Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Bree Tyaga Adrian


__ADS_3

Mari kita mengawal raja melintas waktu. Untuk nama tokoh random ya... karena saya tidak hanya fokus satu tempat untuk pengambilan nama sesuai karakter tokoh yang ada dalam bayangan saya. Semoga bisa memahami isi ceritanya dan memahami udik raja nya ☺️


🌷 Selamat membaca 🌷


...----------------...


Semerbak aroma plumeria menguar di terbangkan angin. Bunga lambang pengabdian dan juga keabadian itu tumbuh berbagai jenis dan warna. Sungguh indah dengan aroma khasnya. Tak hanya itu, ada pula pepohonan rindang dan ilalang yang bergerak seiring irama angin. Sejuk dan membawa energi positif. Alangkah indahnya jika suasana itu dinikmati bersama pasangan. 


Kembali, segumpal daging lembut tertusuk pisau penyesalan yang berkarat. Hingga tak ada obat yang jadi penawarnya. Pecahan kristal rapuh membingkai wajah seorang laki-laki menyendiri dan bersandar di sebatang pohon rindang. Manik matanya melihat beragam kupu-kupu dengan kecantikannya mengepak sayap hilir mudik menghias pandang.


"Sudah menyesal?"


Suara tua namun begitu tegas, memecahkan lamunan laki-laki itu. Manik matanya bergulir ke sisi kanan, nampak seorang laki-laki tua berjubah putih menatap jauh ke arah depan. 


"Siapa kau ?" 


"Aku wujud dari penyesalanmu." Laki - laki tua itu tak mengalihkan pandangan. Rambut putih nya berkilau terang menyilaukan mata.


"Ya, aku menyesal. Sangat menyesal, seharusnya aku tidak gegabah menghakimi ratuku."


Dia adalah raja, duduk menyendiri dan menepi dalam tidurnya. Ia enggan untuk bangun karena di tempat ini, raja bisa merasakan kehadiran ratunya. 


"Aku akan memberikanmu kesempatan untuk menebus kesalahanmu itu."


Tubuh raja bereaksi, tatapannya jatuh pada perhiasan yang digenggamnya. "Bagaimana caranya ? Sedangkan ratuku sudah tidak ada lagi." Nada putus asa mengalir pasrah di lidah nya. Kaca-kaca kristal kembali membentuk embun di iris mata raja.


"Ada sebuah cara." 


"Apa itu ?" Binar harap menepis embun yang hampir saja cair di manik mata raja.


"Melintas waktu." 


"Melintas waktu?" Raja tak mampu mencerna.


"Ya, melintas waktu. Ratumu akan kembali dengan wujud sedikit berbeda. Sumpah yang diucapkan nya tidak main-main. Ketika kamu berhasil menemukannya maka semua tentang mu dan zaman ini akan dilupakannya. Jadi kau harus membuktikan kegigihanmu untuk meyakinkan dirinya jika kau adalah raja." 


"Itu sangat sulit." Raja kembali merasa terpuruk. Bagaimana mendapatkan ratunya kembali sementara pengantinnya tidak mengenalinya. 


"Itu bentuk perjuangan mu. Sebagai tanda pengenal ratu, ada tanda di belakang daun telinganya dan hanya kau yang bisa melihatnya. Plumeria itu tandanya." Laki-laki tua itu memutar tubuhnya untuk berhadapan. "Darah bangsawan mu akan selalu mengalir dalam tubuhmu. Di tempat lain, ada seorang yang menantimu. Aku berbaik hati untuk menyatukan jiwa mu dan jiwanya, ketika jiwa kalian bersatu maka kehidupanmu dan dia akan jadi satu. Dengan begitu kau bisa mengenali orang terdekatnya. Kau jadi dirinya dan dia jadi diri mu. Saat ini jiwanya telah mati. Dan untuk menolongnya kau harus menjadi dirinya tanpa melupakan dirimu sendiri. Dalam perjalanan mencari ratumu, maka kau akan menghadapi misi yang harus dipecahkan dengan begitu jiwa mati yang bersamamu akan seutuhnya menjadi milikmu dan kau bisa mendapatkan ratumu. Tapi bila kau gagal, magnet waktu akan menarikmu kembali. Dan pengantinmu tidak ditemukan." 


"Bagaimana aku bisa menemukan jalan untuk mencari ratu ku?" 


"Disana ada gerbang, sebelum matahari terbenam kau harus melintasi nya jika gagal maka tidak ada jalan lain." 


Laki-laki tua berjubah putih itu menunjuk sebuah gerbang yang lumayan jauh dari posisi raja saat ini. Sementara bumi semakin berputar meninggalkan matahari. 


...----------------...


Tahun 2022


Di dalam sebuah ruangan, bernuansa putih di lengkapi berbagai macam alat medis penunjang kehidupan. Masih seperti sebelum nya tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya suara monitor yang memantau kinerja alat-alat itu. 


"Tuan, kapan anda bangun ? Sudah enam bulan anda tidur di sini. Apa tidak lelah?" Seorang laki-laki yang berprofesi sebagai asisten pribadi mengeluarkan suara yang hanya mengudara tanpa sahutan. "Tyaga group membutuhkan anda." Sambungnya nyaris putus asa. Satu kedutan terasa di jari yang tengah di genggamnya. "Jari anda berkedut." Segaris senyum dengan pengharapan besar terlihat di wajahnya. Tanpa menunggu lagi ia memencet tombol yang tersedia di sisi brankar.

__ADS_1


Reiki Alterio Savian, seorang laki-laki berparas tampan dan memiliki tubuh tinggi. Ia bekerja di salah satu perusahaan besar Tyaga Grup yang telah memiliki banyak anak cabang perusahaannya. 


"Tuan Reiki, perkembangan yang bagus sebentar lagi Tuan muda akan bangun." Senyum dokter senior yang telah dipercaya mengembang memberi harapan.


"Kapan itu terjadi?" 


"Tunggu beberapa saat lagi, namun tuan muda tidak akan langsung serta merta bugar. Meskipun tulang-tulang yang patah telah sembuh tapi kemungkinan bagian saraf yang lain masih ada cedera. Setelah beliau bangun kami akan adakan pemeriksaan menyeluruh." Dokter itu memberikan sedikit penjelasan.


"Terimakasih, kami percaya pada anda." Reiki menggulirkan pandangan pada sosok yang terbaring di atas brankar. 


Sesuai prediksi, kelopak mata pria yang tengah koma itu bergerak sedikit demi sedikit. Terlihat sekali pria itu menguasai dirinya untuk terjaga, dari kedutan di tangan, kelopak mata yang berat sekali untuk dibuka. Serta gelombang nafas yang terlihat mengisi rongga dadanya. 


Tiba-tiba saja angin berhembus entah masuk melalui celah mana, aroma plumeria juga menguar lembut menembus indra penciuman. Namun, Reiki abaikan suasana tak biasa yang menelusup ke dalam ruangan. Tak hanya itu, cuaca di langit begitu cantik tidak panas dan juga tidak mendung. Seolah benda hidup di bumi bersorak gembira menyambut bangunnya si tuan muda. 


"Apa yang terjadi?" Netra pria itu menyesuaikan pencahayaan. Namun sayang sangat menusuk retinanya. "Cahaya apa ini?" Tanya nya kembali menutup mata. 


Bree Tyaga Adrian, seorang putra mahkota dari keluarga bangsawan. Parasnya begitu rupawan dengan garis rahang yang begitu tegas. Manik matanya hitam pekat dan tajam, dianugerahi kecerdasan di atas rata-rata. Tubuh tegapnya sedikit berubah karena terbaring koma selama enam bulan, dia pimpinan perusahaan besar Tyaga grup. Sebab itu, politik, pertarungan, bukan hal aneh lagi sebagai pebisnis. Hal itu pula yang mengantarkan dirinya di atas brankar rumah sakit. 


"Tuan Bree, jangan dipaksakan, perlahan saja." Saran Dokter menghampiri brankar.


"Apa yang terjadi padaku?" 


"Tuan, enam bulan lalu anda mengalami kecelakaan di saat uji coba produk baru Tyaga otomotif." 


"Kenapa kalian memanggilku, Tuan Bree?" Laki-laki itu bertanya sembari kembali membuka matanya. "Siapa kau?" Tanyanya menyipitkan mata kearah dokter.


"Saya dokter yang bertanggung jawab atas perawatan anda." Dokter senior itu tiba-tiba gugup.


"Nama anda, Bree Tyaga Adrian." Sahut Reiki tersenyum.


Kenapa berbeda dengan istana?


"Tempat apa ini?" 


"Tuan, sekarang anda berada di rumah sakit." Reiki tersenyum sambil menjelaskan. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan rasa bahagianya.


"Sebaiknya anda beristirahat kembali. Besok pagi kita adakan pemeriksaan ulang secara menyeluruh. Permisi." Dokter meninggalkan ruangan itu. 


Bree mengangguk lalu melemparkan tatapannya pada sang asisten. "Aku lapar." Ucapnya menutup mata kembali.


"Baik tuan." Reiki gegas menghubungi koki dapur yang bertugas memasak makanan untuk putra mahkota itu. "Sebentar lagi koki akan mengirim makanan." Sambungnya setelah mengirim pesan.


"Iya, aku haus." Bree kembali berucap. 


Reiki meraih botol air miliknya sebagai persediaan ketika haus. "Maaf tuan, ini botol air milik saya, anda minum ini saja dulu karena akan lama jika membeli di luar." 


"Kenapa botol ini jelek sekali ? Berbeda dengan botol-botol di istana yang terbuat dari perak." Bree memindai botol di tangannya dengan seksama.


"Botol di istana?" Reiki dibuat bingung. 


"Iya, kau tahu. Di istana ku botol seperti ini tidak ada." Bree memutar botol melihatnya kembali.


"Tuan, anda sedang haus coba di minum." Reiki mengalihkan pembicaraan yang menjurus kebingungan. 

__ADS_1


"Rei, kau mau membantuku." Bree memberikan botol air pada asistennya itu.


"Baik Tuan, saya akan membantu anda." Reiki penuh semangat menyanggupi keinginan tuannya. "Apa yang harus saya lakukan?" 


"Mencari ratuku."


"Ratu?" Reiki terbelalak kaget. "Anda ingin menikah?" Tanya nya lagi.


"Aku sudah menikah, ratu pergi meninggalkan ku karena tuduhan konspirasi. Padahal dia tidak melakukan apa-apa." 


Reiki merasakan kepalanya berdenyut. Baru berapa menit Bree bangun sudah mengoceh hal yang tidak jelas. "Baik Tuan." Putus nya tak ingin pusing. "Saya akan menelpon Bibi Jo di mansion menanyakan makanan tadi." Reiki mengeluarkan benda pipih dari saku jas nya. 


"Benda apa itu?" Bree kagum dengan benda pipih yang menyala di tangan asistennya. Jiwa kuno nya kembali bergejolak


"I—ini, ponsel Tuan." Reiki tersenyum kaku. Apalagi ini pikirnya. Apakah otak tuannya bermasalah?


"Ponsel ? Kemari aku ingin melihatnya." Bree mengulurkan tangannya untuk menerima ponsel itu. "Sangat tipis, apa fungsi benda ini?" Tanya nya kembali.


"Untuk menelpon tuan, sekarang ponsel semakin canggih kita bisa mengetahui kabar berita melalui ponsel yang bisa menghubungkan kita dengan dunia luar." 


"Apa ini seperti teleportasi ?" Bree masih mengamati benda pipi itu. "Di kerajaan ku benda seperti ini tidak ada. Kami akan berkirim surat sebagai penghubung." Lanjutnya mengembalikan ponsel.


"Tuan, sebaiknya anda beristirahat dulu. Saya akan menghubungi koki." Reiki gegas menjauh lalu menelpon. "Makanan sudah siap ? Cepatlah sedikit, tuan muda sudah bertingkah aneh karena kelaparan." Ujarnya setelah telepon tersambung.


"Tuan, kami sudah di halaman rumah sakit." 


"Baiklah." Reiki memutuskan telepon. Ia kembali menghampiri Bree yang termenung. 


Ratu aku akan menemukanmu.


"Aku sangat merindukanmu." Gumam Bree pelan. 


"Anda merindukan siapa, Tuan?" 


"Ratu ku." 


"Ratu ?" Reiki kembali merasakan denyutan di tempurung kepala nya. "Makanan akan tiba mereka hampir sampai." Sambungnya lagi.


"Ada kaca ? Aku ingin melihat wajahku. Aku takut ratu tidak mengenalku nanti." 


Sekali lagi kepala Reiki seakan terbentur. "Ada Tuan muda." Ia gegas membuka koper miliknya. "Ini Tuan." Ucapnya menyerahkan kaca. 


Bree meraih kaca lalu mengarahkan ke wajahnya. Matanya terbelalak melihat wajah di kaca itu. "Kenapa wajahku seperti ini?" Tanya nya tak terima.


"Memang itu wajah anda, Tuan." 


"Kalau begini ratu tidak akan mengenalku." Bree menyerahkan kaca dengan kesal. "Tapi tidak masalah, ketampananku memang paripurna dimanapun aku berada akan selalu bersinar." Sambungnya santai.


Ratu lagi, apa dia sedang berhalusinasi ? Ya Tuhan kenapa dia malang sekali.


Reiki hanya bisa meringis sambil tersenyum kaku.


Bree termenung. "Bukankah, ratu memang tidak mengenalku ? Seperti sumpah yang ia ucapkan. Ah, ini sangat berat." Gumamnya menatap kosong. 

__ADS_1


'Kau dan Ratu akan dipertemukan dengan suasana baru.'


Kalimat itu kembali terngiang di telinga Bree. Mau tidak mau ia harus menerima, dan berdoa jiwa yang kini menyatu dengan nya bisa menuntunnya untuk bertemu ratu. 


__ADS_2