Sementara guru yang disediakan untuk putra mahkota di bawah kemampuan guru pangeran kedua."
Wajah perdana menteri Ma berubah datar, senyum palsu yang disuguhkan hilang sudah. Apakah permaisuri selama ini sudah mendapatkan sesuatu ?
"Anda salah paham permaisuri, guru mereka sama "
Permaisuri menipiskan senyum. "Benarkah ? Sayangnya yang terlihat bukan seperti itu."
"Sepertinya pertemuan kita cukup hari ini, anda mohon tetap disini karena sebentar lagi Selir Ve akan mengunjungi anda." Perdana menteri Ma berpamitan untuk undur diri.
Iris mata permaisuri membidik tajam punggung perdana menteri Ma yang perlahan menjauh. Di anak tangga dayang Shi langsung menghampiri permaisuri, raut wajahnya terlihat cemas.
__ADS_1
"Permaisuri, anda melihat gelagat mencurigakan dari perdana menteri Ma ? Saya yakin jika putra mahkota selama ini dalam pengaruhnya."
Permaisuri tersenyum. "Dayang Shi, putra mahkota bukan dalam pengaruhnya. Tapi memang di anak tirikan dari yang seharusnya. Lihatlah apa yang telah diberikannya pada pangeran kedua. Sangat jauh berbeda. Bukan tabu lagi dalam sebuah kerajaan ada yang namanya kubu. Semua itu tak lepas dari sebuah konspirasi."
"Anda benar." Wanita itu langsung undur diri setelah melihat rombongan selir Ve mendekat ke arah balai.
Dari jauh, senyum Selir mendiang raja melengkung sempurna. Meskipun cantik namun tetap ratu terdahulu jadi pemenangnya. Kecantikan paripurna mendiang ratu terkenal pada zaman itu. Selir Ve mendaratkan tubuh di sebelah meja yang berhadapan dengan permaisuri.
"Wah, tidak disangka permaisuri ahli memainkan kecapi. Petikan anda menghasilkan melodi yang indah, suatu hari nanti saya akan belajar pada anda." Selir Ve takjub dengan keahlian calon ratu itu.
"Anda berlebihan, saya juga baru belajar." Permaisuri meletakkan kecapi ke sisinya. Jari-jari halus nan lentik itu meraih cangkir teh bunga. Pergerakan khas bangsawan itu sangat memukau, terlihat dari tata caranya mengangkat gelas lalu meminumnya.
"Anda sudah siap untuk penobatan hari esok ?" Selir Ve mengeluarkan sebuah kotak yang baru saja diserahkan dayang pribadinya.
"Tentu ! Bukankah, Esok hari yang ditunggu-tunggu selama ini ?" Manik mata Permaisuri memindai kota berwarna emas di hadapannya.
Permaisuri meraihnya lalu membuka dan melihat isi di dalamnya, benar ada kalung yang indah disana. Hanya saja calon ratu nampak tak berminat.
"Maaf, saya tidak bisa menerimanya karena apa yang saya kenakan di upacara penobatan itu sudah disiapkan oleh Ibu Suri. Dan semuanya turun temurun dari mendiang ratu." Permaisuri mendorong kotak itu kembali.
"Maaf untuk itu, saya tidak tahu." Selir Ve sedikit mengutuk kebodohannya. Karena jujur ia tidak tahu akan hal itu.
Perbincangan itu cukup lama, banyak hal yang mereka bahas dari putra mahkota, mendiang raja dan ratu bahkan pangeran kedua.
Angin bersepoi lembut menandakan akan turunnya hujan, di langit awan hitam mulai berkumpul sebentar lagi akan meledakkan airnya. Namun, selir Ve belum juga beranjak dari tempat duduknya. Wanita paruh baya itu seolah tak habis topik pembicaraan.
__ADS_1
"Putra mahkota tiba."
Seluruh atensi terarah pada sang pemilik nama, dari jauh rombongan putra mahkota memasuki area balai seni. Laki-laki itu semakin dewasa setiap harinya, tubuh gagahnya semakin mendekat dengan senyuman tipis di bibir.
"Pangeran." Permaisuri membawa tubuh berdiri untuk menyambut kedatangan suaminya itu.
"Permaisuri, aku mencarimu di istana. Rupanya kau di sini. Apa hari ini banyak tamu untukmu?" Iris mata putra mahkota melirik ke arah Selir Ve yang tersenyum hangat. Seperti biasa sikap dingin putra mahkota tak mencair
"Iya, apa ada yang anda butuhkan?" Permaisuri duduk kembali di ikuti putra mahkota.
"Tidak ada, apakah harus menunggu ada keperluan dulu untuk mengunjungi permaisuriku sendiri?"
"Maafkan saya, pangeran." Permaisuri tersenyum. Tangannya terarah menuangkan teh bunga untuk putra mahkota.
"Pangeran, permaisuri. Sepertinya mau turun hujan. Saya akan kembali ke istana." Pamit Selir Ve merasa sedikit diabaikan.
"Silahkan, kami juga sebentar lagi akan mengunjungi ibu Suri." Permaisuri tersenyum merasa tidak enak hati karena terlalu fokus pada laki-laki di sampingnya.
"Jangan terlalu dekat dengannya."
Kalimat putra mahkota seolah mengatakan jika dirinya tidak menyukai Selir mendiang raja itu.
"Dia Selir Raja dan sebentar lagi anda akan memiliki Selir apabila saya tak kunjung memberikan keturunan."
"Aku tidak akan memiliki Selir, kalau begitu aku akan bermalam di istanamu saja dari malam ini. Dengan begitu kau akan cepat melahirkan penerusku." Senyum menyebalkan tercetak di bibir putra mahkota.
__ADS_1
Tidak ada lagi kaku dan dingin di antara keduanya, mereka layaknya pasangan saling mencinta. Permaisuri selalu bisa mewarnai hari-hari yang pernah suram dalam kehidupan putra mahkota.