
Di bawah langit yang tidak terlalu terik Bree membawa tubuhnya berdiri menghadap puncak tertinggi bangunan mansion lama. Laki-laki itu menghelas nafas pelan sebelum melangkah untuk masuk. Rindu lancang menembus ruang kalbu tak ketinggalan kenangan juga seolah tersenyum padanya.
"Mari Tuan."
Atensi si tuan muda pecah ketika suara Asistennya menembus lamunan dan ruang pendengaran. Tanpa menjawab ia menyeret langkah untuk memasuki pintu utama Mansion. Hari ini Bree akan mengunjungi sepasang asisten Mansion lama. Dengan perasaan berdebar laki-laki itu membawa diri untuk berhadapan langsung dengan Bibi Chen dan juga Paman Gio.
"Apa mereka sudah bisa diajak bicara." Bree menghentikan langkah sebelum masuk ke dalam kamar di hadapannya.
"Mungkin hanya sedikit." Reiki mendorong daun pintu dan membukanya lebar. Suara pintu yang terbuka itu menarik pandang sepasang suami istri yang kini duduk di atas kasur.
Bree berdiri tegak di muara pintu memberikan senyum tipis penuh kerinduan. Iris matanya bisa melihat ada gurat rindu yang terpancar di wajah tua sepasang paruh baya di dalam ruangan itu.
"Paman, Bibi. Kalian mengingatku?" Si tuan muda mendekat lalu mendaratkan tubuh di atas kasur.
Bibi Chen mengangkat tangannya dengan pandangan kabur yang ditutupi selaput kabut keharuan. Tetes demi tetes kristal rapuh mulai mencair di permukaan wajah. Sekuat tenaga kedua tangan bibi Chen menangkup pipi putra atasannya. Detik berikutnya kedua pundaknya bergetar hebat dan isak kecil terdengar pecah. Tak jauh berbeda Paman Gio bergeser maju lalu menabrak tubuhnya pada dada bidang Putra mahkota Tyaga. Sepasang suami istri itu hanya menangis tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Pandangan di depan mata masih membuat keduanya bungkam, bagaimana tidak sosok yang telah diumumkan mati tersesat dalam perburuan. Kini duduk di hadapan mereka.
Kilas Balik
Seperti biasa putra mahkota Tyaga akan berburu dan mengenal hutan. Meski tuan Adrian kurang setuju dengan keinginan putra semata wayangnya.
"Pa, hanya dua hari aku dan Axel akan pulang." Bree masih meyakini sang Ayah dengan wajah penuh memelas.
"Bree, kenapa harus berburu ?"
"Aku suka dan tidak akan membunuh binatang besar." Si tuan muda masih mengangkat tangan berjanji.
"Hanya dua hari dan pulang tanpa tergores sedikitpun karena mamamu akan mengomel selama dua hari bila kau terluka."
"Tentu Pa, aku berangkat ke rumah Axel." Bree bangkit dari sofa dan meninggalkan ruangan itu.
Tuan Adrian menatap punggung putranya yang perlahan menjauh. "Pulang dengan selamat putra mahkota." Gumamnya dengan pelan.
Perburuan Bree menghabiskan waktu dua hari, namun hingga matahari terbenam belum juga terlihat kedatangan laki-laki itu di Mansion. Tuan Adrian begitu gelisah belum lagi Nyonya Ivanka yang sejak tadi berdiri menunggu di pelataran Mansion.
"Paman Gio kenapa Bree belum juga pulang ? Sekarang sudah gelap."
"Saya belum mendapatkan kabar Nyonya, begitu pun dengan dokter Deon. Mereka juga cemas karena tuan Axel belum pulang."
__ADS_1
Semakin malam Bree belum juga datang. Kegelisahan semakin merajai Nyonya Ivanka dan tuan Adrian. Seluruh aktivitas terhenti karena terpikirkan anak semata wayang. Tuan Adrian sudah mengirim beberapa orang untuk menyusul namun sampai pertengahan malam belum juga dapat kabar. Sementar Nyonya Ivanka sudah tidak berselera untuk makan.
"Bree, kemana kamu Nak?" Tangis Nyonya Ivanka pecah di dada bidang suaminya. "Sudah hampir pagi kenapa putra kita belum juga pulang ?"
"Mungkin mereka tersesat, tunggu saja kabar dari pengawal Tyaga." Tuan Adrian mendekap erat tubuh sang istri. Meski perasaan cemas itu lebih mendalam tapi Pimpinan Tyaga itu pandai menutupi di depan istrinya.
Terhitung dari keberangkat Bree sudah lebih dari tiga hari tapi putra mahkota itu belum juga datang. Sementara kedua orang tuanya mulai drop bersamaan karena kurangnya waktu istirahat dan makan.
Kilas Balik selesai
...----------------...
Bree tersenyum hangat mengusap lembut pundak bibi Chen dan juga paman Gio. Dalam hatinya senang karena respon yang dimiliki sepasang suami istri itu. Sebentar lagi, Bree akan mendapatkan informasi yang terjadi saat dirinya tersesat di hutan.
"Bibi, Paman. Kalian bisa bicara padaku apa saja yang kalian ketahui."
"A—anda masih hidup, Tuan muda." Lemah dan terbata itulah kalimat yang bersusah payah dikeluarkan oleh bibi Chen.
"Iya, aku dan Axel masih hidup."
"Tidak apa-apa Paman, aku senang kalian masih bisa mengingatku. Semangatlah untuk sembuh dan mari kita cari tahu kematian papa dan mama." Bree kembali melemparkan senyum hangat tanpa memaksa sepasang suami istri itu untuk bicara banyak.
"Tu—tuan, ba—banyak yang ingin ka—kami ce—ceritakan." Sudut mata Bibi Chen mengeluarkan air tanda ketidakberdayaannya. Ingin menceritakan semua yang dia ketahui tapi apa daya kemampuan bicara banyak belum mendukungnya.
"Iya aku tunggu waktu itu, sekarang fokus untuk sembuh."
"Terimakasih." Paman Gio berusaha membawa tubuhnya untuk lebih dekat dan memeluk anak atasannya itu.
"Sekarang kalian beristirahatlah, aku ingin melihat seseorang." Bree membalas pelukan itu dengan erat kemudian membawa tubuhnya bangun dan meninggalkan kamar.
Reiki masih setia mengikuti di belakangnya, asisten itu menoleh ke samping tepat pada si tuan muda yang juga menoleh padanya. "Tuan, kita ke kamar Yohan."
"Hm, aku tidak mau menunggu lagi sekarang kita gunakan Yohan untuk memancing tuannya." Bree menaiki anak tangga dengan kedua tangan diselipkan di dalam saku celana.
"Baik tuan, apa rencana anda?" Reiki mengimbangi langkah sambil mengangkat tangan kirinya untuk melihat penunjuk waktu.
"Kita tanya sekali lagi kalau masih bungkam bawa di ke atap gedung kosong, aktifkan ponselnya biarkan atasannya melacak. Mereka pintar tidak meninggalkan jejak apapun di dalam ponsel itu." Seringai sinis terlihat di bibir si tuan muda. Daksa tegap itu kini berhadapan pada daun pintu lebar tempat mengurung Yohan selama ini.
__ADS_1
"Silahkan tuan." Reiki mempersilahkan setelah pengawal kepercayaan membuka kuncinya. Laki-laki itu menyiapkan kewaspadaan tinggi takut tiba-tiba tawanan menyerang.
Bree mengayun langkah dengan suara hentakan sepatu yang mengintimidasi di gendang telinga. Tatapannya penuh dendam pada sosok yang tersenyum tipis meremehkan ke arahnya. "Apa kabar cacing alaska?" Intonasi datar tapi seringai iblis di bibir menandakan jika si tuan muda sudah mulai muak.
"Mau apa kau ?!" Yohan melipat tangan di dada sambil berselonjor kaki duduk di atas kasur. "Apa hanya seperti ini permainan anda, tuan ?" Tanyanya dengan alis terangkat dan senyum tipis penuh ejekan. "Aku menikmati kurungan mewah ini." Sambung laki-laki itu merotasi pandang ke tiap sudut ruangan.
Bree duduk di sofa panjang dengan gaya kepemimpinannya. "Syukurlah setidaknya aku tidak rugi menghidupimu, jadi apa kamu sudah berubah pikiran ?" Obsidian putra mahkota Tyaga menusuk dalam retina seorang Yohan.
"Apa maksud anda? Tidak semuda itu tuan Bree Tyaga Adrian."
"Aku bertanya sekali lagi, siapa yang mengirimmu untuk membunuhku. Kalau kau ingin bekerja sama maka beritahu aku tapi kalau tidak mau terpaksa aku meminta kau menyampaikan salamku pada tuanmu." Si tuan muda tersenyum lebar dan mengeluarkan ponsel milik Yohan. "Kau mencari ini, 'kan?"
"Berikan ponselku ?!" Bentak Yohan refleks berdiri dari kasur namun sayang hanya sebatas itu sebab para pengawal sigap menahan tubuhnya.
"Manis sekali." Bree kembali tersenyum. "Aku akan memberikannya asal kau mau bekerja sama denganku katakan siapa tuanmu?"
"Tidak akan." Yohan mengepalkan tangan dengan erat meluapkan perasaan yang tidak pernah orang lain tahu termasuk Bree.
"Kenapa , apa kau takuti ? Aku bisa memberikan perlindungan apabila kau mau menyebutkan namanya."
"Tidak akan pernah !" Yohan refleks menarik botol wine dari atas nakas dan melemparkannya ke arah Bree.
Pergerakan cepat itu menghentikan nafas semua pengawal termasuk Reiki ketika botol melayang ke arah atasan mereka. Tapi tanpa diduga si tuan muda hanya bergeser sedikit botol itu mendarat di dinding dan pecah berhamburan.
"SIALAN !" Reiki berteriak dan memutar tubuhnya lalu memukul Yohan dengan brutal. "KAU BERANI MELEMPARKAN BOTOL ITU PADA TUAN BREE !" Kaki dan tangan asisten tampan itu tiada henti memberikan pukulan dan tendangan.
"Rei, berhenti."
Pergerakan Reiki terhenti ketika suara Bree masuk ke ruang rungu. Seperti magnet laki-laki itu menarik tubuh dari posisi lalu menyeret langkah untuk mundur.
"Anda terluka ?" Reiki memindai dari atas hingga bawah tubuh si tuan muda. Nafasnya tersengal disertai kepalan tangan yang belum juga longgar.
"Hm, tatapanmu seperti men€lanj@ngiku, Rei." Bree bangkit dari tempatnya duduk dan mengayun langkah mendekat. "Yohan, tadinya aku berniat baik untuk memintamu berkata jujur tapi sepertinya kau memilih bungkam dan aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu setia. Tapi aku suka dengan kesetiaanmu itu, karena kau telah memilih maka aku sendiri yang mengantarkanmu pada tuanmu. Konsekuensinya apa kau sampai padanya dalam keadaan hidup atau tidak. Rei, jam sepuluh nanti malam aktifkan ponsel Yohan di tempat yang sudah disiapkan biarkan mereka mencarinya sendiri." Laki-laki bernetra hitam pekat itu memutar tubuh meninggalkan ruangan.
"LEPASKAN AKU BRENGSEK !" Yohan meronta sambil menahan sakit yang amat luar biasa karena pukulan Reiki.
"Sampai disini aku menyatakan kau bodoh ! Tuan Bree sengaja mengurung dan memintamu mengatakan semuanya agar dia bisa menolongmu. Karena yang sebenarnya tuan Bree inginkan adalah atasanmu." Asisten bertubuh tinggi itu tersenyum tipis kemudian berkata. "Bius dia dan obati lukanya." Tanpa perasaan titah itu keluar dari bibir Reiki.
__ADS_1