Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Saksi hidup


__ADS_3

Bree gegas bangkit dari kursi kebesarannya, setelah mendapat telepon dari Filia. Cemas pun menyerang hati kala suara sang ratu mengambang di udara. Daksa tegap itu berayun gagah menuju pintu lobby, tak luput pula decakan kagum para pegawai baru yang bisa melihat langsung seorang Bree Tyaga mengisi rungu. 


"Kak Bree mau kemana ? Aku ikut." Lengkingan suara Lisa tak mampu menghentikan ayunan kaki Bree. 


Gadis itu bergumam kesal namun juga tersenyum melihat pandangan para karyawan baru padanya, bisa dipastikan ada tanya hubungan apa antara dirinya dan Bree. 


"Nona, jaga sikap anda jika tidak ingin berhenti dari sini." Reiki menghentikan langkah gadis itu. Kesal menyeruak saat Lisa tanpa malu mengekor


"Hei Asisten bodoh ! Aku calon nyonya Bree dan papaku salah satu pemegang saham disini, jadi tidak ada yang bisa memecatku !" 


Reiki tersenyum miring. "Silahkan bermimpi di siang bolong ini. Siapa tahu besok anda tidak bisa bermimpi lagi." Ujarnya mematikan tatapan lawan.


"Rei, abaikan gadis itu. Ratuku sudah menunggu." Bree memutar tubuh setelah sadar asistennya berada jauh di belakang. 


"Kau dengar !" Reiki gegas menyusul meninggalkan Lisa yang menatap penuh benci ke arahnya.


Bree meremas jari-jarinya berulang kali, nafas panjang terhembus tak terhitung. Telepon Filia yang datang membangkit rasa cemas begitu besar. Meski yang disampaikan tentang kondisi Axel. 


"Rei, apa sebenarnya terjadi ? Kenapa dengan Axel ? Tapi aku tidak terlalu cemas padanya, aku cemas pada ratuku. Tadi suaranya begitu panik." 


"Saya juga belum tahu tuan, nanti kita lihat sama-sama. Anda benar pasti dokter Filia sangat cemas terkait kondisi dokter Axel." Reiki menjawab sambil fokus mengemudi.


"Jangan membayangi wajah ratuku, Rei. Dia menggemaskan saat panik. Seperti itulah dulu dia sering mencemaskan ku." Bree memberikan tendangan pelan pada jok kemudi. 


Reiki hanya dia dan tersenyum, ingin menjawab namun malas ikut dalam kegilaan si tuan muda. Biarlah gila sendiri asal jangan mengajaknya.


Berkendara cukup lama di bawah naungan langit yang terik, mobil Bree tiba di halaman rumah sakit jiwa. Pantulan matahari menyilaukan mata ketika tatapan terbidik di badan mobil. Tak jauh di pintu masuk, Filia menunggu dengan cemas terlihat dari jari yang bergenggam kuat. Otak cerdasnya tak bisa bekerja ketika melihat Axel memilih diam menunggu Bree.


"Ratu Filia." 


"Tuan." Gadis itu tersentak menerima pelukan tiba-tiba. Belitan kokoh di tubuh membuat nafasnya sedikit sesak. Tak menolak karena terasa hangat dan nyaman, terlebih aroma maskulin yang menguar membawa ketenangan.


"Apa yang terjadi ?" Reiki bertanya mengabaikan si tuan muda meluapkan rasa yang tengah membelenggu.


"Mari ikut, aku tidak bisa menjelaskannya disini." Filia menjawab sambil mendorong sedikit tubuh yang betah memeluk.


"Tuan, mari kita masuk. Nanti lagi melanjutkan pelukannya." Ucapan frontal Reikit membuat cetakan rona merah di pipi Filia. 


"Ratu, wajahmu merah." Bree gemas untuk menoel pipi mulus itu. "Mari masuk." Sambungnya menarik tangan sang ratu.

__ADS_1


Filia mengayun kaki tanpa melihat ke arah depan, obsidian hitam pekat itu hanya melirik ke samping terpaku pada paras berahang tegas yang kini menggenggam erat jemarinya. Ada perasaan hangat mengalir dari jari-jari besar itu, menghantarkan getaran yang tidak asing ke dalam bilik sumber nyawa. 


Degupan bertalu bersambut riang atas hantaran debar yang tiba-tiba hadir, tidak mau kalah semburat merah pun ikut unjuk diri pertanda malu dan juga menghangat.


"Bree." Axel gegas berdiri saat netranya menangkap sosok si tuan muda. Pria itu masih dalam keadaan terkejut. 


"Kamu kenapa ? Ratu  Filia menelpon dengan panik." Selidik Bree dengan seksama." Apa ada yang menyakitimu ? Atau pasien disini menyerangmu tiba-tiba." Cecarnya lagi dengan pertanyaan. 


"Bree, aku mohon siapkan hatimu. Yang akan aku tunjukan bisa menjadi tanda tanya besar atau juga petunjuk untukmu atas kematian paman dan bibi." 


"A—apa ? Si—siapa maksudmu ?" Bree merasakan gugup luar biasa, kematian kedua orang tuanya yang dianggap tidak wajar sedikit memberi efek buruk padanya.


"Mari." Axel tidak menjelaskan panjang lebar lagi. Ia gegas menarik tangan Bree. "Di dalam sana ada sepasang suami istri yang kita kira selama ini meninggal dalam kecelakaan hebat bersama Ayah dan Ibuku." 


Pintu terbuka, Bree bisa melihat pasangan suami istri yang di maksud Axel. Putra mahkota itu merasa lemas beriringan dengan tubuh yang gemetar hebat. Obsidiannya memproduksi kaca-kaca kristal yang sebentar lagi akan pecah. 


"Bibi Chen, Paman Gio." Reiki bergumam halus di tengah keterkejutannya. Tak menyangka orang yang dikira telah tiada kini berada di tempat yang tidak terpikirkan.


"Pa—paman, Bi—bibi." Luruh kristal bening di sudut mata seorang Bree Tyaga Adrian. Kaki yang semula terpaku perlahan terangkat dan melangkah.


Sementara sepasang suami istri yang menjadi objek keterkejutan hanya menatap dalam diam tanpa ekspresi. 


Seketika sepasang suami istri itu meronta, terlihat dari binar mata yang ketakutan. Axel menahan langkah lalu menggulir pandang pada Filia. 


"Kalian mengenal mereka?" Suara Xavier mengalihkan atensi. Pria itu menatap satu persatu wajah yang ada di dalam ruangan. "Tuan Bree, anda kenapa?" 


"Xavier, mereka mengenal sepasang suami istri ini. Tapi aku belum tahu hubungan mereka apa ?" Sahut Filia dalam kebingungan. Gadis itu hanya fokus melihat reaksi yang ditampilkan oleh Bree.


"Mereka sepasang suami istri, Bibi Chen adalah kepala Mansion keluarga Tuan Adrian dan Paman Gio adalah sopir pribadi tuan besar." Reiki menjelaskan sedikit.


"Dokter Filia, siapa yang menjadi wali mereka disini?" Axel bersuara sambil berusaha mendekat. Banyak pertanyaan di dalam benak laki-laki itu.


"Mereka sudah empat tahun disini, tapi menjadi pasienku baru dua tahun. Dua tahun sebelumnya mereka menjadi pasien dokter Lingga, tapi beliau sudah wafat dan dialihkan padaku. Untuk wali tidak ada, dari cerita yang aku dengar mereka ditemukan tidak sadarkan diri di pinggir jalan halaman rumah sakit dalam keadaan mengenaskan." 


"Jadi siapa yang dimakamkan bersama kedua orang tua ku ?" Axel mundur selangkah dengan pertahanan yang runtuh. 


"Sebenarnya apa yang terjadi ?" Xavier penasaran dan ingin tahu lebih banyak. 


"Aku tidak tahu pasti ceritanya seperti apa, waktu itu Bibi Chen dan Paman Gio ditemukan satu mobil bersama dokter Deon dan juga istrinya dokter Emilsa. Mereka adalah orang tua dokter Axel. Mobil yang mereka tumpangi jatuh ke jurang. Saat itu mayat mereka sudah tidak bisa dikenali karena ledakan mobil. Tapi sebagian barang yang terbanting saat terjadi kecelakaan sebelum mobil jatuh terdapat tas milik Bibi Chen dan Paman Gio." Lagi, Reiki menjelaskan karena bungkamnya si tuan muda dan Axel. 

__ADS_1


"Huhh." Xavier menghembus nafas kasar, lirikannya jatuh pada Filia dan juga Bree. "Kenapa hal seperti ini terjadi lagi?" Sambungnya pelan.


"Paman, bibi. Apa kalian mengenali kami ?" Reiki mendekat dengan hati-hati. Sepasang suami istri itu refleks mundur dengan wajah ketakutan. "Bibi, aku reiki." Ucapnya tersenyum hangat.


"Tuan, Nyonya. Kalian mengenal mereka ?" Filia tersenyum lalu menarik tangan Bree dan juga Axel. "Ini, kalian mengingat mereka?"


Bibi Chen dan juga paman Gio hanya diam sambil memberontak, ada aliran air tipis di sudut mata mereka. Di sana sangat nyata ketakutan yang luar biasa. 


"Bibi Chen, aku Bree."  Laki - laki itu melangkah lebar dan memeluk erat tubuh Bibi Chen yang kurus. "Bibi harus mengingatku, aku Bree." Sambungnya dengan tangis yang tidak bisa ditahan. Lengan satunya merangkul pundak paman Gio, ia tak memperdulikan rontaan keduanya. "Paman, sadarlah ! Aku Bree." 


"Tuan, jangan memaksakan mereka." Filia menyentuh pundak Bree dengan lembut. "Mereka semakin ketakutan, aku berjanji akan membantu mereka semampuku."


"Ratu, sembuhkan mereka. Datangkan tabib dari negeri manapun." Perasaan sedih itu mengalir begitu saja dalam jiwa Bree Tyaga Adria. Hati dan memori yang telah disatukan membuatnya  merasakan sakit yang tidak orang lain ketahui. 


Xavier menahan tawa, di saat seperti ini Bree masih saja mengingat zaman kuno. Meskipun ada tabib tapi hanya ada di beberapa tempat. 


"Tuan, kita sepertinya harus memindahkan bibi Chen dan juga paman Gio ke tempat lebih aman. Saya curiga adanya konspirasi di sini, kematian tuan dan nyonya lalu kematian kedua orang tua dokter Axel saling berkaitan." Usul Reiki yang masih merasa waras. 


"Kamu benar, Rei. Papa dan mama tidak mungkin bunuh diri dengan sengaja. Tidak ada masalah serius dalam perusahaan saat itu kecuali kabarku yang dinyatakan hilang saat berburu." 


"Iya, saat itu kita pergi berburu. Dan pulang sudah menemukan mereka semua menjadi mayat." Axel mengepalkan tangannya setelah memahami sedikit misteri kematian orang tuanya. 


"Sekarang apa rencana anda, tuan ?" Xavier memberi kode pada Filia untuk menggiring yang lainnya keluar.


"Aku akan mengirim mereka ke tempat lain, dan ratu Filia masih bisa menjangkau keberadaan mereka." Bree menatap dalam iris mata gadis itu.


"Dimana, Tuan ?" 


"Mansion lama." 


"Jangan Bree, Mansion itu masih sesekali dijenguk keluarga besarmu. Mereka juga kadang menginap di sana." Axel tidak setuju. 


"Mansion itu kosong dokter Axel, keluarga tuan Bree tidak lagi kesana setelah tuan muda memutuskan pindah. Jadi saya pikir tempat itu aman karena mereka tidak menyangka ada orang tinggal di sana." Timpal Reiki menyetujui usul Bree.


"Kalau memang aman, baiklah." Axel mengalah. 


"Kita lanjutkan pemeriksaan, mereka sudah tenang dan tidur." Xavier membuka pintu ruangan menyahut pembicaraan.


"Mari dokter Axel." Filia mempersilahkan. 

__ADS_1


__ADS_2