
Embun semakin turun menguasai bumi, hawa dingin kian menusuk di pertengahan malam. Bree berbaring di dipan kayu berukuran kecil. Tangannya tertangkup di dada disertai gelombang nafas yang semakin lemah. Dingin malam memeluk tubuhnya erat hingga bibir si tuan muda sedikit membiru. Hawa tungku pemanas tidak mampu mentransfer kehangatan untuknya.
Sementara di sudut dinding Reiki menatap dengan mata bengkak sambil bersandar. Sejak tadi asisten itu tidak berhenti menangis hingga daksanya lelah. Iris matanya tak beralih untuk mengawasi sang atasan dari tempatnya duduk. Segala upaya telah dilakukannya untuk membujuk Bree kembali ke mansion tapi si tuan muda tetap menolak. Selimut telah dibentangkan ke seluruh tubuh Bree namun raga itu tetap terlihat lemah dengan mata terpejam.
Waktu semakin menjejal diri ke pukul satu malam. Ketakutan semakin menghantui seorang Reiki. Apa yang akan terjadi ? Tanya itu tiada henti bercokol di dalam benaknya. Larut dalam kesepian dan kesedihan Reiki tidak menyadari jika pintu rumah kayu telah terbuka. Ada sosok yang menjulang di ambang pintu. Tampilannya begitu lusuh dengan wajah penuh sesal yang tiada takar.
"Dokter Xavier." Reiki menoleh ke arah pintu lalu melirik ke lampu tembok yang bergerak ditiup angin. Hawa dingin semakin menerobos masuk. "Anda disini ? Tutup pintunya Tuan Bree semakin dingin." Lanjutnya tanpa bergerak dari posisi.
Xavier melangkah tertatih mendekat ke arah dipan dimana Bree berbaring. Netranya sendu penuh telaga bening yang siap sumpah. Tubuh laki-laki jangkung itu ambruk dengan posisi kaki terlipat disisi dipan disertai kepala tertunduk. Bahu Xavier terguncang disambut isak tangis bermunculan. "Yang Mulia." Tetesan air mata jatuh berlomba setelah dua kata terucap.
Reiki menegakkan duduk ketika rungunya terisi kalimat Xavier. Laki-laki itu menarik kakinya menjadi tertekuk dengan tatapan waspada. Apa itu nyata ? Xavier memanggil atasan nya dengan sebutan 'Yang Mulia'.
Mendengar panggilan khusus itu sedikit demi sedikit kelopak mata Bree terbuka. "Kau memanggilku apa ?" Tanya nya pelan nyaris tak terdengar sambil berusaha menoleh.
Xavier memberanikan diri untuk mengangkat wajah yang berderai air mata. "Yang mulia." Ucapnya sambil menahan tangis dan bibir bergetar. Tangan laki-laki itu terangkat lalu menyentuh tangan Bree. "Yang mulia, maafkan saya. Maafkan saya." Xavier tak kuasa menahan air matanya hingga kepala tertunduk kembali.
"Siapa kamu sebenarnya ?" Bree bersuara sambil mengendalikan nafas yang terasa menipis. "Apa salahmu dan kenapa memanggilku seperti itu ?"
"Saya pangeran Nev."
"Apa ?"
Reiki di sudut dinding terperangah, fakta apalagi ini. Setelah panggilan 'Yang Mulia' kini Xavier mengaku sebagai pangeran Nev. Siapa dia ? Asisten tampan itu memilih tidak bersuara untuk melihat kelanjutannya. Meskipun suasana sedikit aneh.
"Iya, saya adalah pangeran Nev adik laki-laki anda dari Selir Ve."
"Bagaimana kau bisa mengenalku dan sampai ke sini." Setetes air mata jatuh di sudut mata Bree dan mengalir pelan. Sesak itu semakin meraja ketika ratunya selama ini lebih dekat dengan pangeran kedua. "Jadi selama ini kita selalu bersama." Tawa sumbang pecah tipis di bibir Bree. "Dan aku tidak mengenalmu sama sekali." Lanjutnya kecewa.
"Yang Mulia, saya datang ke tempat ini sebelum anda. Tujuan saya adalah mencari ratu dan membawanya kembali. Tapi di pertengahan rencana, saya memiliki hati yang tamak untuk memiliki ratu. Maafkan saya yang mulia." Sekali lagi tangis Xavier pecah tak terkendali.
__ADS_1
Kilas balik.
Dua minggu kehilangan ratu membuat Raja tidak mengenali diri sendiri. Makan dan minum tidak lagi normal sehingga tubuhnya yang bugar perlahan mengurus dan jatuh sakit.
"Pengawal Ta, bagaimana kondisi yang mulia ?" Pangeran Nev bertanya sambil berdiri menatap ke arah luar istana
"Sangat buruk, beliau tidak lagi makan dan minum." Pengawal Ta menyahut dengan tatapan sendu.
"Sementara perketat penjagaan, untuk urusan kerajaan biar aku yang mengambil alih sementara dan itu semua sudah disetujui kerabat istana." Pangeran Nev meletakan cawan yang berisi arak.
"Baik pangeran." Pengawal Ta memundurkan tumit dan meninggalkan tempat itu
Pangeran Nev membawa tubuhnya berbaring sambil menatap lamat langit-langit istananya. Dua minggu tanpa raja serasa cangkang kosong tanpa isi. Kehilangan ratu adalah duka yang mendalam untuk raja. Perlahan kelopak mata pangeran Nev tertutup masuk ke alam mimpi.
"Pangeran." Sosok tua berjubah putih menghampiri pangeran Nev yang tengah berdiri di dalam bilik sang ibu. "Aku tahu kau merasa sangat bersalah karena ratu di fitnah."
"Aku memang merasa bersalah karena racun itu milik ibuku. Ratu dipersalahkan karenanya, andai aku bisa membawa ratu kembali maka raja akan bangun dengan begitu kerajaan akan berjalan seperti biasa nya." Pangeran Nev meraih konde milik selir Ve lalu menggenggamnya.
"Apa ? Jangan bicara sembarangan aku baru saja menyelesaikan proses kremasinya." Pangeran Nev menatap tajam sosok berjubah putih.
"Pangeran, kalau kau ingin menebus kesalahan ibumu maka cari ratu bawa dia kembali. Kalau kau berhasil maka raja akan tetap hidup tapi bila kau gagal maka dia akan mati dalam kesedihan."
"Kau bercanda ?" Pangeran Nev tertawa kesal. "Ratu sudah tiada itu faktanya, bagaimana bisa aku membawanya kembali ? Aku tahu ibuku bersalah dan aku ingin menebusnya tapi sangat mustahil."
"Di dalam ruangan ini ada lukisan yang berusia lima ratus tahun. Kau bisa mencari ratu karena dia masih hidup, ada tanda plumeria di leher kanannya. Kamu kesana mencari dan membawa ratu kembali lewat lukisan itu. Ingat jika kau menemukannya maka yakinkan ratu untuk kembali, kau akan dianugerahi ingatan yang tidak akan hilang. Pergilah !" Sosok berjubah putih itu menunjuk lukisan yang dimaksud.
Pangeran Nev menatap ragu tapi tekadnya sangat kuat untuk membawa ratu kembali agar raja bisa bangkit. Dengan memantapkan hati Pangeran Nev menyentuh lukisan itu hingga tubuhnya tertarik magnet yang luar biasa membawanya ke tempat lain.
Kilas balik selesai
__ADS_1
Masih bungkam Reiki mendengar cerita yang sulit untuk diterima akal sehatnya. Laki-laki itu sudah tidak lagi menangis tapi dikuasai kebingungan.
"Apa kau berhasil meyakinkan ratu ?" Suara Bree kembali terdengar setelah keheningan menyela.
Xavier menggeleng. "Tidak, karena saya tidak melakukannya. Maafkan saya yang mulia karena mencintai ratu anda sejak dihari pernikahan kalian. Sebab tamak menguasai hati saya, maka dari itu saya tidak melanjutkan semuanya. Saya pikir di tempat ini bisa memiliki ratu." Tangis tidak lagi terdengar hanya sebuah pengakuan yang datang mengejutkan.
"Jadi kau mencintai ratuku ?" Bree tersenyum. "Aku merestui kalian karena dia memilih tidak memberikan aku kesempatan. Itu artinya mungkin dia memiliki perasaan sama padamu. Berjuanglah." Kesadaran si tuan muda sedikit terganggu. "Pulanglah jaga dia." Lanjutnya menutup mata kembali.
"Yang Mulia jangan menyerah, biarkan saya yang mendapatkan hukuman atas ketamakan saya." Xavier refleks menggenggam telapak tangan Bree yang terasa dingin.
Bree tidak menyahut dan memilih diam merasakan sensasi berat di dadanya. Melihat hal itu Reiki gegas berdiri menghampiri lalu meraih tangan Bree dan menggosok untuk menyalurkan kehangatan.
"Apa kita ke rumah sakit ?"
Xavier hanya diam air mata kembali menetes tak disangka kalau akhir dari ketamakannya akan sesakit itu. Kehilangan kakak laki-laki di depan mata jauh dari perkiraannya. "Jangan pergi Yang Mulia saya mohon. Sejak kita bertemu saya sudah mengenali anda." Tangis laki-laki itu semakin pecah.
Kecewa mendominasi di dalam hati Bree kenapa pangeran Nev melakukan hal itu. Seharusnya, dia tidak perlu repot mencari ratu kalau hanya untuk memilikinya.
"Tuan anda mendengarkan saya ?" Reiki dilanda gelisah kembali melihat tak ada respon dari sang atasan. "Tuan." Ucapnya lagi membiarkan telaga bening miliknya tumpah.
"Hm." Gumaman lemah itu sedikit memberi harapan.
"Kita ke rumah sakit." Reiki menurunkan tubuhnya untuk sejajar dengan dipan.
"Tidak perlu Rei. Dimanapun aku berada dan bersembunyi. Hukuman ini harus aku jalani."
"Hukuman ?" Xavier refleks bertanya karena penasaran.
"Bila aku gagal mendapatkan ratu dan maafnya kembali maka aku harus menjalani hukuman tidak kembali ke istana maupun di tempat ini." Jelas Bree semakin melemah.
__ADS_1
Xavier semakin menyesal andai dia lebih mementingkan Rajanya kemungkinan ratu saat ini sudah kembali ke istana. Dan hukuman tidak terjadi. Menjelaskan pun saat ini percuma karena Filia tidak membuka kamarnya saat laki-laki ini ingin mengatakan kebenarannya.