
Tiga hari kemudian…
Kondisi ratu sudah membaik, racun di tubuhnya sudah dikeluarkan oleh tabib. Pemulihannya tergolong cepat hanya dalam waktu tiga hari. Selain tubuh ratu yang memang kuat, tingkat racunnya juga masih tergolong ringan.
"Yang Mulia ratu, ada utusan dari istana ibu suri." Seorang dayang masuk mengabarkan.
"Bawa dia masuk." Rona pucat masih terlihat di wajah ratu. Meski begitu kecantikannya tak berkurang sedikitpun.
"Yang Mulia ratu." Seorang dayang utusan menjatuhkan tubuhnya di hadapan ratu. "Anda diminta ibu suri untuk datang ke istana." Lanjutnya menyampaikan amanat.
"Baiklah." Ratu gegas berdiri di bantu oleh dayang pribadinya. "Mari kita ke istana ibu suri."
"Tapi yang Mulia, kondisi anda belum pulih total." Dayang Shi mengungkapkan kecemasannya. Garis wajahnya begitu khawatir.
"Aku baik-baik saja. Mungkin, ibu suri membutuhkan ku." Ratu menepuk hangat punggung tangan dayang pribadi yang mengapit lengannya.
Dengan terpaksa, Dayang Shi menemani ratu ke istana ibu suri. Rombongan itu gegas meninggalkan istana. Cuaca sedikit terik hingga ratu merasa lelah, meski racun telah keluar dari tubuhnya. Namun, raganya masih terasa lemas di saat tertentu.
"Yang mulia Ratu tiba."
Ratu melangkahkan kaki masuk ke dalam bilik di mana ibu suri berbaring. Beberapa hari kemarin wanita paruh baya itu dinyatakan sembuh, bahkan mampu menerima tamu petinggi kerajaan di kediamannya.
"Apa yang terjadi?" Ratu menggulirkan pandang dan melayangkan pertanyaan pada tabib yang tengah meracik ramuan sebagai obat.
"Ibu suri merasa pusing dan lelah hari ini. Saya sudah meracik ramuannya. Semoga ibu suri cepat pulih." Tabib memberikan mangkuk berisi ramuan yang telah diracik nya. "Yang Mulia, saya harus memetik kembali ramuan untuk diminum nanti sore." Ucap tabib usai memastikan jika ibu suri telah meminum obatnya.
Ratu mengangguk lalu menatap kembali pada ibu suri yang terpejam, tak lama dayang ibu suri pamit ke dapur kerajaan untuk memesan makanan. Dengan penuh hormat wanita itu meninggalkan ratu.
"Ibu Suri sebenarnya anda sakit apa? Akhir-akhir ini tubuh anda begitu cepat lelah." Ratu bergumam sendiri sambil memberikan pijatan ringan di lengan wanita tua itu.
"Haus." Suara lemah dan serak itu berasal dari ibu suri.
"Anda ingin minum." Ratu meraih cangkir yang menyerupai guci di atas meja. Dengan telaten ia membantu ibu suri untuk minum.
Masih menunggu dayang kembali, ratu duduk sambil menatap sayu. Tiba-tiba, ibu suri terbatuk dan memuntahkan darah. Semakin lama batuk ibu suri tak terkendali.
"Yang Mulia." Dayang Shi gegas masuk mendengar suara batuk ibu suri yang hampir tanpa jeda.
"Panggil tabib istana dan juga raja. Ibu suri muntah darah." Titah ratu begitu nyaring hingga terdengar di luar.
Dayang Shi segera menerobos keluar. Bertepatan dayang pribadi ibu suri juga masuk.
"Yang Mulia ratu." Dayang terperangah melihat ibu suri bersandar di tubuh ratu.
"Ambil wadah, cepat !" Ratu berusaha menghentikan batuk ibu suri yang semakin keras dan darah begitu banyak keluar.
"Ibu suri !" Pekik Selir Ve bersamaan dengan pangeran kedua. "Yang Mulia ratu, apa yang terjadi?" Selir Ve mengambil alih tubuh ibu suri yang melemah di pelukan ratu.
"Tadi ibu suri diberi ramuan. Tertidur sebentar dan bangun kehausan. Setelah minum, beberapa saat kemudian ibu suri batuk dan muntah darah."
__ADS_1
Mendengar penjelasan ratu, tabib gegas mengambil bekas ramuan yang diracik. Ia memeriksanya dengan teliti. "Ramuan ini aman, di mana tabib yang meracik ramuan ini?" Tanyanya kembali.
"Sedang memetik beberapa ramuan untuk nanti sore."
Tabib itu mengambil cangkir yang digunakan ratu untuk memberi air. Ia memeriksa nya lalu membuka teko guci yang masih berisi. "Air ini mengandung racun."
"APA?!"
"Yang Mulia raja."
Semua orang tersentak mendengar suara raja memasuki ruangan itu. Wajah laki-laki itu terlihat murka bercampur khawatir. Manik matanya langsung menangkap sosok tua yang lemah di pelukan selir Ve.
"Apa yang terjadi?" Tanya nya sambil mengambil alih tubuh tua sang nenek. Hatinya sakit melihat raga itu tergolek lemas dengan darah membasahi dadanya. Urat-urat iris mata raja memerah menahan tangis dan juga amarah.
Dayang pribadi ibu suri menceritakan semuanya tanpa terlewatkan, lalu di sambung oleh ratu yang menceritakan kejadian semenjak dayang itu keluar.
"Yang Mulia, air yang diberikan ratu mengandung racun." Tabib menjelaskan hasil pemeriksaannya.
Tubuh raja membeku dengan tatapan tak percaya. Darahnya meletup-letup mendidih. Sakit meremas jiwanya. Amarah melayukan bunga cinta yang bermekaran di hati. Tangan raja terkepal erat dengan rahang mengeras.
"Kenapa air itu ada racun nya ? Bisa kau jelaskan, ratu?" Intonasi datar itu mengandung kekecewaan yang mendalam hingga ke relung hatinya.
"Yang mulia, sungguh ! Saya tidak mengetahui ada racun di dalam teko itu !"
"Dayang, selain ratu siapa lagi yang ada di dalam ruangan ini selagi kamu pergi ke dapur kerajaan?" Pertanyaan itu dilayangkan kepada dayang pribadi ibu suri, namun netra raja tak beralih dari wajah cantik ratu nya.
"Mohon ampun yang mulia, hanya ratu sendiri."
"Yang Mulia, saya benar-benar tidak tahu." Ratu membela diri. Tubuhnya lemas, ketangkasannya selama ini sirna seiring tatapan penuh tuduhan tersorot untuknya. Lidahnya kelu melakukan pembelaan panjang lebar pada dirinya sendiri.
Di saat suasana menegang, ibu suri kembali batuk dan kali ini ia memuntahkan darah yang banyak berwarna kebiruan hitam. Setelah itu kelopak matanya yang memang tertutup semakin rapat menutup, cahaya tubuhnya berubah agak kebiruan.
"Yang Mulia raja, racun nya telah menyebar. Dan ibu suri sudah tiada."
Bak hantam palu memukul kuat kepala raja. Perangkat lunak dalam tempurung kepala itu tiba-tiba kusut mendengar kabar dari tabib yang memeriksa kondisi ibu suri. Dadanya kian menyesak seolah sebuah tangan kasat mata menarik paksa paru-parunya.
"Yang Mulia raja, anda mendengarkan tabib?" Selir Ve angkat bicara dengan derai air mata kesedihan. "Ibu Suri telah tiada."
"PENGAWAL TA, BAWA RATU KE PENJARA. SEBELUM ADA PEMBUKTIAN JIKA RATU TIDAK BERSALAH JANGAN MENGELUARKANNYA DENGAN ALASAN APAPUN !"
Titah itu mutlak dari bibir raja tanpa melihat pada ratunya. Pengawal Ta gegas bersiap menggiring ratu untuk keluar dari ruangan itu.
"Yang Mulia anda menuduh saya ?!" Ratu merasa dihujani banyaknya anak panah beracun. Tubuhnya yang baru pulih seketika terasa lumpuh.
"Tuduhan itu tidak sembarangan, hanya ada kau disini. Jadi siapa yang meracuni ibu suri kalau bukan dirimu. Atau ini bagian dari rencana mu datang ke istana ini ?!" Tuduhan keji itu lahir di bibir raja. Dalam hatinya diliputi rasa sesal karena percaya pada ratunya. Tak hanya percaya namun cintanya juga tutur dipersalahkan. "TUNGGU APA LAGI ? SERET WANITA ITU !"
Kristal bening yang rapuh pecah di sudut mata ratu. Tangannya terkepal erat penuh kesakitan yang tidak dapat ia ungkapkan. Namun, tekad di hatinya akan membuktikan diri yang tidak bersalah sangat kuat. Tak ingin bertambah kacau, Ratu mengikuti pengawal yang menggiringnya. Meski sakit itu terus menelan hatinya namun ratu berkeyakinan raja hanya marah saat ini.
"Yang Mulia ratu "
__ADS_1
Tangis para dayang ratu bersahut- sahutan menggiring wanita itu. Sedikit pun mereka tidak membela karena memang tidak melihat kejadian itu di depan mata.
Di ruang kediaman ibu suri, raja menangis tersedu-sedu. Rentetan sifat buruknya selama ini terkuak ke permukaan. Sesal pun kian menenggelamkannya ke lembah terdalam. Belum sempat ia memecahkan misteri kematian mendiang raja, kini ibu suri juga ikut meninggalkannya. Sekarang hatinya berkeyakinan kematian mendiang raja yang tidak lain adalah ayahnya, berkaitan dengan kematian ibu suri hari ini. Dan dari orang yang sama yaitu ratu dan kerabat kerajaannya. Opini berdampingan dengan curiga, membaur di dalam hati dan otaknya. Jika ratu sengaja menyusup ke dalam istananya.
"Geledah istana ratu !"
Para menteri kehakiman gegas melaksanakan tugas. Sementara yang lain bersiap mengurus kematian ibu suri. Kerabat istana berduka cita begitupun para rakyatnya.
...----------------...
Raja bersandar di dinding ruangan istana ibu suri. Hari-hari yang ia lalui bersama ratu sangat membuatnya menyesal.
"Yang Mulia." Seorang pengawal bersimpuh di hadapan raja yang tengah meratapi kematian ibu suri.
"Apa yang kalian temui?" Suara raja masih terdengar serak dan juga sengau. Meski air mata tidak lagi memberikan jejak di pipinya.
"Kami menemukan botol ini di kediaman ratu "
Tangan raja bergetar hebat menerima botol itu, yang ia yakini botol racun. Padahal dalam hati kecilnya berharap tuduhan itu tidak benar pada ratunya. Kebencian berkobar di manik mata raja, ia merasa telah ditipu. Tangannya terkepal erat menggenggam botol kecil di tangannya.
"Buat ratu mengakui kesalahannya." Segenap kebencian ia kerahkan untuk memutuskan perintah. Tidak ada lagi cinta yang tersisa.
"Yang Mulia, jangan menjatuhkan titah merugikan anda. Perintahkan hakim untuk menyelidikinya." Pangeran Nev bersuara setelah menguasai rasa sedih dan kehilangannya.
"Pangeran Nev, keputusan ini berdasarkan bukti. Ratu terbukti meracuni ibu suri." Tegas raja dingin tanpa melihat ke adik laki-laki nya itu.
"Saya harap anda memikirkan nya lagi." Pangeran Nev meninggalkan tempat itu.
"Yang mulia, maafkan saya karena meninggalkan ibu suri." Seorang tabib yang memetik ramuan menjatuhkan diri penuh sesal di hadapan raja.
"Bukan salahmu, hanya saja ratu memang pandai memanfaatkan situasi." Raja memutar tubuhnya untuk segera memberikan penghormatan terakhir pada ibu suri.
...----------------...
Di penjara, ratu tidak lagi mengeluarkan air mata. Otaknya kembali berpikir, siapa yang meracuni ibu suri ? Tak lupa pula ia mengutuk kebodohannya, karena terlena akan cintanya pada raja hingga menunda hal penting menguak kematian mendiang raja.
Ratu menghela nafas, tak ada seorang pun yang bisa ia minta bantuan untuk mencari tahu di luar sana. Sementara dirinya terjebak di ruangan gelap itu. Bahkan, dayang pribadinya pun ikut dikurung karena dituduh mendukung ratu.
"Yang mulia ratu"
"Pangeran Nev !"
Pangeran kedua tersenyum, hatinya iba melihat kondisi ratu yang menyedihkan. Baru saja pulih dari sakit kini harus di kurung.
"Yang mulia ratu, saya akan mencari tahu siapa yang menuang racun di dalam teko air ibu suri. Hati saya tidak meyakini jika anda melakukan ini."
"Terimakasih pangeran Nev, aku percaya pada mu. Tidak ada orang yang bisa membantuku saat ini, sekalipun itu raja." Ratu menaruh harap begitu besar pada laki-laki di hadapannya ini.
"Sebentar lagi, ibu suri akan di kremasi. Mungkin saya tidak akan datang nanti malam. Jaga diri anda baik-baik." Pangeran Nev meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Ratu menatap punggung pangeran kedua yang menghilang di balik tembok. Hatinya berkecamuk, berusaha berontak dan menjelaskan pada penjaga. Namun sayang, status ratu nya tidak berguna dalam keadaan seperti itu.