
Masih memasuki konflik ya
🌷Selamat membaca 🌷
...----------------...
Usai penangkapan dua menteri, kini raja mengangkat dua menteri baru. Gebrakannya sebagai raja sudah terlihat, para rakyatnya menyambut dengan suka cita atas beberapa kebijakan baru yang diambilnya.Â
Di luar kerajaan, ada sebuah acara tahunan yang diselenggarakan para rakyat, mereka begitu antusias menyambut malam dan ingin berpesta bersama para teman dan kerabat. Tak luput pula para pedagang yang mengais rezeki dari pesta.Â
Sejak siang para pedagang dan juga pengunjung sudah memasuki jantung kota, berbagai macam pernak pernik pesta memenuhi penjuru jalan. Sungguh sangat indah.Â
"Yang Mulia, saya sudah mengatur kuda untuk anda keluar." Pengawal Ta melaporkan atas tugas yang baru diselesaikannya.
"Bagus, apa ratuku akan ikut?"
"Entahlah, ada baiknya anda langsung bertanya pada ratu. Tapi saat ini ratu sedang berada di istana ibu suri."Â
Manik mata raja dipenuhi aura cemburu. "Kenapa kau lebih tahu tentang ratuku?" Kalimat itu terlahir dengan intonasi kesal dari bibir raja.
Pengawal Ta menunduk berusaha menahan tawa. "Maaf yang mulia, tadi saya berpapasan dengan ratu." Jawabnya menyembunyikan senyum.
"Kalau kau ingin tertawa kenapa ditahan?!" Raja semakin kesal karena merasa di tertawai. "Kenapa ratu ke istana ibu suri?" Tanya nya lagi penasaran.
"Hari ini ibu suri kurang sehat, jadi ratu mengunjunginya. Tabib istana sudah memeriksa keadaan ibu suri."
"Mari kita kesana." Raja memutar tubuhnya melangkah dengan cepat, perasaan cemas menyusup ke dalam hatinya mendengar ibu suri kurang sehat.Â
Laki-laki itu mengayun langkah penuh wibawa, tak luput pula jantungnya selalu berdegup kencang di dalam biliknya ketika ingin bertemu dengan ratu. Meski begitu ia berusaha sekuat mungkin bersikap biasa saja dihadapan para petinggi istana agar tak terlihat memalukan karena cinta. Walaupun memang memalukan ketika bersama ratu. Ia tak bisa mengendalikan diri dan hatinya.
"Yang Mulia raja tiba."Â
Ratu gegas bangkit dari tempatnya duduk, tak hanya dirinya di sana, ada juga Selir Ve dan pangeran Nev. Bahkan beberapa petinggi istana.Â
"Yang Mulia." Sapa Ratu diikuti semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Seulas senyum tipis tertarik di bibirnya.
"Bagaimana keadaan Ibu Suri?" Raja melemparkan pertanyaan pada tabib kerajaan namun mata nya bergulir pada ibu suri yang berbaring. Kedua kaki laki-laki itu membawa tubuhnya ke sisi pembaringan sang Nenek.
"Yang Mulia, penyakit ibu suri memang penyakit tua. Di usianya yang sekarang memang rentan kambuh. Saya sudah meracik ramuan untuk diminum Ibu suri, semoga hari esok beliau sudah sehat."Â
Bukan hal yang mengejutkan lagi, ibu Suri sering mengeluh sakit kepala dan selera makannya menurun. Memang raga tuanya sudah mulai keropos dan memiliki daya tahan yang tipis.Â
...----------------...
Matahari semakin merangkak menuju sore siap membenamkan diri ke peraduannya. Usai memastikan kondisi ibu suri, raja kembali memasuki halaman istana sang ratu. Laki-laki berparas tampan itu memasang wajah datar yang selalu didambakan kaum hawa. Langkah lebarnya semakin mendekati gerbang istana kediaman ratu.Â
"Yang Mulia Raja tiba."Â
Raja melangkahkan kaki memasuki ruangan di mana tempat ratu nya berada. Di sana wanita itu mengulas senyum menyambut kedatangannya.
"Yang Mulia "Â
"Ratu, kau sudah siap?" Manik mata raja menatap penuh binar cinta dengan senyum puas tersemat di bibirnya.Â
"Tentu yang Mulia."Â
"Mari." Raja mengulurkan tangan meminta jari-jari ratunya.Â
Kenapa berpakaian seperti ini kecantikannya tidak berkurang ?!
__ADS_1
Raja menahan diri agar tidak menggila disebabkan debaran jantung yang akan mempermalukannya.Â
Sepasang insan itu bersama melangkah menuju gerbang kediaman ratu. Di sana dua pasang kuda sudah menunggu, di lengkapi para pengawal pribadi. Penyamaran mereka begitu sempurna menyerupai para anak bangsawan petinggi istana.Â
Dengan ketangkasan masing-masing, raja dan ratu menunggang kuda menuju tempat pusat pesta. Dalam perjalanan itu, raja ingin melihat tumbuh kembang kepemimpinannya.Â
"Yang Mulia, kita berhenti di sini saja." Pengawalnya Ta turun lebih dulu dari atas kuda.Â
"Baiklah." Raja menurunkan tubuhnya ke tanah lalu menggendong ratunya untuk ikut turun bersamanya. Pemandangan manis yang selalu membuat orang-orang merasa iri.Â
Anggun warna senja menyapa, mewarnai indahnya sore. Ratu dan Raja melangkah sambil bergenggaman tangan menikmati kebersamaan dengan saling menabur serbuk cinta.Â
"Ratu, lihat ini ! Perhiasan rambut ini sangat cantik. Kamu mau ?"Â
Raja menghentikan langkahnya pada penjual pernak pernik perhiasan. Mata tajamnya menangkap satu perhiasan yang menurutnya sangat unik dan cantik.
"Anda benar yang Mulia." Ratu meraih perhiasan itu yang terbuat dari perak dan menyerupai bunga plumeria.Â
"Sangat cocok untukmu." Raja mengambil alih perhiasan itu dan menyisipkannya ke rambut ratu. "Sangat cantik." Pujinya dengan senyum bangga.Â
"Tuan, pilihan anda sangat cocok." Penjual menimpali pujian dengan antusias dan tidak berbohong.Â
Dengan sekali gerak isyarat, raja menitahkan pengawal Ta untuk membayar perhiasan yang dikenakan ratu. Padahal di istana ratu begitu berlimpah aneka perhiasan rambut. Namun, hari ini mereka ingin merasakan menjadi rakyat membeli di pasar tradisional.Â
"Tuan dan Nona ! Ingin saya lukis ?" Tawar salah satu jasa lukis menghampiri raja dan ratu. Ia telah memperhatikan sejak tadi mereka adalah pasangan objek yang menarik untuk di lukis.
"Boleh."Â
"Tapi ratu." Raja merasa keberatan atas jawaban ratunya. Rasanya tidak rela wajah istrinya itu dilukis sembarangan di pinggir jalan. Sementara ratunya adalah wanita terhormat.
"Yang Mulia tidak apa-apa. Saya akan dilukis bersama anda."Â
Senyum manja tercetak di bibir ratu mampu melemahkan pertahanan raja yang posesif. Laki-laki itu tersenyum sambil mengangguk setuju.Â
"Tuan dan Nona ! Ini hasil lukisannya."Â
Raja mengambil kertas sketsa lalu mengamati hasil lukisan itu. Sungguh indah, lukisan itu bagai hidup dan nyata. Binar puas begitu terlihat di iris matanya.
"Bagaimana, yang Mulia ?" Ratu nyaris berbisik agar tidak ada yang mengenali mereka.
"Sangat indah, Ratu !" Raja memperlihatkan kertas itu.Â
Ratu tersenyum senang, hasil goresan tangan jasa lukisan itu tidak diragukan lagi. Dengan titah isyarat ratu meminta mengawal nya memberikan uang. Sebagai hadiah di luar bayaran yang diberikan pengawal raja.
"Pengawal Ta, simpan lukisan ini dengan baik jangan sampai rusak atau kumal."Â
"Baik yang Mulia !"Â
Perjalanan dilanjutkan kembali. Raja dan Ratu semakin mendekati tempat acara, kembali mata raja melihat selendang yang mencuri perhatiannya.Â
"Ratu, lihat selendang itu sangat cantik !" Raja begitu antusias menatapnya.
"Iya, anda benar." Ratu mengayunkan langkah menghampiri penjual selendang.
"Ini sutra asli."
Ratu mengangguk dan merasakan kelembutannya. "Anda benar ini sutra asli."Â
"Apa sutra ini boleh di sulam?" Tanya Raja mengambil alih selendang itu dan membukanya lebar.
__ADS_1
"Boleh, Tuan ! Anda ingin di sulam seperti apa?"Â
"Bunga plumeria."Â
Ratu menoleh mendengar kalimat raja, terlihat sekali laki - laki itu mengucapkannya tanpa ragu. "Kenapa bunga plumeria, yang mulia?" Tanya nya mendekat ke kuping raja.
"Karena bunga plumeria yang kamu sukai."Â
Ratu terkesima, laki-laki yang berdiri di sampingnya ini sangat memanjakannya. Baru beberapa bulan lalu, Raja membuat taman plumeria untuk ratu.Â
Dengan sabar mereka menunggu penjual selendang menyulam. Matahari kian lelah, hingga sinarnya mulai redup. Sepoi angin senja menyapa lembut seiring aroma plumeria menguar dari tubuh ratu.Â
"Selesai, Tuan !"Â
Raja takjub dengan keindahan hasil sulaman penjual kain itu. Ya, banyak yang ia tidak ketahui kelebihan dari rakyatnya. Selama ini, pihak kerajaan akan memanggil orang-orang tersohor untuk memenuhi kebutuhan di istana. Tanpa tahu rakyat kecil pun banyak yang berbakat.Â
Usai dari sana, raja dan ratu berbaur dengan para penikmat pesta. Banyak pertunjukan yang menarik hingga raja dan ratu larut dalam menikmati.Â
"Ratu mari kita ke sana." Raja menunjuk salah satu jembatan penghubung. Disana suasana agak sepi. "Kita bisa melihat lampion yang dihanyutkan."Â
Ratu tersenyum membiarkan Raja menggenggam tangannya untuk mengajak ke jembatan. Benar saja, dari atas sana mereka bisa melihat lampion di hanyutkan. Sepanjang aliran sungai begitu cantik dengan kerlap kerlip lampion apung.Â
"Yang Mulia, anda ingin mencobanya?" Ratu melemparkan tatapan untuk laki-laki di sisinya ini.
"Tentu." Raja dengan bahagia menyambut keinginan ratu. Mengukir kenangan terindah untuk diingat dalam perjalanan menuju hari tua.Â
Di pinggir sungai ini, raja dan ratu melepaskan lampion apung. Mereka menatapnya penuh permohonan dari hati masing-masing.Â
"Ratu, mari kita kembali ke istana."Â
"Baik yang mulia."Â
Raja dan Ratu meninggalkan tempat itu. Sudah waktunya kembali ke istana. Meski belum puas berada di luar, namun sangat memberikan kesan yang mendalam di hati mereka. Kembali menunggangi kuda masing-masing, raja dan ratu memacunya dengan tangkas diikuti oleh para pengawal di belakang dan di depan.Â
Di perjalanan, tiba-tiba anak panah melesat ke arah ratu. Dengan sigap raja menarik pedang dari sarungnya menangkis anak panah itu.Â
"Ratu." Wajah raja begitu tegang dengan degupan jantung yang amat dahsyat. Hampir saja ratu celaka di depan matanya sendiri.
"Terima kasih, yang mulia." Ratu pun tak kalah terkejutnya. Akhir-akhir ini ia hilang kewaspadaannya karena selalu di sisi raja.Â
"Yang Mulia, anak panah ini sudah diberi racun." Pengawal Ta memperlihatkan ujung mata anak panah yang sedikit berwarna biru tua.
"Cari orang itu, dia sudah menargetkan ratu." Titah raja dengan berang.
Belum juga pengawal Ta menjawab, satu anak panah kembali datang. Dan kali ini ratu sigap menangkapnya. Raja terbelalak ketika anak panah menggores telapak tangan ratu. Jiwa petarung ratu bangkit, tanpa membuang waktu. Ia bangkit dan bertumpu pada kepala kuda melambungkan tubuhnya di semak-semak. Mata jeli ratu dapat melihat dedaunan bergoyang dan menyerupai beberapa orang. Tak ingin bertanya, amarah dalam jiwanya langsung melayangkan pedang menebas leher pemanah di dalam kegelapan itu.Â
Tak ingin ratu bertarung sendiri, raja dan pengawal Ta ikut meringkus kelompok beberapa orang itu. Raja menyisakan satu orang untuk di interogasi.Â
"Katakan siapa yang mengirim kalian untuk mencelakai ratu?" Raja meletakan pedang ke sisi leher pria yang telah babak belur itu.
Namun sayang, tak ada jawaban dari pria itu. Tatapannya tak bisa diartikan seolah pasrah mati di tangan raja saat ini.
"Katakan !" Pengawal Ta mengambil alih pedang dari tangan raja. "Aku akan membebaskan dan melindungimu. Jika kau menyebut nama pengirim mu."Â
"Percuma !" Tiba-tiba ratu menebas leher laki-laki itu hingga terpisah. Aksinya mengejutkan raja dan para pengawal. "Sampai mati dia tidak akan menjawab, karena janji setianya !" Jelas ratu menyimpan kembali pedangnya ke dalam sarung. Tubuhnya perlahan lemas dengan pandangan buram.
Raja sadar dari keterkejutannya. "Ratu, anak panah menggores telapak tangan mu." Ia teringat racun yang menempel di mata anak panah.Â
Ratu tersungkur ke dipelukan raja. Hal itu membuat laki-laki itu panik luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat dan dilanda ketakutan yang sangat besar.
__ADS_1
"Yang Mulia, racunnya mulai naik di pergelangan ratu. Mungkin sebagian sudah menyebar, mari kita kembali ke istana." Pengawal raja mengambil selendang yang baru di beli untuk mengikat pergelangan ratu.
"Rahasiakan kejadian ini, aku akan mencari tahu di balik penyerangan ini." Raja menggendong tubuh ratu lalu menaikannya di atas kuda. Dengan sisa keberaniannya, ia memacu tali kuda untuk membawanya ke istana.Â