Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Drama Raja


__ADS_3

Sesuai permintaan Putra mahkota Tyaga, Reiki meminta seorang pilot untuk membawa sang atasan berkeliling jalur udara. Agar laki-laki itu tidak merasa penasaran dan berniat untuk mengunjungi istana yang dimaksud dan tidak tahu letaknya dimana.


"REI, TURUNKAN BENDA INI !" Bree berteriak histeris di dalam helikopter. Laki-laki itu menggenggam erat pergelangan asistennya. "REI KAU DENGAR ?! BENDA APA INI ?!" Si tuan muda berteriak kembali tanpa membuka mata. Meski kupingnya sudah mengenakan earmuff tapi bisingnya baling-baling masih menembus ruang rungunya. 


"Anda ingin melihat istana, 'kan?" Reiki tersenyum lebar merasa puas telah memberi pelajaran pada atasan yang membuatnya pusing setiap hari. "Sekarang katakan dimana istana itu?" Lanjutnya tanpa menghentikan senyum, dalam perut laki-laki itu rasa dikocok karena menahan tawa dan pemandangan di depan mata adalah bahan gosip yang istimewa. Bagaimana tidak pimpinan Tyaga group berteriak ketakutan dengan bibir pucat tanpa membuka mata saat menaiki helikopter. 


"Rei, aku takut ! Ini tinggi sekali bagaimana kalau jatuh ? Aku belum mau mati dan meninggalkan ratu. Ayo bawa benda ini turun, kenapa bentuknya tidak sama dengan yang aku lihat tadi ?" Memberi perintah di sela intipan mata dengan ajuan protes tak sesuai ekspektasi. 


"Sebentar lagi, tuan. Kita akan turun dan menghadiri pasar tradisional di mansion." Reiki berkata sambil merangkul pundak Bree dengan hangat. Meski ia puas namun juga tak tega dengan kondisi atasannya. "Kenapa anda takut ? Padahal dulu anda tidak seperti ini bahkan anda memiliki jet sendiri untuk keperluan perjalanan bisnis." Lanjutnya membenarkan earmuff di telinga Bree. 


Helikopter mendarat di helipad pekarangan belakang mansion milik Bree Tyaga yang luas. Setelah memastikan berhenti dengan sempurna Reiki membawa atasannya turun dari sana. Tak menyangka jika si tuan muda begitu lemas hingga Reiki meminta sopir untuk menjemput dengan mobil. 


"Kenapa dia?" Leon berpangku tangan bersandar pada pilar bangunan Mansion. Setelah mendengar sopir menjemput Bree di belakang mereka gegas untuk melihat karena deru baling-baling terdengar jelas. 


"Sepertinya lemas." Axel ikut bersuara tanpa berniat menyusul. Laki-laki itu mendaratkan tubuh di kursi. 


"Apalagi yang dilakukannya ? Tapi wajah Reiki begitu senang, apa mereka baru saja menemukan tempat yang indah?" Eros yang tak banyak bicara memicing mata penuh curiga. 


Sementara Xavier tersenyum tipis. "Dia mabuk udara." Ucapnya melenggang menyambut kedatang Bree. "Anda kenapa, tuan?" Laki-laki itu bertanya sambil membantu Reiki memapah tubuh besar si tuan muda. 


"Kenapa kau tiba-tiba peduli padaku? Apa kamu ingin mencari perhatian ratuku?!"  Tatapan curiga mengawal lahirnya kalimat ketus dari bibir Bree. 


"Ck, anda mabuk udara ! Bawa dia istirahat Rei. Sebelumnya beri tuan Bree white tea." Xavier melepaskan rangkulan tangannya dan membiarkan Leon membantu Reiki. 


Setiba di ruang tengah Bree langsung merebahkan tubuh di sofa. Laki-laki itu memejamkan mata tanpa bergerak, tulang-tulangnya terasa putus dan lemas. Bayangan jatuh dari helikopter sangat mengerikan. 


Benda-benda zaman sekarang memang aneh


Bree membuka mata perlahan dan melepaskan jas yang melekat di tubuh sambil berbaring. 

__ADS_1


"Biar saya bantu, tuan." Reiki gegas membantu Bree duduk dan menyandarkannya ke dinding sofa. Wajah asisten itu masih berbinar senang. 


"Tuan, ini white tea nya segera diminum." Bibi Joana meletakan cangkir teh di atas meja. 


"Terimakasih bibi Jo, dimana ratu Filia?" 


"Sedang dirias bersama nona Irene dan juga nona Luna." 


"Apa semuanya sudah siap?" Bree melayangkan tanya pada kepala asisten mansion itu. 


"Semua siap, seluruh asisten mansion sudah berpakaian seperti yang anda minta dan berada di stand jualan masing-masing. Pelukis juga sudah datang." 


"Bagus." Bree meraih gelas teh dan menyeruputnya pelan. Iris mata laki-laki itu tertuju pada para sahabat yang melihatnya dengan gemas tanpa memudarkan raut senang atas penderitaannya. "Kenapa kalian terlihat senang ? Kalian suka aku hampir mati ditelan perut capung raksasa itu."


Ledakan tawa seketika mengudara, Axel menepuk sofa beberapa kali untuk meluapkan rasa gelinya. Eros yang irit senyum tak bisa menyembunyikan tawa di balik bibir, Leon dan Xavier lemas seketika sambil mengusap sudut matanya yang berair karena tawanya yang tiada henti. Apalagi Reiki yang memang sejak tadi ingin tertawa, asisten tampan itu terbahak senang sampai melonggarkan ikat pinggangnya. Sementara pelaku yang membuat tawa itu terdiam dengan raut bingung. Selucu itukah ? Begitu tanya dalam tempurung kepala Bree Tyaga Adrian. 


"Ya Tuhan, kenapa kau udik sekali Bree." Axel berusaha menyudahi tawanya. "Rei, apa kau sudah memeriksa TKP kecelakaan itu dengan benar ?" Si dokter tampan membenarkan cara duduk kemudian menanggal jas membalut tubuh. 


"Apa cip memorinya tercecer ? Kenapa setelah koma dia jadi aneh dan juga udik." Axel meraih gelas jus buah yang dimintanya pada bibi Jonana. 


"Aku sependapat denganmu, Xel. Bisa saja perangkat lunak dalam kepala tuan muda ini tercecer dan tidak di temukan." Leon menimpali sambil meraih tissue untuk menyeka jejak air akibat tertawa di sudut mata. 


"Bree, yang kau naiki tadi adalah Helikopter dan itu milik Tyaga Group lalu ada juga jet pribadi mendiang paman Adrian. Kita sering menaiki nya jika pergi berlibur atau perjalanan bisnis." Eros meletakan gelas kopi yang baru saja diseruput.


"Tadi aku melihat pesawat tapi pria sialan ini membawaku naik capung raksasa. Sangat mengerikan, di istana capung tidak ada sebesar itu dan bisa membawa orang di perutnya. Sekarang aku semakin tidak mengerti, di ponsel bisa memelihara cacing padahal di istana, cacing adanya di dalam tanah tak hanya itu berkebun pun bisa di dalam ponsel padahal setahuku berkebun dilakukan di atas tanah. Sekarang aku juga ikut berkebun di dalam ponsel dan memelihara banyak ayam. Aku tidak mengerti dengan zaman ini." Si tuan muda berkata panjang lebar dan mengungkapkan kebingungannya. 


"Tuan, semakin hari zaman semakin modern dan dilengkapi kecanggihan yang memudahkan manusia beraktivitas. Karena para ilmuwan semakin banyak dan juga genius jadi mereka bisa menemukan apapun dan menciptakan berbagai hal." Reiki tersenyum hangat menjelaskan dengan lancar.


"Rei, selama ini Tyaga otomotif hanya memproduksi mobil bagaimana kalau kita membuat sepeda listrik ? Kemarin aku belajar bersepeda dan itu sangat sulit. Kalau sepeda bisa bergerak tanpa di gowes itu sangat memudahkan."

__ADS_1


"Terimakasih Tuhan, dia telah kembali waras !" Axel berseru senang karena Bree tidak lagi membicarakan ke udikannya. 


"Aku harus memeriksa tubuhnya siapa tahu ada tombol on-off dan tidak sengaja disentuh kemudian menjadi udik." Leon menghabiskan sisa kopi di dalam gelasnya. 


"Kalian akan menggerayangi tubuhku?" Bree bersiap menghalangi tangan Leon yang terjulur ingin membuka kancing kemejanya. "Jangan melecehkanku ! Ratu tolong ! Leon sedang menggerayangi tubuh berhargaku." Si tuan muda gegas bangkit berlari dengan cepat untuk naik ke tangga dan masuk ke dalam kamarnya. 


...----------------...


Warna keemasan menambah kecantikan angkasa sore, di halaman mansion Bree Tyaga pasar tradisional yang diminta telah buka sesuai yang diinginkan si tuan muda. Alam semakin mendukung dengan wajah yang berbeda, ada serayu berhembus lembut menerbangkan bunga ilalang meniup aroma plumeria mengisi indra penciuman. 


Seolah ikut bersuka, pepohonan nampak bergoyang seirama dengan ranting saling bergesekan sehingga memicu para kawanan makhluk hidup penghuni hutan berlarian karena merasa senang. Halulung binatang buas ikut mengisi sore bagai berdendang untuk pasangan raja dan ratu yang mengulangi kembali masa lalu. 


Tak ketinggalan burung-burung mengepak sayap mengeluarkan suara menembus ke ruang rungu, menciptakan suasana yang berbeda. Semua orang mengambil posisi masing-masing sesuai kilas ingatan Bree di masa istana. 


"Aku seperti sedang akting drama kerajaan. Ternyata aku sangat tampan memakai pakaian ini." Axel memuji dirinya sendiri sambil melihat tampilannya. 


"Aku seperti putra bangsawan yang sering berjudi di dalam drama kemarin." Leon menjulurkan tangan ke depan kemudian berputar. "Dan kau seperti hakim." Laki-laki itu terkekeh melihat Eros mengenakan pakaian tradisional seorang hakim.


"Setidaknya, tidak jauh dari profesi ku saat ini." Detektif berkulit sawo matang itu tersenyum tipis. "Kegilaan apalagi di buat anak itu." Gumamnya melayangkan tatapan pada Irene dan Luna. 


"Kalian tampan sekali !" Irene berseru takjub, iris mata gadis itu berbinar terang. 


"Aku memang selalu tampan." Axel membenarkan posisi berdirinya agar terlihat seperti putra bangsawan. 


"Percaya diri sekali anda !" Cibir Irene menatap sinis. "Yang ku maksud adalah Eros dan Leon " lanjutnya tersenyum.


"Menyebalkan sekali." Axel membalas dengan lirikan tidak senang.


Saling memuji dan merapikan tampilan, atensi semua orang terpaku pada sosok pasangan yang menjadi bintang sore itu. Bree mengenakan pakaian yang dulu dikenakan begitu juga Filia. Ingatan adalah anugerah yang paling berharga didalam hidup seorang Bree. Sebab, laki-laki itu telah mengeluarkan semua ingatannya saat dulu berbaur bersama rakyat di pesta tahunan. 

__ADS_1


Pasangan itu menjadi objek yang tidak akan dilupakan oleh siapapun, kecantikan dan ketampanan mereka terpahat dengan baik dalam balutan pakaian tradisional. Semua mata memandang penuh ketakjuban pesona yang tidak main-main. Kehadiran Reiki dan Xavier sebagai pengawal menambah keistimewaan drama yang dibuat  Bree Tyaga. 


 


__ADS_2