Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Pengakuan Akhir dari segalanya.


__ADS_3

Memasuki fase patah hati 💔


🌷Selamat membaca 🌷


...----------------...


Sepanjang malam, baik ratu maupun raja. Tidak ada yang memejamkan mata, pikiran mereka menerawang. Di dalam istana raja masih berpikir, kenapa ratu  tega melakukan hal keji itu? Apakah ini memang terencana? Sungguh, ia bodoh telah mempercayai.


Usai melaksanakan ritual terakhir ibu suri. Raja belum juga kembali ke balai istana, hatinya kembali sakit setelah mengingat peristiwa siang hari. Sangat di sayangkan orang di cintai membunuh sebagian jantung dan hati nya.  


"Pengawal Ta, aku akan mengunjungi ratu." 


"Baik yang mulia." Pengawal Ta gegas mendampingi raja yang tengah patah hati dan juga berduka itu. 


Langkah raja tanpa ragu menyambangi ratu di dalam penjara, sebelum hari esok. Ia ingin secara langsung mendengarkan pengakuan ratu nya.


"Yang Mulia tiba." 


Mendengar kunjungan raja, ratu gegas berdiri bersama para dayang nya. Wanita itu nampak lusuh dan juga pucat. Kondisi tubuhnya tiba-tiba lemah tidak sebugar siang hari.


"Yang Mulia." Ratu menyapa seperti biasa. Namun, kali ini tanpa senyuman manja yang membingkai wajahnya.


Sedikit saja rasa iba itu tidak terbesit di hati raja, kebencian telah menyingkirkan semua rasa di hati nya.


"Katakan ! Apa sebenarnya tujuanmu datang ke tempat ini dan menjadi ratu ?" 


"Yang Mulia, jawabannya masih sama seperti sebelumnya." Tegas ratu dingin. 


Raja tersenyum sinis. "Benarkah ? Tapi aku melihat ada tujuan lain yang tidak sama seperti terucap di bibirmu. Kau datang ingin memusnahkan kerabat kerajaan! Dengan begitu ayahmu tidak perlu membuktikan keterlibatannya dalam kematian mendiang ayahku." 


Ratu menatap datar wajah laki-laki yang terpatri indah di hatinya ini. "Silahkan, anda dengan pemikiran yang ada. Tapi saya akan membuktikan jika tuduhan itu tidak benar." 


"Buktikan, kesempatanmu hanya besok pagi." Raja yang kesal langsung meninggalkan tempat itu. 


Ratu perlahan luruh ke bawah, sekuat apa pun, dia tetaplah wanita. Yang memiliki perasaan lembut dan juga rapuh. Tuduhan keji raja  begitu menyakiti hati. Terlebih gumpalan lembut itu memang sepenuhnya dimiliki raja. Harapan kini hanya ada pada pangeran kedua.


...----------------...


Mentari pagi hadir berkerudung hitam, tak ada senyum cerah membingkai lengkungan langit. Cahaya tipis  berakar kemerahan unjuk amarah di balik awan yang muram, selaras dengan perasaan dua insan yang berbeda ruang 

__ADS_1


Tabuhan jantung memacu kasar di rongga dada, bukan merindu namun karena amarah yang menggebu. Kelopak mata mengeras sayu menandakan pemilik netra itu tak terpejam barang sedetik pun. 


Hari ini adalah hari berat baik untuk raja maupun ratu, di balai pengadilan. Ratu akan diadili atas dosa yang tertuduh padanya. Di kursi pengadilan, ratu duduk bersama para dayang nya. Dengan kaki di rantai tanpa alas dan juga tangan terikat di kursi. Miris, sang ratu yang di agungkan. Hari ini diperlakukan bak penjahat yang tak termaafkan. 


Sebelum tanya jawab untuk sebuah pengakuan, semua orang menunggu kehadiran sosok penting atas pengakuan ini. Ya, raja mengayunkan langkah menuju balai pengadilan. Di lapangan terbuka itu seluruh penghuni kerajaan bisa melihat ratu di adili. Untuk mempertanggungjawabkan tuduhan padanya. 


Tak ada cinta, rindu, atau iba terpancar di manik mata raja yang ada hanya kilat kebencian. Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi berhadapan langsung pada ratu. 


Satu gerakan isyarat, raja mempersilahkan hakim memulainya. Tanya jawab itu cukup alot, sebab ratu masih bungkam dengan iris mata menyelami lautan kebencian di mata raja. Ya, dasarnya tidak dapat ia capai. Pertanda raja benar-benar membencinya sangat besar. 


"Ratu, jawab pertanyaan ku. Apa botol racun ini milik mu?" Raja mengeluarkan suara setelah beberapa menit belum mendapatkan jawaban.


Ratu menggeleng. "Itu bukan milik saya." Intonasi datar itu mengandung kekecewaan yang mulai menggali semakin dalam.


"Jangan mengelak, botol ini di temukan dalam istana mu !"


"Benar yang mulia, itu bukan milik saya." Ratu masih membela diri. "Saya baru melihatnya hari ini."  


"Beri ratu lima kali cambukan !" Raja sangat kesal ratu tidak mengakui dan memperpanjang waktu.


"Baik yang mulia."


Para dayang menggigit bibir masing-masing menahan tangis agar tidak lolos dari bibir mereka, ketika melihat beberapa garis bercak merah menembus baju ratu. 


Sementara raja hanya diam menatap tanpa ekspresi. Terlebih wajah ratu tak menunjukan kesakitan, hanya tatapan kosong dan bibir pucat. 


"Ratu, katakan tujuanmu datang ke kerajaan ku?" Raja kembali melemparkan pertanyaan. 


"Jawabannya tetap sama yang mulia." 


"Beri cambukan pada dayang pribadi ratu." Raja geram karena ratu belum juga mengakui. Padahal dapat dipastikan jika sekujur tubuh ratu sudah luka karena cambukan. 


Hempasan cambuk menghantam pada abdi setia ratu, hati wanita itu semakin terluka. Andai ini dapat diperkirakan nya akan terjadi, maka sejak dulu ia lebih memilih menebas leher raja. Dari pada mendampingi nya hingga saat ini. Sedikit demi sedikit, kebencian pun tertanam di hati ratu. 


"Ratu, siapa orang bersekongkol dengan mu melenyapkan ibu suri?" Raja berdiri di tempatnya duduk mencoba menahan amarah untuk tidak meledak.


"Tidak ada." 


"Beri cambukan kepada dayang Shi." Raja tahu abdi setia ratu adalah kelemahan wanita yang kini nampak mengenaskan di matanya 

__ADS_1


Hempasan cambuk kembali mendarat di tubuh dayang Shi. Hingga baju putihnya sudah hampir seluruhnya ternoda merah.


"Ya, saya sengaja datang ke tempat ini. Untuk melenyapkan ibu suri dan juga anda sendiri."


Jawaban ratu menghentikan ayunan cambuk. Tubuh raja bergetar hampir saja laki-laki itu terhuyung jika pengawalnya tidak sigap. 


"Ja—jadi kamu sengaja ?!" Meski terbata namun mata tajam Raja begitu menusuk relung hati. 


"Iya." Ratu tak berkedip ataupun membuang pandangan..Jawabannya lantang hingga seluruh orang mendengarkannya. Tidak ada keraguan di bola matanya, hanya ada bongkahan luka yang berjejak di sana. 


"Yang mulia ratu, jangan lakukan itu. Kami siap mati untuk anda." Tangis dayang Shi pecah seiring rasa sakit di sekujur tubuh. Pengakuan ratu sama saja dengan bunuh diri.


"Bukankah aku pernah mengatakan ? Jika perang dijatuhkan maka pergi selamatkan diri kalian. Sekarang raja menyatakan perang padaku, tapi kalian tidak mengindahkannya malah mendekatiku saat di seret ke penjara. Sekarang tutup mata dan mulut kalian, kita sudah tercebur dan tidak bisa menepi. Mati bersama adalah pilihan yang tepat." Ratu menerbitkan senyum sinis keputus-asaan. Ya, ia mengakui kegagalannya. 


Raja semakin membenci ketika melihat tidak ada jejak penyesalan. Terlebih dirinya juga menjadi target ratu. Ia pun berkata. "Berdasarkan kesalahan yang diperbuat ratu, tidak hanya melakukan konspirasi dan melindungi sekutunya, ratu juga sudah melenyapkan nyawa ibu suri dan menargetkan raja selanjutnya. Maka ratu dan para abdinya dijatuhkan hukuman mati." 


Lolos sudah air mata di pipi ratu, bukan sakit karena keputusan itu namun sakit karena raja tak mempercayainya. Dan ia yakin dengan tipe raja seperti itu, laki-laki yang selama ini didampinginya ini tidak akan lama duduk di tahtanya. 


Ratu terseok melangkah kecil di giring para pengawal, mata nya menatap hampa penuh luka yang tidak terobati, langkah kecilnya terhenti di hadapan raja. Tidak ada lagi tatapan penuh cinta seperti yang telah lalu, getaran pun tak bersambut seolah jantungnya telah terhenti. 


"Yang Mulia, jika ingin bertahan di tahta anda. Maka rubah pola pikir yang merugikan, Anda orang cerdas gunakan itu dengan baik. Jika saya dilahirkan kembali di kehidupan masa mendatang dan kita bertemu lagi. Maka saya bersumpah akan sangat membenci anda ! Dan melenyapkan anda dari ingatan saya !" 


Api kebencian di mata dan hati ratu seolah membakar tubuh raja. Bahkan laki-laki itu tersentak menatap sorot mata yang tak pernah ia lihat sebelumnya. 


...----------------...


Kerudung hitam mulai tersingkap seiring kristal bening pecah menghujani bumi. Dentuman petir seolah menyambut baik sumpah sang ratu. Usai membuat pengakuan, ratu kembali mendekam di ruangan gelap penuh debu. Hanya berlapis jerami tempatnya melepaskan sakit yang mendera di sekujur tubuhnya.  


Darah hasil cambukan mulai mengering di baju ratu, bau amis pun memenuhi indra penciuman. Bahkan pergelangan kakinya pun ikut terluka karena gesekan rantai pengikat. Rasa lelah dan sakit membaur menjadi satu selaksa yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Hingga kristal bening penanda rapuh pun tak sanggup terproduksi. Seolah beku dan tak mampu mencair. Rasa yang menggenggam di hati tak bisa diwakilkan oleh air mata dan juga rintihan di bibir, karena sakit itu tak tertakar oleh apa pun.


"Yang Mulia, maafkan kami tak bisa berbuat apa-apa." Sesal dayang Shi yang tak bisa memenuhi janji. 


"Semua sudah selesai, baik aku, kalian dan juga kerajaan. Esok setelah eksekusi, kita akan dikirim pulang tanpa nyawa dan perang akan dijatuhkan. Semua sudah berakhir." 


Dayang  Shi semakin menunduk tak bisa menahan air matanya. Rasa bersalah kian mengekang hatinya.


...----------------...


Raja sudah meminta menteri militer menyusun kekuatan, untuk melakukan penyerang di kerajaan asal ratu. Usai eksekusi semua akan bergerak. Tujuan raja adalah menghancurkan ratu dan kerabatnya. 

__ADS_1


Hujan semakin deras, bayangan ratu di cambuk memenuhi ingatan raja. Nalurinya berkata untuk menyambangi ratu, mendekapnya erat dan menghujani dengan cinta dan kasih sayang. Namun, baru selangkah kakinya terayun, benci sigap mencekal kakinya, melumpuhkan gerak agar tidak melanjut langkah.


__ADS_2