
Suasana ruang tengah mansion minimalis milik Bree Tyaga Adrian tiba-tiba tegang setelah kedatangan paman Marcel. Pria paruh baya itu menatap tajam disertai rahang mengeras dan nafas naik turun. Kepalan di tangan menandakan jika paman Marcel amatlah marah.
"Aku tidak akan membiarkan paman menyentuh kulitku seperti waktu remaja. Memukul tanpa ampun dengan tuduhan keji yang tidak aku lakukan !"
Semua nafas tertahan saat satu kepala tangan hampir mendarat di rahang si tuan muda. Hingga Eros bergerak refleks melindungi Bree, namun siapa yang menduga tangkisan si detektif tampan bersamaan dengan telapak tangan Bree menahan genggaman paman Marcel. Aksi itu benar-benar mengejutkan semua orang. Terlebih Eros yang telah siap pasang badan.
"Kau telah lancang membiarkan kekasihmu menampar Lisa. Apa salahnya ?!" Bentak Paman Marcel menghempas kasar tangannya dari genggaman si putra mahkota.
"Tanyakan pada putri paman, apa yang telah diperbuatnya." Obsidian Bree nampak memancar kebencian yang tiada takar mengingat gadis itu berani menyerang ratunya. Andai mereka di istana sudah sejak tadi Lisa mendapatkan hukuman.
"Irene, Luna ! Kalian saya pecat karena telah lancang mengeroyok putriku. Dan anda dokter Filia, saya pastikan besok adalah hari terakhir anda bekerja."
"Tidak ada yang bisa memecat mereka ! Aku yang memiliki hak memutuskannya !" Tegas Bree. "Putri paman telah menyerang kekasihku terlebih dulu, karena keadaan terdesak. Irena dan Luna membantunya. Apakah membela diri sebuah kesalahan?" Intonasi itu terdengar rendah namun lebih menohok. "Apa perlu Cctv membuktikannya lagi, paman?"
Tanpa pamit pria paruh baya itu melenggang pergi meninggalkan mansion. Dengan membawa kesal yang entah tertuju pada siapa, namun keberanian Bree hari ini lebih mengejutkan lagi, putra mahkota itu memiliki pergerakan refleks yang melebihi Eros.
"Pergerakan refleks anda sangat bagus, Tuan." Xavier tersenyum memuji. "Sepertinya aku pulang lebih dulu, tenang saja begitu ada kesempatan aku akan membalas perlakuan gadis gurita itu." Ujarnya seraya membawa tubuh untuk bangkit dari sofa.
"Hati-hati, Vier. Besok kita ke Mansion lama untuk mengecek kondisi Bibi Chen dan juga paman Gio." Filia tersenyum tipis, suasana hati gadis itu tiba-tiba saja memburuk.
"Bree sejak kapan kamu berani melawan paman Marcel ?" Selidik Leon dengan tatapan memindai. "Apa kamu benar Bree sahabatku ? Atau ada roh lain yang masuk ke dalam raga ini ? Bree yang aku kenal tidak pandai membela diri, selain otaknya yang cerdas." Sambungnya lagi.
"Sudah aku katakan, aku adalah raja dan kedatanganku kesini untuk mencari ratuku. Sekarang aku sudah menemukannya, tapi aku harus menyelesaikan misi lebih dulu sambil menunggu ratu mengingat kembali dan memaafkanku."
Penjelasan panjang lebar itu membuat semua orang menghela nafas panjang dan menjatuhkan tubuh dengan lemas di atas sofa. Kambuh lagi begitu yang tertulis pada benak semua orang.
"Apa dia kembali mendongeng ?" Gumam Axel memijat pangkal keningnya.
__ADS_1
"Apa Tuan Marcel selalu seperti itu?" Irene merasakan tubuhnya gemetar. Selain terkejut ia juga takut karena kedatangan pria paruh baya itu ingin memukul atasannya.
"Iya, dia akan murka bila ada yang menyinggung putrinya." Sahut Eros masih mencerna kejadian beberapa menit lalu.
"Seperti putri raja saja !" Gerutu Luna kesal, meski terkejut tapi gadis ini tidak merasa takut.
"Sekarang hampir sore, biar Reiki yang mengantar kalian pulang." Bree menggulirkan pandangan pada sang asisten yang selalu tersenyum sejak tadi.
"Baik Tuan, Filia kami pulang dulu." Pamit Irene menyampirkan tas ke pundaknya. "Ini kunci mobil milik saya." Sambungnya pada seorang sopir yang bertugas mengantar mobilnya.
"Kalian hati-hati, kejadiaan hari ini biasanya akan berbuntut. Gadis itu tidak akan puas sampai disini saja."
"Baik tuan, titip Filia." Luna juga bangkit dari tempatnya duduk dan meraih dokumen yang dibawa.
"Kalian hati-hati." Filia memeluk satu persatu kedua wanita itu.
"Bree, aku anggap perlawanan mu pada pukulan paman Marcel hari ini adalah pergerakan refleks dan itu sangat bagus. Tapi tetap saja tidak mengurangi rasa cemas kami padamu." Ungkap Eros.
Bree tersenyum tipis, bagaimanapun menjelaskannya tetap tidak ada yang percaya. Dan laki-laki ini akan menyetujui saja setiap perkataan para sahabatnya.
Waktu semakin bergulir menuju senja, empat laki-laki itu memasuki kamar masing-masing untuk membersihkan diri, termasuk Filia. Gadis itu merenung di atas kasur, keputusan berada di sisi Bree sedikit membuatnya ragu mengingat akan banyak masalah yang menghampiri. Namun, disisi lain hatinya berkata kalau si tuan muda butuh sandaran yang tepat untuk menguatkan daksa dan jiwanya.
Filia juga tidak menampik kejadian hari ini akan berbuntut panjang dan ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi gadis seperti Lisa.
...----------------...
Rembulan malam kembali menunjukan setengah keanggunannya, tampak biasnya indah terpantul di dinding rumah kaca. Dan hal itu memaku ruang pandang seseorang yang tengah tenggelam dalam lamunan, tubuh ramping nya duduk dengan satu buku terbuka diatas meja, tapi fokusnya hilang melayang entah kemana.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan?"
Suara lembut menembus ruang rungu dan belitan kokoh melingkar di tubuh, kecupan lama tertanam di pucuk kepala. Membawa roh sang pemilik daksa kembali ke alam nyata.
Filia tersenyum merasakan hangat dekapan si tuan muda dari arah belakang kursinya. "Tidak memikirkan apa-apa."
"Kamu tidak pandai berbohong ratu Filia." Bree kembali mendaratkan kecupan di pucuk kepala gadis itu. Akhir-akhir ini ia menunjukan perlakuan manisnya serta bahasa tubuh yang selalu dilakukan pada masa lalu. "Apa memikirkan masalah tadi siang?"
"Hm." Filia menghembus nafas pelan. "Seandainya suatu hari nanti, kau sembuh dan tidak menganggap aku sebagai ratumu lagi. Apakah perasaanmu tetap sama?"
Bree tersenyum kemudian menuntun tubuh sang pemilik hatinya untuk berdiri. "Lihat bulan itu." Tunjuknya pada lengkungan langit. "Dia hanya satu dan selamanya akan tetap satu tidak bisa terbelah. Begitu juga kamu akan tetap satu dan selamanya perasaanku tidak terbelah akan selalu, selamanya tetap sama."
"Apa itu benar ? Kau yakin tidak pernah berubah?" Keraguan masih terlihat di iris mata Filia. Bola mata hitam pekat itu tak terkunci pada satu objek namun bergulir tipis mencari sebuah jawaban.
"Aku akan pergi dan berhenti apabila kamu memang sudah tidak menginginkanku lagi. Tapi perlu kamu tahu, aku selalu ingin bersamamu, datangnya aku ke tempat ini untuk mencarimu. Menembus waktu menghadapi banyak hal hanya untuk bisa bersamamu."
Filia mengikis jarak dan berjinjit, memajukan wajah lalu meng€cup singkat bibir si tuan muda. Bahagia menggenggam daging lembut dalam tubuh gadis itu, hingga mendorong keberanian untuk merasakan kenyalnya bibir putra mahkota. Tidak membuang kesempatan, Bree menggendong tubuh ratunya untuk duduk di atas meja lalu memperdalam cium@n berdurasi itu. Saling menuang rasa dan kerinduan di bawah sinar bulan separuh.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu ratu Filia." Bree berkata lembut penuh perasaan dari lubuk hatinya yang terdalam. Kedua telapak tangannya yang lebar menangkup wajah sang ratu. "Maafkan semua kesalahanku di masa lalu, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Cukup selama ini aku tersiksa berpisah darimu." Sambungnya mengunci tatapan Filia.
"Harusnya, aku tidak melibatkan perasaan dalam hubungan ini. Tapi hatiku lancang memiliki rasa itu dan aku tak kuasa menolaknya. Aku juga mencintaimu, Bree."
"Tetaplah disisiku, apapun terjadi." Si tuan muda menarik tubuh Filia dan membenamkan ke dada. "Aku membuat selendang untukmu dari sutra." Lanjutnya melepaskan belitan tangan pada tubuh gadis itu. "Ini dibuat sama persis seperti milikmu saat kita masih di istana." Bree mengeluarkan selendang yang dimaksud dari dalam kotak.
"Sangat cantik." Obsidian Filia berbinar bahagia saat membentang selendang itu.
"Selendang ini kau gunakan untuk pergi dalam penyamaran ketika keluar dari istana. Lihat ada sulaman plumeria di bagian ujung."
__ADS_1
Meskipun semua barang yang diberikan Bree padanya tergambar dari ingatan laki-laki itu di zaman kuno. Namun, Filia tetap bahagia menerimanya.