Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Penyamaran Ratu


__ADS_3

Derap langkah menghampiri sosok asing yang berpakaian serba hitam, ia tersentak mendapati beberapa orang pengawal ke arahnya. Tak ingin membuat keributan, ia pun memacu kudanya menjauhi tempat itu. Dibenaknya sudah tahu dalang tidak sampainya gandum dan bubuk mesiu pesanan.


"Berhenti, siapa kamu ?!" 


Akibat lengah mencerna hasil penglihatannya, kuda yang ditunggangi sosok berpakaian serba hitam itu terkejar. 


"Menjauh dariku!" Titah tegas itu berciri khas meski wajahnya tertutup cadar hitam. Iris mata indahnya sangat mudah diingat jika memang mengenalnya sangat baik.


"Yang mulia Ratu." Mata pengawal Ta terbelalak, sosok berpakaian hitam itu adalah ratu mereka. Seluruh pengawal menjatuhkan dirinya bersimpuh hormat. "Lindungi Ratu !" Titahnya kembali setelah prajurit unggulannya berdiri.


"Jangan katakan apapun pada Raja." 


"Baik yang mulia ratu, jadi untuk apa anda malam-malam menyelinap keluar?" Selidik pengawal Ta dengan tatap penuh curiga. 


"Kau mencurigaiku?" Senyum sinis tak biasa seolah nyata terlihat di balik cadar hitam dikenakan Ratu. 


"Ampun yang mulia, bukan begitu maksud saya. Kami sedang bertugas menyelidiki pengiriman barang malam ini." Jelas pengawal Ta dengan cepat. Sesal terselip dalam hatinya sudah menaruh curiga. "Hukum saya, yang mulia." Sambungnya penuh sesal. Diikuti oleh prajurit bawaannya. Jika kemarin ia masih bertugas jadi pengawal putra mahkota masih bersikap santai, maka sekarang ia adalah pengawal raja. 


"Aku akan menghukum kalian, jadi apa yang kalian lihat malam ini tentangku jangan mengatakan apapun ! Ini perintah !"


"Baik, yang mulia." 


"Dua bulan ini terjadi konspirasi, kerajaan kita tidak mendapatkan kiriman bubuk mesiu. Dan juga kerajaan tetangga tidak mendapatkan kiriman gandum dari kita. Sementara laporan di buku perdagangan ada." Jelas Ratu.


"Ini yang sedang kami selidiki yang mulia, menteri kehakiman pun juga mencari akar permasalahan ini." 


"Kalian sudah melihat di sana ada menteri perdagangan Shu dan juga menteri kemiliteran An. Mereka melakukan konspirasi, untuk bubuk mesiu dan juga gandum. Aku mencium adanya aroma pemberontakan, sewaktu-waktu mereka akan menyerang kerajaan dengan para kelompoknya. Dalam artian mereka menolak penobatan Raja, karena masih berharap ibu suri yang memegang tampuk pemerintahan. Dengan begitu mereka bisa menjadikannya boneka dan tahta akan jatuh ke tangan salah satunya karena masih kerabat ibu suri." 

__ADS_1


Penjelasan Ratu membuka pemikiran pengawal Raja. Kini laki-laki itu paham kenapa, dua orang itu sangat menentang penobatan putra mahkota. 


"Saya mengerti ratu, sebaiknya kita kembali ke istana. Dan besok saya pastikan ada berita baru." 


"Baiklah." 


Ratu memacu kudanya kembali, hanya menyisakan debunya. Sekali lagi pengawal putra mahkota takjub dengan kecerdasan sang ratu. 


...----------------...


Gerimis tiba-tiba turun, padahal langit tak begitu mendung, entah kenapa semesta bermuram. Tak seelok hari kemarin. Di istananya raja telah mendapati laporan hasil penyelidikan pengawalnya, minus kehadiran ratu saat itu. 


Seringai jahat tertarik di sudut bibir raja, di tempurung kepalanya sudah tertulis apa yang harus ia lakukan. Sejak lama, dua orang menterinya nampak mencurigakan hanya saja ia tak terpikirkan untuk sebuah konspirasi. 


"Bukti semua sudah dikumpulkan." 


"Untuk saksi kita hadirkan besok, hari ini eksekusi mereka, geledah kediamannya." Titah raja sembari menghirup teh bunga di gelasnya. Tiba-tiba rindu menyergap hatinya karena tak menghabiskan waktu bersama ratu di malam hari. "Dimana Ratuku ?"


"Yang mulia Ratu ada di istananya. Hari ini ada kegiatan di luar istana, mereka akan menyambangi pasar-pasar." 


"Aku akan mendampinginya, siapkan penyamaran kami." Senyum lebar melengkung indah di bibir Raja, rasanya tak sabar menghabiskan waktu jalan-jalan di luar di istana. Membelikan sesuatu untuk ratunya itu.


Sementara pengawal Ta gegas membawa kakinya meninggalkan istana raja, laki-laki berparas tampan itu penuh kharisma menuju kantor kehakiman. Ia menyampaikan amanat raja untuk menggeledah kediaman menteri perdagangan dan juga kemiliteran.  


Sesuai dengan yang diinginkan semua berjalan lancar, kini hakim dan orang - orangnya menuju kediamanan menteri yang jadi terdakwah. Berbekal satu lembar surat seorang pengawal memerintahkan prajurit untuk menggeledah kediaman dua menteri itu.


"Lancang, kenapa kalian menggeledah tempat tinggal ku?" Menteri perdagangan Shu berusaha menghalangi para prajurit masuk. 

__ADS_1


"Kami membawa surat resmi dari kehakiman." Seorang pengawal menunjukkannya kepada laki - laki paruh baya itu.


"Keterlaluan ! Tidak perlu menggeledah kediamanku, kecurigaan apa yang kalian temui hingga lancang seperti ini?" 


"Bawa dia ke halaman pengadilan, geledah tempat ini sesuai perintah raja." Seorang hakim bersuara lantang dari arah belakang prajuritnya. 


Menteri perdagangan Shu memberontak tak terima rumahnya digeledah, ia juga meronta dari genggaman para prajurit yang menyeretnya ke halaman pengadilan. Tak hanya dirinya, hal ini berlaku pula pada menteri militer An.


Tiba di halaman pengadilan, mata menteri perdagangan Shu terbelalak melihat menteri militer An duduk di kursi yang telah disediakan. Mereka saling tatap seolah bicara dengan bahasa isyarat. 


Tak lama ayunan langkah terdengar mendekat, semua mata mengarah ke pintu gerbang menunggu sosok yang akan datang.


"Yang Mulia raja tiba." 


Seruan itu memberi perintah kepada orang-orang yang hadir disana untuk menyambut raja mereka. Ya, dia adalah raja datang didampingi pengawal setianya. Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di kursi yang berhadapan langsung dengan tersangka kejahatan. 


"Yang Mulia." Sapa dua orang menteri itu, wajah mereka memberikan rasa iba jika melihat garis-garis yang mulai menua. 


"Satu minggu sebelum penobatan ku, selembar surat datang ke tempat ini dari kerajaan tetangga. Mengadu jika mereka tidak lagi mendapatkan pasokan gandum di sana, begitu juga bagian gudang persenjataan, melaporkan bubuk mesiu tidak sampai ke kerajaan ini. Sebagai menteri perdagangan dan militer, kalian berdua pasti tahu tentang masalah itu." 


"Ampun yang mulia, saya bekerja dibawah perintah ibu suri, selama ini kami mengirim barangnya sesuai waktu yang dijanjikan." Menteri perdagangan Shu membela diri.


"Lalu bubuk mesiu yang tidak kita terima, kemana larinya?" Pertanyaan itu raja lontarkan pada menteri militer An


"Yang mulia, di dalam buku besar sudah tercatat jika gudang senjata menerimanya. Dan kemana barangnya sungguh saya tidak tahu." 


Raja terdiam. Ya, benar yang dikatakan para menteri. Mereka memang mencatatnya di buku besar, lalu kemana barangnya? Tiba-tiba keraguan mulai menyusup di hati Raja. 

__ADS_1


__ADS_2