
Warna senja begitu anggun menyapa, bias indah menawan netra, sepoi angin barat berhembus menerbangkan aroma plumeria yang mulai menampakan bunga hingga suasana membawa luapan rasa yang tak bisa diucap dengan kata-kata.
Lagu rindu bergelayut dan bersayap di dalam hati tanpa nada. Menggenggam erat jiwa yang tenang di permukaan tapi menggali jurang di dalam. Di rumah kaca putra mahkota Tyaga merenung seorang diri menikmati rasa yang tak tergambar di dalam rongga dada.
Bahagia memang terasa ketika pemilik hati berada di sisi, tapi berbeda tak bisa memiliki sesuka diri. Banyak kenangan tersimpan di bawah langit senja dan Bree ingin mengulang itu semua.
"Kenapa dengan wajah anda, yang mulia?"
Sebaris kalimat tanya menembus dunia lamunan seorang Bree Tyaga Adrian. Laki-laki itu menggulirkan pandang pada pemilik suara lalu menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Kenapa kau tiba-tiba kesini?" Pertanyaan di balas tanya itu mewakili rasa heran yang hinggap di benak si tuan muda.
"Terserah padaku ingin menemuimu di mana saja, kenapa dengan wajahmu?" Sosok tua berjubah putih menarik senyum sambil membawa langkah. "Ratu sudah di sisimu, lalu apa lagi?" Lahirnya tanya seiring tangan yang terangkat menyentuh satu pohon plumeria.
"Ratu Filia memang berada di sisiku, cintanya sudah aku miliki tapi jauh dalam hatiku tak meyakini dia sepenuhnya belum menjadi milikku seperti dulu." Bree menyeret langkah bersama.
Tawa mengudara dari bibir pria tua berjubah putih. "Tentu saja perasaan itu ada karena maaf sesungguhnya belum kau dapatkan, ratu yang sekarang bukan membawa maaf dalam ingatan masa lalu. Tapi maaf yang sengaja diatur untuk masa pengobatan yang mereka atur."
Hembusan nafas berat sekali lagi mewakili afeksi si tuan muda. "Lalu kapan aku bisa mendapatkan maaf itu?" Pandang bergulir kesamping dengan tuntutan permintaan sebuah jawaban.
"Yang Mulia." Iris mata pria berjubah putih terlempar jauh di kaki langit. "Dulu kau mendapatkan ratu dengan mudah, banyak waktu terbuang sia-sia saat di istana. Banyak rahasia harus kau ungkap saat itu tapi sayang ego dan tabiatmu menutup semuanya, hingga ratu datang membawamu kejalan semestinya. Namun itu semua terlambat sampai akhirnya kau sendiri yang mencampakkan ratu dan tidak memecahkan penyebab kematian mendiang raja padahal sudah didepan mata." Sambung pria tua itu sambil mengayun langkah.
"Aku tahu, sesal itu masih ada hingga saat ini." Bree melangkah pendek membiarkan sarayu senja menampar tubuhnya. Pandangan jatuh pada tunas-tunas rumput yang mulai ditelan senja.
"Aku mengirimmu kesini karena harus menyelesaikan misi yang sama, aku pernah mengatakan jiwa yang sekarang bersamamu sebenarnya telah mati dalam kecelakaan itu tapi aku memberi seluruh kehidupan dan ingatannya menjadi satu dengan dirimu. Siapa lagi yang menyelesaikan misi ini selain dirimu ? Wadah yang aku siapkan bukan tanpa alasan, begitu semua misi ini selesai maka kamu mendapatkan kehidupan yang sesungguhnya. Tapi yang perlu kamu tahu, meski misi ini berhasil apabila ratu memutuskan tidak ingin bersamamu lagi maka saat itu juga kehidupanmu saat ini akan musnah. Tidak tetap disini ataupun kembali ke istana. Ruh dan ragamu akan hancur bersama angin."
Bree mematung semua terasa seperti melangkah di atas tali terbentang, meski misi selesai tetap saja maaf ratu sebagai pemutusnya. "Aku mengerti jika dulu ratu datang ke sisiku membawa misi untuk mengungkap kematian mendiang raja dan mengembalikan nama baik Raja Re, maka di era ini aku datang membawa misi dan mendapatkan maaf ratu."
"Cerdas !" Pria berjubah putih melemparkan senyum. "Sampai bertemu kembali yang mulia, ratu Filia menuju kesini." Cahaya putih menelan habis sosok itu dalam remang senja.
Di depan rumah kaca Filia melebarkan pandang mencari sosok yang selalu mengirim bongkah rasa cinta, gadis itu menuntun langkah menuruni anak tangga rumah kaca. "Bree, kamu dimana?" Suara merdu nan lembut itu dibawa angin ke ruang rungu si tuan muda.
"Ratu Filia, kamu menyusulku ?"
"Hampir gelap kenapa belum masuk ? Xavier juga sudah datang bersama Aslan." Filia menghampiri dengan obsidian berbinar terang.
__ADS_1
"Mari masuk." Tak kalah manik mata Bree pun bersinar seperti mata serigala dalam kegelapan disertai seulas senyum tampil sempurna di bibirnya.
Di dalam mansion, Xavier dan Aslan telah menunggu di ruang tengah. Kedua laki-laki itu datang atas permintaan Reiki untuk memeriksa atasannya.
"Apa kabar, tuan?" Aslan membawa tubuh untuk bangkit menyalami Bree.
"Kabarku baik." Si tuan muda mendaratkan tubuh di sofa.
"Ada keluhan apa ?" Aslan meraih beberapa lembar kertas untuk melihat perkembangan putra mahkota Tyaga itu.
"Tidak ada." Jawaban santai dari Bree membuat alis Aslan menyatu meski begitu tampilan wajah laki-laki itu tak berani mengucap kata yang membuat petaka.
"Jadi kenapa Reiki meminta kami datang?" Pertanyaan terucap dari bibir Xavier mewakili Aslan. Tubuh yang semula bersandar layu menjadi tegak dan serius.
"Jangan mendengarkannya, periksa saja dia." Leon berucap dengan langkah yang mendekati ruang tengah.
"Memangnya tuan Bree kenapa ?" Xavier kembali melontar tanya sambil membawa pandang pada pemilik titah.
"Dia hampir saja berniat mencoba narkoba."
Semua mata terbelalak mendengar kalimat terucap dari Leon termasuk Filia yang baru bergabung kembali.
"Apa itu benar?" Suara lembut mengalun merdu masuk ke gendang telinga Bree.
Si tuan muda tersenyum dan berkata. "Aku hanya penasaran, tapi setelah di jelaskan Eros apa itu narkoba aku tidak berniat mencobanya nanti aku menjadi hantu seperti Regi."
"Syukurlah." Filia bernafas lega sambil mendaratkan tubuh ke sisi pemilik hati. "Tapi tetap saja kamu harus melakukan pemeriksaan, ayo kita ke ruang kerja mu." Gadis itu menggenggam hangat tangan Bree.
"Baiklah, sesuai permintaanmu ratu Filia."
Seulas senyum tulus tersuguh di bibir si tuan muda hingga mengalirkan perasaan hangat pada setiap pasang mata yang menyaksikannya. Langkah menggema menggiring raga yang bergerak masuk ke ruang kerja Bree Tyaga. Sementara tamu yang baru tiba mendaratkan tubuh di atas sofa sambil menghela nafas.
Menghabiskan waktu empat puluh menit rangkaian pemeriksaan untuk Bree telah selesai. Hingga detik ini semua terlihat baik dan penuh keyakinan Filia mengumumkan jika laki-laki yang telah memiliki seluruh hatinya itu akan sembuh.
__ADS_1
"Tuan, selamat sebentar lagi anda akan sembuh." Aslan mengulurkan tangan pada Bree. "Saya juga akan pamit pulang, satu minggu lagi kita bertemu." Lanjutnya melempar senyum.
"Terimakasih, hati-hati diperjalanan." Bree membalas pamit terapisnya.
"Tubuhku terasa pegal, aku menginap disini saja." Tanpa malu atau takut penolakan Xavier meregangkan ototnya lalu menjatuhkan tubuh di atas sofa di sisi Reiki.
"Apa kau sengaja ?" Tatapan selidik dan curiga yang menghinggap perangkat lunak Bree seperti lampu pijar menyala.
Xavier tersenyum tipis. "Anda sangat cerdas, tuan ! Selain rindu pada Filia saya juga ingin membahas masalah pekerjaan kami jadi bolehkah kami meminjam ruangan anda yang lain?" Laki-laki itu bicara sambil melipat tangan di dada.
"Awas saja kau sampai menyentuh kulit ratuku ! Pakai ruangan itu, aku mengawasimu di sini." Bree memutar tubuh tubuh menghadap ratunya. "Bahaslah pekerjaan kalian, tapi jaga jarak dengan pengawal itu." Ucapnya lembut penuh cinta.
Filia hanya mengangguk tanpa menjawab hanya mewakilkan pada senyuman, gadis itu mengikuti langkah Xavier menuju ruang yang dimaksud.
"Jadi bagaimana hasil pemeriksaan Regi?" Reiki melontar tanya sambil melayang tatapan pada Axel.
"Ya seperti yang kita duga hasilnya positif dia menggunakan obat terlarang itu."
"Sebelum bekerja di Tyaga otomotif, anak itu dinyatakan bebas narkoba tapi kenapa sekarang jadi pecandu?" Reiki bergumam namun sangat jelas terdengar, ia nampak berpikir sejak kapan mantan mekanik itu mengonsumsi narkoba ?
"Melihat bekas jarum suntik di tubuhnya, aku yakin itu bukan perbuatannya. Menurut informanmu, ada orang lain yang ikut bersamanya saat itu kalau kita bisa mendapatkannya juga terjawab pertanyaan ini." Seru Eros meraih kertas hasil pemeriksaan Regi. "
"Apa mungkin, mereka sengaja membuat Regi candu agar tidak bisa mengungkap terjadinya kecelakaan. Maka dari itu mereka menawan Regi selama ini." Kata-kata Leon membuat para sahabatnya berpikir.
"Aku rasa begitu, apabila Regi tertangkap otomatis dia tidak akan memberikan pernyataan akurat karena kondisinya seorang pecandu." Axel menyetujui.
"Semakin rumit saja, baiklah sepertinya aku harus menyiapkan uang untuk para tawananku." Bree berkata sambil meraih cangkir white tea yang baru saja dibuat. "Dapatkan pernyataan dari Yohan, kalau dia tetap diam terpaksa pakai cara lain." Sambung laki-laki itu menyeruput pelan teh di cangkir.
"Iya besok saya akan kesana untuk memaksanya bicara." Reiki mengangguk setuju.
"Aku rasa orang yang menyabotase mobilku sama dengan orang yang meminta Yohan membunuhku." Bree meletak cangkir sambil tersenyum tipis.
"Aku setuju, baiklah kita tebang akarnya lebih dulu dengan begitu kekuatannya akan berkurang." Eros menyandarkan tubuh di dinding sofa.
__ADS_1
"Sudah malam kalian menginap pilih saja kamarnya." Bree membawa tubuhnya bangkit dan menjemput sang pemilik hati yang tengah tertawa riang bersama Xavier.