Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Cuti


__ADS_3

Di televisi hampir semua memberitakan tentang Bree Tyaga Adrian yang diturunkan dari jabatan. Tak hanya itu surat kesehatan mental yang beredar juga turut di perbincangkan. Nama-nama kandidat sudah bocor ke publik untuk menggantikan sang pemimpin Tyaga Group. 


"Fil, semua sudah berantakan. Kita juga tidak menemukan penyusup itu." Xavier merasakan perasaan tak biasa melihat berita tayang di televisi. "Tuan Bree pasti merasa hancur sekarang, apa ini bagian rencanamu?" Curiga tetiba datang. Manik mata laki-laki itu melirik ke samping. 


Filia menghela nafas. "Ini luar dari perkiraanku. Sudahlah, semua yang terjadi tidak ada hubungannya dengan kita. Setidaknya aku bersyukur adanya masalah ini dia tidak menggangguku." 


Xavier tersenyum miris dengan beban rasa tak bisa ia bagi pada siapa pun. Sisi egois berbisik padanya untuk abaikan saja. Namun, sisi kemanusiaan menepis bisikan obsesi. 


"Aku akan menemui Eros, suka atau tidak terserah padamu. Semoga ini bisa membantu." Tanpa menunggu jawaban lagi Xavier langsung gegas menyeret langkah. 


...----------------...


Di ruang kantor Tyaga induk. Reiki menundukan kepala hampir satu jam. Meredam gejolak yang membaur menjadi satu. Sesak menyusup ke dalam rongga dada ketika keputusan telah diambil para dewan komisaris. Laki-laki itu merasa dirinya gagal tak bisa melindungi seorang Bree Tyaga yang sejak dulu terlihat lemah. 


"Tuan maafkan saya tidak bisa melindungi anda." 


"Saya juga minta maaf Tuan." Irene berlinang air mata merasa kehilangan dan gagal.


"Saya minta maaf tak bisa membantu mempertahankan posisi anda." Luna mengangkat wajahnya sambil menyeka jejak air mata. "Saya merasa kehilangan." Lanjutnya terisak kecil. 


Bree tersenyum tipis. "Kenapa kalian sedih? Aku baik-baik saja. Dengan menurunkan jabatanku maka waktuku di rumah akan banyak. Jadi aku bisa menyelesaikan rajutan untuk hadiah ulang tahun ratu Filia." 


"Tuan, saya akan mengajukan cuti." 


Keputusan Reiki membuat Irene dan Luna tercengang. Belum hilang kesedihan karena Bree yang tak lagi menjabat kini Reiki juga ingin mengusulkan cuti. 


"Kamu bercanda, Rei ?" Irene menatap tak terima.


"Aku serius, Ren. Aku akan mengajukan cuti dengan alasan untuk mendampingi tuan Bree di masa pengobatan." 


"Lalu bagaimana dengan kami." Luna terlihat cemas merasa ditinggalkan.


"Kalian tetap disini. Ingat perjuangan kalian berdua tidak mudah untuk sampai ke posisi ini. Dengan adanya kalian berdua, aku bisa memantau perkembangan perusahaan." Reiki tak akan meninggalkan kantor itu tanpa rencana yang matang. Asisten berparas tampan itu tetap mengendalikan urusan perusahaan meski tidak datang ke kantor.


"Baiklah dampingi tuan Bree. Percayakan kantor pada kami." Irene tersenyum tipis. 


"Sudah sore mari kita pulang. Besok aku tidak datang ke kantor. Aku akan datang di saat penggantiku sudah siap." Bree membawa tubuhnya bangkit. 


"Baik Tuan." Irene dan Luna juga berpamitan. 


Bree menyusun beberapa dokumen untuk dibawa pulang. Sekali lagi tidak ada guratan sedih yang terlihat di wajah laki-laki itu. Reiki juga berkemas barang seharusnya di bawa pulang, tekad laki-laki itu sudah bulat untuk mengajukan cuti yang panjang. Tak masalah andai tidak mendapat gaji terpenting ia harus selalu ada di samping si tuan muda.

__ADS_1


Roda empat plat khusus milik Bree kini melaju bersama pengendara lain. Ya, itu adalah mobil berplat khusus yang tak pernah dibawa dalam urusan bisnis hanya sesekali di pakai ketika pemiliknya ingin. 


"Kita langsung pulang." Reiki bersuara memecahkan keheningan. Laki-laki itu fokus mengemudi.


"Aku merindukannya, Rei. Boleh kita melihatnya."


Hati Reiki berkali-kali di tampar hari ini. Rasanya amat sakit dan lelah. Lihatlah, wajah sendu sang atasan begitu mengguncang afeksinya. 


"Baik Tuan." 


Bree tersenyum lalu membuka paper bag di sisi. Tangan laki-laki itu meraih benda di dalamnya dan mulai merajut kembali sambil menunggu mobil tiba di halaman rumah sakit tempat pemilik hatinya bekerja.  Tanpa suara Bree merajut dengan penuh kasih sayang bak seorang ibu yang merajut kaos kaki untuk calon bayinya. 


"Kita sampai." Reiki menghentikan mobil di seberang jalan. Ia menghela nafas sambil melirik waktu di pergelangan tangan. Kegiatan meneropong dari seberang jalan seperti ini rutin dilakukan ketika sang atasan merasa rindu. 


Bree melepaskan rajutan lalu meraih teropong. Seulas senyum terlukis di bibir ketika pandangan terpaut pada sosok yang dirindukan. Kaca-kaca air mulai bermunculan menutup retina, rindu semakin menggebu dan ingin rasanya berlari lalu memeluk erat seorang Filia Aruna. Namun semua itu hanya hadir dalam angan, faktanya Bree tidak akan melakukannya karena ratu sudah tidak merasa kenyamanan lagi bersamanya. Biarlah rindu itu menggunung bersama cinta yang dimilikinya. 


...----------------...


Waktu bergulir dengan cepat, matahari pelan menepi ke kaki langit, mulai mengalihkan tugasnya pada para bintang-bintang. Warna Jingga di ufuk barat memantul di atas air, berayun cantik dibawa gelombang. Pertanda sore sebentar lagi akan berlalu. 


Di salah satu kafe, dua orang laki-laki duduk satu meja saling berhadapan. Sesuai yang diucapkan Xavier kini menemui Eros. Disinilah mereka masih belum membuka percakapan hanya diam menyaksikan kepulan asap tipis dari cangkir cappucino yang di pesan. 


"Ada yang bisa aku bantu ?" Eros memposisikan diri sebagai detektif terlepas urusan Bree dan juga Filia yang menyangkut laki-laki di depannya. 


"Apa ini ?"


"Itu rekaman cctv yang menangkap seorang penyusup masuk ke dalam ruangan Filia. Sebenarnya dia sengaja membuat surat itu agar Tuan Bree berhenti menemuinya. Tapi rupanya ada yang memanfaatkan situasi itu." Xavier menjelaskan dengan sejujurnya. 


Eros sedikit terkejut namun juga senang Filia tidak sejahat yang diduga. "Aku rasa semenjak Filia keluar dari Mansion Bree ada yang mengawasinya. Maka dari itu seseorang bisa tahu tentang ini semua." Tangan detektif tampan itu mengamankan flashdisk.


"Aku rasa juga begitu, semoga rekaman itu bisa membantu." Xavier meraih cangkir cappucino dan menyesapnya sedikit. 


"Aku akan menyelidikinya, terimakasih. Jaga Filia sementara waktu." 


"Tentu dan aku berjanji akan mengembalikan Filia pada Bree lagi. Tepat sebelum ulang tahunnya." Senyum getir tak terbaca tertarik di bibir Xavier. 


"Aku rasa sudah tidak perlu, karena percuma jika Filia sudah tidak memiliki rasa untuk Bree itu lebih menyakiti keduanya. Biarkan saja jalan seperti biasanya." Eros meletakan gelas kosong di atas meja. "Aku harus pergi, kau mau bergabung malam ini, kami menginap di Mansion Bree." Tawarnya sebelum beranjak.


"Kapan-kapan saja, aku ada sedikit urusan." Xavier tersenyum tipis.


Eros mengangguk lalu mengayun langkah. Sementara Xavier hanya diam di posisi sambil menatap punggung Eros yang telah menjauh. 

__ADS_1


...----------------...


Matahari telah sempurna turun dan kembali ke peraduan. Tugas mulianya telah diambil bulan dan bintang, meski tak seterang sinar matahari namun cahaya bulan bisa menerangi sudut hati seorang Bree yang gelap. 


Raja melintas waktu itu duduk menyendiri sambil merajut di rumah kaca. Menikmati kesunyian dengan hembusan angin yang menerbangkan aroma plumeria. Sejak sore Bree hanya membersihkan tubuh lalu pergi ke rumah kaca. Tak menyangka raja yang dulunya angkuh kini rapuh bak ranting kering jatuh dan busuk. 


"Tuan mari makan malam." Reiki datang menghampir. "Di dalam ada tuan Eros, tuan Leon  dan juga dokter Axel." Lanjutnya lagi.


"Hm." Menjawab singkat si tuan muda gegas bangkit dari posisi lalu memutar tumit meninggalkan rumah kaca. 


Lima pemuda yang berparas tak biasa itu makan malam tanpa suara menikmati makanan dan menghargai usaha koki yang memasak. Sejenak melepas rasa tengah menggenggam di dalam sanubari. 


Waktu semakin bergulir membawa lima adam itu duduk di ruang tengah usai makan malam. Tak lupa pula Bree masih melanjutkan kegiatan merajutnya. 


"Ini flashdisk dari Xavier." Eros mengeluarkan benda kecil segi empat itu dan meletakan di atas meja. 


"Kau bertemu dengannya." Axel meraih ujung jaket rajut dari sisi Bree. 


"Iya, tadi siang. Filia sengaja membuat surat itu agar Bree tidak menemuinya lagi." Eros menjeda penjelasan sambil melihat reaksi sang sahabat. "Setelah keluar dari Mansion aku menduga pergerakan Filia diawasi maka dari itu seseorang memanfaatkan kelengahannya." Lanjut detektif tampan itu sambil menghela nafas karena reaksi Bree biasa saja. 


"Saya ambil laptop dulu." Reiki bangkit dari sofa dan melangkah ke arah kamarnya. 


"Apa isi nya ?" Leon bertanya dengan iris mata tertuju benda kecil berwarna hitam di atas meja. 


"Itu rekaman cctv saat seseorang menyelinap ke dalam ruangan Filia dan menyamar menjadi petugas kebersihan." Sahut Eros. 


"Mari kita lihat isinya." Reiki datang membawa laptop lalu memasang flashdisk dan membukanya.


Seperti yang dikatakan Xavier, video itu memperlihatkan seorang laki-laki yang mengenakan seragam petugas kebersihan dan masuk ke ruangan Filia. 


"Zoom." Eros menunjuk layar laptop saat penyusup itu keluar dari ruangan. "Apa kita mengenalnya?" 


"Kalian tidak akan menemukannya." 


Suara Bree menarik atensi empat laki-laki yang fokus melihat layar laptop. Sementara pemilik suara menunduk sambil merajut. 


"Kenapa ?"


Pertanyaan itu terlontar dari bibir Axel. Mereka menatap tidak mengerti. Si tuan muda hanya diam tidak berniat menjawab. 


"Bree apa maksudmu?" Eros bertanya kembali dengan rasa penasaran yang menggebu. 

__ADS_1


Si tuan muda tersenyum tipis. "Penjahat sesungguhnya sebentar lagi menunjukan diri. Jadi tidak perlu bekerja keras untuk mencari pelakunya, cukup kumpul bukti untuk menjatuhkannya. Biarkan bukti itu yang menyeret dia ke jeruji besi."


__ADS_2