
Sepasang suami istri yang memiliki kebun plumeria menunduk dalam sembari berpikir. Letak lahan lumayan jauh itu membuat keduanya merasa ragu untuk menjanjikan pada Bree. Namun, bila mereka mundur dari kontrak maka Tyaga Fashion akan kehilang muka.
Di kaki langit, matahari telah merangkak pulang meski belum sepenuhnya turun dari lengkungan tertinggi. Tapi sudah terasa redupnya menimpa bumi. Bree melirik benda yang melingkar di jarinya. Di sana sudah menunjukkan pukul dua siang, janji pada Filia untuk pergi ke Mansion pun terlupakan karena insiden yang terjadi di pertengahan jalan.
"Tuan, sebenarnya ada lagi lahan lain tempat kami menanam plumeria. Tapi jaraknya begitu jauh." Akhirnya Pak Alfon membuka suara setelah bergelut dengan pikiran dan pilihan.
"Seberapa jauh ?" Reiki melempar tanya dengan sedikit mendesak. Laki-laki itu ingin cepat menyelesaikan permasalahan yang ada.
"Tiga jam."
"Begini saja, besok kami akan melihat lahan itu. Bila anda berkenan kami akan membelinya. Nanti uang itu akan bisa jadi modal anda menanam kembali di lahan yang terbakar. Tak hanya itu, anda bisa menanam jenis bunga lain dan menjualnya." Bujuk Bree tidak ingin terlibat dalam kontrak kerja lagi.
"Anda yakin?" Ibu Melka menatap ragu.
"Tentu, jadi kita tidak terikat kontrak lagi sebagai gantinya saya akan membeli lahan itu yang penting tanaman plumeria nya."
"Beri kami waktu berpikir malam ini, sebelum pagi besok kami akan mengatakan keputusannya." Seru Pak Alfon.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu. Terimakasih waktu kalian." Bree bangkit dari tempatnya duduk. Tidak ada lagi rintihan sakit lahir dari bibir laki-laki itu, darah yang menempel di bibir dan kening kering dengan sendirinya.
"Tuan, ini plumeria untuk anda." Ibu Melka menyodorkan pot bunga yang masih kecil. "Ini plumeria rubra, warnanya cantik bila sudah berbunga. Pohonnya bisa tinggi hingga delapan meter." Jelasnya tentang pohon itu.
"Terimakasih, Bu. Filia pasti senang." Bree dengan bahagia menerima pemberian wanita paruh baya itu. Senyumnya lebar dengan perasaan tak sabar.
"Kalau begitu kami pamit dulu." Reiki membuka pintu mobil. Ia mengabaikan tampilan yang sudah kusut, luka gores di lengannya sudah tak terasa.
Mobil hitam milik pengawal Tyaga yang dikendarai Reiki melaju meninggalkan tempat. Sementara, si tuan muda masih mengamati tanaman plumeria dalam pot di pangkuannya.
"Kamu tahu, Rei. Sebenarnya aku berniat membuat beberapa plumeria bonsai. Biar bisa di taruh di tiap sudut rumah kaca, pasti cantik."
"Sepertinya begitu, saya sudah melihat beberapa artikel dan hasilnya bagus. Lalu plumeria yang saat ini ditanam, bagaimana bentuknya?" Reiki menyahut sambil fokus mengemudi dan waspada kalau kejadian beberapa jam lalu terulang kembali.
"Akan berbentuk pohon, tapi aku akan meminta pada tukang kebun agar mengaturnya cuma setinggi dua atau tiga meter."
"Tuan, boleh saya bertanya?" Tak mampu menahan rasa penasaran Reiki melayangkan tanya yang sejak tadi memenuhi tempurung kepalanya.
"Hm." Jawaban pendek itu mewakili jika si tuan muda bersedia menjawab. Tanpa mengalihkan atensi dari pot bunga di pangkuan.
"Bagaimana anda bisa bela diri dan menembak ? Selama ini anda tidak menguasai itu dengan baik."
Kepala putra mahkota itu terangkat lalu menatap wajah si asisten melalui kaca depan. Tersemat senyum bangga yang begitu kentara. "Aku seorang raja, harus menguasai teknik bela diri jenis apapun. Selain menjaga diri, akan ada ratu Filia bersamaku tak hanya itu aku juga bisa terjun ke medan perang bila kondisi terdesak. Untuk menembak, aku memang menguasai sejak masih di istana. Hanya saja sedikit berbeda senjata di era ini dan di istana."
Reiki merasa kerongkongannya kering ketika penjelasan Bree masuk ke ruang rungu. Rasanya mustahil tapi fakta berkata benar dan dirinya menyaksikan itu semua.
"Lalu, untuk apa anda menahan pembunuh bayaran itu. Harusnya anda melenyapkannya tadi."
"Aku akan memeliharanya sampai dia gemuk dan besar seperti cacing alaska, baru aku pasang di mata pancing untuk menangkap ikan yang sangat besar. Biarlah, tuannya kelabakan mencari keberadaannya." Bree terkekeh geli dengan rencananya.
"Saya mengerti."
"Rei, apa di dalam ponsel juga bisa memelihara singa atau macan?" Mode udik si tuan muda keluar dan jiwa kuno condong dalam dirinya.
__ADS_1
Rei terbahak. "Itu hanya game, tuan ! Mana ada ponsel bisa memelihara binatang?" Laki-laki itu masih terkekeh lucu.
"Tapi ratu Filia bisa memelihara cacing alaska, dia juga berkebun di sana. Ada gandum, jagung dan juga ternak. Kau tahu di sana babi begitu lucu."
Helaan nafas frustasi dari sang asisten menandakan jika ia mulai lelah dengan racauan si tuan muda. Kenapa, mode kuno dan modernnya seperti on-off ?
...----------------...
Lengkungan langit telah menggelap, hanya tertinggal siluet rawi keemasan menyusup di balik awan. Burung-burung mengepak sayap pulang ke peraduan ternyaman.
Begitu pun dengan Bree dan Reiki. Dua adam berparas tampan itu tengah melaju di dalam jalanan kota untuk pulang ke Mansion. Setelah melewati banyak hal dalam sehari, cukup membuat daksa keduanya lelah.
"Tuan." Filia yang berada di pintu utama menanti kedatangan si tuan muda. Begitu terkejut melihat tampilan laki-laki itu.
"Ratu Filia, aku lelah." Manja mendorong tubuh untuk memeluk sang pemilik hati. Bree meluapkan kerinduan yang tersimpan selama seharian.
"Tuan, asisten Rei. Apa yang terjadi ? Kenapa kalian seperti ini ?"
"Kita masuk dulu, baru aku ceritakan. Aku harus membersihkan diri." Bree menggandeng gadis itu sambil melangkah.
"Bibi, Jo ! Panggil dokter Axel kemari." Titah Reiki sambil berlalu.
Tanpa mengulang perintah, Bibi Joana gegas meraih telpon lalu menghubungi orang yang di maksud. Sementara Bibi Mei ikut resah dan melangkahkan kaki ke arah dapur.
Filia menunggu dengan perasaan gelisah, banyak tanya yang ingin diungkapkan pada Bree. Kecewa yang sempat hadir melupakan janji menguap habis karena hadir nya laki-laki itu jauh dari kata baik. Entah kapan, nama Bree mulai lancang menyelinap masuk ke pintu hati tanpa mengetuk.
"Sini biar aku obati lukamu." Filia meraih kotak P3K yang disiapkan oleh asisten Mansion.
"Tidak apa-apa, jujur tadi aku sedikit kecewa. Tapi setelah melihat kondisimu seperti ini aku mengerti. Pulang dengan selamat sudah cukup untukku."
Jantung Bree Tyaga berdegup manja, serbuk cintanya berterbangan di dalam hati. Bunga-bunga asmara merekah mengeluarkan diri dari kelopak. Setelah tahu kedatangannya ditunggu sang ratu. Bolehkah, ia berprasangka ? Kalau ratu telah memaafkannya.
"Bree, apa yang terjadi ?" Axel masuk dengan langkah lebar. Mendengar si tuan muda terluka, laki-laki itu gegas menyebar berita pada Leon dan juga Eros.
"Obati lukaku lebih dulu, apa kau tidak malu tugasmu hampir saja diambil alih oleh ratu Filia."
"Filia juga tahu cara mengobati luka seperti ini !" Axel membuka tas kerja mengeluarkan peralatan medisnya.
"Hei tabib, pelan-pelan. Aku dan Rei melompat bebas saat mobil masih jalan. Bisa kau bayangkan betapa sakitnya itu !"
"Iya-iya." Axel mulai bekerja mengobati dan memeriksa. Wajahnya terlihat santai dengan luka kecil di kening dan sudut bibir Bree. "Hanya ini, 'kan?" Tanyanya memicingkan mata. "Luka seperti ini tidak sampai memutuskan nyawamu !" Tekannya lebih keras pada luka yang dibersihkan.
"Ahh, kenapa kau menekannya? Tabib di istanaku tidak ada yang berani menekan lukaku." Sungut si tuan muda menahan sakit. Matanya melirik ke tangan yang masih bergerak di kening.
"Manja sekali ! Itu tandanya tabib di istanamu takut. Pasti kamu jahat ya ?" Tuding Axel berpindah membersihkan bagian sudut bibir.
"Aku hanya sedikit pemarah." Elak Bree membuang pandang pada langit-langit ruangan. Ia tak ingin ada seorang pun tahu perangai buruknya di masa lalu.
"Kenapa tidak menghubungiku ?" Eros datang bersama Leon dengan gurat cemas membingkai wajah.
Dua laki-laki itu langsung mendaratkan tubuh di atas sofa. Setelah mendapat kabar dari Axel mereka meninggalkan pekerjaan masing-masing. Cemas langsung membungkus hati dengan ragam tebakan di dalam tempurung kepala.
__ADS_1
"Kami diserang saat dalam perjalanan ke desa. Tapi jangan cemas, kami memenangkan peperangan itu." Bree bercerita dengan bangga.
"Ini bukan zaman kuno yang melibatkan banyak prajurit untuk berperang, seperti kau panglima perang saja !" Kesal Leon menyandarkan tubuh di sofa.
"Benar tuan Leon, saya tidak menyangka jika tuan Bree pandai bela diri. Tak hanya itu, dia juga menembak pelaku itu."
"APA ?!"
Eros, Leon dan juga Axel terbelalak tidak percaya. Seorang Bree bisa menembak dan juga mempertahankan diri dari serangan musuh.
"Aku tidak percaya?" Gumam Axel beralih mengobati Reiki. "Kamu bercanda' kan, Rei?"
"Tidak, tuan muda menembak dengan tangan kiri. Saat kepala saya hampir diledakan si brengsek itu !"
"Kau yakin itu, Bree ? Bukan seseorang yang datang membantu atau superhero turun dari udara ?" Eros mengernyitkan alis penuh penasaran.
"Tidak tuan Eros, itu benar tuan Bree." Reiki meyakinkan tiga laki-laki yang tidak percaya atas ceritanya.
"Kenapa kalian terlihat tidak percaya, aku adalah raja, jadi harus bisa menggunakan alat apa saja. Tapi di istana, aku sering menggunakan pedang dari pada senapan yang memakai bubuk mesiu. Kalian akan terkejut lagi, bila melihat ratuku sedang berperang. Dia ahli di bidang itu."
"Apa itu benar, Fil ?" Leon melemparkan tanya pada gadis yang sejak tadi diam menyimak.
"Tentu saja benar, ratu tidak segan memenggal kepala musuh dengan pedangnya." Sahut Bree tersenyum.
Eros mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin. "Sudahlah, terpenting kalian selamat. Jadi kenapa kalian ke desa hari ini ?" Laki-laki itu menyudahi cerita konyol dari si tuan muda.
Reiki menghela nafas panjang sebelum bercerita guna mengusir perih yang terasa di kulit setelah pengobatan. "Petani yang akan menyuplai plumeria ke Tyaga. Tidak bisa memenuhi lagi karena tadi malam kebun miliknya terbakar habis. Untuk itu kami ke sana memastikannya."
"Benarkah ?" Filia angkat bicara mendengar kabar tidak bagus itu. "Lalu bagaimana selanjutnya?"
"Tuan Bree berniat membeli kebun lain yang lahannya sedikit jauh. Dengan begitu Tyaga tidak terikat kontrak dengan petani itu." Jelas Reiki menatap satu persatu lawan bicaranya.
"Bree, menurutmu apa ini sengaja untuk menggagalkan produk barumu? Aku rasa ada orang dalam kantor yang berkhianat." Eros menyampaikan kesimpulannya. "Apa perlu diselidiki?" Tawarnya kemudian.
"Tidak perlu, aku sudah menahan orang menyerang tadi siang."
"Ha ?"
Lagi, tiga laki-laki itu ternganga. Bree sebelum mengalami koma sangat berbeda. Selalu memakai perasaan dan juga kurang tegas.
"Benar, tuan Bree sudah menahan orang itu dan berniat memberinya makan supaya gemuk seperti cacing alaska." Seru Reiki menahan senyum melihat reaksi sahabat atasannya itu.
"Aku bisa gila." Gumam Leon.
"Dan aku stres lebih dulu." Sahut Axel.
"Aku mengerti." Eros menangkap maksud dari ucapan Reiki.
"Tuan, mari makan malam dulu." Bibi Joana datang menghampiri.
Percakapan terhenti kemudian mereka gegas bangkit menuju ruang makan, Bree selalu mengembangkan senyum melihat para sahabatnya. Sangat berbeda saat di istana, tidak ada teman yang meramaikan harinya selain pengawal Ta dan juga Kasim. Diam-diam ada rindu dalam hatinya tentang kerabat istana.
__ADS_1