Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Menjaga kewarasan


__ADS_3

Di dalam ruangan bernuansa putih suasana sangat menegangkan begitu gelap tak secerah kemilau pagi. Satu asbak penampung abu telah melayang di dinding hingga berhamburan di lantai membentuk mutiara tajam bisa menembus kulit. 


Di lantai seorang laki-laki tengah menahan sakit karena benturan asbak yang menyerempet kening saat dilempar brutal oleh pemiliknya. Aliran darah telah mengalir bahkan menetes di atas paha laki-laki itu, tak terdengar rintih atau pun teriak kesakitan hanya kepalan tangan untuk menghalau rasa. Tubuh tinggi itu terdiam di tempat dengan posisi menunduk dengan kedua kaki terlipat sebagai tumpuan. 


"Ini kegagalanmu yang ke berapa, Sen?" Intonasi datar dari seorang laki-laki tanpa pekikan atau makian menggema mengisi ruang. "Kau tahu aku benci kecerobohan !" Dengan kasar tangannya meraih dasi terlilit rapi di leher. "Yohan menghilang dan Regi juga kabur, bagaimana kinerja orang-orangmu ?!" Gelombak nafas yang naik turun begitu terlihat saat laki-laki itu menjatuhkan tubuh di sebuah kursi. "Situasi sudah aman saatnya bergerak lagi tapi kenapa kau lengah ?! Regi tidak tahu keberadaanya, bagaimana jika asisten sialan itu menemukannya ? Apa kau mau bertanggung jawab ?!" Terdengar pemantik dinyalakan ketika puntung candu berkampas manis di letakan ke bibir.


"Maafkan saya, tuan." Laki-laki yang tak lain  adalah Jesen itu menjawab tanpa mengangkat pandang. "Saya bersalah karena lengah dan salah memperkirakan." Lanjutnya dengan tubuh gemetar takut bercampur sakit. "Regi sudah disuntik dapat dipastikan jika dia tertangkap maka orang-orang Tyaga tidak mendapatkan apa-apa." 


"Apa kau bisa menjaminnya ?! Aku sudah pernah mengatakan padamu bunuh dia." 


"Saya memang salah tidak melenyapkannya saat kecelakaan gagal membunuh Tuan Bree. Tapi Regi sangat baik." Jesen semakin menundukan kepala. 


"Buang rasa tidak tega mu itu ! Dapatkan Regi dan Yohan kembali. Aku tidak mau lidah mereka menghancurkanku." Satu tegukan wine di dalam gelas seloki habis ditelan laki-laki itu. "Bree cukup beristirahat setelah kasus tua bangka itu saatnya kita bergerak." Api dendam begitu menyala tinggi dalam iris mata coklat laki-laki yang kini dikuasai amarah. 


"Baik tuan, saya akan mengerahkan orang-orang saya untuk mencari Regi dan Yohan." Jesen memberanikan diri menatap lawan bicaranya. 


"Bagus, bergerak secepatnya aku tidak sabar duduk diatas singgasana Tyaga Group." Tawa menggema di udara pertanda laki-laki itu senang. "Obati lukamu." 


"Baik tuan, saya pamit." Jesen membawa tubuh dengan menyeka sisa darah yang hampir mengering. Meski pandangannya buram tapi ia berusaha menguatkan diri. 


"Jangan gagal lagi karena Nenekmu ada di tanganku." 


Kalimat ancaman itu semakin mengeratkan kepalan tangan Jesen hingga buku-buku jarinya memutih. Melihat hal itu laki-laki yang mengenakan jas biru muda ini terkekeh senang. Ya, melihat seseorang yang tidak berdaya di depannya adalah hal yang paling menyenangkan untuknya. 

__ADS_1


...----------------...


Di balik meja berbingkai kaca putih pengaman mata, Bree tengah serius memeriksa progres parfum yang akan diluncurkan dalam beberapa hari. Laki-laki itu tak sendiri ada Widan dan juga Reiki bersamanya. Sekumpulan awan bergerak tipis di hembus angin mengantarkan waktu menuju siang. Namun tiga laki-laki di dalam ruangan pimpinan Tyaga Group itu masih berkutat dengan pekerjaan.


"Kak, tentukan hari peluncuran produk baru." Widan menutup berkas di depannya. Manik mata laki-laki itu mengarah pada orang yang diajak bicara.


"Baiklah tiga hari lagi jika semua sudah siap." Bree melepaskan kaca mata. Meski sedikit aneh dengan benda yang dipakai tapi laki-laki itu berusaha menutupinya.


"Semua sudah siap." Widan membawa tubuh untuk bangkit meninggalkan ruangan sang Kakak. 


"Tuan, peluncuran tiga hari lagi jadi siapkan diri anda semoga produk baru ini sukses." Reiki menyodorkan satu botol air mineral pada atasannya. 


"Pastikan keamanan dan kelancaran hari itu, aku tidak mau terjadi sesuatu. Siapkan keamanan untuk ratu Filia firasatku kurang baik." Bree menyampaikan kegelisahan yang menguasai sejak malam hari. Separuh air mineral telah membasahi kerongkongan laki-laki itu. 


"Iya, aku merasa ada hal yang akan terjadi tapi aku tidak bisa menebaknya. Jadi mulai sekarang atur penjagaan ketat." Si tuan muda membawa tubuh untuk bangkit lalu mengayun kaki ke arah kaca raksasa sebagai dinding ruang.


"Tuan, mungkin anda sedang lelah jadi secara otomatis pikiran anda ikut tidak sehat. Yakinlah semua akan baik-baik saja saya akan atur pengamanan untuk anda dan juga dokter Filia." Reiki menyusul dan berdiri sejajar dengan atasannya.


Bree mengangguk pelan, meski Reiki sudah memberikan penenangan untuknya tetap saja rasa asing yang membuat hatinya tak nyaman dengan pemikiran tanya yang  berkecambah di dalam kepala tak enyah begitu saja. 


Helaan tipis berhembus pelan seiring tubuh laki-laki itu berputar dan mendaratkan tubuh kembali di kursi kebesaran, obsidian si tuan muda tertuju pada dokumen yang tergeletak di sudut meja. 


"Bagaimana evaluasi Tyaga otomotif ?" 

__ADS_1


"Berjalan lancar dan hasilnya tetap seperti pertama saat kita belum memproduksi mobil dan melakukan uji coba. Tidak ada kesalahan pada mesin, navigasi dan juga perangkat lainnya. Jadi saya meyakini jika Regi memang menyabotasenya, kenapa saya mencurigainya karena anak itu memang menguasai dan setelah kecelakaan dia melarikan diri tanpa diselidiki." Reiki menjelaskan panjang lebar dan menyodorkan tablet yang memperlihatkan Regi masuk ke dalam ruangan tempat mobil Bree terparkir dan siap di pakai. 


"Mungkin dia merasa bersalah dan tuan nya panik lalu memintanya untuk pergi. Setelah itu dia di suntik narkoba agar terlihat seperti pecandu dengan begitu apapun pernyataannya tidak bisa dipercaya apabila Regi tertangkap. Bukan begitu, Rei ?" Bree menipiskan senyum menebak alur tentang Regi. 


Reiki mengedip-ngedipkan mata merasa terpesona saat si tuan muda bisa menebak dengan mudah. "Anda begitu pintar menebaknya, Tuan." 


"Menurut informasi Regi memiliki adik yang kini putus sekolah karena dia menjadi buronan setelah kakaknya tidak bekerja lagi." 


"Iya itu benar, sekarang pun adiknya tidak tahu keberadaannya. Menurut saya ada yang berbaik hati membiarkan Regi hidup karena gagal membunuh anda dalam kecelakaan maka dari itu dia hanya disembunyikan." Kini giliran Reiki untuk menebak. 


"Pekerjaanmu untuk mencari orang baik itu, setelah peluncuran produk ini, aku harap semua  sudah jelas dan terungkap." Bree menyandarkan tubuh dengan tatapan terlempar pada dinding kaca. "Apa itu yang melintas ?" Iris matanya membesar penuh takjub. Mood udik aktif karena melihat benda yang melintas di obsiannya. "Tapi benda itu kecil aku tidak melihat sayapnya hanya bergerak, apa itu berbahaya?" Saking takjubnya si tuan muda bergerak cepat menempel pada kaca. 


Reiki menghembus nafas berat di saat serius bicara, mood udik itu tiba-tiba aktif. "Tuan, itu pesawat."


"Pesawat ?" Atensi belum berpindah hanya fokus pada benda yang dimaksud. "Mau kemana dia ?"


"Pesawat itu mengantar penumpang ke tempat tujuan. Dia tidak memiliki sayap alami seperti burung tapi di desain dengan peralatan canggih dan modern hingga memiliki sayap dan ekor" 


"Rei, aku ingin naik itu. Ayo antarkan aku ke istana sudah lama aku tidak melihat kondisi disana."


Tubuh Reiki reflek menjadi jelly, lemas terbaring di sofa tanpa menjawab. Laki-laki itu menekan pangkal keningnya dengan memejamkan mata. "Dokter Filia kenapa anda menyatakan jika tuan sudah hampir sembuh ? Padahal penyakitnya bertambah parah." 


"Rei, kau mendengarku? Bagaimana caranya naik itu ? Aku ingin ke istana melihat keadaan disana." Memanggil sang asisten tanpa menoleh pada pemilik nama. Si tuan muda sudah berkhayal menembus waktu menggunakan pesawat. 

__ADS_1


Reiki terdiam sambil berpikir selama bangun  dari koma Bree memang belum melakukan perjalanan ke luar kota menggunakan pesawat. Pantas saja laki-laki itu belum melihat pesawat begitu asisten tampan itu menjaga kewarasannya. 


__ADS_2