
Matahari masih malu-malu menampakan diri namun empat anak manusia di dalam Mansion Cyrus Daniyal sudah bersiap untuk pergi ke tempat bekerja masing-masing. Xavier, Irene dan Luna memutuskan untuk menginap disana tadi malam saat berkunjung. Kini mereka sudah duduk di meja makan untuk sarapan.
"Terimakasih Bibi Mei." Irene bersuara setelah hidangan terakhir di taruh di atas meja.
"Ayo sarapan." Filia mengambil beberapa lembar roti lalu mengoles selainya.
"Semoga kalian bisa menemukan petunjuk hari ini. Sebenarnya semua sudah terlanjur basah dan tidak bisa diperbaiki, memang benar jika tuan Bree dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tapi dengan adanya laporan yang menyatakan jika dirinya belum sembuh maka posisi tuan Bree akan diturunkan dan diganti pada pemilik saham lain." Terang Luna sebelum memulai sarapannya.
"Itulah aku mendesak kalian menemukan rekaman cctv di depan ruangan Filia. Biar kita tahu siapa yang membuat laporan itu dan laporan yang dari Filia bisa menyelamatkan posisi tuan Bree." Sambung Irene menatap Xavier dan Filia bergantian.
"Kondisi ini sedikit rumit." Xavier memulai sarapan. Laki-laki itu bingung harus memulai dari mana.
"Hari ini Kaili dan timnya akan membuktikan keabsahan surat laporan itu. Setelahnya akan diadakan rapat. Para karyawan yang kemarin berdemo menolak jika Bree masih memimpin dengan kondisi mental yang terganggu." Irene menyudahi sarapan dan menyeka mulutnya menggunakan tissue.
"Aku selesai." Luna ikut menyudahi sarapan. Gadis itu terlihat bertambah cantik mengenakan pakaian kerja milik Filia.
"Kami berangkat, apapun yang kalian temui nanti cepat hubungi aku. Kalau bisa sebelum jam makan siang. Karena Kaili dan timnya akan datang selepas itu." Irene menyampirkan tali tas di bahu lalu memutar tubuh membawa langkah meninggalkan tempat.
Waktu semakin menjejal diri, Filia dan Xavier memutuskan untuk berangkat. Di perjalanan keduanya membisu tenggelam dalam laut pikir yang memenuhi perangkat lunak. Walau demikian tak membuang fokus pria berwajah teduh itu untuk berkendara.
Roda empat itu berhenti di halaman rumah sakit, Xavier memarkirkan dengan benar kendaraan miliknya. Kemudian menoleh ke sisi tepat pada sang pujaan hati yang duduk sambil termenung.
"Kamu tidak mau turun?"
"Ah, maaf." Filia tersentak merasakan pergelangannya di sentuh. Gadis itu memindai wajah laki-laki yang kini menatapnya lembut. "Ada apa?" Tanyanya dengan intonasi rendah.
"Apa yang kamu pikirkan?" Xavier membalas dengan sebuah pertanyaan.
"Aku tidak apa-apa." Filia membuang pandang seiring helaan nafasnya.
Xavier tersenyum sangat tipis. "Baiklah, ayo turun."
Dua dokter jiwa itu melangkah masuk ke dalam gedung. Tujuan mereka adalah ke ruangan pengawas keamanan. Pagi ini mereka mencari tahu siapa yang masuk ke dalam ruangan Filia setelah dirinya pulang.
"Ada yang bisa saya bantu?" Seorang petugas datang menghampiri. Pria paruh baya itu gegas bangkit dari tempatnya duduk.
"Saya butuh rekaman Cctv beberapa waktu lalu." Filia menyebutkan tanggal pembuatan laporan kesehatan Bree.
Petugas itu mengangguk lalu mencari rekaman yang dimaksud. Ia memutar ulang hingga Filia meninggalkan ruangan.
__ADS_1
"Apa ini benar rekaman waktu itu ?" Xavier melihat ragu tayangan di depannya. Di sana tidak ada mencurigakan selain petugas kebersihan.
"Benar dokter."
"Petugas itu, bisakah diperbesar bagian wajahnya ?" Filia terfokus pada wajah yang terlihat sekilas di kamera.
"Baik." Petugas itu memutar ulang bagian petugas kebersihan yang masuk. Ia memperbesar gambarnya setelah di pause.
"Vier, petugas itu baru ?"
"Sepertinya iya, mari kita cek bagian kebersihan. Terimakasih." Laki-laki itu gegas menarik pergelangan Filia.
"Kamu mencurigai sesuatu ?"
"Petugas itu mencurigakan." Langkah Xavier semakin lebar dan masuk ke ruang informasi kebersihan.
"Ada yang bisa kami bantu dokter Xavier ?" Petugas wanita berdiri menyambut dan bertanya.
"Apa petugas kebersihan bertambah satu orang ?" Xavier langsung bertanya dengan tubuh tegak di depan meja kepala petugas kebersihan itu.
"Tidak ada."
"Itu." Wanita paruh baya yang mengenakan kemeja lengan pendek dan rok span sebagai bawahannya itu gegas berdiri menunjuk papan putih yang tertempel data-data petugas kebersihan sesuai dengan pekerjaan mereka.
Xavier melirik Filia sekilas lalu melangkah ke arah papan yang ditunjuk. Laki-laki itu berusaha mengingat wajah yang terekam kamera cctv.
"Vier, apa perasaanku saja atau memang benar dugaanku jika orang itu adalah penyusup." Filia bersuara setelah lama membungkam.
"Sepertinya kecurigaanmu benar, karena wajah orang itu tidak ada disini. Aku harus memberitahu Eros."
"Jangan !" Filia menahan pergerakan tangan Xavier. "Apapun yang akan dibuktikan semuanya tidak berkaitan dengan kita lagi. Itu urusan mereka."
"Tapi Fil, setidaknya ini bisa mempertahankan posisi Bree." Xavier sedikit tak percaya Filia menghentikannya.
"Kenyataan apa yang ingin di tutupi ? Laporan yang aku beri tidak berpengaruh apapun, Tuan Bree memang sakit. Laporan yang aku buat hanya untuk mencegahnya untuk menemuiku lagi. Aku tidak siap terseret masalah bersamanya lagi, Vier. Tolong pahami aku. Mungkin waktu itu aku impulsif nyata nya aku tidak setangguh apa yang aku pikirkan."
Xavier mengepal tangan di dalam saku celana. Semua jauh dari pikir dan dugaannya, terlalu abu-abu untuk memahami seorang Filia Aruna meski kebersamaan mereka tergolong lama. Faktanya, laki-laki itu tak mengenali sosok Filia sesungguhnya.
...----------------...
__ADS_1
Seperti hari-hari sebelumnya, Bree berkutat dengan tumpukan pekerjaan di atas meja. Laki-laki berkulit bersih itu fokus pada benda di tangan untuk mengesahkan beberapa dokumen. Bree bersikap biasa tanpa peduli dengan singgasana yang mulai goyang. Di otaknya hanya ada kalimat 'selesaikan dengan cepat pergi tanpa meninggalkan masalah'
"Tuan saatnya makan siang." Reiki masuk setelah mengetuk daun pintu.
"Pesan dan makan disini saja." Tanpa mengalihkan atensi Bree memberi titah.
"Anda butuh udara segar, bagaimana kalau kita makan di tempat biasa." Tanpa bosan Reiki menawarkan agar sang atasan bisa kembali seperti dulu bersantai bersama. "Anda bisa menyelesaikan itu nanti." Tambahnya dengan langkah menghampiri.
"Waktuku mepet, Rei. Sebelum ulang tahun ratu Filia semua sudah selesai. Aku juga sudah menyiapkan beberapa berkas resmi yang sudah ditandatangani. Apapun yang terjadi, aku percaya padamu."
Reiki mengepalkan tangan. Lagi, kalimat bermakna perpisahan itu mengoyak perasaannya. Bukan ini yang diinginkannya, meskipun Bree suatu hari nanti turun dari singgasana itu. Ia akan tetap mendampingi dalam kondisi apapun.
"Tuan, makan siang anda sudah datang." Irene yang selalu memiliki inisiatif tinggi tanpa menunggu perintah sudah memesan makanan. Gadis itu masuk lalu mengatur makan siang. "Silahkan."
"Terimakasih, Ren. Kamu dan Luna juga makan." Bree mendongak wajah untuk melihat sekretaris utama itu.
"Iya." Iris mata gadis itu sangat sendu apa lagi kehadiran Kaili di kantor itu sangat membuatnya cemas. Di tambah tidak ada kabar apapun dari Filia maupun Xavier.
Bree bangkit dari kursi lalu berpindah ke sofa. Tak lama Reiki menyusul sambil meletakan dua botol air mineral di atas meja. Tanpa bicara lagi mereka menikmati makan siang itu. Akhir-akhir ini, Bree memaksakan diri untuk makan. Meski rasa tak nyaman mulai menyerang tubuh laki-laki itu. Semakin hari ia merasakan tubuhnya lemas, tak ingin membuat semua orang khawatir dengan kondisinya Bree menyembunyikan itu.
"Maaf mengganggu waktu makan siang anda, saya ingin memberitahu kalau para k0misaris sudah datang. Pengacara Kaili juga sudah tiba setengah jam lalu." Luna terpaksa mengetuk pintu lebar pimpinannya.
"Suruh mereka menunggu di ruangan sebelumnya." Bree menanggapi dengan ulasan senyum.
Reiki meletakkan piring, selera makan laki-laki itu sirna dalam sekejap. Ia tahu kedatangan orang-orang itu adalah membahas kebasahan laporan yang beredar.
"Anda tidak apa-apa?"
"Hm, mari kita temui mereka." Bree membenarkan letak dasi dan jasnya lalu mengayun langkah keluar.
Benar saja, di ruangan meeting semua orang sudah menunggu. Bree tak terlihat takut ataupun gugup, seolah yang akan dihadapinya kali ini adalah hal biasa. Sementara Reiki sudah tak bisa menggambarkan perasaan begitu pun Luna dan Irene kedua sekretaris cantik itu sudah berkeringat dingin.
"Tuan Bree, menurut hasil yang didapat oleh Pengacara Kaili. Laporan yang beredar itu asli. Jadi dengan berat hati kami memutuskan untuk menurunkan anda dari posisi saat ini. Kami tahu saham terbesar milik anda tapi menilik dari kesehatan anda saat ini. Sangat tidak mungkin untuk memimpin. Jadi tiga hari lagi kita adakan pemilihan untuk menggantikan jabatan anda. Kami sudah memiliki nama beberapa kandidat yang bisa jadi pemimpin perusahaan ini."
Refleks, Reiki dan Irene serta Luna menunduk. Luruh sudah perasaan mereka ketika keputusan telah ditetapkan. Segenggam kecewa membukus hati mereka karena hingga detik ini tidak ada kabar dari Filia atau pun Xavier.
"Saya mengerti." Sahutan pendek itu datang dari Bree yang bersandar santai di kursi.
"Setelah mendapatkan pengganti anda maka saat itu lah jabatan resmi di lepaskan."
__ADS_1
Bree hanya mengangguk, garis wajah itu tidak terbaca. Meski semua tatap iba mengarah padanya.