
Dua bulan kemudian…
Penolakan masih saja dialami oleh permaisuri. Putra mahkota belum bisa menerima keberadaannya, apalagi segala uluran tangan untuk membantu. Hingga saat ini, laki - laki yang sebentar lagi akan dinobatkan menjadi raja itu belum berbekal apa - apa.
Hembusan nafas frustasi sesekali terdengar dari bibir permaisuri, segala kelembutan dan usahanya masih belum membuahkan hasil. Sementara tuntutan para menteri sudah saling menekan, belum lagi tekanan itu datang dari ibu suri.
"Permaisuri, sudah dua bulan usahamu belum membuahkan hasil. Kamu tahu akibatnya, bukan?"
"Tentu Yang mulia." Permaisuri menjawab lembut.
Ibu Suri bangkit dari tempatnya duduk lalu meraih segulung kertas dari atas meja. Dengan sedikit kasar melemparkan kertas itu. "Titah eksekusi kau dan juga kerabatmu, pembuktian kalian tidak bisa menjamin jika ayahmu tidak terlibat konspirasi pembunuhan mendiang raja." Wanita paruh baya itu menjatuhkan kembali tubuhnya di balik meja, meraih cangkir teh dan menyesapnya pelan. "Perang akan dijatuhkan apa bila kau gagal." Lanjutnya tegas.
Permaisuri mengepalkan tangan di bawah meja, namun senyum manis masih ia suguhkan, ingin rasanya berlari pulang dan menunggu perang itu dijatuhkan di kerajaannya. Dengan begitu ia bisa memenggal kepala putra mahkota yang angkuh.
"Saya akan melakukannya sekali lagi bila gagal, anda berhak mengeluarkan titah."
Permaisuri mengundurkan diri dari hadapan ibu Suri, wanita itu menatap lurus kedepan tanpa melangkah anggun. Terlihat penuh amarah dan juga ketegasan.
"Permaisuri, apa yang akan anda lakukan?" Dayang Shi begitu cemas.
"Aku akan memaksanya untuk mengikuti kemauanku. Kalau tidak berhasil, maka kau pergilah dari kerajaan ini. Lari yang jauh, sebab aku tidak bisa menjamin keselamatanmu karena akan terjadi perang."
"Tapi bagaimana dengan anda sendiri." Setetes air mata mengalir halus di pipi Dayang Shi. Suaranya bergetar dengan dada sesak sangat hebat, tak mungkin membiarkan putri yang kini menjadi permaisuri menghadapi masalah seorang diri. Di medan perang saja ia ikut walau hanya tinggal di tenda.
"Jangan cemaskan itu, jika perang memang terjadi." Permaisuri tersenyum jahat dan mengerikan kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Dayang. "Maka kepala putra mahkota yang angkuh itu akan ku tebas lebih dulu." Seringai penuh keyakinan itu kentara di wajah permaisuri.
Dayang Shi merasakan panas dingin, ia bisa mendapatkan aura berbeda dari gelagat sang permaisuri. Dengan kaki gemetar ia menggiring langkah wanita itu.
...----------------...
Malam semakin larut, putra mahkota masih saja memanjakan lidah dengan arak, entah apa yang tertulis di benaknya hingga dua bulan ini belum melakukan pergerakan apa - apa. Ia masih saja menolak keberadaan permaisuri seolah sengaja mempersulitnya.
"Pangeran, sudah larut malam waktunya anda beristirahat. Besok anda latihan memanah sambil berkuda." Kasim menghampiri tuannya dengan bicara penuh kehati-hatian.
__ADS_1
"Dimana pengawal Ta?"
"Saya di sini pangeran."
"Dari mana saja kau?" Lirikkan pangeran begitu tajam dan meminta jawaban atas menghilang pengawal pribadinya beberapa menit lalu.
"Pangeran, saya sudah menyelidiki tentang permaisuri. Mulai saat ini berbaik hatilah anda padanya. Sebab, keberadaan permaisuri di sisi anda dengan pertaruhan yang sangat besar."
"Maksudmu?" Putra mahkota tertarik dengan pembicaraan mereka. Gelas araknya langsung diletakkan begitu saja.
"Permaisuri, adalah utusan perdamaian. Untuk membuktikan jika ayahnya Raja Re. Tidak terlibat konspirasi beberapa tahun silam, dengan menjadi ratu anda, permaisuri bisa mengupas permasalahan yang menyeret kerajaan nya. Namun jika gagal, maka ibu Suri menurunkan titah perang dan permaisuri akan dihukum. Dengan kata lain, tuduhan itu tidak bisa di elak."
Putra mahkota tercenung, seberat itukah tanggung jawab permaisurinya. Kenapa dadanya sesak ? Membayangkannya saja begitu sakit.
"Lalu menurutmu aku harus melakukan apa?"
"Bekerjasamalah dengan permaisuri, belajar sungguh - sungguh, bila anda sudah menduduki tahta maka akan memudahkan segalanya. Saya pikir anda akan paham maksud saya, sudah larut silahkan anda beristirahat." Pengawal Ta pamit meninggalkan putra mahkota yang tenggelam dengan ragam macam perasaannya.
...----------------...
Masih seperti hari - hari sebelumnya, permaisuri tanpa bosan menyambangi istana putra mahkota. Langkahnya yang anggun memasuki kediaman laki - laki itu, tatapannya jatuh pada sosok laki - laki yang masih mengumpulkan nyawa di atas peraduan. Sudut bibirnya terangkat sinis disertai tatapan penuh ejekan.
Putra mahkota tersentak, gugup seperti sebelumnya, dadanya berdebar kencang menabuh jantung untuk bertalu merdu di dalam biliknya. Debaran itu masih seperti pertama bertemu, namun lebih kuat dan susah untuk dikendalikan. Kecantikan permaisuri sebenarnya sudah meracuni otak dan hatinya, hanya saja kecurigaan dan gengsi itu menghalangi.
"Siapkan air mandi pangeran."
Dayang Shi mengangguk patuh, lalu pamit menyiapkan keperluan putra mahkota. Sementara permaisuri melayangkan tatapan tajam seolah mencabik tubuh putra mahkota hingga pria itu menjadi salah tingkah. Sudut bibir pengawal Ta tertarik melihat kekacau tuannya.
"Permaisuri, silahkan anda pilih pakaian yang akan dikenakan pangeran."
Permaisuri menggulirkan pandangan kepada Kasim, sedikit bingung namun tak melontarkan pertanyaan. Ia melangkah pelan, lagi - lagi aroma plumeria menguar dari tubuh permaisuri hingga putra mahkota memejamkan mata menghirupnya.
"Air mandi anda sudah siap, pangeran."
__ADS_1
Suara Kasim merusak suasana, putra mahkota gelagapan dan gegas berdiri, wajahnya memerah hingga ke daun telinga.
"Permaisuri, makanan segera dikirim dari dapur kerajaan." Seorang Dayang bersuara pelan.
Sebuah pemberitahuan yang diartikan jika permaisuri akan makan bersama dengan putra mahkota di istana ini. Tidak butuh lama, laki - laki angkuh itu keluar dengan kain tipis lapis membalut tubuh.
"Silahkan permaisuri, bantu pangeran untuk mengenakan pakaian. Mulai hari ini, anda yang berkewajiban mengurus keperluan pangeran."
Sudut bibir permaisuri terangkat sangat tipis, hatinya bertanya dalam bungkam. Ada apa dengan laki - laki ini ? Apa arak menyadarkannya ? Iris mata permaisuri beralih pada teko guci yang ia yakini berisi arak.
"Singkirkan arak itu ! Jangan lagi ada di dalam istanaku." Titah putra mahkota begitu tegas.
Bak kejatuhan bintang, semua orang tercengang terlebih kasim dan juga pengawal pribadinya. Dengan gerakan isyarat pengawal Ta meneruskan titah pada pada seorang dayang. Haruskah ia merayakan perubahan baru ini?
Permaisuri tidak membuang waktu lagi, tangannya bergerak meraih pakaian berbentuk jubah itu untuk memasangkan ke tubuh putra mahkota, wajah tanpa ekspresinya sangat sulit menebak isi hati permaisuri.
Lagi - lagi, jantung putra mahkota tanpa malu bertalu indah menabuh getaran aneh hingga hatinya menumbuhkan bunga - bunga, bahkan rona merah pun ikut andil menampakan diri untuk mempermalukan pemilik tubuh tegap itu.
Gerakan halus dari jari - jari permaisuri di tubuhnya menimbulkan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, meski tanpa bicara namun putra mahkota bisa melihat ketulusan sang permaisuri dalam membantunya.
"Makanan tiba."
Suara lembut milik permaisuri, menggetarkan kembali rasa yang tak mampu putra mahkota jabarkan di dalam hati.
"Ma—mari kita makan bersama." Putra mahkota mengutuk lidahnya yang tiba - tiba terbata.
Sementara permaisuri, menatapnya penuh tanda tanya, kemana keangkuhan putra mahkota selama ini?
"Bersiaplah, anda akan latihan memanah."
Bak anak kecil putra mahkota hanya memberi anggukan dengan tatapan yang tak lepas dari wajah permaisurinya. Ia terkagum melihat wanita cantik ini makan dengan anggun serta kunyahan yang begitu teratur dan lembut. Sebagai putra mahkota, ia tidak pernah makan seperti itu, selama ini putra mahkota bersikap sesukanya.
"Permaisuri, bagaimana caranya makan seperti mu?"
__ADS_1
"Pegang sendoknya dengan benar, tegakkan cara duduk anda. Suap perlahan dan kunyah dengan bibir tertutup. Usahakan nikmati makanan yang tersaji di hadapan anda, hargai usaha koki yang memasak, hargai makanan karena diluar sana masih banyak rakyat kita kelaparan. Tugas anda sebagai raja bagaimana mensejahterakan rakyat agar berkecukupan dan tidak kelaparan. Banyak penimbunan bahan mentah makanan yang tidak kita ketahui, untuk keperluan kelompok tertentu. Dan mendapatkan hal itu, orang - orang akan bekerja keras tak cukup dengan bekerja, maka perdagangan wanita dan anak - anak akan terjadi."
Edukasi panjang lebar dari permaisuri secara tidak langsung menampar wajah putra mahkota. Menyesal, dalam hatinya sangat menyesal. Banyak waktu terbuang-buang sia - sia selama ini.