Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Berdebar kembali


__ADS_3

Suasana kantor induk Tyaga grup sedikit tegang setelah insiden penyerangan terhadap Irene dan Luna. Mereka yang kembali lebih dulu ke kantor mendapatkan tamparan keras di wajah masing-masing. Pelakunya adalah Lisa Anella, gadis itu meradang setelah melihat dua sekretaris cantik satu mobil untuk pergi makan siang bersama Bree dan Reiki. 


Penurunan jabatannya hari ini sangat membuat suasana hati Lisa memburuk, di tambah lagi penolakan Bree yang sudah berulang kali. 


"Aku tegaskan ! Bree milikku, jadi jangan pernah mencoba menggodanya. Disaat aku sudah menjadi Nyonya Bree. Kalian berdua orang kedua yang aku usir dari kantor ini ! Setelah Reiki asisten sialan itu !" Telunjuk Lisa mengarah ke wajah lawan bicaranya. 


"Silahkan bermimpi, Nona ! Kau hanya kerabat jauh dan juga bukan berdarah sama dengan Tuan Bree. Penurunan jabatanmu hari ini sudah membuktikan jika kamu tidak layak di sampingnya." Irene tersenyum sarkatis. "Tamparan ini, tidak sebanding dengan rasa senang ku atas keluarnya kamu dari tim kami." Tunjuknya pada pipi yang merah. 


"Bersainglah dalam karir sebelum kamu bermimpi untuk bersanding dengan Tuan Bree. Sadarlah wanita bodoh sepertimu, hanya akan jadi debu di ujung sepatu Bos." Luna tersenyum sinis. "Untuk tamparan mu ini, sudah cukup menunjukan jika kami satu langkah lebih maju. Gunakan otak kecil mu ini untuk berpikir realistis." Telunjuk Luna menempel di kening Lisa. 


"Kalian akan menyesal !" 


"Benarkah, bagaimana jika kejadian ini diketahui Tuan Bree ?  Kalau gadis yang mengemis cintanya sudah melakukan tindakan kekerasan pada sekretaris utama." Irene melangkah maju mendekatkan wajah ke sisi telinga. "Bitc-h." bisiknya tersenyum. 


Wajah Lisa semakin merah merasa terhina. Sejak lama gadis ini memendam rasa benci pada Irene dan Luna, sebab selalu berada di sisi Bree. 


"Ada apa ini ?" Widan datang menghampiri. Pria itu menatap satu persatu tiga gadis di hadapannya. 


"Kakak, mereka menggangguku." Adu Lisa memanfaatkan situasi. "Dia menyebutku bitc-h." Tunjuknya pada Irene. Tak lupa raut wajah dibuat sedikit dramatis. 


"Irene, apa benar ? Harusnya sebagai sekretaris utama kamu membawa kehormatan di kedua pundakmu, jadi jaga lisan dan perilaku !" Widan melemparkan tatapan tajam.


"Apa kalian mendengar jika aku mengatakan dia, bitc-h ?" Irene tidak gentar bahkan gadis itu langsung melemparkan tanya pada beberapa orang saksi di sekeliling mereka.


"Tidak." Jawaban itu serempak. 


"Anda dengar,Tuan ?" Luna tersenyum tipis dengan tatapan datar. "Sekarang saya akan bertanya, apakah seorang gadis yang mengaku berdarah bangsawan pantas menampar rakyat jelata seperti kami dengan tiba-tiba tanpa alasan?!" Lanjutnya menunjuk pipi putih yang merah. 


Widan terkejut dan juga malu, pria itu bisa melihat bekas merah di pipi Irene dan Luna. Ia sedikit menyesal telah berkata kasar. 


"Tapi kalian memulainya !" Lisa tak berniat mengalah dan selalu mencari kambing hitam.

__ADS_1


"Oh benarkah, apa perlu kita panggil seorang dokter untuk memeriksa tubuh anda, Nona ? Bagian mana yang kami mulai ?" Irene maju selangkah dengan tatapan memindai. 


"Irene, Luna !" 


"Tuan Bree." 


Seluruh kepala menunduk takut. Bertahun lamanya menjadi bagian kantor itu baru kali ini terjadi keributan yang memalukan. 


"Kenapa wajah kalian ?" Bree memindai satu persatu wajah sekretarisnya. Tatapannya begitu intens dengan syarat akan amarah. 


"K—kak Bree, aku tidak sengaja menampar mereka." Lisa terpaksa mengakui karena sudah tertangkap basah. 


"Tidak sengaja, apa memukul seseorang bisa dikatakan tidak sengaja ? Bahkan membekas seperti ini." Bree tanpa menatap ke lawan bicara hanya fokus pada wajah dua sekretarisnya. "Foto wajah kalian atau visum saja, simpan sebagai bukti jika kekerasan ini terjadi kembali kalian bisa melaporkan pada yang berwajib. Ini bisa masuk ke dalam kasus penganiayaan." Sambung pria itu santai dan melanjutkan langkah. 


"Kak Bree, tolong jangan di perpanjang lagi." Widah gegas menyusul di ikuti Lisa yang mulai terisak. "Lisa kerabat kita." Sambungnya setengah memohon. 


Bree menghentikan langkah lalu memutar tubuhnya. "Aku tidak mengatakan untuk memperkarakannya saat ini,tetapi jika kejadian ini berulang. Kalau dia memang merasa kerabat, harusnya kehormatan aliran darah yang diagungkannya selama ini bisa dijaga. Bukan begitu Lisa Anella ?"


Gadis itu terdiam tanpa menjawab, hari ini adalah hari buruk sepanjang hidupnya. Lisa malu dan marah, andai bisa lebih mengendalikan diri mungkin dirinya tidak terlalu buruk di mata Bree. 


Widan menatap punggung sepupunya dengan perasaan campur aduk, sepanjang hidupnya baru hari ini merasa buruk. Netranya bergulir pada Lisa, ada kecewa terbaca dari sorot mata laki-laki itu. 


...----------------...


Filia Aruna baru saja menenangkan pasangan suami istri yang menjadi pasiennya empat tahun ini. Dalam hati gadis itu sangat iba, melihat garis tua yang syarat dengan makna tak terpecahkan dari wajah kedua paruh baya itu. 


"Mereka sudah tenang." Xavier melihat dari kaca. 


"Iya, mereka hanya mengamuk namun tidak bicara. Aku curiga ada gangguan di pita suara." Tatapan Filia begitu sendu penuh rasa sedih. "Selama empat tahun aku baru menyadari hari ini, hanya ada air mata dan rontaan tanpa suara. Ada sakit dan juga ketakutan yang luar biasa dari manik mata keduanya. Sepertinya aku harus menghubungi seorang terapis untuk membantuku." Lanjutnya menghela nafas panjang. 


"Siapa terapis itu ?" Xavier menjatuhkan tubuhnya di sisi Filia.

__ADS_1


"Temannya Eros." 


"Eros detektif itu ?" Xavier menatap serius rasa cemburu menyelinap di dalam hatinya setelah mendengar nama sang detektif. 


"Iya, besok aku mengatur janji temu." 


"Aku akan menemani mu, sekarang sudah sore mari kita pulang. Mereka juga sudah tenang." Xavier menatap kembali ke dalam kaca pembatas. 


Filia mengangguk lalu meraih ponselnya untuk berkirim pesan pada Eros, sebelumnya ia harus membuat janji lebih dulu pada orang yang dimaksud. Gadis itu yakin ada yang tidak beres pada pasiennya. 


...----------------...


Semilir angin senja mengantarkan rindu memenuhi relung hati, cuaca yang cukup nyaman membuat Bree betah berlama-lama di taman plumeria. Pria itu merasa senang melihat tunas bunga itu merangkak naik. 


Bree membawa tubuhnya ke dalam rumah kaca yang telah sempurna di bangun, pria itu menarik salah satu buku tentang ilmu pemerintahan. Sudut bibirnya terangkat ketika ingatan kembali pada masa lalu, dimana ratu nya akan menghabiskan waktu untuk membaca. 


"Tuan, sudah senja." Reiki meletakan teko terbuat dari kaca yang berisi white tea. 


"Rei, carikan kecapi dan letakkan disini. Ratu sering bermain kecapi." 


Tenggorokan Reiki malu menelan white tea setelah mendengar penuturan sang atasan. "Saya akan carikan." Ucapnya setelah menguasai diri dari tersedak.


"Bukan kecapi seperti saat ini, nanti akan aku gambarkan bentuknya. Kalau tidak ada yang menjual, kamu bisa memesannya di toko musik." Bree menyesap white tea dan merasakan sensasi hangatnya. 


"Baik Tuan, besok kita akan bertemu dengan tuan Eros untuk bertemu terapis yang akan membantu anda. Baru saja tuan Eros mengirim pesan, kalau ada dokter wanita dari rumah sakit jiwa akan bergabung. Dia juga membutuhkan bantuan terapis itu." 


Jantung Bree berdetak hebat sama persis saat pertama kali bertemu ratunya. Dalam biliknya, jantung itu masih bertalu indah seolah menyerukan nama ratu. Wajah Bree tiba-tiba merona merah hingga menjalar ke telinga nya. Kulit yang putih bersih itu sangat menampakan perubahan. 


"Kenapa jantungku ?" Bree menyentuh dada kirinya. 


"Anda kembali merasakan sakit?" Reiki panik gegas berdiri menghampiri.

__ADS_1


"Tidak, bukan sakit tapi berdebar dan juga aku gugup." Bree tersenyum tipis. 


Reiki ternganga, seluruh akal pikirnya buntu melihat mimik wajah atasannya. Berkata jantung namun tidak menunjukan kesakitan. Rona itu belum pernah Reiki lihat. 


__ADS_2