Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Pengakuan Yohan


__ADS_3

Suasana aula kantor induk Tyaga semakin memanas setelah mendengarkan pengakuan Jesen. Gumaman para petinggi dan sebaris tamu undangan semakin terdengar jelas di ruang rungu Widan dan juga Bibi Lexa. Sementara bibi Vindy hanya diam menatap penuh kekecewaan pada kakak perempuannya itu. 


Di balik layar seorang operator menyiapkan kembali hadiah kedua dengan instruksi dari Reiki. Laki-laki itu mengenakan bluetooth handsfree sebagai alat bicara pada orang-orang bawahannya. Sejengkal pun, asisten tampan ini tak beranjak dari sisi Bree Tyaga. Sementara atasannya hanya diam dengan raut wajah datar menatap lurus ke arah Widan yang menatapnya dengan api  amarah menyala di manik mata coklatnya. 


"Kenapa ?" Suara dan isakan tangis Bibi Lexa menarik atensi. Wanita paruh baya itu mendaratkan daksa tuanya di atas kursi dengan tangan mengepal di dada penuh kesakitan. "Kenapa kau lakukan ini, Bree ? Sejak kecil Bibi menyayangimu melebihi putraku sendiri. Bibi mengutamakanmu lebih dulu dari pada Widan. Kenapa balasanmu sesakit ini ?" Ungkapnya dengan intonasi rendah penuh vibra. Siapa pun yang akan melihatnya akan tertarik iba. "Widan hanya mewakili sebentar saja untuk memimpin Tyaga." Lanjutnya disertai tangis yang tergugu. 


Dasar afeksi manusia cepat berubah, melihat hal di depan mata sebagai kaum lemah simpatik pun beriringan bersama opini, ketidakpercayaan juga menyertai.


"Tuan Bree, seharusnya anda tidak kekanakan seperti ini. Jika anda tidak suka pada Tuan Widan yang akan menggantikan anda, langsung katakan penolakan. Kenapa harus membuat pertunjukan seperti ini dan melukai hati Nyonya Lexa yang telah baik pada anda." Suara seorang laki-laki paruh baya terdengar di sela isakan tangis Bibi Lexa. 


"Iya benar, pertunjukan ini murahan sekali." Cibir salah satu kubu lain. 


"Sudahlah." Interupsi Widan mencoba tenang atas apa yang terjadi. "Kalian tidak akan mengerti, saat ini kondisi kakak sepupuku dalam keadaan kurang baik seperti yang kita tahu selama ini. Mungkin hal ini adalah hadiah untuknya tapi tidak untuk orang seperti kita." Lanjutnya tersenyum tipis menatap menang ke arah Bree. 


"Anda benar, saya melupakan itu." Sambung seseorang yang tadi nya ikut mencibir. 


"Bisa kita lanjutkan acaranya ?" MC mengambil alih suasana dan berusaha mendinginkan keadaan yang dia sendiri tidak mengerti. 


"Tentu saja." Reiki menyahut cepat. "Masih ada hadiah kedua untuk Tuan Widan." Laki-laki itu berkata seraya melemparkan tatapan dingin pada orang yang dimaksud. 


Mendengar instruksi layar proyektor kembali menyala semua arah pandang tertuju pada layar lebar itu, tanya kembali bercokol di dalam tempurung kepala tentang kejutan kedua. 


Widah sendiri semakin gelisah, manik mata laki-laki itu bergulir liar mencari seseorang yang akan diminta bantuan. Sayang, tangkapan pandangnya tak menemukan orang yang dicari. 


"Perkenalkan saya Yohan." 


Tubuh Widan semakin beku dan terpaku. Iris mata coklatnya menatap tajam pada layar lebar itu. Disana seorang laki-laki duduk seolah menghadap ke arahnya. Orang suruhannya yang hilang tanpa jejak selama berbulan-bulan. Yohan terlihat sehat dan juga gemuk, kulitnya juga bersih dan putih. Terlalu indah kah hidup Yohan ?


"Siapa lagi itu ?" Seorang bertanya menunjuk ke arah layar. "Sepertinya ini bukan hadiah biasa." Lanjutnya menyeringai. Dapat dipastikan dari sudut bibir yang terangkat laki-laki itu berada di kubu siapa. 


"Nama saya Yohan, bekerja di bawah asuhan tuan Widan sebagai p€mbunuh bayaran. Dan beberapa bulan lalu saya tertangkap saat melakukan aksi pembunuhan pada Tuan Bree. Disini saya mengakui kejahatan itu di hadapan orang banyak. Pembunuhan yang saya lakukan gagal dengan bukti tuan Bree masih dalam keadaan hidup." 


Kilas balik…


Beberapa bulan lalu, wacana brainstorming membuat Widan naik pitam terlebih saran yang diajukan bersama paman Marcel ditolak oleh Bree Tyaga. Laki-laki penuh ambisi seperti Widan merasa kecewa karena secara tidak langsung rencananya bersama paman Marcel akan gagal untuk membuat kursi Bree goyah. 


Didalam sebuah ruangan bernuansa hitam abu-abu. Widan menatap penuh dendam pada sebuah pigura keluarga. Disana ada tiga anak berfoto bersama para tetua. 


"Mama memang anak angkat, tapi beliau juga berjasa mengurus Kakek Tyaga. Haruskah sahamnya hanya sepuluh persen saja ? Ini tidak adil." Ucapan itu sudah ribuan kali yang lahir dari bibir Widan. Sejak kecil laki-laki ini hanya melihat kebaikan sang ibu namun tidak mengetahui di balik kebaikan itu. "Yohan, aku ada tugas untukmu." Lanjutnya memutar tubuh menghadap pada pemilik nama. 


"Iya Tuan." Yohan menegak duduknya dengan benar. 


"Bunuh Bree !" 


"Apa ?" Yohan tersentak kaget. "Tuan Bree ?" Ragu menyelinap karena targetnya bukan orang sembarangan seperti targetnya selama ini. 


"Iya, aku mau dia mati. Cari kesempatan dan ini kartu kosong. Bila kau berhasil aku akan mentransfer uangnya." 


"Tapi Tuan Bree saudara anda." Sekelumit gumpalan daging lembut dalam tubuh Yohan menolak.


"Dia saudara yang tidak sedarah denganku. Dulu, Jesen gagal menyelesaikannya. Sekarang aku tidak mau kau gagal. Ketidakadilan untuk mama harus mereka bayar." Widan meremas gelas wine di tangannya hingga pecah. Mengabaikan rasa sakit dan darah yang mengalir. Laki-laki itu kembali berkata. "Balas kebaikanku yang sudah memungut kamu dan Leandra." 


Yohan mengepalkan tangan di bawah meja, lagi kalimat yang dibencinya terdengar. Kenapa jasa itu harus jadi senjata ? Haruskah ia membalas seumur hidup dengan lumuran dosa ? Yohan menunduk menarik nafas pelan mengendalikan perasaan dan juga amarah. Andai ia bisa memilih lebih baik orang lain yang menemukannya jangan Widan. 


"Bagaimana kabar Leandra ?" Kalimat tanya itu lahir bersama untaian rindu pada sang adik. 


"Leandra baik-baik saja. Dia menikmati hidupnya bersamaku." Tersemat senyum tipis di bibir Widan. Laki-laki itu membalut lukanya sendiri dengan santai. Seolah luka itu tak berarti. 


"Saya ingin bertemu." Yohan mengangkat wajahnya menatap penuh harap. 


"Leandra aman bersamaku, sejak kau menitipkannya padaku tidak terjadi apapun padanya. Apa kamu sudah memikirkan konsekuensi  jika kalian bertemu ? Ingat musuh-musuh kita pasti akan mencium jejakmu. Apa kau mau Leandra jadi korban ? Biarkan dia aman bersamaku." 


Perasaan Yohan diremas sakit. Dosa dan kejahatannya akan berimbas buruk pada Leandra. Lalu bagaimana dengan rindunya pada sang adik. Yohan ingin melihatnya setelah lama tidak pernah bertemu sejak ia melakukan misi pertamanya beberapa tahun lalu. 

__ADS_1


"Sekali saja." 


Widan menghela nafas panjang dan sedikit iba. "Baiklah, setelah misi mu selesai kalian boleh bertemu." 


Yohan mengangguk dan membawa daksa berdiri. Ia menjadi tidak sabar untuk melenyapkan Bree, kerinduan di ruang dada sudah menggebu. Wajah Leandra mengambang di pelupuk mata. Bersama ayunan langkah, Yohan mulai memikirkan cara untuk menyelesaikan tugas.


Kilas Balik selesai.


...----------------...


Suara benda pecah memekakan telinga. Ketika vas bunga melayang ke arah proyektor. Semua mata terbelalak melihat ke arah pelaku. Widan mengendalikan nafasnya yang memburu, wajah laki-laki itu merah padam dengan kilatan benci ke arah Bree. 


"Kenapa kau menatapku seperti itu ?" Si tuan muda masih duduk nyaman di kursinya tanpa bertindak atau melakukan apapun. 


"Aku tidak menyangka seorang Bree Tyaga bermetafosis menjadi yang sekarang ini. Kau hanya laki-laki lemah yang berlindung dibawah ketiak para teman-temanmu." Widan menyeringai sinis. "Jadi hentikan pertunjukan konyol ini karena tidak ada seorangpun yang percaya pada orang sakit jiwa. Ingat ! Sakit jiwa." Tekan laki-laki itu tegas. 


Kembali arus berbalik yang semula hampir mempercayai pertunjukan seorang kru dari Bree kini mulai meragukan karena Widan baru saja menekan tentang kondisi Pimpinanan Tyaga itu.


"Sudahlah Tuan Bree hentikan saja." 


"Kenapa kalian memintanya padaku ?" Bree melemparkan pandangan datar. "Bukan aku yang mengaturnya, kalian lihat apa tanganku menyentuh sesuatu ? Sejak tadi aku hanya diam disini sebagai penonton." Kalimat terpanjang yang terucap sepanjang acara. 


"Tapi kendali ada di pada anda, kalau ingin acara ini cepat selesai maka tutup pertunjukan tidak berguna ini." 


"Saya ingin memperkenalkan seseorang yang selama ini saya rindukan. Dia saya titipkan pada Tuan Widan dengan keadaan baik-baik saja tapi setelah saya menemukannya dia tidak dalam keadaan baik." Yohan kembali bersuara setelah terjeda karena lemparan Vas bunga. "Dia Leandra, yang saya temukan di apartemen milik tuan Widan. Dengan kondisi psikis yang terguncang tak hanya itu terdapat juga jejak pelecehan pada tubuhnya." 


Kaki Widan refleks melangkah mundur, keterkejutan nampak di wajahnya. Laki-laki itu terpaku pada sosok yang duduk di samping Yohan. Ya, dia adalah Leandra. Gadis berparas cantik dengan pandangan kosong serta bibirnya yang memucat. Tak hanya itu jejak percinta juga nampak jelas di kulit lehernya. 


"Wah ini tidak disangka." 


"Siapa yang melecehkannya ?" 


Gumaman kembali terdengar seperti kumbang. Keadaan nyaris tidak terkendali setelah kemunculan Leandra. Kini Widan mengerti perang sudah dimulai. Dan Bree menyiapkan meriam dengan tepat. 


Layar menggelap pertanda Yohan menyudahi pengakuannya. Bree menyeringai puas melihat raut pucat Widan dan wajah keterkejutan Bibi Lexa. Rasanya tidak sia-sia disela kesibukan merajut Bree juga mengurus masalah besar itu. 


...----------------...


Kilas Balik.


Bree menyandarkan tubuhnya di dinding sofa. Kedua tangannya semakin lincah merajut jaket untuk Filia Aruna. Rindu semakin menggebu tapi laki-laki ini hanya bisa menyimpan dalam dada dan melihat dari kejauhan. Senyum, tawa lepas dari Filia sedikit mengobati. 


"Tuan, istirahatlah. Punggung anda akan sakit jika lama duduk." Reiki masuk dengan pakaian santai. Laki-laki itu menanggalkan jas yang selalu melekat di tubuh. 


"Kau sibuk." Tanpa mengalih atensi Bree melontar tanya. 


"Tidak, saya cuti." Kelakar Reiki terkekeh. Kedua tangan yang semula diselipkan ke dalam saku celana kini dikeluarkan bersama daksa yang mendarat di tepi kasur. "Anda perlu sesuatu ?" Tangannya terangkat melihat hasil rajutan sang atasan. 


"Ayo kita dapatkan pernyataan dari Yohan, Eros sudah mendapatkan lokasi adiknya." 


"Benarkah ?" Reiki terkejut refleks menatap ke arah Bree. "Dimana lokasi adiknya ?" Laki-laki itu membenarkan posisi duduknya untuk saling berhadapan.


"Disalah satu gedung apartemen mewah milik seorang pengusaha juga. Kita bisa menjemput gadis itu dan melakukan penawaran. Karena penyekapnya hanya menyewa saja disana." 


"Saya mengerti, jadi bagaimana ceritanya Tuan Eros bisa melacak lokasi gadis itu?" Reiki masih betah pada posisinya bahkan kedua kakinya sudah naik ke atas kasur Bree. 


"Dengan berbekal rekaman Cctv dari Xavier. Laki-laki yang masuk ke dalam ruangan ratu Filia, dia adalah petunjuknya." 


"Kita bergerak sekarang ?" Reiki gegas membawa tubuh untuk bangkit. 


"Hm, kau hubungi Eros dan juga Xavier. Kita perlu bantuannya jangan lupa Axel juga, kita tidak tahu kondisi gadis itu. Ajak Yohan." Bree menyambar benda pipih miliknya lalu mengenakan jaket kulit di tubuh. 


"Iya, apa anda hanya memakai pakaian seperti ini. Bagaimana jika disana berbahaya ?" Reiki memindai penampilan sang atasan. 

__ADS_1


"Apa gunanya kalian ?!" Ketus si tuan muda membuat Reiki menatap kesal. 


Waktu semakin bergulir, Bree dan yang lainnya sudah berada di kawasan apartemen. Penampilan mereka biasa saja hingga tak menarik perhatian orang lain. Suasana yang sepi memudahkan langkah mereka menuju lantai yang dituju. Eros sudah meminta rekannya untuk meretas Cctv. Tepat di sebuah pintu bernomor yang dicari. Bree bersiap menekan tombol berdiri paling depan, ia bersedia mengumpan diri agar lawan mereka terkejut. Di sisi pintu kiri Leon bersembunyi bersama Axel. Dan di sisi kanannya ada Xavier, kemudian Reiki dan Eros yang selalu siap di belakang Bree sebagai penolong jika si tuan muda berada dalam masalah. 


"Ada apa kalian mengajak saya kesini." Yohan akhirnya bersuara setelah lama bungkam dengan tangan terborgol bersama Eros. 


"Kamu ingin menjemput adikmu, 'kan ? Semoga dia ada di dalam." Sahut Bree menoleh. 


"Leandra." Yohan menatap lurus ke manik mata Bree. " Anda tahu saya punya adik ? Apa ini benar tempatnya." Yohan refleks menyentuh tangan si tuan muda. 


"Jauhkan tanganmu." Reiki menyentak keras tangan Yohan. "Tuan Bree tahu sejak lama, jadi apabila kita berhasil mendapatkan adikmu. Maka giliran kamu membayar tuan Bree tapi bila kamu tidak mau maka dengan terpaksa adik kesayanganmu itu akan tetap jadi tawanan tapi tidak ditempat ini." 


"Jangan." Yohan menggeleng keras dan sadar tidak memiliki kekuatan apapun. "Baiklah saya akan lakukan apapun."


"Bagus sekarang sembunyi di sebelah dokter Xavier. Karena apabila kamu melarikan diri, adikmu jadi milik kami dan gelang pelacak di tanganmu akan selalu menunjukkan dimana kamu berada." Eros membuka gelas besi melingkar di pergelangan mereka. 


Yohan melangkah patuh sementara Bree mulai menekan bel sambil menurunkan lidah topinya untuk terlihat sedikit misterius. Memang ada-ada saja kelakuan raja itu. 


"Tuan Bree." Seorang pria terbelalak ketika pintu terbuka. "Aahh." Rintihnya ketika merasa kulitnya ditembus sesuatu. Laki-laki itu berusaha meronta saat tubuhnya diseret masuk oleh Leon yang berhasil menancapkan injeksi di lehernya. Sebelum itu Axel dan Xavier sudah memastikan lebih dulu untuk masuk sebelum Leon menyeret pria yang kini mulai terpengaruh bius. 


"Dia tumbang ?" Bree membungkuk tubuhnya untuk melihat sang lawan dengan jarak dekat. 


"Iya, cepat menyebar kita cari gadis itu. Tetap waspada. Bree tetap bersamaku." Eros melayangkan titah karena waktu mereka sangat sedikit. 


Reiki menuju sebuah kamar yang ia yakini kamar utama apartemen itu. Tangannya terangkat perlahan mendorong daun pintu. Matanya terpaku pada seorang gadis yang duduk di atas kasur. Wajah pucat dengan tampilan mengenaskan, gadis itu dapat dipastikan jika tidak mengenakan pakaian hanya berbalut selimut dengan tatapan kosong. 


"Kamu menemukan sesuatu ?" 


Suara Leon mengejutkan Reiki dengan refleks laki-laki itu menutup pintu.  "Iya." 


"Kenapa kau tidak langsung masuk ?" Leon menatap pada pintu yang tertutup rapat.


Reiki salah tingkah dengan wajah memerah. "Di—dia hanya mengenakan selimut." Jawabnya terbatas dengan iris mata bergulir liar. 


"Jadi dia wanita itu ?" Tebak Leon membuka pintu. Kakinya terpaku sama persis dengan keadaan Reiki sebelumnya. "Pa—panggil Axel." Ucapnya tetiba merasa panas karena malu. Padahal gadis di atas kasur mengenakan selimut hingga batas dada. 


"Ada apa." Pemilik Nama langsung bersuara sambil melangkah mendekat diikuti yang lainnya.


"Kalian menemukan adikku?" Yohan setengah berlari dengan binar penuh harap. 


"Di dalam ada seorang wanita coba kau liat apa dia benar adikmu." Reiki menggeser tubuh memberi tempat. 


Yohan melangkah cepat lalu mendorong daun pintu dengan lebar. Manik matanya memerah dengan perasaan sakit yang amat luar biasa. Tangisnya pecah dengan kaki terpaku di ambang pintu. Kondisi Leandra menyayat hati nya sangat dalam. Tatapan kosong itu mengoyak hati seorang Yohan. 


"Lea." Isak tangis bercampur getar pita suara memilukan telinga. Dengan sisa kekuatan Yohan menyeret langkah mendekat lalu mendaratkan tubuh memeluk sang adik yang tidak bereaksi apa-apa. Tangis laki-laki itu semakin pecah tak peduli lagi pada beberapa laki-laki yang menghalau telaga bening di mata mereka melihat adegan haru yang terjadi. 


"Yohan, kamu kakaknya maka kamu berhak memakaikan pakaian untuknya. Gunakan pakaian yang ada kita harus bergegas sebelum pemilik apartemen ini datang."


Yohan melepaskan jaket yang dikenakan langsung memasangkan ke tubuh polos sang adik. Setelahnya laki-laki itu mencari celana training panjang dan tidak memperdulikan dalaman lagi. Terpenting adiknya terbungkus pakaian. "Ayo." Ucapnya menggendong Leandra. 


Para laki-laki itu meninggalkan tempat tak lupa pula membawa pria yang masih dalam pengaruh bius. Di perjalanan Yohan masih terisak sambil mengecup lembut pucuk kepala Leandra. 


"Untuk keamanan kalian, kita kembali ke Mansion lama. Adikmu akan dirawat disana. Dia akan dibawah pengawasan Axel dan juga Xavier." Bree bersuara sambil memejamkan mata. 


"Tuan Widan, pelakunya tuan Widan." 


"Aku tahu." Sahut Bree. "Tapi aku butuh bukti dan saksi." Lanjutnya. 


"Saya akan bersaksi dan bertanggung jawab. Tapi pastikan Lea akan baik-baik saja." 


"Tentu, mungkin kau belum tahu kalau di mansion juga ada Nenek Jesen. Beliau sudah berada disana begitu pun adikmu. Mereka aman karena Widah tidak akan bisa menjangkau Mansion itu." 


Yohan terkejut. "Saya akan membantu anda membalas tuan Widan. Bahkan saya ingin membunuhnya untuk membayar luka Lea." 

__ADS_1


Kilas balik selesai. 


__ADS_2