
Seminggu telah berlalu dimana kejadian Filia pergi dari Mansion sangat berpengaruh buruk pada Bree Tyaga Adrian. Laki-laki itu mengurung diri di dalam kamar dengan tatapan hampa dibalut luka. Sakit, sangat sakit. Namun apa daya kekuatan tak dimiliki Bree walau hanya secuil. Selain luka yang sempat memburuk karena pergerakan yang tak terkontrol. Jiwa laki-laki itu nampak kosong bak hidup tanpa roh.
Di dalam kamar bernuansa putih ini, Bree terbaring dengan pandangan jatuh pada lukisan yang tergantung dinding. Di kedua tangan laki-laki itu menggenggam hiasan rambut dan juga selendang yang sengaja ditinggalkan Filia. Berkali-kali aliran tipis dan hangat turun dari sudut mata menandakan kesedihan seorang Bree Tyaga Adrian.
"Tuan, waktunya makan siang." Reiki mendorong pintu dan membawa troli makanan. Ayunan kaki asisten itu menghampiri sang atasan. "Hari ini Bibi Jo membuat banyak makanan tradisional, saya harap anda memakannya. Kasihan Bibi Jo bersusah payah memasak." Lanjutnya membuat sedikit drama guna menggoyahkan hati si tuan muda yang membatu.
"Aku tidak lapar, Rei." Penolakan Bree bersamaan dengan helaan nafas yang keluar. "Aku tidak berselera makan." Lanjutnya tanpa mengalihkan pandang. Namun aliran air tipis di sudut mata telah menyusut.
"Anda perlu minum obat, jadi sebelum itu makan lebih dulu. Sudah satu minggu anda tidak makan teratur." Reiki menanam kesabaran yang begitu dalam untuk menghadapi si tuan muda yang tengah patah hati.
"Bagaimana kabarnya?"
"Dokter Filia maksud anda ?" Reiki mengurungkan niat meraih piring dari rak troli. Tanpa jawaban laki-laki itu paham lalu berkata. "Dokter Filia baik-baik saja dan juga sehat. Sekarang saya mau bertanya, apakah perjuangan anda hanya sebatas ini?"
Pertanyaan Reiki menarik atensi Bree, kepala laki-laki itu menoleh kesamping dimana sang asisten tengah duduk. "Apa maksudmu?" Nada pertanyaan itu sedikit ketus.
"Tuan." Reiki menegakan posisi duduk dengan raut wajah terlampau serius. "Cinta itu diperjuangkan sampai pada titik dimana kita sudah menghabiskan kemampuan. Apabila belum juga bisa kita genggam maka waktunya kita mundur. Dan saya belum melihat perjuangan anda untuk mendapatkan cinta dokter Filia. Hanya sekali penolakan dan anda sudah patah seperti ini harusnya retak bukan patah. Bangunlah Tuan, cepat sembuh dan berjuang lagi untuk mendapatkan dokter Filia. Kerahkan kemampuan anda terpenting jangan melukainya dan orang lain. Juga misi kita belum selesai tentang kematian orang tua anda dan pembunuhan berencana melalui kecelakaan anda juga belum selesai."
Kalimat panjang lebar itu membakar semangat di dalam tubuh Bree Tyaga. "Kamu benar Rei, aku harus sembuh dan menemui ratu Filia lagi." Setipis kapas senyum tertarik di bibir merah laki-laki itu. Kedua tangannya terangkat mencium selendang dan juga perhiasan rambut milik Filia.
Reiki cekatan membantu si tuan muda untuk duduk bersandar mencari posisi nyaman. Dengan telaten laki-laki itu menarik sendok dan menyuapi makanan ke mulut Bree. Di ambang pintu Axel dan Bibi Joana bernafas lega dengan ulasan senyum mengembang. Setelah satu minggu putra mahkota Tyaga kembali bersemangat dari patah hati dicampakkan kekasih begitu saja.
__ADS_1
...----------------...
Di salah satu resto Filia tengah menikmati makan siangnya bersama Xavier, Irene dan Luna. Mereka memilih restoran khusus masakan tradisional. Selagi menikmati santapan siang itu tidak ada percakapan yang menyela. Meski tanya sudah berkecambah di benak Irene dan Luna.
"Aku selesai." Luna menelan makanan dengan cepat lalu menyambar gelas air di sisi piring. Gadis itu terburu-buru minum karena tidak sabar melakukan sesi interogasi pada sahabatnya.
"Aku juga." Irene meraih gelas meminum isinya hingga tandas. Sekretaris utama Tyaga Group itu menyeka bibir menggunakan tissue lalu menyandar kasar daksa ke kursi.
"Bertanyalah." Filia memahami isi di dalam tempurung kepala kedua sahabatnya. "Aku akan menjawabnya." Gadis itu meletak gelas lalu meraih tissue.
Luna berdehem menjernihkan suara dan mengatur kalimat yang pantas diucap. "Apa yang terjadi ? Ah, maksudku ada apa dengan hubunganmu dan Tuan Bree. Informasi dari Bibi Mei, kau mencampakan tuan Bree." Seberapa pun usaha gadis itu mengatur kalimat tetap saja tidak bisa.
Filia menjatuhkan tissue bekas ke dalam piring. Lalu mengangkat wajahnya menatap iris mata Luna. "Karena waktunya selesai."
"Kenapa harus memikirkannya?" Filia menyandarkan tubuh dan melipat tangan ke dada. Tatapan datar tersorot dari obsidian hitam pekat gadis itu. "Tugasku untuk membantunya sembuh, Aslan juga sudah mengatakan jika dia sudah membaik."
"Filia, apa kata-katamu hanya permainan ? Aku tidak habis pikir kenapa kau lakukan itu ? Apakah perasaan Tuan Bree seperti main-main?" Irene bersuara setelah melihat suasana sedikit memanas. Perangai Luna yang gampang marah harus cepat di tengahi.
"Perasaan Bree sungguh-sungguh. Hanya saja aku tidak siap mendampinginya lagi. Setelah kejadian kemarin, aku mulai berfikir betapa bahayanya jika selalu berada disisi pria itu." Filia menatap lekat manik mata Irene.
"Kau trauma." Sahut Luna sedikit melunak dan memahami posisi sang sahabat.
__ADS_1
"Bisa dikatakan seperti itu."
"Trauma, tapi ada kebencian yang besar di dalam iris matamu ? Bagian mana yang kamu benci dari tuan Bree ?" Irene melemparkan tanya sambil meletakan ponsel di atas meja.
"Karena dia aku hampir mati di tangan gadis bodoh itu." Lipatan benci di obsidin Filia semakin menggunung. "Dan aku tidak akan memberikan nyawaku cuma-cuma." Gebuan emosi tersirat di akhir kalimat si dokter cantik.
"Kau mencintainya ?"
Filia menggulirkan pandang pada Luna, pertanyaan itu sedikit sensitif untuk dibahas tapi karena sebelumnya ia akan menjawab tanya para sahabatnya maka gadis itu akan menjawab.
"Iya, aku mencintainya tapi tidak akan mengobarkan diri dan nyawaku untuk bersamanya. Aku mengatakan padanya kalau kami sudah selesai dan aku tidak bersedia mendampinginya lagi. Selain itu aku sudah menyatakan bahwa dirinya telah sembuh."
Luna terkekeh hambar. "Keputusan sudah kau ambil. Kami bisa apa ? Meski iba melihat tuan Bree tidak baik-baik saja saat ini."
"Aku juga tidak baik-baik saja, tapi keputusan sudah bulat. Aku terluka, aku mencintainya tapi aku tidak ingin mati konyol bersamanya. Karena hatiku luka maka perlu obat." Filia menoleh kesamping memandang pria yang sejak tadi diam menyimak. "Kau mau mengobati luka itu ?"
Luna dan Irene terhenyak, ada apa lagi ini ? Tanya bercokol di dalam hati dan kepala.
"Aku memang mencintaimu Filia, tapi menginginkan perpisahan mu dengan tuan Bree itu tidak terniat di hatiku. Tapi bila kau membutuhkan aku untuk mengobati hatimu maka aku bersedia." Xavier menatap lekat sepasang mutiara hitam gadis di sampingnya.
"Kau gila !" Intonasi Luna sedikit meninggi. "Kau mencintai tuan Bree tapi tidak berani mendampinginya dengan alasan pertaruhan nyawa ! Aku harap kau memikirkan kembali Filia. Sejak awal kami sudah memberikan mu pandangan dan kau siap dengan segala konsekuensinya. Tapi apa ? Kau meninggalkan tuan Bree seperti ini."
__ADS_1
"Sudahlah, hati tidak bisa dipaksakan. Mungkin cinta yang didefinisikan Filia berbeda dari kita. Apapun keputusanmu, mungkin itu yang terbaik untuk kalian. Semoga setelah ini kalian tidak tersangkut masalah apapun lagi. Dan untukmu Xavier, posisimu adalah pelarian sebagai pengobat luka Filia. Jadi bila suatu hari nanti cinta yang kau ingin tidak dapat dimiliki jangan menyesalinya." Irene mengambil jalan tengah setelah memahami dari sudut pandang masing-masing. "Jam makan siang selesai, kami kembali ke kantor." Lanjutnya membawa tubuh bangkir dari kursi.