
Satu kejutan mampu menggetarkan seluruh syaraf, fakta yang terlihat mata menimbulkan berbagai persepsi. Banyak duga dan gambaran di masa lalu yang mencuat seiring waktu, menghempas sejenak asa yang melambung tenang. Menguasai dari keterkejutan tidaklah mudah, itu yang dirasakan Bree Tayga dan kawan-kawan.
"Gangguan pita suara." Axel menyampaikan hasil pemeriksaannya. Laki-laki itu menghabiskan waktu sedikit lebih lama dalam mendiagnosa.
"Kira-kira apa penyebabnya?" Bree melemparkan tanya sambil menyandarkan tubuh. Masih ada getaran kejut menghantam tulang belulang.
"Aku menduga mereka pernah cedera leher atau dada dan melukai saraf yang melayani pita suara."
"Apa bisa sembuh ?"
"Kita coba saja." Axel sangsi dengan keberhasilannya.
"Tuan, pemindahan bibi Chen dan paman Gio sudah siap. Apa kita berangkat sekarang?" Melalui jalur khusus tidak ada yang mempersulit Reiki mengurus kepindahan sepasang suami istri itu.
"Kita berangkat sekarang?" Filia menjatuhkan tubuh di sofa tunggal. Gadis itu tampak memahami situasi yang terjadi, bagai takdir pertemuannya dan Bree secara tidak langsung menyingkap sebuah tabir abu-abu selama ini.
"Iya, lebih cepat lebih baik." Bree menarik pergelangan tangan gadis itu untuk melangkah bersamanya. Tak memperdulikan tatapan cemburu dari seseorang.
"Tuan, saya dan Filia akan satu mobil bersama pasien." Perkataan Xavier menghentikan langkah Bree.
"Apa itu benar, ratu?"
"Iya, aku harus mendampingi pasien. Jadi kamu naik mobil sendiri saja ya." Filia tersenyum dan berkata lembut.
"Tidak mau, aku harus ikut denganmu. Bagaimana jika pengawal itu berlaku buruk ?" Bree menatap sinis ke arah Xavier.
"Hei tuan muda, aku tidak seburuk yang anda pikirkan." Kesal Xavier. "Aku akan memperlakukan Filia seperti ratu." Ucapnya setengah berbisik dan mendekat ke telinga Bree.
"Lancang sekali ! Ratu Filia milikku, dia ratu yang dipilih oleh ibu suri untuk jadi pengantinku."
"Dokter Xavier, apa bedanya anda dan tuan." Reiki menatap tajam ke arah dokter itu. Dengan arti 'hentikan perdebatan ini'
Xavier mengalah lalu melanjutkan langkah. "Baiklah, anda boleh ikut. Ternyata dia sangat menyebalkan ! Apakah aku harus pura-pura gila agar bisa menempel pada Filia ? Ah, kenapa tidak terpikirkan dari dulu." Laki-laki itu bergumam sendiri.
...----------------...
Di depan sebuah gedung hunian mewah, tiga buah mobil berhenti beriringan. Masing-masing iris mata sendu terlempar pada pucuk bangunan tertinggi. Banyak kenangan yang tersimpan, ada luka yang tak pernah sembuh, ada rasa sakit yang tidak bisa hilang. Semua menjadi satu di bawah atap bangunan itu, tersimpan dibalik pilarnya yang kokoh.
"Ada apa ?" Filia melirik ke samping dimana si tuan muda duduk terdiam menatap gerbang.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa." Bree tersenyum kemudian menghela nafas panjang. "Ini Mansion kedua orang tuaku." Sambungnya lagi. "Di dalam sana banyak kenangan dan saksi tumbuh kembangku, di dalam sana juga aku menemukan orang tua ku sudah tidak bernafas lagi." Bree menghalau kaca-kaca kristal yang berkabut di obsidian nya.
"Tuan, mari masuk. Saya yakin anda bisa, jangan ingat yang pahitnya masih banyak kenangan manis tersimpan di Mansion ini." Reiki menarik daun pintu mobil dan mempersilahkan atasannya keluar.
Sepi, namun masih terawat. Bangunan megah itu tidak terlihat keropos dimakan usia sama seperti kenangan yang tak pernah pudar ditelan waktu.
Bree menurunkan kaki untuk berpijak ke tanah, mencoba mengusir rasa yang mencengkeram erat di dalam kalbu. Berat, sangat berat dari beban apapun saat menginjakan kembali kaki ke pelataran Mansion.
Kenangan kembali berseliweran, saat telapak kaki Bree kecil berlarian bersama para pengasuh dan juga sang ayah. Senyum bahagia membingkai wajah saat dirinya dinyatakan lulus di sekolah menengah atas. Di pelataran ini, kedua orang tuanya menyambut penuh suka cita atas keberhasilannya.
Obsidian putra mahkota itu beralih pada pendopo yang ada di halaman, segaris senyum tertarik di bibir Bree mengingat canda tawa bersama Leon, Eros dan juga Axel.
Ingin mengulang kembali masa itu, saat penuh kepolosan mencoba untuk menghisap cerutu milik sang Kakek yang sengaja dicuri. Dengan penuh semangat memantik api untuk segera merasakan, alhasil keempat anak manusia itu terbatuk-batuk hingga menggegerkan para asisten mansion.
"Ratu, disana aku, Leon, Eros dan juga Axel mencoba cerutu Kakek." Bree tidak bisa menyembunyikan guratan rindu yang menghias wajah. "Aku penasaran, bagaimana rasanya saat itu. Kemudian mengajak mereka untuk mencobanya. Ternyata tidak seenak yang aku bayangkan. Kami terbatuk-batuk sampai muntah hingga membuat panik bibi Chen dan bibi Joana." Pria itu terkekeh.
"Ternyata anda sangat nakal ya, Tuan ! Sama saja, sangat buruk." Cibir Xavier yang mendengarkan cerita dari belakang.
"Aku penasaran seperti apa masa kecilmu?" Filia terkekeh. "Mari masuk dua jam lagi pasien akan bangun."
Sementara Axel tak jauh berbeda dengan perasaan Bree, mansion menyimpan juta keping kenangan yang tak mampu hanya diputar satu hari. Benar, mansion itu saksi tumbuh kembangnya menuju dewasa. Rumah tempat pulang disaat kedua orang tuanya sibuk bekerja, Axel akan memilih tinggal di tempat ini daripada seorang diri dirumah.
"Huh." Bree kembali menghembuskan nafas panjang saat daksa tegapnya berdiri di ruang tengah. "Tempatkan Bibi Chen dan Paman Gio di kamar mereka yang dulu." Sambungnya menengadahkan wajah ke atas. Lagi, obsidian itu menciptakan selaput kabut.
"Tuan, sebaiknya anda beristirahat lebih dulu. Kondisi anda kurang baik." Xavier tak mengalikan pandang saat air muka Bree berubah.
"Xavier benar, kamu istirahatlah. Jangan sampai kesehatanmu terganggu." Filia dengan lembut mengusap punggung tangan si tuan muda.
"Aku akan istirahat di sini saja." Bree mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Memijat pangkal keningnya yang terasa berdenyut.
"Bree katakan apa yang sakit?" Axel tidak bisa mengabaikan kondisi sahabatnya meski dirinya pun tidak baik-baik saja.
"Aku hanya pusing."
"Kamu tinggal disini sebentar, aku dan yang lainnya mengantar bibi Chen dan paman Gio. Setelahnya baru kita bahas hal lain." Axel melenggang pergi menyusul Filia dan Xavier.
"Tuan, saya akan mengirim asisten mansion untuk sebagian bekerja disini." Reiki menghubungi bibi Joana.
"Rei, panggil Leon dan juga Eros untuk datang nanti malam. Katakan pada bibi Joana kirim asisten yang dapat dipercaya."
__ADS_1
"Baik Tuan." Reiki kembali berbincang di telepon.
Bree membawa tubuhnya untuk bangkit dan menyusul Axel ke kamar Bibi Chen. Laki-laki itu tidak sanggup berlama-lama seorang diri di ruang tengah. Bayangan masa lalu begitu nyata terkurung di obsidian nya.
"Aku akan minta beberapa perawat kesini untuk membantu merawat bibi Chen dan paman Gio."
"Itu lebih baik, jangan lupa tambahkan keamanan. Usahakan jangan sampai menarik perhatian." Saran Axel usai memeriksa kembali.
"Itu benar, jika memang bibi Chen dan paman Gio saksi atas peristiwa dalam keluarga Tyaga maka keselamatan mereka sangat penting." Filia juga selesai dengan tugasnya.
"Aku rasa mereka akan aman disini, hampir sore mari kita kembali." Xavier merangkul pundak Filia.
"Hei pengawal ! Jaga tanganmu. Ratu Filia adalah milikku, jaga sikapmu." Bree menurunkan tangan Xavier lalu bergantian menggandeng gadis itu. "Mari kita pulang, terapis Aslan akan datang." Sambungnya tersenyum.
"Filia, pulang bersamaku." Xavier tersenyum manis.
"Ratu Filia akan pulang bersamaku." Bree tidak memberikan kesempatan pada gadis itu untuk menjawab.
"Baiklah, besok kita akan bertemu lagi. Kalau begitu aku pamit lebih dulu." Xavier meninggalkan tempat itu.
"Hati-hati Xavier." Filia melambaikan tangannya.
"Tuan, para asisten yang akan tinggal disini dalam perjalanan. Bagaimana, kalau anda lebih dulu pulang bersama dokter Axel dan dokter Filia. Biar saya mengurus disini lebih dulu." Saran Reiki tak ingin membuat atasannya lebih lama disana.
"Baiklah, percayakan Bree pada padaku." Axel gegas menarik tas kerja nya.
Reiki mengantarkan sampai ke pintu utama. Masih ada waktu sebelum bibi Chen dan paman Gio bangun. Sambil menunggu kedatangan perawat dan juga asisten mansion tiba. Laki-laki itu masuk ke dalam kamar milik Tuan Adrian dan juga Nyonya Ivanka.
"Aku akan mencari petunjuk di kamar ini." Gumamnya membuka beberapa laci dan lemari. Reiki mencari apa saja bisa dijadikan petunjuk penyebab kematian orang tua Bree.
Asisten berparas tampan itu mengecek satu persatu benda yang ada di dalam kamar. Masih bersih dan rapi, sama seperti keadaan pertama kali Bree meninggalkan tempat itu.
Usai pemakaman waktu itu, Bree memutuskan untuk membeli mansion berukuran medium untuk ditempatinya seorang diri hingga tiba Reiki datang mendampingi.
Mansion itu dibiarkan kosong dengan satu bulan sekali bibi Joana mengajak seluruh bawahannya untuk membersihkan. Hanya satu yang tidak disentuh yaitu kamar utama Mansion. Bree melarang keras orang memasuki kamar kedua orang tuanya, dengan alasan agar aura di dalam kamar itu tidak hilang masih menyisakan jejak kedua orang tuanya. Satu senti pun tidak ada yang berubah dalam penataannya. Kepanikan orang-orang waktu itu hingga tidak berani menyentuh barang-barang disana kematian yang dinyatakan bunuh diri di tutup begitu saja karena kertas serbuk racun di temukan di dalam nakas.
Iris mata Reiki terpaku pada sebuah benda agak menonjol di dalam sarung bantal. Kecurigaan pun menyusup hati hingga kaki terayun cepat melangkah menghampiri. Jantung laki-laki itu berdebar-debar, berusaha menepis curiga yang membuat berakhir untuk memikirkannya.
Reiki meraih bantal itu dan menarik sarungnya, ada lipatan kertas nampak kumal di dalamnya." Apa ini?" Gumam laki-laki itu membuka lipatan kertas.
__ADS_1
Tidak ingin menyimpulkan sendiri, Reiki gegas keluar dan melipat kertas itu dengan rapi. Masih ada bekas serbuk disana yang harus diamankan kemudian dikirim ke laboratorium milik Leon.